Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 107 Hari Ritual Kematian


__ADS_3

Semua orang terpaku di tempat, menatap dengan mata terbelalak ke arah satu sosok terhormat yang ada di atas panggung. Sebuah panah terbenam pada punggung pria itu, dan ujungnya yang runcing mencuat dengan bangga melalui dadanya.


Mata pria itu melotot, lalu turun untuk menatap ke bawah, pada panah yang menembus tubuhnya. Kemudian, dengan tenaga yang tersisa, dia berputar, ingin memastikan dalang atas luka yang dia terima.


Saat pandangan pria tersebut mendarat pada sosok yang memegang busur, satu tetes air matanya tak elak mengalir turun. Tangannya yang terasa lemas terlihat bergetar ketika terangkat meninggi, dan dia pun menunjuk ke arah dalang tersebut, “Wang … Zhengyi, kau—!”


*Beberapa saat yang lalu*


Suara langkah kaki kuda yang mengetuk jalanan ibu kota bisa terdengar. Hal tersebut membuat sejumlah orang menoleh untuk melihat siapa orang yang menjadi sang penunggang.


Seorang wanita dengan manik hitam segelap malam sedang menunggang kudanya yang bersurai seputih salju, serasi dengan warna tubuhnya yang seakan berkilau ketika diterpa cahaya matahari. Perawakan sang wanita tegap, begitu sesuai dengan status jenderal yang dia pegang.


“Ah! Itu Mingwei Junzhu!” teriak salah seorang pemuda dengan tatapan kagum.


Sosok Huang Miaoling yang mengenakan baju zirah terlihat memukau. Rambutnya yang diikat tinggi ke belakang memamerkan rahangnya yang tegas dan runcing, menciptakan sosok wanita yang tampan, tapi tetap menawan.


“Dia begitu memikat!” seorang gadis menatap Huang Miaoling seakan dia sedang jatuh cinta.


Walau beragam pujian dielu-elukan dari berbagai sisi, tapi ada pula celetukan tak bersahabat yang terdengar, “Hari ini adalah hari ritual kematian Pangeran Kelima, kenapa dia mengenakan pakaian jenderal?” nada bicara yang digunakan untuk mengucapkan kalimat tersebut terkesan mempertanyakan tindakan sang Mingwei Junzhu.


“Pangeran Kelima meninggal akibat serangan mendadak dari suku padang rumput, mengenakan baju zirah adalah cara untuk mewakilkan para pejuang di perbatasan yang sedang berusaha membalaskan dendam!” jelas seorang lain dengan semangat.


Satu penduduk lain juga tak senang dengan pertanyaan yang berniat menggiring opini tersebut, “Walau dia berstatus sebagai putri tingkat ketiga, tapi Mingwei Junzhu juga jenderal Pasukan Longzhu. Apa pun baju kehormatan yang dia kenakan, semua adalah haknya!”


Mendengar ucapan para penduduk, Fang Yu yang ikut mendampingi Huang Miaoling berusaha keras untuk tidak menampakkan ekspresi yang mampu membocorkan isi hatinya. ‘Junzhu … memiliki banyak pendukung di ibu kota.’ Lalu, pria itu menghela napas. 'Andai mereka tahu … bahwa alasan Junzhu mengenakan pakaian perang … adalah untuk berjaga-jaga dari hal tak terduga.’ Pria itu menatap ke arah gerbang istana yang semakin lama semakin dekat.


Hari ini merupakan ritual kematian yang diadakan untuk Wang Wuyu. Untuk menghormati pangeran tersebut, semua pejabat dan setiap pasukan diwajibkan untuk hadir dan berpartisipasi. Tentu saja, Pasukan Shiyan milik Pangeran Keenam, sang Raja Hui, juga ikut termasuk.


Dengan perseteruan yang terjadi antara dirinya dan Wang Chengliu tempo hari, Huang Miaoling tak akan terkejut apabila pria itu akan berusaha mencelakainya. Oleh karena itu, wanita tersebut mengenakan baju zirahnya untuk berjaga-jaga.


Di saat rombongan Huang Miaoling tiba di gerbang istana, penjaga gerbang menghampiri mereka dan memeriksa masing-masing identitas prajurit yang hadir. Ada begitu banyak orang penting yang hadir di istana hari ini, tak heran keamanan istana diperketat kembali.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap pasukan Huang Miaoling, penjaga gerbang tersebut menyadari adanya hal yang aneh. Dia berbalik dan menghadap wanita yang berada di barisan paling depan, “Mingwei Junzhu, tidak semua Pasukan Longzhu hadir?” tanyanya dengan kening berkerut.


Huang Miaoling menganggukkan kepalanya dengan santai. “Apa aku perlu menjelaskan kenapa?” tanyanya pada prajurit tersebut. “Tentunya, yang terpenting adalah kehadiranku, bukan begitu?” imbuh Huang Miaoling.


Balasan sang Mingwei Junzhu membuat prajurit tersebut cepat-cepat membalas, “T-tentu saja Junzhu benar, kehadiran Junzhu memang yang terpenting.” Dengan rahang yang mengeras, berusaha menyembunyikan ekspresi ketakutannya, prajurit tersebut menjelaskan, “N-namun, aku harus memberikan laporan kepada—”

__ADS_1


Tak ingin menunda waktunya lagi, Huang Miaoling memotong ucapan prajurit tersebut, “Kalau semua pasukan kubawa kemari, siapa yang akan menjaga gerbang Utara?” Sebuah senyuman tipis terpasang di wajahnya, tapi hatinya membatin, ‘Tidak biasanya mereka akan menekan untuk sebuah jawaban, sepertinya pria itu ….’


“Ah! Y-ya! Baik, Junzhu! Terima kasih atas penjelasanmu,” jelasnya. Dia kemudian menoleh ke arah para penjaga gerbang yang lain dan berseru, “Cepat buka gerbangnya!” Lalu, dia berbalik dan tersenyum kembali kepada Huang Miaoling, “Silakan, Mingwei Junzhu.”


Huang Miaoling melemparkan sebuah senyuman tipis, lalu dia memacu kudanya melalui gerbang utama istana. Ketika tiba di lapangan dalam, Huang Miaoling turun dari Mazu dan memberikan kudanya itu kepada pengurus.


Tak lama, seorang kasim yang telah menunggu di satu sisi lapangan datang menghampiri sang Mingwei Junzhu untuk menjemputnya. “Junzhu, silakan ikut denganku,” kasim tersebut membungkuk dan mengarahkannya ke halaman utama istana.


Menghampiri gerbang halaman utama, Huang Miaoling bisa mendengar samar-samar suara sejumlah orang yang bercakap-cakap dengan suara rendah. Manik hitam gadis itu juga menyapu pemandangan dalam halaman yang begitu ramai.


Begitu dirinya melewati gerbang halaman utama, Huang Miaoling bisa melihat para pejabat berada berkumpul di barisan paling depan, dekat dengan altar. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, maka pejabat tersebut akan berdiri semakin dekat dengan altar.


Di sisi lain, pasukan istana bersiaga di beberapa sudut halaman. Berbeda dengan pasukan istana, Pasukan Shiyan dikumpulkan di satu sisi halaman. Ada jarak kosong yang disisakan antara Pasukan Shiyan dengan barisan para pejabat.


Melihat hal ini, Huang Miaoling melirik ke arah kasim yang menjemputnya, “Itu tempat untuk Pasukan Longzhu, bukan?” tanyanya yang langsung dibalaskan sang kasim dengan sebuah pembenaran. Sang Mingwei Junzhu menoleh ke arah Fang Yu, dia berkata dengan suara rendah, “Kau tahu apa yang harus dilakukan, pergilah. Aku akan bergabung dengan para pejabat lainnya.”


Fang Yu memberi hormat seraya membalas, “Baik, Junzhu.”


Di saat Huang Miaoling melangkah mendekati barisan para pejabat, Huang Yade yang telah berada di sana segera memberikan isyarat padanya untuk mendekat. “Kau memakan waktu cukup lama,” ucapnya seraya memberi tahu Huang Miaoling tempatnya dalam barisan tersebut.


“Aku tahu betapa lamanya ritual ini akan berjalan, untuk apa datang begitu pagi?” balas Huang Miaoling dengan suara rendah, lalu memberi salam kepada beberapa pejabat lain.


“Abaikan dia.” Huang Miaoling tidak mengikuti arah pandangan Huang Yade, dia sudah tahu bahwa kakaknya membicarakan mengenai Shao Yanjun. ‘Mengawasiku? Apa gunanya?’ batin gadis itu.


Mendadak, terdengar suara pengumuman mengenai tibanya Kaisar Weixin. Semua orang pun memberi hormat sesuai status mereka, menyambut kedatangan sang pria agung.


Kaisar Weixin melangkah turun dari tandu kehormatannya, pakaian yang dikenakan pria itu serba putih. Tidak jauh di belakangnya, sejumlah tandu lain juga mengikuti. Sosok yang turun dari tandu-tandu itu ialah para wanita istana, seperti Ibu Suri Shen, Permaisuri Mingmei, Huang Yan'an, juga Wang Qiuhua.


Tak lama setelah kedatangan ketiga orang tersebut, seruan dari pemimpin ritual bisa terdengar, “Pangeran Kelima tiba!”


Tidak ada yang terkejut, maupun memasang wajah kebingungan. Teriakan itu tidak berarti bahwa Wang Wuyu hidup kembali, melainkan merujuk pada tubuhnya yang tak lagi bernyawa di dalam peti yang sedang diangkut menuju altar.


Dari sudut matanya, Huang Miaoling bisa melihat sosok Yang Yuechan mengenakan pakaian berkabung dengan wajah polos tanpa dandanan sedikit pun. Wanita itu berdiri di barisan paling depan dengan sebuah plakat nama dalam pelukannya, nama Wang Wuyu terukir di atas plakat tersebut.


Penampilan Yang Yuechan sungguh menyayat hati. Kantung matanya terlihat gelap, dan wajah wanita itu terlihat begitu tirus. Secara singkat, bisa dikatakan Yang Yuechan tidak terlihat sehat.


‘Bukanlah hal yang mengherankan,’ batin Huang Miaoling. ‘Putra satu-satunya meninggal dunia, adalah sebuah hal yang aneh bila dia malah tersenyum.’

__ADS_1


Di bagian belakang prosesi, sosok Wang Zhengyi dan Wang Chengliu bisa terlihat. Sama seperti sebagian besar orang, mereka juga mengenakan pakaian berkabung.


Melihat sosok kedua pangeran, mata Huang Miaoling melirik dua benda yang berada di tangan mereka, sebuah busur dan sebuah panah. ‘Pangeran Mahkota bertugas untuk menembakkan surat ke surga?’


“Penembakkan surat ke surga”, itu merupakan salah satu bagian dari ritual kematian. Setelah menempatkan peti di atas altar, sebuah surat yang diikatkan pada satu panah tak berkepala akan ditembakkan ke langit sebagai usaha untuk mengantarkan pesan ke surga. Harapannya, langit akan menerima surat tersebut dan mengizinkan dia yang telah meninggal untuk masuk ke halaman surga.


Huang Miaoling memicingkan mata ke arah panah yang berada di tangan Wang Chengliu. ‘Hmm, sungguh tak berkepala.’ Demi keamanan sejumlah orang, tentu saja panah yang digunakan tidaklah berbahaya.


Tepat setelah Huang Miaoling memikirkan hal tersebut, peti telah berada di atas altar. Sosok Wang Weixin terlihat menghampiri peti yang menampung tubuh putranya.


Sembari menyentuhkan tangannya pada sisi peti Wang Wuyu, Wang Weixin menutup matanya, menyampaikan pesan terakhirnya, ‘Ayahanda … bersalah padamu.’ Jika bukan karena dirinya tidak mampu menjadi sosok ayah dan kaisar yang baik, tidak mungkin putranya akan berakhir seperti ini.


“Yang Mulia,” panggil seseorang yang membuat sang kaisar menoleh. Sosok pemimpin ritual terlihat menyodorkan sebuah obor menyala kepada Wang Weixin, “Sudah waktunya.”


Menatap lidah api yang bergoyang akibat tertiup angin, Wang Weixin menjulurkan tangannya. Pria itu mencengkeram mantap pegangan obor tersebut.


Sesuai tradisi, izin surga harus didapatkan terlebih dahulu sebelum tubuh yang mengikat roh diubah kembali menjadi abu. Oleh karena itu, sebelum membiarkan Kaisar Weixin membakar peti, pemimpin ritual menoleh ke arah Wang Zhengyi dan Wang Chengliu.  “Tembakan panah!”


Semua orang melihat ke arah Wang Zhengyi, menatap pria itu menoleh ke arah adiknya untuk meminta panah dengan sebuah surat terikat padanya. Panah tanpa kepala itu disesuaikan oleh Wang Zhengyi pada busurnya, lalu pria itu pun mengarahkannya ke langit.


Mendadak, Huang Miaoling mendengar sebuah teriakan dalam kepalanya, ‘Huang Miaoling, hentikan Pangeran Mahkota!’


Tepat pada saat suara itu menyelesaikan ucapannya, Huang Miaoling melihat dengan jelas pandangan Wang Zhengyi berubah kosong. Kemudian, tanpa memberikan wanita itu kesempatan untuk bertindak sang pangeran mahkota mengarahkan panahnya ke satu arah—altar.


“Yang Mulia, menying—!”


Tak sempat Huang Miaoling menyempurnakan peringatannya, siulan nyaring angin yang terbelah telah terlebih dahulu terdengar. Hal itu diikuti dengan suara daging terkoyak dan lenguhan rendah seorang pria.


Dan, waktu pun terasa berhenti.


Tak ada yang berani bersuara, semua orang hanya tercengang di tempat sembari memperhatikan sosok sang pria agung menundukkan kepalanya ke bawah. Mencuat dari dadanya, Wang Weixin melihat jelas sebuah kepala panah yang runcing telah berselimutkan darah.


‘Bagai … mana?’ Wang Weixin masih sempat membatin. Pria itu berusaha keras mengerahkan sisa tenaganya untuk berputar dengan gontai di atas altar. Di saat matanya bertemu dengan manik hitam milik putra sulungnya, Wang Weixin menudingkan jari telunjuk ke arah pemuda itu, “Wang … Zhengyi, kau—!”


Belum sempat ucapan pria itu selesai, sebuah suara lain telah terlebih dahulu berkumandang, “Tangkap Pangeran Mahkota! Dia telah melukai Yang Mulia Kaisar!”


___

__ADS_1


A/N:


Huang Miaoling, hentikan Pangeran Mahkota!


__ADS_2