Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 164 Membongkar Kebenaran


__ADS_3

*Di masa sekarang*


Terlihat sosok Huang Miaoling berlari menghampiri kamar Lan’er yang terbuka. Dia mengikuti arah suara suaminya yang baru saja meneriakkan peringatan kepada seseorang untuk tidak menyentuh seseorang.


Baru saja tiba di depan pintu, mata Huang Miaoling terbelalak melihat pemandangan di depan mata. “Lan’er!”


Huang Miaoling melangkah masuk ke dalam kamar, berniat untuk menarik Wang Chengliu yang sedang menyentuh wajah Lan’er menjauh dari gadis itu. Namun, wanita tersebut dihentikan oleh suaminya.


“Jangan dekati mereka!” tegas Liang Fenghong, tahu bahwa ada sesuatu di luar nalar yang sedang terjadi antara Wang Chengliu dan Lan’er.


Ekspresi khawatir terlukis di wajah Huang Miaoling. “Tapi—”


BRAK!


Belum sempat Huang Miaoling menyelesaikan omongannya, pintu di belakangnya mendadak terbanting menutup.


‘Semua pemeran sudah di sini,’ ucap sebuah suara yang cukup Huang Miaoling dan Liang Fenghong kenal.


“Lan’er?” panggil Liang Fenghong dengan kening berkerut. Dia memeriksa kondisi Lan’er, tapi gadis itu masih terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidurnya.

__ADS_1


Detik berikutnya, tubuh Huang Miaoling dan Liang Fenghong membeku. Senjata di tangan mereka terjatuh dan pandangan mereka pun berubah diselimuti kegelapan.


Tepat pada saat itu, suara Lan’er berkumandang, ‘Sudah waktunya kalian juga mengetahui kebenarannya ….’


***


Di aula utama istana Kerajaan Shi, gadis itu terlihat membungkuk hormat ke arah seorang pria yang terduduk di singgasana. Kalaupun dirinya mengetahui mengenai semua hal tentang setiap orang di ruangan tersebut, tapi gadis itu tahu dirinya tidak boleh gegabah.


Semua demi sosok yang berada di sebelahnya sekarang.


“Wang Chengliu menghadap Ayahanda. Semoga Ayahanda panjang umur untuk puluhan ribu tahun ….”


“Semua orang mengira dirimu sudah mati,” balas pria yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Kaisar Weixin. “Lagi pula, dari satu batalion di bawah pimpinanmu, tidak ada yang kembali kecuali dirimu.”


Dari balik tudung yang menutupi kepalanya, Meilan bisa melihat ekspresi Wang Weixin dengan cukup jelas. Tatapan pria paruh baya itu dingin, tidak sedikit pun senang dengan kenyataan putra keenamnya berhasil kembali hidup-hidup.


‘Lalu, haruskah dia mati saja?’ batin Meilan dengan kedua tangan mengepal erat.


Manik gadis itu kemudian bergeser, menatap Wang Chengliu yang terlihat kesulitan.

__ADS_1


Malu, takut, dan bingung. Semua hal itu tergambar jelas dari sosok Wang Chengliu yang masih belum mampu mengingat masa lalunya dengan sempurna.


Namun, kentara bahwa pria itu mengerti bahwa sang ayahanda menganggap keberhasilannya untuk bertahan hidup sebagai dosa besar!


Masih dalam posisi membungkuk, Wang Chengliu menutup mata dan membalas, “Ananda … mengaku bersalah.”


“Apa gunanya mengaku salah kalau tidak sepenuhnya merasa demikian?” balas Wang Weixin dengan dingin. “Kalau memang serius, maka kamu bisa saja membunuh dirimu sebelum tiba di tempat ini.”


Meilan sontak mengangkat pandangan penuh amarah, bersiap memaki Wang Weixin. ‘Pria ini—!’


“Meilan!” desis Wang Chengliu dengan suara rendah. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan gadis tersebut dengan erat.


Dengan senyum tak berdaya, Wang Chengliu menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Meilan untuk bersabar.


Melihat hal itu, Meilan hanya bisa menggertakkan gigi dan menundukkan kembali kepalanya.


Dari tempatnya terduduk, Wang Weixin bisa menangkap pergerakan kecil antara Meilan dan juga Wang Chengliu. Hal tersebut membuatnya memicingkan mata.


Kasim Gao menyadari cara pandang Wang Weixin kepada sosok bertudung itu. Alhasil, dia pun berucap, “Lancang sekali! Beraninya dirimu hadir di hadapan Kaisar sembari menyembunyikan identitas!?”

__ADS_1


__ADS_2