
Dengan sejumlah pelayan yang berjarak lima langkah di belakang mereka, Huang Miaoling dan Wang Chengliu berjalan berdampingan. Kericuhan yang sempat terbentuk di antara keduanya tadi dengan cepat menghilang sejak detik Rong Gui menghilang dari pandangan.
Sekarang, ketenangan dan kesunyian menyelimuti keduanya.
Aneh, tapi para pelayan merasa keringat dingin mulai bermunculan di dahi dan punggung mereka. Walau sunyi, tapi aura yang dikeluarkan kedua orang di hadapan mereka terasa begitu menyeramkan. Telinga mereka memang tak mampu mendengar percakapan kedua majikan, tapi roh mereka merasakan dua aura yang saling menekan.
“Apa tujuanmu?” Wang Chengliu menjadi orang pertama yang mengangkat suara.
“Berbeda denganmu,” balas Huang Miaoling singkat.
Wang Chengliu terkekeh, membuat beberapa pelayan dengan nyali menengadahkan pandangan mereka sedikit, mencoba mencuri pandang terhadap ketampanan sang pangeran keenam yang tertawa. Tertawa jelas bukan hal sehari-hari yang sering Wang Chengliu lakukan.
“Tentu saja aku tahu itu,” balas sang pangeran keenam. “Namun, aku perlu penjelasan yang lebih spesifik.”
“Kau ingin mendapatkan takhta,” ujar Huang Miaoling tanpa berkedip sedikit pun ketika mengutarakan niat kotor lawan bicaranya. “Namun, aku ingin kau menjauh darinya.” Wanita itu melirik ke arah Wang Chengliu dengan sebuah senyuman yang begitu tenang, juga menantang, “Bagaimana, ya? Sepertinya, di kehidupan ini kita tak bisa menghindari takdir untuk menjadi musuh.”
Senyuman di wajah Wang Chengliu tidak sirna, malah semakin mendalam. “Kau ingin membunuhku?” tanyanya.
“Kalau itu satu-satunya cara untuk menghentikan kegilaanmu, maka aku akan melakukan hal itu,” balas Huang Miaoling seraya mengembalikan pandangannya ke depan. “Lagi pula, berkali-kali kau mencoba membunuhku, walau bukan dengan tanganmu sendiri.”
Alis kanan Wang Chengliu terangkat, menampakkan ekspresi bingung. “Aku tak mengerti,” balasnya. Namun, kentara jelas bahwa senyuman di bibirnya masih belum menghilang.
Pria itu sedang merasa sangat terhibur.
Pelipis Huang Miaoling berkedut, merasa pria di sisinya itu sangat tidak tahu malu. Lalu, tanpa menghentikan langkah, Huang Miaoling mulai menyebutkan satu per satu dosa Wang Chengliu terhadapnya.
“Pertama kali, kau membawa Huang Wushuang yang tak sadarkan diri ke depan kamarku. Walau dengan topeng, tapi aku telah menduga bahwa itu dirimu,” jelas Huang Miaoling. Sekilas, sebuah ekspresi sedih terpancar dari matanya. Namun, dengan cepat wanita itu menutupinya dengan ketegasan. “Bodoh bagaimana aku berharap bahwa kau sungguh berniat membantuku saat itu.”
Wang Chengliu terdiam sesaat, lalu menghadap ke depan. Dia ingin bertanya bagaimana Huang Miaoling mampu mengenali dirinya.
Namun, apakah itu sebuah pertanyaan yang perlu ditanyakan?
Di kehidupan lalu, cinta Huang Miaoling kepada Wang Chengliu tidaklah main-main. Bahasa tubuhnya, ekspresinya, emosinya, bahkan isi hati dan pikirannya, Huang Miaoling mampu membacanya dengan mudah.
Di malam Wang Chengliu mengantarkan Huang Wushuang ke hadapan kamar Huang Miaoling, mereka sempat mengalami pertukaran serangan. Walau singkat, tapi hal itu cukup untuk membuat Huang Miaoling bisa mengenalinya dengan mudah.
Setelah terdiam sekian lama, Wang Chengliu angkat bicara, “Apa kau akan percaya kalau saat ini kukatakan bahwa … aku sungguh ingin membantumu saat itu?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Kenapa?”
Huang Miaoling menoleh dan berkata, “Karena malam itu, kau hanya mencobaiku.” Wanita itu mendengkus, “Aku tidak tahu sejak kapan kau kembali dari masa depan, Wang Chengliu. Namun, pada saat itu, aku yakin bahwa kau sudah tahu bahwa diriku bukan lagi Huang Miaoling yang sama.” Kemudian, wanita itu tersenyum mengejek, “Oleh karena itu, untuk memastikan, kau mencobaiku.”
Wang Chengliu memasang sebuah senyuman tipis di wajahnya. “Kau … begitu yakin?” tanyanya.
Pandangan Huang Miaoling begitu tenang, bahkan dengan sikap Wang Chengliu yang seakan berniat untuk membuatnya ragu. “Kalau aku mengambil keputusan yang tepat, maka aku sungguh orang yang berbeda. Seseorang yang jauh lebih berbahaya, terutama setelah kau menaruh curiga atas apa yang terjadi di antara Wang Zhengyi dan Huang Wushuang.” Huang Miaoling menatap paviliun yang berada di hadapannya, paviliun kolam teratai. “Kalau aku salah, maka keluarga Huang akan terkena musibah, dan kau akan memohon kepada Kaisar demi nyawaku.”
Mendengar ucapan Huang Miaoling, Wang Chengliu kembali tertawa. “Apa yang membuatmu berpikir aku akan menyelamatkanmu, Huang Miaoling? Selain itu, kenapa kau begitu yakin permohonanku akan disetujui Ayahanda?” Dia merentangkan tangannya, mempertontonkan kepada semua orang bahwa dirinya sedang mengajak Huang Miaoling untuk duduk bersama dengannya di paviliun tersebut.
Huang Miaoling tersenyum, menganggukkan kepalanya seraya melangkah masuk ke dalam paviliun. “Aku berada di kediaman, bukan di pesta pernikahan. Alibiku kuat.” Wanita itu mendudukkan diri di atas kursi batu, memberikan isyarat agar tidak ada pelayan atau kasim yang ikut masuk.
Sementara Huang Miaoling menjelaskan, Wang Chengliu melirik ke arah barisan pelayan dan kasim, “Berjagalah di luar paviliun, dan bawakan kudapan dan teh kemari.”
Selesai mendengar Wang Chengliu menurunkan perintah, Huang Miaoling melanjutkan, “Aku tahu hargaku di mata kalian keluarga kerajaan. Diriku semata-mata alat untuk menguasai tentara keluarga Huang.” Sebuah senyuman lembut terpasang di wajah Huang Miaoling, mencoba membohongi para pelayan yang masih mencuri pandangan ke arahnya dan Wang Chengliu. “Selain itu, kalau aku masih Huang Miaoling yang mencintai Wang Chengliu, bukankah aku sasaran empuk bagimu?”
Jawaban Huang Miaoling membuat senyuman di wajah Wang Chengliu semakin mendalam. Pria itu meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang saling terikat, sebuah gaya yang sebenarnya membuat semua orang merasa … bahwa pria itu mulai menyerupai Wang Junsi.
“Kedua, kau menggunakan tangan Li Hongxia untuk menyingkirkanku,” Huang Miaoling berkata. “Tak hanya itu, kau berpura-pura bersedih perihal kematianku di hadapan Wang Zhengyi? Wang Chengliu, kau sungguh luar biasa,” sindir wanita itu.
Mendengar hal ini, pelipis Wang Chengliu berkedut, tak menyangka Wang Zhengyi menceritakan hal tersebut kepada wanita di hadapannya. “Sudah kuketahui kakak pertamaku memiliki bibir yang tidak rapat, tapi aku tak menyangka dia bersikap seperti seorang jal*ng yang melebarkan kaki di hadapan tamunya.”
Sudut bibir Huang Miaoling sedikit terangkat, sekilas tak mampu menutupi senyuman sinis di wajahnya akibat hinaan yang Wang Chengliu lontarkan untuk Wang Zhengyi. Namun, dengan cepat dia melembutkan kembali ekspresinya saat melihat sejumlah pelayan yang datang membawa kudapan.
Ketika para pelayan pergi, Huang Miaoling berucap, “Semua orang menduga bahwa Pasukan Kematian berada di bawah Li Hongxia. Kemudian, setelah kematian pria itu, terbukti bahwa Wang Wuyu yang memilikinya.” Wanita itu meraih satu kudapan dan mendekatkan makanan ringan tersebut ke bibirnya, “Namun, tak ada yang benar-benar sadar bahwa ketua sesungguhnya Pasukan Kematian adalah dirimu,” dan wanita itu menutup setengah wajahnya dengan lengan pakaian, menghalangi pandangan siapa pun dari melihat dirinya menyantap kudapan.
Sampai di sini, ekspresi Wang Chengliu berubah memburuk. Senyuman yang sedari tadi berusaha pria itu pertahankan mendadak menghilang.
“Begitu kau tahu aku bukan Huang Miaoling yang sama, kau sadar bahwa menikahiku bukan lagi suatu hal yang mungkin.” Huang Miaoling menurunkan lengan pakaiannya, bersamaan dengan habisnya kudapan yang dia kunyah. “Oleh karena itu, kau berniat menyingkirkanku menggunakan tangan orang lain.”
Sadar bahwa Wang Chengliu mulai dikendalikan emosi dan membuat para pelayan kebingungan, Huang Miaoling menunjuk ke arah satu kudapan, mendorong sang pangeran keenam untuk mencobanya. Selama sesaat, Wang Chengliu terdiam, tapi pria itu berakhir kembali tersenyum dan meraih satu kudapan dari piring.
“Aku tak menyuruhmu untuk berhenti,” balas Wang Chengliu dengan senyuman dingin di wajahnya.
Huang Miaoling menyesap tehnya, lalu tersenyum, “Tak ada yang berkata bahwa aku sudah selesai,” balasnya. Kemudian, dia melanjutkan, “Masih menginginkan dukungan tentara keluarga Huang, kau pun ingin Wang Zhengyi menceraikan Huang Wushuang. Oleh karena itu, kau membuat berbagai macam masalah untuk adik tercintaku itu,” tutur Huang Miaoling. “Feng Lili, Song Qiaolan, dan … Mingyue.”
__ADS_1
Wang Chengliu memotong Huang Miaoling, “Tidakkah kau pernah berpikir bahwa aku hanya membantu dirimu mewujudkan keinginanmu? Menyiksa Huang Wushuang?”
Huang Miaoling mengabaikan Wang Chengliu, “Namun, kemudian kau mendengar sebuah berita yang mengejutkan.” Wanita itu berpura-pura memasang wajah terkejut, “Apa itu? Nona Pertama Huang masih hidup?” Lalu, dia menyentuh sisi wajahnya dengan satu tangan, membuatnya terlihat malang, “Dia juga kehilangan ingatannya.” Mendadak, sebuah seringai terlukis di wajahnya, “Bagaimana kalau kugunakan kesempatan ini?”
“Huang Miaoling …,” Wang Chengliu menggeram dengan suara rendah. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa wanita di hadapannya itu telah lama menebak langkahnya. “Jangan—”
Huang Miaoling menempelkan jarinya di bibir sembari memasang wajah memelas. “Yang Mulia, jangan begitu keras. Apa yang harus kita lakukan kalau ada yang mendengar,” ucapnya seraya melirik ke arah pelayan dan kasim yang memasang wajah khawatir. Wanita itu tersenyum, mencoba menenangkan para bawahan malang itu, dan senyuman itu semakin lebar ketika Huang Miaoling melihat Wang Chengliu menatapnya dengan penuh kebencian, “Apa Huang Wushuang membisikkan hal itu padamu tadi malam?”
“Kau—!”
“Aku belum selesai,” balas Huang Miaoling, manik segelap malamnya memancarkan aura yang begitu kuat dan sangat menghipnotis. “Kau tak menyangka bahwa ingatanku akan kembali dengan begitu cepat,” ujarnya. “Namun, yang lebih tak kau sangka adalah … ada seorang pria lain yang mampu mencintaiku, bukan begitu?” Detik berikutnya, ekspresi wanita itu berubah gelap. “Dan, egomu … memaksamu untuk menghancurkan suamiku.”
Melihat ekspresi di wajah Huang Miaoling, Wang Chengliu tertawa keras. Para pelayan yang melihat hal ini menghela napas, tenang karena apa yang mereka kira adalah perseteruan, ternyata hanyalah percakapan biasa antara dua keluarga kerajaan.
Wang Chengliu menaikkan alis kanannya, “Kau menganggap dirimu terlalu tinggi, Huang Miaoling,” tatapannya begitu menghina. “Menjatuhkan Liang Fenghong adalah hal yang perlu kulakukan cepat atau lambat, terutama karena pria itu berniat untuk menghalangi jalanku.”
Huang Miaoling mengikuti ekspresi Wang Chengliu, mengangkat alis kanannya dengan menantang. Wanita itu tidak merasa tebakannya meleset sedikit pun, terutama karena ada getaran samar pada pandangan Wang Chengliu.
“Kalau benar demikian, maka jelaskan padaku kenapa kau datang padaku malam itu?” tanya Huang Miaoling. “Mengutarakan kalimat ambigu di sisi telingaku walau kau tahu aku tidak tertidur. Kau jelas mengharapkan pernikahanku dengan Liang Fenghong tidak akan terjadi.” Pandangan mengejek terpasang di wajah Huang Miaoling, “Jika sedikit saja perhatian kau limpahkan padaku di kehidupan lalu, maka kau akan tahu bahwa perasaanku tidak semudah itu digoyahkan.”
Mendengarkan ucapan panjang lebar Huang Miaoling, Wang Chengliu akhirnya mengucapkan, “Permaisuri, apa yang sebenarnya ingin kau utarakan hari ini padaku? Menemui sejumlah orang di istana di hari yang sama. Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau bertujuan untuk memaksaku keluar agar menemuimu.” Pria itu menautkan alisnya, pandangannya memancarkan ancaman. “Apa tujuanmu hanya untuk memancing emosiku semata?”
Panggilan “Permaisuri” yang Wang Chengliu gunakan membuat seluruh tubuh Huang Miaoling merinding. Orang yang sama, suara yang sama, panggilan yang sama, tapi perasaan yang jauh berbeda.
Menjijikkan.
“Aku hanya ingin memperingatkanmu, Wang Chengliu,” balas Huang Miaoling. “Bila kau ingin membalaskan dendam ibumu, aku tidak akan menghalangimu. Namun, bila kau menyentuh orang-orang yang kucintai, maka jangan salahkan aku menghancurkan semua yang kau miliki.”
Wang Chengliu mendengus, “Apa kau kira dirimu berada dalam posisi untuk mengancamku?”
Huang Miaoling berdiri dari kursinya, lalu memberi hormat kepada Wang Chengliu. “Apa kau masih belum sadar … bahwa aku telah membaca isi kepalamu?” tanya wanita itu seraya mulai berjalan pergi.
“Huang Miaoling!” panggil Wang Chengliu, menghentikan langkah wanita tersebut. “Apa kau tak sadar … bahwa aku tahu siapa orang-orang yang berusaha kau lindungi?” Mata pria itu menatap lekat wajah Huang Miaoling. “Sebagai hadiah kunjunganmu hari ini,” sebuah senyuman yang begitu manis terlukis di bibirnya, “Tak ada satu pun … yang akan selamat.”
_____
A/N: Bertele-telekah? (Sedikit merasa :"), tapi merasa perlu untuk semua penjelasannya)
__ADS_1