Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 110 Tebakan dan Rahasia


__ADS_3

“Urgh,” rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya membuat Huang Miaoling mengerang. Dia perlahan membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali untuk membiasakan diri dengan cahaya yang berusaha menerjang masuk pandangannya.


Di saat matanya telah menyesuaikan dengan situasi sekitar, Huang Miaoling mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, dia merasa pergerakannya terbatas. Mata Huang Miaoling pun terbelalak, menatap kedua kaki dan tangannya dirantai ke sebuah tempat tidur.


‘Apa-apaan ini?!’ geram Huang Miaoling seraya terus berusaha untuk melepaskan diri. Jarang, tapi kali ini Huang Miaoling menampakkan pandangan ketakutan. Dia tak pernah menyukai rasa terkekang, dan tubuhnya yang dirantai membuat napasnya terasa sesak. ‘Lepas! Lepas!’ teriak wanita itu dalam hatinya.


Huang Miaoling terus berjuang untuk melepaskan diri, tapi setelah sekian waktu berlalu, dia akhirnya menyerah. Dengan sangat terpaksa, wanita itu hanya bisa mencoba untuk mengendalikan emosi dan ketidaknyamanan dalam dirinya.


‘Sudah berapa waktu berlalu?’ Otak Huang Miaoling berputar, mencoba menebak-nebak apa yang telah terjadi. ‘Apa Kakak Pertama tertangkap? Bagaimana dengan Fang Yu? Pasukan Longzhu … apa ada yang kehilangan nyawa?’ Tangan wanita itu mengepal, ‘Apa Kaisar Weixin sungguh … sudah mati?’


Entah berapa lama waktu berlalu, tapi pintu ruangan tempatnya berada mendadak terbuka. Huang Miaoling berpura-pura untuk menutup matanya, mencoba melihat siapa yang sebenarnya datang. Dia ingin mencari kesempatan untuk kabur!


Tanpa diduga, sebuah tangan mencengkeram lehernya, menyebabkan mata Huang Miaoling mendadak terbuka karena kesulitan bernapas. “Jangan kau berpura-pura di hadapanku, Huang Miaoling!” geram pria yang tak lain adalah Wang Chengliu. Amarah menggebu-gebu terpancar dari manik hitam kecokelatan pria itu.


Melihat ekspresi Wang Chengliu, Huang Miaoling memaksakan sebuah senyuman untuk muncul di wajahnya. “Kau … kehilangan … sesuatu?”


Tatapan mengejek yang ditunjukkan oleh Huang Miaoling kepadanya membuat Wang Chengliu semakin menggila, dia menguatkan cekikannya pada leher wanita itu seraya membentak, “Di mana kau sembunyikan orang-orang itu?!” Karena cekikan yang terlalu kuat, Huang Miaoling tidak bisa menjawab. Akhirnya, dengan tidak rela, Wang Chengliu melepaskan wanita itu.


Huang Miaoling terbatuk-batuk, lalu menarik napas dalam. Baru dua detik dia mendapatkan kebebasan, sebuah belati ditekankan pada lehernya.

__ADS_1


“Jawab!” geram Wang Chengliu dengan tidak sabar.


“Wang Chengliu, apa kau sungguh berharap aku memberitahukan semuanya padamu secara cuma-cuma?” tanya Huang Miaoling dengan nada menantang. Wanita itu mendekatkan wajahnya ke arah Wang Chengliu, tidak memedulikan belati yang sedikit menyayat lehernya. “Bermimpilah.” Dan, wanita itu pun tertawa keras penuh kemenangan.


Tangan Wang Chengliu bergetar, amarahnya yang terkumpul memerlukan pelampiasan. Dia mencengkeram kedua sisi wajah Huang Miaoling dengan tangannya, lalu memaksakan sebuah seringai mengerikan, “Apa kau kira dengan menyelamatkan Pangeran Mahkota, kau bisa menghentikanku? Hanya perlu waktu sebelum aku akan menemukannya!”


Huang Miaoling jelas tahu jawaban dari pertanyaan tersebut, tidak. Tanpa Wang Zhengyi, Wang Chengliu tetap bisa menguasai takhta. Lagi pula, fitnah telah disemburkan, dan reputasi Wang Zhengyi saat ini telah hancur di mata para pejabat serta prajurit. Hanya dengan satu dorongan, Wang Chengliu tetap bisa mengambil alih kekuasaan Kerajaan Shi.


Namun, tujuan Huang Miaoling bukan untuk menghentikan Wang Chengliu dalam sekali serangan. Semua butuh proses!


“Tanpa sandera, apa yang bisa kau lakukan?” tanya Huang Miaoling. “Tidak hanya Wang Zhengyi, tapi Wu Meilan, para wanita istana, juga Kaisar Weixin menghilang. Tidakkah ini menyenangkan?” Wanita itu menatap Wang Chengliu dengan tatapan mengasihani, “Telah kukatakan Wang Chengliu, aku bisa membaca langkahmu.”


Tidak, tidak hanya Wang Chengliu, Huang Miaoling juga tahu niat Ibu Suri Shen untuk menjebak dirinya. Sejak saat Wu Meilan memberi tahu niat Kaisar Weixin untuk menikahkannya dengan Wang Chengliu, Huang Miaoling sudah sadar bahwa ada yang salah.


Mendengar ucapan Huang Miaoling, mata Wang Chengliu membesar, seakan ingin melahap wanita di hadapannya itu hidup-hidup. Saat sadar bahwa Huang Miaoling sedang mempermainkan emosinya, pria itu menutup matanya.


Pepatah mengatakan, “Dia yang terlebih dahulu tenggelam dalam api amarah akan menjadi pihak yang kalah!” Dan, Wang Chengliu tidak bersedia menjadi pihak yang kalah.


Wang Chengliu menarik mundur dirinya, lalu berdiri di sisi tempat tidur seraya menatap Huang Miaoling dengan dingin. “Hebat kau, Huang Miaoling. Dengan memancing amarahku, kau berharap aku menghabisimu, bukan?” tanyanya seraya menyisir rambutnya ke belakang, gerakan yang begitu memesona, tapi juga mematikan. “Sayang, aku tidak akan melakukan hal itu.”

__ADS_1


Huang Miaoling berdecak dalam hati, memaki kecerdasan pria itu. “Kau tidak tega membunuhku?” tanyanya dengan sebuah seringai mengejek. Namun, hati wanita itu bergetar.


Kalau Huang Miaoling ditahan di tempat ini, maka orang yang akan dijadikan sandera … adalah dirinya. Kemungkinan besar keluarga kerajaan tidak akan terpancing untuk menyelamatkannya setelah berhasil keluar dari istana, tapi tidak dengan keluarga Huang … dan juga Liang Fenghong.


Mendadak, Wang Chengliu mendengus. “Apa kau mengira semua orang berhasil selamat?” tanya pria itu. “Tidakkah kau ingat bahwa kakak pertama, kakak sepupu, serta pasukanmu berada dalam tanganku?”


“Jangan membual, mereka telah kabur,” balas Huang Miaoling.


Sesungguhnya, Huang Miaoling sama sekali tidak tahu perihal keadaan kedua saudara beserta pasukannya. Namun, dia akan bertaruh bahwa mereka berhasil selamat.


Kenapa? Tentu karena saat Wang Chengliu menanyakan perihal keluarga kerajaan yang menghilang, dia tidak menggunakan orang-orang itu untuk mengancam Huang Miaoling.


‘Pria itu telah salah langkah!’ Huang Miaoling ingin sekali menertawakan hal tersebut.


Bisa melihat pancaran merendahkan dari manik hitam Huang Miaoling, emosi Wang Chengliu kembali meningkat. Dia mencengkeram wajah Huang Miaoling dan menggeram, “Teruslah tertawa. Dalam beberapa hari lagi, kau akan melihat mayat semua orang yang kau kasihi!” Pria itu menyeringai, “Lagi pula, tiga di antaranya telah jatuh di medan perang dan sedang dalam perjalanan menjadi hiasan di gerbang utama Zhongcheng!”


Di saat ini, Huang Miaoling kembali teringat ucapan Wang Chengliu di halaman utama. Tubuh wanita itu kembali bergidik, ‘Apa maksud … pria ini?’


Menangkap buyarnya ketenangan Huang Miaoling, Wang Chengliu terkekeh. “Kau tidak tahu, bukan?” Dia mendekatkan wajahnya pada wanita itu, “Mari kuberitahukan padamu sebuah rahasia.” Dengan bibir yang berada di sisi telinga Huang Miaoling, pria itu berbisik, “Ada pengkhianat dalam ekspedisi Zhou-Shi.”

__ADS_1


___


A/N: Siapa yang kemarin minta crazy-up?


__ADS_2