Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 63 Aku Mencintaimu


__ADS_3

A/N: Ini ... mohon maaf banget, 18+ ya. Jadi, yang mau baca ... plis ... reader discretion is advised (kebijaksanaan pembaca disarankan)!


Sumpah demi gue semedi 1 bulanan cuma buat nulis bab ini. Kalau jelek, mohon jangan dihujat. Perjuangan menulisnya ini membuat hati ngilu kalo dihujat. :") Saya bukan penulis 18+ profesional nih mohon maap.


___________________________________________


“Hah … hah ….”


Desahan menggoda bisa terdengar bergema di dalam ruangan yang dihiasi dengan berbagai benda berwarna merah itu. Suara basah terdengar dari dua orang yang saling mengecap rasa satu sama lain. Erangan yang menyelingi mampu membuat siapa pun yang mendengarnya bersemu merah.


Tangan kiri Huang Miaoling melingkar di leher Liang Fenghong, menahan dirinya dari terjatuh. Sementara itu, tangan yang lainnya menekan kepala pria tersebut, memperdalam ciuman yang dia berikan.


Wajah Liang Fenghong terlihat tak berdaya, batinnya tergoda untuk menenggelamkan diri dalam kenikmatan yang lebih jauh.  “Hah … Ling’er …,” desisnya selagi memiliki kesempatan. ‘Ini salah ….’ Tangannya menyentuh pinggang gadis di hadapannya, tapi dirinya tak kuasa mengerahkan tenaga untuk mendorong Huang Miaoling menjauh.


“Mmh ….” Huang Miaoling mengerang, merasakan dirinya mulai kehilangan napas. Namun, dia enggan melepaskan, begitu pula dengan pria di hadapannya.


Mata Huang Miaoling terbuka, lalu dirinya dengan tak rela memisahkan diri dengan Liang Fenghong. Rona merah yang menghiasi wajah pria tersebut serta napasnya yang memburu membuat jantung gadis itu berdetak kencang. Dia mencoba menikmati pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.


Seluruh tubuh Huang Miaoling terasa panas, memaksa gadis tersebut untuk menampakkan ekspresi kesulitan yang menggairahkan. Gadis itu merasa seluruh tenaganya tiba-tiba menguap, dan dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya.


“A Feng, tolong aku …,” desah Huang Miaoling, menghembuskan napas hangat pada leher prianya. Tangannya menyentuh dada pria tersebut, mencoba untuk memancing sebuah tindakan. “A Feng ….”


Liang Fenghong melirik Huang Miaoling, bisa merasakan gejolak hasrat dalam diri gadis tersebut. Dia kemudian mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya di atas ranjang.


Tangan Liang Fenghong terarah pada ikat pinggang Huang Miaoling, perlahan menarik benda tersebut selagi berusaha menahan keinginan dalam dirinya. Dia tentu tak ingin bersikap kasar kepada wanitanya itu.


Satu bulir keringat mengalir turun dari wajah Liang Fenghong, kecepatannya seirama dengan napas berat pria tersebut. Matanya menatap lurus ke arah Huang Miaoling, menghargai keelokan ekspresi gadis tersebut yang ditunjukkan hanya untuk dirinya itu.


Setelah berhasil melepaskan ikat pinggang istrinya, Liang Fenghong menarik kedua Huang Miaoling ke atas kepala gadis tersebut, menguncinya. Hal tersebut membuat gadis itu terkesiap, merasa sedikit terkejut dengan tindakan yang begitu tiba-tiba itu.


Kemudian, Liang Fenghong mendekatkan wajahnya kepada Huang Miaoling. Namun, pria itu secara tiba-tiba berhenti. “Ling’er, maaf.”


Detik itu juga, Liang Fenghong mengikat kencang tangan Huang Miaoling, membuat gadis itu terbelalak. “K-kau …. Apa yang kau lakukan?!” desis gadis itu seraya mencoba memberontak. Namun, tubuhnya tak mampu mengeluarkan tenaga.


Tanpa memedulikan rintihan istrinya, Liang Fenghong memperkuat ikatannya dan kemudian menjauh dari Huang Miaoling. Napas pria itu terengah-engah, seakan sedang bekerja keras melakukan sesuatu.


Hmm, mungkin lebih tepat mengatakan bahwa Liang Fenghong sedang bekerja keras ‘menahan’ sesuatu.


“A Feng!” bentak Huang Miaoling seraya meronta-ronta. “Kenapa kau melakukan ini?!” rengeknya di sela-sela napasnya yang memburu.


Liang Fenghong mendudukkan dirinya di kursi, mencoba untuk menenangkan roh dan raganya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi.


Mata hitam Liang Fenghong beralih kepada guci kosong yang berada di meja\, lalu dia meraih dan mendekatkan hidungnya ke sana. Kening pria itu berkerut. ‘Sint*ng! Tak heran Ling’er pun kehilangan akal sehatnya setelah meminum ini ….’ Hatinya merasa kesal dan dia menggeram rendah\, “Baj*ngan mana yang meletakkan benda ini di sini!?” Akan pria itu pastikan untuk menemukan siapa pun yang melakukan hal tersebut di hari esok.


Yah, Nenek Lang harus bersiap-siap.


“Uhh ….”


Liang Fenghong mengalihkan pandangannya dengan cepat ketika mendengar suara tangisan dari tempat tidurnya. Ketika menyadari suara itu berasal dari istrinya, dia berdiri dan bergegas menghampiri Huang Miaoling.


“Ling’er, apa kau baik-baik saja …?” tanya Liang Fenghong dengan khawatir. Mata pria tersebut menggerayangi ikatan pada tangan gadis itu. ‘Apa terlalu kencang?’


“Sakit …,” ujar Huang Miaoling seraya mengerutkan kening dan meringkuk. “Kau begitu kejam. Bisa-bisanya mengikatku seperti ini …,” rengek gadis itu.


Sikap Huang Miaoling yang tidak biasa membuat Liang Fenghong membeku. Pemandangan ini jelas merupakan sesuatu hal yang baru untuknya.

__ADS_1


Liang Fenghong merasa hatinya luluh. Lalu, dia mengulurkan tangan untuk sedikit melonggarkan ikatannya. Dalam hatinya, Liang Fenghong merasa bahwa dengan kekuatan Huang Miaoling saat ini, gadis itu tak mungkin bisa melakukan apa pun.


Namun, Liang Fenghong salah besar.


Tepat saat Liang Fenghong menjulurkan tangannya ke arah ikatan tangan Huang Miaoling, gadis itu menariknya kembali ke ranjang. Beruntung, pria tersebut sempat menggunakan tangan kirinya untuk menahan tubuhnya dari menimpa tubuh istrinya.


Dengan sebuah seringai, Huang Miaoling berkata, “Kau kembali padaku, A Feng.”


Seluruh tubuh Liang Fenghong bergetar mendengar suara rendah menggoda tersebut. Lalu, dia menggeram rendah, “Kau yang memaksaku, Ling’er.”


***


“Urgh.” Erangan kesakitan bisa terdengar, menunjukkan betapa sulitnya bagi satu sosok malang itu untuk mengumpulkan kesadarannya. Pening menusuk kepalanya tanpa ampun.


Huang Miaoling mengernyitkan wajahnya dan mencoba untuk menyentuh dahinya. Namun, dia tersadar bahwa dirinya tak bisa menggerakkan tangannya.


Mata Huang Miaoling mendadak terbuka, menyadari kalau ruangan tempatnya berada begitu gelap. Gadis itu melirik ke bawah, ke arah tangannya yang tak bisa digerakkan.


Dengan bantuan cahaya samar bulan yang menembus kertas jendela, Huang Miaoling menyadari bahwa tangannya terikat ikat pinggang merah yang terlihat familier. Matanya membelalak saat mengenali itu adalah ikat pinggang pakaiannya. Hal yang lebih mengejutkan bagi Huang Miaoling bukanlah perpindahan ikat pinggang itu, melainkan sebuah tangan yang melingkari pinggangnya, memeluknya.


Detik itu juga, Huang Miaoling merasakan adanya hembusan udara di belakang lehernya. Seluruh tubuhnya sekejap membeku. Gadis itu perlahan menoleh dan mendapati wajah tampan yang familier memenuhi pandangannya. Kalau bukan karena kebingungan dan kepanikan yang menyelimuti dirinya, mungkin Huang Miaoling akan menghabiskan waktunya menikmati pemandangan indah yang disuguhkan padanya.


‘Liang Fenghong?!’ pekik Huang Miaoling dalam hati. Otaknya berputar kencang, teringat bahwa dirinya telah menikahi pria itu. ‘Apakah kami—?!’ Dia mengerutkan keningnya, menjadi semakin menggila saat menyadari sebuah pemandangan lain yang membuat jantungnya berdebar. ‘D-dia tidak mengenakan pakaiannya!’ teriaknya dalam hati saat menyadari pandangannya bisa dengan leluasa menggerayangi dada bidang yang tidak tertutup selimut itu.


“Hmm.”


Huang Miaoling tersentak saat mendengar erangan rendah pria tersebut. Matanya menancap pada wajah Liang Fenghong yang sempat memberikan reaksi, mengerutkan kening dengan tak nyaman. Kemungkinan besar, pria tersebut menyadari adanya pergerakan dalam tidurnya.


‘A-apa kami sungguh telah melakukannya?!’ pekik Huang Miaoling. ‘B-bagaimana mungkin aku tak mengingat apa-apa!?’ Keningnya lalu berkerut. ‘Tunggu, tak masuk akal ….’ Dia melirik kembali ke tangannya. ‘Kenapa tanganku terikat?’


“Kau sudah bangun?”


Sebuah suara mengejutkan Huang Miaoling, membuat gadis itu tersentak. Dia menoleh dan mendapati sosok Liang Fenghong sedang menatap dirinya. Manik hitam gelap itu terlihat sedikit mengantuk.


Pria tersebut kemudian mengedipkan matanya beberapa kali sembari mendudukkan diri. “Ling’er,” panggilnya, merasa sedikit waspada. “Apa kau sudah sadar?” tanyanya lagi, tanpa sengaja menyuarakan sedikit ketakutan dalam nada bicaranya.


Ketika Liang Fenghong mendudukkan dirinya, pria itu membiarkan selimut yang tadi menutupi setengah tubuhnya terjatuh sampai ke pinggang. Hal tersebut mempersilakan Huang Miaoling untuk menangkap banyaknya bekas merah dan goresan pada perut pria tersebut.


“A-aku melakukan itu?” Itu adalah pertanyaan pertama Huang Miaoling. “Tidak mungkin, bukan?” Itu adalah pertanyaan keduanya. “Apa yang terjadi?” Pertanyaan ketiga. “Apa kita … menyelesaikan ritual pernikahan?” Pertanyaan keempat dan yang terakhir … untuk sekarang.


Liang Fenghong mengerang rendah sembari menyentuh kepalanya, mungkin merasa pening dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Pria itu menarik lepas ikatan tangan gadis tersebut seraya menjelaskan singkat, “Kau mabuk, menggila, dan tertidur.” Kemudian, pria tersebut menyelimuti tubuh istrinya dan kembali merebahkan tubuh. “Anggap kita sudah menyelesaikan ritual.” Dia menarik tubuh istrinya mendekat, memeluknya erat.


Huang Miaoling merasa sedikit terkejut dengan betapa santainya Liang Fenghong menyelipkan tangan untuk memeluknya. Namun, gadis itu berusaha untuk tenang.


Karena masih penasaran dengan apa yang terjadi, Huang Miaoling memutar tubuhnya. Dia menatap wajah Liang Fenghong yang terlihat damai, mata pria itu tertutup.


“Berakhir begitu saja?” tanya Huang Miaoling dengan penasaran, tak percaya Liang Fenghong mampu menahan dirinya. “Kau tidak mengambil kesempatan?”


Tanpa membuka matanya, Liang Fenghong membalas dengan suara parau yang menarik, “Itu maumu?” Lalu, dia membuka matanya. “Aku bisa melakukannya sekarang.”


Huang Miaoling sama sekali tidak bersiaga, membuatnya memasang tampang konyol saat pria tersebut mengatakan hal itu. Perlahan, panas merayap di wajah gadis tersebut. Dia sangat malu dan dengan cepat membalikkan tubuhnya lagi, membelakangi Liang Fenghong.


Untuk apa dia memancing pria itu?!


Walau gelap, tapi Liang Fenghong tahu kalau wajah gadis itu merona. Setelah cobaan yang harus dia lalui beberapa saat yang lalu, tentu dirinya mengingat jelas ekspresi-ekspresi yang ditunjukkan oleh Huang Miaoling.

__ADS_1


Semuanya begitu menarik dan menggairahkan.


Dengan menotok beberapa titik akupunktur gadis tersebut. Liang Fenghong memang berhasil menidurkan Huang Miaoling. Namun, selagi gadis itu tertidur tenang, Liang Fenghong perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.


Sekarang, tak hanya Huang Miaoling telah sadar, tapi istrinya itu memancing sebuah percakapan yang membangkitkan hasratnya kembali. Bukankah Liang Fenghong harus mengambil kesempatan ini?


Liang Fenghong mendekatkan wajahnya ke leher Huang Miaoling. “Aku tidak tahu kau memiliki sisi itu,” ujarnya. Tubuh pria itu kembali terasa panas. “Ling’er.” Pria itu mencium leher istrinya tersebut, merasakan tubuh Huang Miaoling menegang. “Aku menginginkanmu.” Entah apakah itu efek dirinya masih setengah tertidur, tapi Liang Fenghong mengutarakan isi hatinya dengan begitu jujur.


Liang Fenghong memutar tubuh istrinya tersebut untuk menghadapnya, lalu cahaya bulan mempersilakannya menatap wajah Huang Miaoling yang merona dengan sangat merah. Pria itu memberikan sebuah pandangan lembut pada istrinya.


“Kau begitu indah,” ujar Liang Fenghong. Dia mendekatkan bibirnya. “Kau cantik, Ling’er.” Pria itu pun mendaratkan sebuah ciuman. “Dan, kau milikku.”


Awalnya, Huang Miaoling mematung di tempatnya. Baru mendapatkan kesadarannya kembali membuat dirinya tak mampu bereaksi dengan cukup cepat. Namun, bahkan setelah bisa memproses semua yang sedang terjadi, Huang Miaoling tak menjauh. Sebaliknya, gadis itu membalas ciuman pria tersebut.


Ciuman balasan itu merupakan sebuah tanda bagi Liang Fenghong. Pria itu membangunkan dirinya seraya memperdalam ciumannya, membuat setengah tubuhnya berada di atas Huang Miaoling.


‘Apa ini cinta?’


Berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, kali ini keduanya berada dalam kesadaran penuh atas apa yang sedang terjadi. Tak ada efek anggur, hanya ada gairah dan hasrat yang bergejolak.


‘Ataukah hasrat sementara?’


“Hah … hah ….” Huang Miaoling sedikit kesulitan untuk bernapas. “A Feng ….”


“Aku menginginkanmu sekarang,” Liang Fenghong mulai menanggalkan satu per satu pakaian Huang Miaoling.


‘Apakah aku akan menyesalinya?’


“Ah!” Air mata berkumpul pada pelupuk mata Huang Miaoling.


Liang Fenghong mengernyitkan dahi, menahan diri untuk tidak menyakiti istrinya. Dia menyentuh wajah Huang Miaoling. “Kau baik-baik saja?”


‘Di kehidupan ini, apa sudah kuambil pilihan yang benar?’


Huang Miaoling mendesah, “Aku baik-baik saja, jangan berhenti.’ Cahaya bulan samar-samar menyinari wajahnya, seakan malu dengan nafsu yang terpancar pada manik hitam wanita tersebut.


Liang Fenghong menatap tajam wanita di hadapannya—wanitanya. “Aku mencintaimu.” Dia membungkam Huang Miaoling dengan ciuman penuh hasrat, khawatir akan menggila saat mendengar lenguhan menggoda dari bibir istrinya. “Aku begitu mencintaimu, Ling’er.”


‘Menyesal? Tidak.’


Mata Huang Miaoling memantulkan wajah Liang Fenghong, menunjukkan betapa gadis itu tak bisa berhenti menatap pria tersebut—suaminya. Gadis itu mengangkat tubuhnya dan ganti menyerang bibir sang Tuan Liang.


‘Selain satu hal, aku tak menyesali hal lain.’


“Aku mencintaimu, A Feng.”


‘Aku menyesal karena tidak terlebih dahulu bertemu denganmu.’


_________


A/N: I know, I know, not the best. But ... ini aku tuliskan buat kalian yang udah ngebet banget. Tadinya padahal mau diulur lagi, tapi dari pada gue kena tabok ya, kan? Dijejelin sendal gitu? (Kemaren ada yang ngancem mo tabok pake panci dong!) NIH UDAH KUKASIH! UDAH GAK UTANG YAK!


 


 

__ADS_1


__ADS_2