Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 64 Setelah Malam Pernikahan


__ADS_3

Semilir angin menghasilkan suara gemeresik dedaunan yang menenangkan. Langkah-langkah kaki menghasilkan suara garing pada lantai yang dipijak, menandakan bahwa begitu banyak orang sedang melakukan sesuatu. Tawa kecil dan desisan lembut untuk membungkam tawa bisa terdengar dari luar ruangan pengantin tersebut.


“Sudah begitu siang, tapi masih belum bangun?” ujar Mudan dengan kening berkerut. Dia ingin melaporkan sesuatu, tapi apa daya bila ketuanya tak dapat diganggu. “Tidak bisakah ada yang membangunkan mereka?” Laporan ini begitu penting sampai Mudan tidak bisa menunggu dengan sabar.


Meihua yang ada di dekatnya mendelik. “Kau gila?” tanya Meihua sembari menyentil dahi sahabatnya itu. “Di mana hati nuranimu? Bisa-bisanya mengganggu dua pengantin baru setelah malam pernikahan.” Dia mendecakkan lidahnya.


Percakapan kedua bawahan Liang Fenghong itu membuat Qiuyue tersenyum tipis. ‘Sepertinya, Tuan Liang perlu waktu untuk menjinakkan Nyonya,’ batinnya dalam hati.


Xiaoming yang bersandar di tiang penyangga kediaman tersebut menggelengkan kepalanya. “Diamlah!” bisiknya setengah membentak. “Kalau Junzhu orang yang terbangun karena suara kalian, maka kalian akan aman. Namun, kalau Ketua yang terbangun ….” Pria itu bergidik ngeri. “Aku bahkan tak ingin membayangkannya.”


Mendengar ucapan Xiaoming, Meihua dan Mudan terdiam. Qiuyue menatap ketiganya dan mengerti mengenai suatu hal. ‘Sepertinya, Tuan Liang jauh lebih menyeramkan dibandingkan yang terlihat.’


***


Sinar samar matahari yang menembus jendela menghangatkan tubuh dua orang yang terbaring di atas tempat tidur. Dengan selimut menutupi tubuh mereka yang tanpa busana, keduanya masih saling melekat dengan satu sama lain.


Mata sang Wanita bergerak-gerak, merasa sedikit terganggu dengan suhu yang mulai meningkat. Perlahan, kelopak mata itu terbuka, memamerkan manik hitam yang menenggelamkan.


Huang Miaoling sempat terkejut ketika pandangannya menangkap keberadaan seorang lain pada tempat tidurnya. Saat kesadarannya mulai meresap, wajah wanita itu bersemu merah.


‘Kami … sungguh telah menikah?’ Huang Miaoling masih mengalami kesulitan untuk percaya.


Benak Huang Miaoling melayang kepada kejadian di malam sebelumnya. Dia tak memiliki waktu untuk memikirkan tindakan konyolnya akibat minuman keras yang dia teguk. Saat ini, otaknya dipenuhi dengan ingatan mengenai betapa liarnya malam pernikahannya dengan pria di hadapannya ini.


Mata Huang Miaoling menyapu pemandangan di hadapannya, menikmati setiap inci wajah Liang Fenghong yang terlihat begitu tak siaga di hadapannya. Berbeda dengan ekspresinya yang biasa begitu dingin, pria itu terlihat begitu tenang.


Dengan satu tangan yang leluasa bergerak, Huang Miaoling menyentuhkan ujung jari telunjuknya dengan lembut pada sisi wajah suaminya. Kalau bukan karena dirinya mengalami sendiri, sang Mingwei Junzhu tak akan percaya bahwa pemilik wajah dingin itu memiliki sisi penuh hasrat.

__ADS_1


Tiba-tiba, kening Liang Fenghong sedikit berkerut. Pria itu bisa merasakan sentuhan ringan pada wajahnya, membuatnya sedikit tergelitik.


Tangan Liang Fenghong yang melingkari tubuh istrinya itu sedikit bergerak. Hal tersebut membuat Huang Miaoling merasa kaget dan segera menarik kembali tangannya.


Perlahan, kelopak mata Liang Fenghong terbuka. Pandangannya menggerayangi wajah Huang Miaoling untuk beberapa saat. Kemudian, pria tersebut menutupnya lagi.


Tanpa ancang-ancang, Liang Fenghong mengeratkan pelukannya, membuat Huang Miaoling menempel pada dadanya. “Tidurlah lebih lama lagi,” ujarnya dengan suara dalam. Terdengar samar dari suaranya bahwa pria itu masih mengantuk.


Hati Huang Miaoling merasa hangat. Teringat dirinya di kehidupan lalu terbangun tanpa seorang pun di sisinya setelah malam pertama. Yang ada hanyalah para pelayan yang mengambil kasurnya untuk mengumumkan pada Ibu Suri Shen dan Permaisuri Mingmei bahwa dirinya tak lagi suci. Tak hanya itu, dia masih harus melapor kepada para wanita di istana sebagai menantu keluarga kerajaan.


“Aku harus memberi salam pada orang tuamu,” ujar Huang Miaoling sembari membiarkan wajahnya bersandar pada tubuh suaminya, menikmati keintiman yang sebelumnya tak pernah dirasakan. “Kau juga masih harus menjamu tamu untuk pesta di hari kedua.”


Liang Fenghong mengerang rendah, tak begitu senang dengan kalimat terakhir Huang Miaoling. Hari pertama saja pria itu hampir kehabisan seluruh tenaganya, bagaimana mungkin dia senang harus menghabiskan hari kedua menemani para tamu lagi!


“Aku ingin menghabiskan hariku denganmu,” balas Liang Fenghong dengan serius. “Ibu dan Ayah akan mengerti apabila kau tak pergi,” tambahnya lagi sembari memeluk istrinya itu, tak memberi kesempatan bagi Huang Miaoling untuk pergi.


Pada saat ini, Liang Fenghong membuka matanya dan menatap ke arah Huang Miaoling. Kening pria itu berkerut tidak senang. “Kalau ada yang berani berkata seperti itu, aku akan merobek mulutnya.” Lalu, ekspresinya berubah santai, seakan acuh tak acuh. “Lagi pula, yang penting adalah kau menyandang status sebagai istri terbaik. Itu sudah cukup.” Pria itu mengecup dahi Huang Miaoling.


“Ah ….”


Sebuah desahan bisa terdengar keluar dari mulut sang Mingwei Junzhu ketika tangan suaminya dengan nakal menggoda tubuhnya. Wanita itu bisa merasakan kalau Liang Fenghong berniat untuk mengulangi kembali insiden di malam sebelumnya.


Sebelum tangan Liang Fenghong menyusup ke tempat yang tak seharusnya, Huang Miaoling mencengkeram tangan pria itu. “A Feng ….” Wanita itu menampakkan ekspresi merengut yang menggemaskan. “Jangan buat aku marah,” ancamnya.


Di dalam dada Liang Fenghong, jantung pria itu terpacu semakin kencang. Alih-alih khawatir dengan ancaman istrinya, dia menjadi semakin tergoda. ‘Dia begitu menggemaskan,’ pikirnya. ‘Andai dia sadar bahwa tindakannya tidak membuatku takut, melainkan semakin menginginkannya.’


Liang Fenghong mendekatkan wajahnya pada Huang Miaoling. Lucu, tapi wanita itu juga tak menghindar, menunjukkan keinginan terpendam dalam dirinya. Keduanya saling terpagut, melampiaskan hasrat yang mulai terpancar dalam diri mereka.

__ADS_1


Desahan rendah mulai kabur dari sela-sela ciuman yang diberikan oleh Liang Fenghong pada istrinya. Huang Miaoling merasa kehabisan napas, tapi dia juga tak ingin memisahkan diri.


Lenguhan menggoda sempat terlontar ketika Liang Fenghong melepaskan bibir Huang Miaoling dan berpindah pada telinga wanita itu. “Jadi, telingamu adalah kelemahanmu?” bisik pria itu tepat di sisi telinga Huang Miaoling, membuat tubuh wanita itu bergetar.


“Hah ….” Huang Miaoling mendesah saat Liang Fenghong mengecup telinganya. “J-jangan di sana.” Dia mencoba mengangkat tangannya untuk mendorong wajah suaminya menjauh. “Ah!” Namun, tangan Liang Fenghong dengan cepat menahannya. “A Feng …,” panggil wanita itu dengan wajah yang meminta lebih.


Liang Fenghong menurunkan ciumannya dari telinga, menuju ke leher, menurun ke tubuh istrinya. Ciuman itu begitu lembut, tapi meninggalkan jejak panas pada tubuh Huang Miaoling.


“Ling’er, aku—!”


Tok! Tok!


“Tuan! Nyonya! Apa kalian telah bangun?!”


Pada saat itu, Huang Miaoling dan Liang Fenghong pun membeku di tempat. Sang Mingwei Junzhu sekejap tersadar dari gejolak nafsunya dan segera mendorong suaminya ke samping. Hal itu membuat Liang Fenghong menggeram rendah.


“Ada apa?!” tanya Liang Fenghong dengan ketus, bersiap melemparkan makian pada siapa pun itu bawahannya yang berani mengganggunya.


“M-maaf karena harus mengganggu Tuan dan Nyonya, tapi … Yang Mulia Kaisar meminta kehadiran kalian berdua di istana!” ucap orang yang tak lain adalah Qiuyue. “Ini mengenai Pangeran Kelima!”


Mendengar hal ini, ekspresi Huang Miaoling dan Liang Fenghong berubah menjadi buruk. Tak ada sedikit pun kehangatan yang tertinggal dalam pancaran mata mereka.


Liang Fenghong menjadi orang yang pertama bereaksi. “Ada apa dengan Pangeran Kelima?” tanyanya, meminta penjelasan.


Di luar ruangan, ekspresi Qiuyue terlihat pucat dan tubuhnya bergetar. “P-Pangeran Kelima … tewas dalam perjalanan menuju Kun Lun!”


___

__ADS_1


A/N: 0.0


__ADS_2