
Note: Not sure apakah ini 18+, I think so, but I don't know. Jadi, read with care, ya. I have no responsibility for whatever happens to you, HAHAHA
_____________
Mata Huang Miaoling tertutup rapat, tapi kesadarannya tidak kunjung beristirahat. Bak sedang berlari dalam sebuah lingkaran, benak Huang Miaoling terus berputar untuk menyusun ratusan rencana demi menghadapi masalah di depan mata. Tidak seperti biasanya, bahkan setelah menyusun berbagai rencana cadangan, hati Huang Miaoling tidak bisa merasa tenang.
Tidak merasa ada gunanya untuk terus menutup mata, kelopak mata Huang Miaoling pun terbuka. Pandangan wanita itu terarah lurus pada jendela yang menyusupkan sinar bulan secara samar.
Setelah terdiam beberapa saat, Huang Miaoling mengalihkan pandangannya pada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Pada saat itu, dia baru tersadar dengan adanya embusan napas hangat yang mendarat di tengkuknya.
Huang Miaoling mencoba untuk menoleh, tapi dia khawatir akan membangunkan pria yang tertidur di sisinya itu. Teringat akan wajah lelah Liang Fenghong beberapa saat yang lalu, hati wanita itu sedikit pilu. Dia mengerti akan betapa khawatirnya pria tersebut terhadap Kaisar Huatai, juga terhadap negaranya.
‘Apa kejatuhan Wu memang tidak bisa dihindari? Li Changsheng tetap harus berkuasa menggantikan Wu Huatai sesuai garis takdir kehidupan lalu?’ pikir Huang Miaoling seraya mengerutkan keningnya. ‘Lalu, apakah Wang Chengliu tetap akan menjadi kaisar? Apa takdir surga memang tidak bisa diubah?’ Seluruh tubuh wanita itu menegang, merasa emosi dalam hatinya tercampur-aduk. ‘Lalu, apa gunanya aku kembali?!’
Tiba-tiba, Huang Miaoling membeku ketika merasakan sebuah kecupan pada lehernya. Suara dalam yang menenangkan itu berkata, “Kenapa kau masih belum tertidur?” Pria itu mengeratkan pelukannya, seakan berusaha mengikis jarak di antara tubuh mereka yang sebenarnya sudah tidak ada.
Bisikan Liang Fenghong membuat telinga Huang Miaoling merasa geli. Kemudian, wanita itu memaksa pria tersebut melonggarkan pelukannya, lalu berputar untuk menghadap lawan bicaranya. Namun, langkah tersebut malah disambut Liang Fenghong dengan kecupan lembut pada leher Huang Miaoling.
Sembari menarik tubuh istrinya mendekat, Liang Fenghong berkata, “Karena tidak bisa tidur, apa yang ingin kau lakukan?” nadanya terdengar begitu menggoda.
Kalau biasanya Huang Miaoling akan salah tingkah, kali ini wanita itu memasang wajah serius. “Jangan kau coba menutupi kekhawatiranmu," ucapnya seraya menyentuhkan tangannya pada sisi wajah suaminya itu. "Katakan padaku, dan aku akan berusaha untuk membantumu mengatasinya, A Feng."
Liang Fenghong membeku di tempatnya, baru pertama kali ini Huang Miaoling mengatakan ucapan seperti itu kepadanya. Dia menyetarakan pandangannya dengan sang istri. “Kau khawatir?” tanyanya dengan sebuah senyuman tipis.
“Kau adalah suamiku, apa aku tidak diperkenankan melakukan hal itu?” Huang Miaoling balas bertanya.
Di kehidupan lalu, Huang Miaoling tak pernah merasakan apa yang namanya kasih sayang seorang suami. Sekarang, mendapatkan seseorang seperti Liang Fenghong bak berkah dari langit baginya. Dia tak ingin menyia-nyiakan pria itu. Paling tidak, dia harus membalaskan budinya terhadap suaminya itu.
Logika Huang Miaoling berteriak bahwa tindakannya adalah usaha untuk membalas budi. Namun, apakah hatinya juga menyatakan hal yang sama?
__ADS_1
Huang Miaoling menatap wajah Liang Fenghong untuk beberapa saat, dan dia merasa ada sebuah jarum yang menusuk hatinya. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Kemudian, tangan Huang Miaoling melingkar di pinggang Liang Fenghong, dan dia mendekapnya erat.
“Aku ingin ikut denganmu,” ujar Huang Miaoling, mencurahkan isi hatinya. Sepertinya, rasa lelah akibat dirinya yang kurang tidur membuat bibirnya sedikit lepas kendali. “Aku tak tenang membiarkanmu pergi sendiri.” Lalu, dia melepaskan pelukannya dan menatap Liang Fenghong. “Apa kau sungguh harus pergi?”
Sejak pernikahan mereka, tidak sampai lima jari diperlukan untuk menghitung harinya. Namun, sekarang mereka harus dipisahkan akibat perang?
Liang Fenghong yang membeku membuat Huang Miaoling tersadar betapa aneh ucapannya itu, dia merasa asing terhadap dirinya sendiri. “Abaikan aku,” ujarnya seraya menjatuhkan pandangannya. “Sepertinya, bulan merah [1] akan segera menyambut—" Miaoling terpaksa terhenti ketika sesuatu membungkam bibirnya. “Mmh,” wanita itu melenguh karena sentuhan hangat yang mengantarkan sensasi aneh pada dirinya.
Liang Fenghong melepaskan ciumannya, lalu menatap wajah istrinya itu dalam-dalam. Dengan rona merah di wajah dan mata yang berkaca-kaca, wanita di hadapannya itu terlihat begitu menggoda. “Kau membuatku semakin menginginkanmu,” desis Liang Fenghong seraya menyusupkan tangannya di balik pakaian Huang Miaoling.
“Hah …,” satu desahan kabur dari mulut sang Mingwei Junzhu. Alisnya bertaut dan dia menggigit bibirnya, mencoba menahan suara aneh lainnya. “Jangan … kau harus isti— Ah!” Huang Miaoling terkesiap saat merasakan sesuatu menyelusup ke dalam dirinya. “K-kau—!”
Melihat berbagai ekspresi yang terpampang di wajah Huang Miaoling, sebuah senyuman nakal tersungging di wajah Liang Fenghong. “Aku tak akan pernah terbiasa dengan wajah itu,” bisiknya seraya menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Huang Miaoling, mencium setiap inci yang dia lewati.
Bahkan dalam keadaan setengah tak berdaya, Huang Miaoling bukanlah seseorang yang akan dengan mudah mengalah. Wanita itu menggigit telinga pria di hadapannya, menyebabkan pria itu melenguh rendah, membocorkan letak titik lemahnya. Hal tersebut membuat Huang Miaoling semakin bersemangat bermain di sana.
Kesal, Liang Fenghong menarik wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman pada bibir istrinya. Huang Miaoling pun membalas ciuman itu dengan lebih dalam. Itu adalah kesempatan wanita itu untuk melampiaskan emosi yang menggulung di dalam batinnya.
Mendadak, Huang Miaoling membeku. Pandangannya menangkap sesuatu yang membuat hatinya berhenti berdetak untuk sesaat. Wanita itu menghentikan ciumannya, “Bekas luka apa itu …?” ujar Huang Miaoling, memaksakan kalimat itu untuk keluar dari mulutnya.
Pada dada kiri Liang Fenghong, terlihat sebuah bekas luka yang begitu mengerikan. Mungkin malam pertamanya begitu memabukkan, tapi pada saat itu Huang Miaoling sama sekali tidak menyadari kehadiran bekas luka tersebut. Dari bentuk dan penampilannya, Huang Miaoling yakin bahwa bekas luka itu merupakan bekas tusukan yang sangat dalam.
Mendengar pertanyaan Huang Miaoling, pelipis Liang Fenghong sempat berkedut. Dengan topeng hasrat, pria itu mengabaikan ucapan istrinya. Dia mendorong Huang Miaoling untuk berbaring, membiarkan dirinya dengan leluasa menguasai tubuh wanita itu dari atas.
“Jangan teralihkan,” Liang Fenghong memperingati. Manik hitam pria itu memancarkan gejolak hasrat, sesuatu yang tak lagi dia tutupi. “Ling’er,” panggilnya seiring tangannya menanggalkan pakaian wanita di hadapannya dengan lincah. “Kau hanya milikku.”
“Ah …,” sebuah desahan berhasil lolos dari bibir Huang Miaoling akibat penyatuan yang dilakukan Liang Fenghong. Pandangan jernih dari manik segelap malam itu menyuarakan sebuah keyakinan. Wanita itu melingkarkan kedua lengannya pada tengkuk suaminya, lalu menarik pria itu mendekat. “Dan, kau adalah milikku.”
Tiada lagi kata yang terucap setelah itu. Selain keegoisan yang beradu dengan hasrat, pasangan itu melupakan segala hal lainnya. Karena tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, maka mereka menumpahkan semua cinta yang dimiliki pada satu sama lain saat ini.
__ADS_1
Seusai menghabiskan waktu menguras tenaga satu sama lain, Liang Fenghong memperhatikan istrinya yang akhirnya berhasil tertidur. Walau sebuah senyuman terlukis di bibirnya, tapi pancaran mata pria itu terlihat sedih.
‘Kita akan segera mencapai puncak cerita,’ batin Liang Fenghong. ‘Namun, kali ini aku tak tahu siapa yang akan berakhir pergi … dan siapa yang akan berakhir menetap.’ Pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Huang Miaoling, lalu dia mengecup lembut kening istrinya. ‘Yang pasti, aku tahu aku tak bisa lagi hidup tanpamu.’
***
“Semuanya sudah siap,” salah satu jenderal yang mendampingi rombongan Perdana Menteri Liang melaporkan. Semua saudara seperjuangan Wu telah menunggu di gerbang depan ibu kota Kerajaan Shi, siap menerima perintah dari sang pemimpin.
Liang Fenghong menganggukkan kepalanya, lalu beralih pada Xiaoming yang berlari mendekatinya. “Pasukan Lianhua telah melaksanakan perintah,” ujar pengawal pendampingnya itu seraya memberi hormat.
Melihat suaminya mengenakan baju zirah membuat Huang Miaoling tak mampu mengalihkan pandangannya. Tidak hanya terpana, tapi dia juga masih belum percaya dengan kenyataan bahwa dirinya sedang mengirimkan Liang Fenghong ke medan perang. Dahulu, setelah menikah, dirinyalah yang selalu dikirimkan oleh orang lain ke medan perang, dan tak ada yang mengantar dirinya selain ratusan pelayan dan kasim.
“Berhenti menatapku seperti itu,” ucap Liang Fenghong ketika menyadari pandangan yang diberikan oleh Huang Miaoling. “Aku akan baik-baik saja.” Dia tersenyum lembut, “Kau tahu aku memiliki perhitunganku sendiri.”
Tanpa memedulikan betapa banyak mata yang sedang memandang ke arah mereka, Liang Fenghong memeluk Huang Miaoling dengan erat. Beberapa pelayan dan prajurit bergegas mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak melihat apa pun. Sementara Yun Xia, sang Nyonya Besar Liang, dan Liang Shupeng, sang perdana menteri Kerajaan Wu, hanya bisa tersenyum sedih, mengerti ketidakrelaan dalam hati kedua sejoli itu.
Setelah melepaskan pelukannya, Liang Fenghong berkata, “Jagalah dirimu.” Dia melirik ke arah ibunya selama sesaat, lalu pada Liang Jian yang menatapnya sendu. “Ibu dan Liang Jian kuserahkan padamu.”
Huang Miaoling menganggukkan kepalanya. “Tenang saja,” balasnya, masih belum rela melepaskan tangan suaminya. Dia menggenggam erat kedua tangan Liang Fenghong, lalu berkata, “Lekaslah kembali.” Wanita itu menambahkan, “Aku akan menunggumu.”
“Ya.”
Dengan tidak rela, Liang Fenghong terpaksa melepaskan tangan Huang Miaoling. Pria itu kemudian naik ke atas kudanya, lalu melirik ke arah istrinya untuk yang terakhir kalinya. Setelah yakin, Liang Fenghong menganggukkan kepala kepada ayahnya. Kemudian, bersama dengan Xiaoming dan Meihua, dia pun memacu kudanya tanpa menoleh ke belakang, khawatir akan timbul ketidakrelaan untuk berpisah ketika melihat orang-orang yang dicintai.
Sembari menatap kepergian suaminya, Huang Miaoling membatin, ‘Dia akan baik-baik saja. Dia selalu baik-baik saja.’
___
[1] Bulan Merah: Datang Bulan
__ADS_1
___
A/N: *Author yang lagi terduduk di salah satu kedai depan rumah Huang Miaoling*: 'Hmm, jadi ... awal dari akhir sudah dimulai?'