Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 31 Kosongnya Kursi Menteri Pembangunan


__ADS_3

Suara dentingan sumpit adalah satu-satunya yang terdengar di ruang makan malam itu. Tak ada yang berani berbicara—bahkan Liang Jian sekali pun—ketika sosok Liang Fenghong memancarkan aura yang begitu gelap dan mematikan.


Karena tidak lagi tahan, Nyonya Besar Liang berkata, “Fenghong, Ibu sudah mendengar mengenai kejadian hari ini.” Dia melirik sang Suami sedikit ketika menyadari ucapannya membuat sang Putra menghentikan makan malamnya untuk menatap sang Ibu. “Apa Ling’er baik-baik saja?” tanyanya.


Perdana Menteri Liang menatap Liang Fenghong dalam diam, menunggu jawaban putranya. Dia sudah menahan diri untuk tidak mengungkit masalah ini karena merasa saatnya kurang tepat. Namun, dia tak menduga kalau mulut istrinya tidak lebih rapat daripada miliknya.


Liang Jian yang tidak mengetahui apa pun hanya terbengong. ‘Apa yang terjadi?’ pikirnya, merasa sedikit khawatir ketika mendengar ibunya menanyakan mengenai kondisi Huang Miaoling. ‘Sesuatu terjadi pada Kakak Ipar?’


Liang Fenghong menatap sang Ibu untuk sesaat dan tersenyum. “Ling’er baik-baik saja,” jawabnya singkat. “Kalian tak perlu khawatir.” Dia pun melanjutkan makan malamnya.


Nyonya Besar Liang merasa ada yang aneh dengan nada bicara putranya. Dia melirik Perdana Menteri Liang, mengira bahwa suaminya belum menceritakan keseluruhan hal yang terjadi padanya.


Di sisi lain, Perdana Menteri Liang merasa kebingungan dan juga tertuduh. Apa yang dia ceritakan pada istrinya adalah apa yang Xiaoming laporkan padanya. Oleh karena itu, dia melemparkan kembali pandangan tak bersalah serta permintaan keadilan pada istrinya.


“Kejadian hari ini …,”—Perdana Menteri Liang dan Nyonya Besar Liang segera mengalihkan pandangan pada putra mereka—“berada dalam kendali. Oleh karena itu, tak perlu khawatir,” jelas Liang Fenghong lagi ketika menyadari jawabannya tak memuaskan kedua orang tuanya.


Nyonya Besar Liang baru saja ingin kembali menekan putranya untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Akan tetapi, sebelum dia berhasil melakukan hal tersebut, Perdana Menteri Liang meraih tangannya dan menghentikannya. Pria itu menggelengkan kepalanya untuk mengisyaratkan agar wanita itu tidak memaksa Liang Fenghong untuk menjelaskan.


Selesai makan malam, karena dorongan istrinya, Perdana Menteri Liang memanggil Liang Fenghong ke dalam ruangannya. “Kudengar anggota keluarga Huang kembali ke kediaman mereka dengan penuh amarah.” Dia melanjutkan, “Tak hanya itu, aku juga mendengar ada penyusup yang menyerang istana Kaisar.” Melihat putranya masih diam, Perdana Menteri Liang memasang wajah serius dan memberikan suara penuh tekanan. “Aku rasa aku punya hak untuk mengetahui apa yang terjadi.”


Liang Fenghong menatap wajah ayahnya, pria itu tak bercanda. Akhirnya, dia menghela napas. “Ling’er berencana membereskan Wang Wuyu, Li Guifei, dan Huang Wushuang serta menarik keluar Wang Chengliu dari kegelapan.”

__ADS_1


Satu kalimat itu membuat mata Perdana Menteri Liang terbelalak, sekejap mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Sekaligus?” gumamnya dengan nada tak percaya. “Ini … kegilaan.” Pandangannya kembali beralih pada Liang Fenghong. “Dia berhasil?” Putranya itu mengangguk dan ekspresinya semakin dipenuhi kengerian, sebuah senyuman canggung menghiasi bibirnya. “Calon menantuku adalah seseorang yang mengerikan.”


Mendengar ucapan itu dari mulut ayahnya membuat hati Liang Fenghong sedikit kacau. Dia senang dan bangga karena Huang Miaoling berhasil melakukan suatu hal yang bahkan sang Ayah akui sebagai kegilaan. Namun, dia merasa tertekan karena wanita itu memaksakan dirinya sendiri untuk mencapai hal tersebut tanpa bantuannya.


Perdana Menteri Liang menatap ekspresi Liang Fenghong yang terlihat kesulitan. “Fenghong, yang kau lakukan sudah lebih dari cukup,” ucapnya. “Aku mengerti perasaanmu. Akan tetapi, Nona Huang adalah orang yang seperti apa, kau tahu jelas.” Pandangannya melembut. “Kau kira, kau bisa mengekangnya?”


Liang Fenghong menggelengkan kepalanya sedikit. “Aku mengerti dirinya. Mengekangnya?” Sudut kanan bibirnya terangkat. “Dia akan lari.” Lalu, senyuman itu menghilang. “Namun, tak berarti aku akan diam saja dan membiarkannya berjuang sendiri.” Pancaran tajam terlihat dari matanya.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya sang Ayah yang merasa tidak tenang melihat pandangan dari mata putranya. “Kau tidak boleh gegabah. Bagaimana pun juga, kita hanya tamu di negara ini.”


“Tamu?” Liang Fenghong tersenyum. “Siapa bilang?” Dia mengeluarkan sebuah benda dari lengan pakaiannya dan meletakkannya di atas meja. “Ayah, aku bukan lagi sekedar seorang tamu.”


Perdana Menteri Liang terdiam seraya dia memperhatikan benda yang tergeletak di atas meja kerjanya saat ini. Perlahan, ekspresinya berubah dipenuhi kengerian bercampur takjub. Jari telunjuk pria itu terarah pada plakat yang Liang Fenghong letakkan.


Senyuman di wajah Liang Fenghong tidak menghilang, membuat sang Ayah yang melihatnya merasa sedikit tertekan. “Kali pertama aku terlibat dengan Pangeran Keempat dan Ling’er untuk menyelamatkan sang Pangeran Mahkota, sang Kaisar memaksaku untuk menerima sebuah anugerah.” Dia meraih plakat tersebut dan berkata, “Plakat pejabat tingkat satu.”


Plakat pejabat tingkat satu, sebuah plakat yang biasa dimiliki setiap pemimpin departemen kementerian. Kementerian Personel, Kementerian Keuangan, Kementerian Ritus, Kementerian Pertahanan, Kementerian Kehakiman, dan Kementerian Pembangunan. Ada sembilan departemen, dan itu berarti hanya ada sembilan plakat.


Lalu, plakat siapa yang diberikan kepada Liang Fenghong?


Benak Perdana Menteri Liang berputar, menerka-nerka maksud Kaisar Weixin. “Ini tidak masuk akal.” Perdana Menteri Liang menggelengkan kepalanya, tidak mengerti. “Dibandingkan dengan Pangeran Keempat dan Nona Pertama Huang, kau tidak berjasa begitu besar. Apa yang membuat sang Kaisar memberimu hadiah yang begitu besar? Selain itu, pada saat itu, kesembilan kementerian memiliki pemimpin.”

__ADS_1


“Lianhua Yuan adalah milikku,” ujar Liang Fenghong. “Selain itu, reputasi saudagar terpercaya kerajaan Shi juga disandingkan pada namaku.” Matanya memancarkan sebuah rasa percaya diri yang tinggi. “Dari dua hal ini, menurut Ayah, seperti apa diriku di mata sang Kaisar dahulu?” tanya Liang Fenghong sembari memasukkan kembali plakat tersebut ke dalam lengan pakaiannya.


Di masa identitas Liang Fenghong hanya berupa sang Saudagar dan sang Tabib Jianghu, Jiang Feng, Li Hongxia adalah musuh terbesar Kaisar Weixin, duri dalam daging yang begitu menyebalkan. Kaisar Weixin sangat putus asa dan berusaha mencari segala cara untuk menyingkirkan pria itu, dan salah satu cara yang dia gunakan adalah dengan mencari sumber daya manusia yang menjanjikan.


Dengan bantuan yang diberikan Liang Fenghong untuk menyelamatkan putranya bersama dengan Huang Miaoling dan Wang Junsi, sosok Jiang Feng adalah sebuah harapan yang disuguhkan di hadapan sang Kaisar.


“Kekayaan yang dimiliki seorang saudagar mampu mengguncang sebuah negara. Namun, bukan hal itu yang diinginkan oleh Kaisar Weixin dariku,” ucap Liang Fenghong. “Yang dia inginkan adalah jaringan informasi yang kumiliki di negara ini.”


Lianhua Yuan adalah satu tempat utama di kerajaan Shi di mana informasi mengalir dengan bebas. Sebuah pepatah bahkan tercipta di kalangan para penduduk kerajaan Shi, ‘Bila yang kau cari adalah informasi, maka Lianhua Yuan adalah tempat di mana kau menepi.’


Liang Fenghong meraih cangkir tehnya. “Tekanan hidup membuat Kaisar Weixin tak berpikir dengan jernih. Tanpa memedulikan latar belakangku yang sebenarnya, dia berusaha merangkulku dengan sebuah jabatan.” Selesai menyesap teh panas itu, sang Tuan Muda Liang menghela napas. “Aku yakin dia sedang menyesali tindakannya sejak hari yang lalu.”


“Mempermainkan seorang kaisar ….” Kening Perdana Menteri Liang berkerut. “Liang Fenghong, apakah kau sudah kehilangan kewarasanmu?” tegurnya.


Li Hongxia adalah sosok yang ingin disingkirkan oleh Kaisar Weixin. Dengan demikian, dia mengajukan sebuah tawaran kepada Liang Fenghong. Apabila pemuda itu bisa membantunya menyingkirkan sang Menteri Pembangunan, maka posisi pria yang menjadi musuh negara itu akan menjadi miliknya.


Bibir Liang Fenghong tidak bergerak, dia terdiam. Lalu, dia menatap ayahnya dalam-dalam. Pria itu menampakkan sebuah ketenangan yang mengerikan, “Posisi Menteri Pembangunan sedang kosong.” Senyuman tipis kembali menghiasi wajahnya. “Sebagai calon ipar kerajaan … adalah sebuah kewajiban bagiku untuk mengisi kekosongan itu, bukan?”


___


A/N:

__ADS_1


Senangnya hatiku, ketika melihat bagian komentar penuh dengan para dugaan. Lebih senang lagi ketika aku tahu, dugaan-dugaan kalian sangat menarik dan bahkan ada beberapa yang sangat liar.


Teruskan diskusinya, guys. :") Aku senang banget bacanya liat kalian aktif. <3 <3


__ADS_2