
“Chenxiao, apa yang kau lakukan?”
Pertanyaan Wang Chengliu membuat Chenxiao menggigit bibir. Dia tidak pernah menyangka akan berada di posisi seperti ini dengan kaisarnya.
Dengan ekspresi kesulitan, Chenxiao mengabaikan pertanyaan Wang Chengliu dan berseru, “Pasukan Tiaozhan, mundur!”
Perintah yang diturunkan oleh Chenxiao membuat para prajurit—entah dari pasukannya maupun pasukan musuh—sedikit terkejut.
Berbeda dengan yang lain, ekspresi Huang Miaoling terlihat khawatir, mungkin karena kesempatannya untuk menghabisi Wang Chengliu akan segera sirna.
Keraguan dan juga keterkejutan yang menyelimuti para prajurit membuat Chenxiao kembali membentak, “Apa kalian tidak dengar ucapanku? Mundur!”
“Beraninya kau …,” ucap Wang Chengliu dengan begitu dingin. Matanya sedikit memerah, amarah terpancar jelas di sana.
Segala hal yang telah dia rencanakan, apakah semuanya akan berakhir hanya karena gangguan seorang pengkhianat?!
Fang Yu yang berada di barisan paling depan bersama dengan Huang Miaoling dan Liang Fenghong merasa terpana dengan perubahan keadaan di depan matanya.
Bagaimana mungkin Wang Chengliu dan Chenxiao, dua orang yang seharusnya paling berpengalaman di Kerajaan Shi perihal medan perang, memutuskan untuk bersiteru di waktu seperti ini?!
‘Namun, ini adalah kesempatan bagus untuk kami,’ batin Fang Yu.
Di saat ini, Liang Fenghong mendadak berseru, “Para pejuang Shi, orang yang kalian anggap pemimpin berniat untuk membuang nyawa kalian secara cuma-cuma, apakah dia masih orang yang pantas untuk mendapatkan dukungan kalian?!”
Huang Miaoling langsung menatap suaminya, lalu tertawa dalam hati, ‘Begitu manipulatif.’ Dia pun menghunuskan pedangnya ke depan dan berteriak lantang, “Sadarlah bahwa mendukung seorang pengkhianat akan menjadikan kalian pengkhianat dalam sejarah kerajaan! Jenderal Chenxiao, aku yakin kau menyadari sesuatu! Itu alasanmu menghentikannya, bukan!?”
Mendengar ocehan Huang Miaoling, Chenxiao melotot. ‘Wanita itu—!’ Dia telah masuk perangkap!
“Chenxiao!”
Chenxiao terkejut dan menoleh kepada Wang Chengliu yang menatap nyalang ke arahnya dengan penuh amarah. Dia tahu bahwa majikannya itu pasti mengira bahwa dirinya bersekutu dengan Huang Miaoling!
Wang Chengliu menggunakan tangan kosongnya untuk menahan pedang Chenxiao, tak memedulikan sama sekali rasa sakit akibat telapak tangan yang teriris pedang.
“Beraninya kau bersekutu dengan pengkhianat itu!?” teriak Wang Chengliu, telah memutuskan untuk menjadikan Chenxiao musuh.
“Yang Mulia! Kau tahu bahwa aku tidak mungkin mengkhianati—”
Tidak sempat Chenxiao menyelesaikan ucapannya, Wang Chengliu telah mengayunkan pedang ke arahnya, menyebabkan dirinya terpaksa menjauh dari pria tersebut.
“Yang Mulia!” bentak Chenxiao dengan nada tak percaya dan frustrasi.
Melihat perseteruan antara kedua orang tersebut, mata Huang Miaoling berkilat penuh semangat!
‘Ini dia saat yang tepat!’ Huang Miaoling berseru dalam hati. “Lontarkan katapel tempur!”
Tepat pada saat itu juga, suara derak yang dihasilkan pergerakan kayu terdengar. Hal tersebut diiringi angin yang terbelah oleh sejumlah benda yang dilontarkan ke langit.
__ADS_1
Semua prajurit Wang Chengliu menengadahkan kepala mereka, menatap sebuah bola besar mengarah kepada mereka.
Saat menyadari apa yang menghampiri, setiap prajurit itu melotot, berniat untuk kabur.
Namun … terlambat.
DUM! DUM! DUM!
“AGH!”
Teriakan penuh teror terdengar dari berbagai arah mengikuti ledakan keras yang terjadi. Asap dan debu mengepul, membutakan pandangan semua orang dari pemandangan di sekitar mereka!
Tidak ada satu pun orang dari pihak Wang Chengliu yang menyangka akan menerima serangan berupa peledak!
Jingcheng bukan pelabuhan, maupun kota pembuatan senjata, dari mana datangnya semua peledak itu!?
Sayang, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut selain Liang Fenghong. Lagi pula, dia yang telah mempersiapkan benda tersebut jauh sebelum hal seperti ini terjadi!
“Apa-apaan ini …?” ujar salah seorang prajurit Jingcheng di area aman.
Area yang memiliki prajurit Jingcheng sama sekali tidak tersentuh oleh lemparan peledak. Alhasil, sejumlah prajurit Wang Chengliu yang berada di sana juga aman. Namun, mereka hanya bisa menatap horor serangan yang diterima saudara-saudara mereka.
Dari ekspresi yang terpasang di wajah tiap prajurit tersebut, juga dari pedang yang telah diturunkan, kentara prajurit dari pihak Wang Chengliu tidak lagi memiliki hati untuk menyerang. Mereka bahkan tidak bisa melihat komandan perang mereka lagi!
Melihat hal ini, prajurit di bawah kuasa Huang Miaoling pun mulai menghentikan serangan. Keyakinan mereka terhadap sang pemimpin pun goyah, terlebih karena yang jatuh di hadapan juga saudara mereka!
“Apa … sungguh harus seperti ini?” ucap seorang prajurit dengan tangan bergetar saat memegang senjata.
Bertahun-tahun berperang, tapi itu semua melawan musuh yang keji. Bukan hanya itu, paling tidak mereka juga memiliki kesempatan untuk melawan!
Sadar akan apa yang memengaruhi moral para prajurit, Fang Yu mengepalkan tangannya. Dia mengangkat tangan, memberi pertanda agar tidak ada dari sisi Jingcheng yang meluncurkan serangan.
‘Junzhu, apa yang akan kamu lakukan berikutnya?’ batin Fang Yu dalam hati. Jantungnya berdebar sangat keras.
Bagaimana tidak? Komandan perang mereka pun juga berada di area yang terkena ledakan!
Di antara asap dan debu yang mengepul itu, Huang Miaoling dan Liang Fenghong bisa saja menjadi korban!
Seiring waktu, dengung akibat ledakan yang mengganggu telinga perlahan mereda, digantikan dengan keheningan yang mengerikan.
Saat angin meniup pergi selimut abu yang mengaburkan pandangan, semua orang terbelalak melihat pemandangan di depan mata.
“B-bagaimana mungkin!?”
“A-apakah aku berhalusinasi!?”
“A-apa itu … sihir!?”
__ADS_1
Di tengah medan perang, terlihat Huang Miaoling tengah menjunjung tinggi pedangnya. Ujung benda itu bersinar, menjadi titik pusat dari perisai magis hampir tak kasat mata yang menjulang menyelimuti sebagian besar prajurit—entah prajurit pasukan Wang Chengliu, maupun Huang Miaoling.
“Kita … tidak mati ….” Salah seorang prajurit dari sisi Wang Chengliu tercengang. Air matanya mengalir menuruni wajah. “Kita tidak mati!”
“Junzhu telah melindungi kita!” sahut seorang prajurit lain dari pasukan sang kaisar muda.
“Mingwei Junzhu adalah utusan dewa!”
Pujian mulai dielukan dari para prajurit di sisi Wang Chengliu. Hal tersebut membuat pasukan di pihak Huang Miaoling terpana.
Sementara itu, Liang Fenghong menatap sang istri dengan penuh makna. Dia mengenali sinar dari pedang itu.
‘Pedang itu … pasti berasal dari Lan’er dan Lu Si.’
Menyadari bahwa serangan telah mereda, Huang Miaoling menurunkan pedang tersebut. Mengesampingkan ketakjubannya terhadap kemampuan pedang yang diberikan oleh Lu Si, wanita itu terlihat mencari-cari sesuatu di antara ratusan prajurit yang mengelukan namanya.
Saat matanya mendarat pada satu sosok yang tergeletak di tanah, Huang Miaoling langsung melompat turun dari kudanya.
‘Tidak … tidak … tidak!’ ulang wanita itu berulang kali kala dirinya menembus kerumunan dengan kencang untuk menghampiri satu sosok tersebut.
Kala dirinya mencapai tujuan, Huang Miaoling langsung jatuh berlutut di sebelah pria tersebut.
“Chenxiao …,” panggil Huang Miaoling dengan wajah pahit, ada sedikit rasa prihatin yang terpancar dari cara pandangnya. Dia melihat darah mengalir deras dari luka dalam pada perut pria tersebut.
Jelas, dalang dari luka itu tak lain adalah … Wang Chengliu.
Di tempatnya, Chenxiao menatap Huang Miaoling. Napasnya terdengar berat.
“Mingwei … Junzhu …,” panggil pria itu dengan suara parau. Nada bicaranya tenang dan dingin, tidak pernah berubah sedari dulu.
Tidak sedikit pun ada niatan dari Chenxiao untuk meminta tabib ataupun bantuan. Lagi pula, dia tahu dirinya tidak lagi bisa diselamatkan.
Alis Huang Miaoling tertaut. “Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, Wang Chengliu tidak bisa diselamatkan ….”
Ucapan Huang Miaoling membuat hati Chenxiao tersayat. Mata pria itu memerah, dan tak pernah Huang Miaoling sangka, dia akan melihat air mata luruh menuruni sisi wajah pria itu.
“Di dunia ini …,” Chenxiao memulai, “... tidak ada … seorang ayah … yang akan menelantarkan putranya.” Pria itu menatap lurus ke arah Huang Miaoling. “Bahkan … bila dia tidak lagi bisa … diselamatkan ….”
____
A/N:
**Intermezzo**
*Author yang bertengger di atas tembok Jingcheng dengan kepala manggut-manggut*: Menarik\, menarik. Pedangnya berguna juga ternyata. Kirain hiasan doang.
*Ngelirik Huang Miaoling yang lompat dari kuda dan turun menghampiri Chenxiao*: Heyloo\, bund. Moon maap nggak cari Wang Chengliu dulu?
__ADS_1
**Author's note beneran**
Selama nulis Phoenix Reborn dari awal sampai akhir, jujur selalu semangat dari awal hingga akhir. Belakangan author belajar menggunakan AI dan photoshop, perlukah bikin merchandise phoenix reborn? Apakah ada yang tertarik? Wkwkwk. Mungkin perlu sharing designnya di IG dulu kali ya? Mending photocard, gantungan kunci, atau apa yah. Hmmm