Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 152 Harapan yang Tergantung


__ADS_3

“Bagaimana keadaan Yang Mulia?” tanya Ibu Suri Shen seraya memperhatikan sosok Mudan yang sedang membereskan peralatannya. “Apa dia akan segera sadar?” Maniknya melirik Kaisar Weixin yang rona wajahnya terlihat jauh lebih sehat dibandingkan beberapa hari terakhir.


Mudan memberi hormat kepada Ibu Suri Shen dan menjawab, “Jawab Ibu Suri, nyawa Yang Mulia tidak lagi berada dalam bahaya.”


“Syukur kepada langit,” balas Ibu Suri Shen yang diikuti dengan helaan napas Permaisuri Mingmei dan Wang Qiuhua yang berada di dalam ruangan.


“Namun, luka yang diterima Yang Mulia cukup berat. Walau bisa sembuh, tapi aku tidak bisa menjamin dirinya akan sembuh secara sempurna,” jelas Mudan, mengembalikan ekspresi gelap semua orang.


Kerutan terbentuk di kening Ibu Suri Shen, “Apa kau bilang? Apa maksudmu?!” tanyanya dengan nada marah. “Bawa Liang Fenghong kemari! Apa yang sebenarnya dia lakukan beberapa hari ini?!”


“Nenek, tenanglah,” ujar Wang Qiuhua seraya menahan Ibu Suri Shen dari bertindak gegabah. “Jangan marah, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”


Melihat putrinya berhasil menenangkan sang mertua, Permaisuri Mingmei pun beralih kepada Mudan. Dia memberikan isyarat kepada gadis itu untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut dan berbicara di luar.


Berjalan sampai di gerbang halaman, Permaisuri Mingmei meminta pelayan dan pengawal yang menjaganya untuk mundur lima langkah. Kemudian, dia berbicara dengan suara rendah kepada Mudan, “Kudengar Mingwei Junzhu telah sadarkan diri, tidakkah seharusnya Liang Fenghong bisa meluangkan waktu untuk memeriksa Yang Mulia sekarang?”


Sejak Liang Fenghong kembali bersama Huang Miaoling, pria tersebut tidak pernah meninggalkan istrinya itu. Bahkan tugas penting seperti memeriksa keadaan Kaisar Weixin diserahkan kepada Mudan, bawahannya. Hal itu merupakan sebuah tindakan yang begitu lancang.


Ekspresi Permaisuri Mingmei terlihat kesulitan. “Bukan maksudku tidak mengerti perasaannya, tapi ….”


Situ Mingmei bukanlah orang yang tidak pengertian. Dengan kondisi Huang Miaoling yang sepengetahuannya begitu parah, tentu saja Liang Fenghong tidak akan meninggalkan istri tercintanya itu demi orang lain yang bahkan bukan kaisarnya!


Sekarang, setelah Huang Miaoling dikabarkan sadarkan diri, itu berarti situasi paling mencekam telah terlewati. Permaisuri Mingmei bahkan mendengar wanita itu sudah bisa berjalan ke sana dan kemari untuk membahas perihal kelanjutan perang.


“Mudan, kau sungguh telah membantu beberapa waktu ini. Akan tetapi, seperti yang kau katakan, Yang Mulia sempat terluka parah dan hal ini bisa … berujung pada sebuah kecacatan, bukan begitu?” Permaisuri Mingmei menarik napas dengan kasar ketika melihat Mudan menganggukkan kepalanya. “Demikian, kami perlu Liang Fenghong untuk—”


“Permaisuri,” Mudan memotong ucapan Permaisuri Mingmei, mengejutkan wanita itu akan sikap gadis tersebut yang bisa dikatakan cukup lancang. “Aku merasa kau masih belum mengerti.”

__ADS_1


Kening Permaisuri Mingmei berkerut, “Apa maksudmu?” tanyanya.


Dengan wajah yang begitu tenang, Mudan berkata, “Bukan karena dirinya terlalu sibuk dengan Nyonya Muda sehingga Ketua tidak mengunjungi Yang Mulia Kaisar Weixin.” Gadis itu menghela napas seraya lanjut menjelaskan, “Melainkan karena dia tahu, bahkan dengan keahliannya, tidak ada yang bisa mengubah hasil akhir.”


“Tapi—!”


Tanpa sungkan, Mudan sekali lagi memotong ucapan Permaisuri Mingmei, tahu apa yang akan wanita itu katakan. “Ketika kalian beristirahat, Ketua sempat datang untuk memeriksa Yang Mulia. Setelah itu, dia yang menyatakan bahwa … hanya nyawa yang bisa dia selamatkan, tapi tidak dengan kehidupan sang kaisar.”


Ucapan Mudan membuat Permaisuri Mingmei membelalak, tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata.


Tiba-tiba, sebuah suara berkata dengan nada tak percaya, “Kau bermaksud untuk mengatakan Ayahanda … tidak akan terbangun lagi?”


Permaisuri Mingmei dan Mudan menoleh ke arah sumber suara, mendapati sosok Wang Zhengyi menatap mereka dengan wajah dipenuhi kengerian. Pria itu baru saja datang untuk mengunjungi sang ayahanda, tapi dia malah mendengar berita yang mengerikan.


“Tidak mungkin …,” satu langkah mundur diambil oleh Wang Zhengyi seiring dirinya mengucapkan dua kata itu berulang kali. “Tidak mungkin, tidak mungkin!”


Di atas tembok pertahanan Jingcheng, terlihat deretan prajurit bersiaga dengan busur dan panah. Tak hanya di atas tembok, sejumlah prajurit juga berpatroli mengelilingi area luar kota kedua terbesar Kerajaan Shi itu.


Salah seorang prajurit yang sedang berjaga di atas tembok menghela napas. “Pangeran Keenam telah kehilangan kewarasannya,” ujarnya seraya menatap lurus ke depan. “Apa kau sudah dengar berita dari ibu kota?”


Di sebelah prajurit tersebut, berdiri seorang prajurit lain dengan tubuh tinggi dan tegap. Prajurit tinggi itu menggeram rendah, “Dia mengatakan bahwa keluarga Huang memberontak dan Kaisar telah kehilangan nyawanya, berita itu yang kau maksud, bukan?” Dia melirik ke belakang, memastikan bahwa ketua regu tidak berada di dekatnya. “Apa mungkin ada yang percaya padanya? Jelas-jelas Kaisar berada di sini, di Jingcheng, dan keluarga Huang yang merawatnya dan mengamankan keluarga kerajaan yang lain!”


Prajurit pertama mendecakkan lidahnya. “Itu hanya topeng luar, A Gao, untuk menutup kebejatannya dari kerajaan lain.”


“Aku tak mengerti,” panggil prajurit bernama A Gao itu. “Apa maksudmu, A Xiao?”


A Xiao menjelaskan, “Tidakkah kau dengar rumor yang tersebar? Pangeran Mahkota adalah orang yang menembakkan panah kepada Kaisar, dan keluarga Huang juga membawanya kemari. Ini membuat keluarga Huang berada di pihak pengkhianat!”

__ADS_1


“Namun, Pangeran Mahkota terkena sihir, bukan? Paling tidak, itu yang kudengar,” balas A Gao.


Kepala A Xiao menggelengkan kepalanya. “Berapa banyak orang di dunia ini yang percaya sihir? Yang jelas, aku bukan salah satunya. Kecuali aku melihat ada yang melakukannya dengan mata-kepalaku sendiri, barulah aku percaya,” tegasnya. Dia melirik ke kiri dan ke kanan, lalu menampakkan wajah khawatir. “Aku sedikit curiga … bahwa ini adalah akal-akalan keluarga Huang untuk menutupi niat membantu pemberontakan Pangeran Mahkota saja.”


A Gao segera melepehkan isi mulutnya, “Puih! Puih! Puih!” Dia melambaikan tangan seakan mengusir lalat. “Jangan berbicara omong kosong! Kalau benar demikian, maka kita sedang membantu pengkhianat, dan itu menjadikan kita pengkhianat juga! Kita bisa dihukum mati untuk ini!”


A Xiao menekankan jari di bibirnya, memohon bagi A Gao untuk merendahkan suaranya. “Diamlah!” desisnya.


“Pengkhianat kau bilang?” Terdengar sebuah suara rendah yang bertanya dengan nada mengancam, membuat kedua prajurit itu menoleh ke belakang.


Begitu melihat sosok yang berdiri di belakang mereka, kedua prajurit itu langsung tergagap, “L-Letnan Jenderal Fang!”


Fang Yu memberikan tatapan membunuh ke arah kedua prajurit itu. “Apa kalian tidak bisa berhitung?” maki pria itu seraya mendecakkan lidah. “Ada berapa banyak keluarga kerajaan di Jingcheng sekarang?” tanyanya. “Mengetahui bahwa sang permaisuri dan juga ibu suri berada di sini, kalian masih berani menuding keluarga Huang sebagai pengkhianat?!”


A Gao dan A Xiao segera bersujud, memohon ampun untuk nyawa mereka, “L-Letnan Jenderal, mohon maafkan kami! Kami bodoh! Kami sungguh bodoh!”


“Kalau bodoh bisa dijadikan alasan untuk semua ucapan sembarang, maka tidak ada orang di dunia ini yang akan terkena hukuman!” balas Fang Yu dengan emosi menggebu-gebu, pandangannya terlihat tajam dan mendominasi. “Aku—!”


“Letnan Jenderal!” panggil seseorang yang membuat Fang Yu menghentikan ucapannya.


Letnan jenderal pasukan Longzhu itu menoleh dan mendapati seorang prajurit menghampiri dirinya. “Apa?!” tanyanya dengan ketus.


Beberapa waktu ini, emosi Fang Yu sangat buruk. Bagaimana tidak? Tidak hanya dia kehilangan lebih dari setengah pasukannya, saudara seperjuangannya, tapi dia juga hampir kehilangan jenderal dan pemimpin negaranya!


Kalau bukan karena harapan yang dia gantungkan pada nyawa Huang Miaoling dan Kaisar Weixin, juga pada kenyataan adanya kesempatan untuk membalas dendam, Fang Yu jelas sudah kehilangan kewarasannya.


“Cepat katakan!” geram Fang Yu pada prajurit yang sedang memperhatikan A Gao dan A Xiao dengan bingung.

__ADS_1


Setelah mendengar bentakan sang letnan jenderal, prajurit itu dengan cepat menuturkan tujuannya, “Mingwei Junzhu menunggumu di markas prajurit.”


__ADS_2