
A/N: Simpen aja, bab ini dan bab berikutnya harusnya satu bab. Cuma karena terlalu panjang, jadinya kupisah dua.
Udah diingetin loh ya. Kalo lanjut tanggungan sendiriii wkwk
____
Derap langkah kaki kuda bergema di gerbang depan istana. Sejumlah prajurit bergegas menghampiri pria yang kemudian melompat turun dari kudanya tersebut dengan tergesa-gesa, terlihat seperti dikejar oleh sesuatu.
“Menteri Jiang!” seru salah seorang kasim yang datang menjemput. “Kau kembali!” Sudah empat bulan lebih sejak kepergian sang menteri dari istana, dan selama itu pula tegangan antara sang permaisuri dan kaisar meningkat. Kasim itu berbohong kalau dia mengatakan bahwa kembalinya sang menteri keuangan itu tidak membuatnya senang. ‘Syukur kepada langit,’ batinnya.
Jiang Feng memasang wajah dingin. “Kudengar Permaisuri Huang keguguran, bagaimana kabarnya? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya berturut-turut.
Kasim paruh baya itu mengerutkan keningnya, terlihat sangat kesulitan dalam menjawab pertanyaan tersebut. “Kesedihan membuat Permaisuri kehilangan akal sehatnya. Dia tidak bersedia makan maupun minum, bahkan ketika tabib mengatakan tubuhnya sudah terlewat lemah akibat keguguran yang dia alami.” Helaan napas kabur dari mulut sang kasim, “Yang pertama kali dia lakukan ketika mampu meninggalkan tempat tidur … adalah melakukan penyelidikan untuk menemukan dalang atas racun yang menyebabkan dirinya keguguran.”
Mendengar hal tersebut, Jiang Feng membelalak. “Racun?” tanyanya. “Apa yang para pelayan dan kasim istana permaisuri lakukan?! Bagaimana bisa santapan Permaisuri mengandung racun!?”
Kasim paruh baya itu sangat terkejut dengan amarah yang ditunjukkan oleh Jiang Feng. Dia mengira akan melihat tawa kemenangan dari wajah sang menteri keuangan, terutama mengingat hubungan buruknya dengan sang permaisuri. Namun, tak disangka Jiang Feng malah terlihat marah!
“Apa ada petunjuk mengenai dalang kejadian ini?” tanya Jiang Feng lagi seraya melangkahkan kakinya ke dalam halaman utama istana, berniat meminta pertemuan dengan sang kaisar di ruang kerjanya. “Apa tidak ada gerakan sedikit pun dari keluarga Huang?” Dia menduga Huang Yade atau Huang Liqiang pasti datang untuk memohon pada Wang Chengliu. ‘Racun? Tidak mungkin yang melakukan hal ini adalah sembarang orang.’
__ADS_1
Kepala kasim itu menggeleng. “Keluarga Huang dihukum menjadi tahanan rumah,” jawabnya, kembali mengejutkan Jiang Feng. “Menteri Huang kehilangan ketenangannya di pengadilan beberapa hari yang lalu, dan Kaisar memerintahkannya untuk berdiam di rumah untuk menenangkan diri.”
Jiang Feng mengepalkan tangannya. ‘Sudah waktunya ….’
***
“Kau bilang apa?” Ekspresi terkejut bercampur marah terlukis jelas di wajah Wang Chengliu. “Mengundurkan diri?!” Dia menatap nyalang ke arah pria yang membungkuk di hadapannya. “Menteri Jiang, apa ada yang tidak memuaskan dari segala hal yang kuberikan padamu? Kalau ya, maka katakanlah dan aku akan memberikanmu lebih!”
Jiang Feng menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab, “Yang Mulia murah hati, tentunya segala yang dirimu berikan sudah lebih dari cukup.” Dia menengadahkan kepalanya dan menambahkan, “Hanya saja, karena sekarang Yang Mulia telah memegang kendali atas pemerintahan, aku merasa bahwa aku tidak lagi memiliki guna.”
Wang Chengliu mengerutkan keningnya, pandangan mata penuh amarah yang sempat dia tampakkan perlahan berubah waspada. “Kau … tahu?” tanyanya, tak menduga bahwa Jiang Feng mengerti suatu hal yang berusaha dia sembunyikan dengan begitu hati-hati.
Mendengar pertanyaan Wang Chengliu, Jiang Feng mengeratkan pegangan pada kepalan tangan kirinya—menahan emosi. Dia menundukkan kepalanya kembali, berusaha menyembunyikan ekspresi marah di wajahnya.
Dengan jasa Huang Miaoling dalam menekan pemberontakan Wang Xiangqi dan keluarga Li, walau wanita itu dikecam melanggar adat dan tradisi Kerajaan Shi, tapi tak ada yang berani menyingkirkannya dari pemerintahan. Kematian Huang Qinghao dan Huang Jieli, menghilangnya Huang Junyi, dan tidak bergunanya Huang Hanrong merupakan alasan kuat kenapa kuasa atas Pasukan Huang berada di tangan wanita itu, dan hal itu pula yang menjadikan dirinya penopang terbesar Kerajaan Shi. Hanya Huang Miaoling yang mampu membagi tugas dengan Huang Yade sebagai penopang kekuasaan Wang Chengliu.
Hanya saja, Jiang Feng tahu bahwa Wang Chengliu sudah muak dengan Huang Miaoling yang selalu menantang kebijakan serta keputusannya. “Tidak ada yang tahu kapan wanita tersebut akan menjadi ancaman bagi kekuasaanmu, bukan begitu?” Pria itu mendengus, “Karena ingin menyingkirkan Huang Miaoling, tapi masih juga memerlukan kekuatan pasukan Huang, Yang Mulia memutuskan untuk melakukan sesuatu.” Jiang Feng melanjutkan dengan rahang mengeras, “Dan, kulihat Huang Wushuang adalah jawabannya.”
Selama sesaat, Wang Chengliu terdiam. Kemudian, ekspresinya berubah santai, sebuah senyuman terlukis di wajahnya. “Memang Menteri Jiang sungguh luar biasa,” pujinya.
__ADS_1
Jiang Feng memberi hormat, “Yang Mulia berlebihan.” Selagi menunduk, kerutan pada keningnya sesaat menjadi semakin dalam. Setelah ekspresinya kembali normal, datar seperti biasanya, Jiang Feng menuturkan, “Demikian, aku merasa tugasku telah selesai. Izinkanlah aku untuk undur diri, Yang Mulia.”
Wang Chengliu menatap ke arah Jiang Feng, mempelajari setiap gerak-gerik dan perubahan ekspresi pria tersebut. Seperti biasa, tidak ada yang aneh, tidak ada yang berbeda. Jiang Feng hanyalah Jiang Feng, sang menteri keuangan tanpa ekspresi, juga pria yang menyimpan banyak misteri.
“Aku mendengar rumor bahwa alasan kau berdiam di Xiangni tiga bulan lebih lama dikarenakan kehamilan Huang Miaoling,” ujar Wang Chengliu, mendadak mengalihkan topik. “Apa benar demikian?”
Ketegangan dalam ruangan dengan cepat meningkat. Satu jawaban yang salah, maka satu nyawa akan melayang.
“Aku tidak tahu apakah jawabanku akan membantu, tapi benar, Huang Miaoling adalah alasannya,” jawab Jiang Feng. “Kehamilannya membuatku mengira bahwa Yang Mulia telah menyerah untuk menang.” Pria itu kemudian tersenyum. “Syukur kepada langit, aku salah.”
Pandangan Wang Chengliu terlihat terhibur. “Apa yang membuatmu begitu membenci Huang Miaoling, Jiang Feng?” tanyanya. “Sejauh yang kuketahui, keluarga Huang tak pernah bersinggungan dengan dirimu maupun Lianhua Yuan.”
Jiang Feng terdiam, lalu menundukkan kepalanya selama sesaat. Dia kemudian menarik napas dan menjawab, “Mendiang Pangeran Keempat adalah seseorang yang cukup dekat denganku.”
Mendengar jawaban ini, pelipis Wang Chengliu berkedut dan matanya memancarkan keterkejutan. Namun, begitu Jiang Feng mengangkat kembali pandangannya, ekspresi pria itu dengan cepat berubah menjadi bingung.
“Kakak Keempat?” ujar Wang Chengliu, memang sedikit tak mengerti mengenai alasan Jiang Feng menghubungkan Wang Junsi dengan Huang Miaoling.
“Kematiannya dalam perjalanan menuju Zhou beberapa tahun lalu, aku yakin bahwa keluarga Huang adalah dalangnya,” jelas Jiang Feng dengan wajah gelap. Dia menutup mata dan menghela napas, memperlihatkan ekspresi yang jauh lebih tenang dan lega. “Sekarang, dendamnya telah kubalaskan.”
__ADS_1
___
A/N: Nah loh, bingung kan? Jadi, Jiang Feng jahat ke Miaoling demi Wang Junsi?