
A/N: 3 episode lagi kayaknya.
Buat apa?
U know lah
________
Suara langkah kaki yang begitu ramai bisa terdengar. Tawa dan sorakan semakin lama juga semakin mendekat pada ruangan pengantin tersebut.
“Pergilah! Sudah tak perlu bagimu untuk mengurus kami!”
“Istrimu sudah menunggu begitu lama! Tidakkah kau kasihan padanya?!”
Suara-suara tersebut menyoraki sang Pengantin Pria yang masih sibuk menjamu para tamunya. Dengan langkah kaki tergopoh-gopoh akibat para tamu pria menarik dan mendorong tubuhnya, Liang Fenghong menghampiri kamar pengantinnya. Wajahnya yang biasanya datar dihiasi dengan ekspresi kebingungan bercampur rasa malu.
Ah, maaf, rona di wajah sang Tuan Liang bukanlah rona malu, melainkan efek anggur yang mulai menyesap ke dalam tubuhnya.
“Berdasarkan tradisi Kerajaan Wu, seharusnya aku menjamu tamu untuk tiga hari tiga malam sebelum bisa melengkapi pernikahan,” ujar Liang Fenghong selagi dirinya dengan terpaksa terus berjalan. “Tidakkah hal tersebut juga berlaku dalam Kerajaan Shi?”
Terlihat sosok Meihua yang berlari mengiringi kerumunan tersebut mengernyit. ‘Ya ampun, mengapa Ketua begitu membosankan? Gadis yang dicintai sudah di depan mata, tapi dia rela menunggu hanya demi memenuhi tradisi semata? Astaga!’ Bawahan Liang Fenghong itu ingin sekali menampar dahinya sendiri. ‘Apa dia tidak tahu begitu banyak pengantin pria Kerajaan Wu yang melanggar tradisi?’
Seorang tamu melolong, “Perset*n dengan tradisi Kerajaan Wu, Kerajaan Shi kami tidak akan memberikan cobaan yang begitu besar untuk para pengantin pria!” Ucapan tersebut diiringi tawa menggelegar para pria.
Mudan yang mendengar hal ini memutar bola matanya. ‘Menjijikkan.’
Sesampainya di depan kamar pengantin, Meihua dan Xiaoming segera membuka pintu dengan lebar. Di saat yang sama, para tamu mendorong Liang Fenghong untuk masuk ke dalam ruangan. Kemudian, dua bawahan sang Pengantin Pria itu menganggukkan kepala dengan mantap dan segera membanting pintu hingga tertutup rapat.
Dengan sebuah senyuman nakal di wajahnya, Meihua berseru sembari melambaikan tangan, “Baiklah! Bubar! Bubar! Tinggalkan kedua pengantin! Para tamu bisa melanjutkan pesta di halaman utama! Anggur 100 tahun dari Kerajaan Wu akan dihidangkan!”
Sementara Meihua sibuk menggiring para tamu kembali ke pusat pesta, Liang Fenghong yang telah tiba di dalam kamar menoleh ke arah pintu, menatap bayangan rombongannya yang mulai pergi. Pria itu menghela napas, bersyukur keramaian tersebut akhirnya bisa dihindari olehnya. Keramahan semacam itu bukanlah hal yang biasa dia hadapi, dan dia pun merasa sedikit canggung dan lelah.
Saat kesadarannya kembali terfokus, Liang Fenghong mendapati bahwa ruangan tersebut begitu senyap, seakan tak ada orang di sana. Dia menegapkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju area kamar tidur.
Tangan Liang Fenghong mengesampingkan pernak-pernik yang tergantung dari kosen pembatas ruangan, menghasilkan suara gemeresik yang begitu nyaring dalam suasana yang sunyi itu. Pada saat itu pula, sang Tuan Liang membeku di tempatnya.
__ADS_1
“Ling’er,” panggil Liang Fenghong saat melihat sosok Huang Miaoling yang terduduk di pinggir tempat tidur, kepala gadis itu masih tertutup kain merah. Karena panggilannya tidak dibalas, kening pria tersebut sedikit berkerut. “Ling’er?” panggilnya lagi.
Liang Fenghong berjalan menghampiri Huang Miaoling yang masih tidak membalas panggilannya. Entah kenapa, perasaannya sedikit tidak enak. Pria itu berdiri di hadapan istrinya dan menjulurkan tangan pada kain merah yang menutupi wajah Huang Miaoling.
Sebelum tangan Liang Fenghong mencapai kain merah tersebut, Huang Miaoling dengan cepat mencengkeram tangannya. Ada suara terkesiap yang keluar dari bibir gadis itu, menandakan dirinya tenggelam terlalu jauh dalam lamunannya.
“A Feng?” Huang Miaoling memanggil pria itu. Lalu, dia melepaskan cengkeramannya. “Kau sudah datang?”
Liang Fenghong mengernyitkan dahinya. Lalu, dia menjulurkan tangannya pada kain merah yang menutupi wajah istrinya itu. Dengan hati-hati, dia menarik terbuka kain merah tersebut, membiarkan tatapannya menikmati kecantikan yang disuguhkan di hadapannya itu untuk beberapa saat.
“Ada apa?” tanya Liang Fenghong yang menyadari adanya awan kekhawatiran dalam manik hitam Huang Miaoling. Pria itu meraih dagu gadis tersebut. “Apa yang membuatmu memasang ekspresi ini?” Mengingat ekspresi yang Huang Miaoling berikan padanya pagi ini, Liang Fenghong yakin kalau ini ada sangkut-pautnya dengan pernikahan mereka. “Kau menyesal?”
Ucapan Liang Fenghong membuat Huang Miaoling menatap pria itu dengan tajam. “Sudah sampai di detik ini, dan kau masih mempertanyakan keyakinanku?” Dia merasa sedikit tersinggung. Gadis itu berdiri dan menatap lurus pada suaminya. “Kau adalah pria yang kupilih dalam kehidupan ini!”
Liang Fenghong tersentak, sedikit terkejut dengan ucapan Huang Miaoling. Kalau dirinya adalah pria lain, maka mungkin dia tak akan merasa aneh dengan ucapan gadis itu. Namun, sang Tuan Liang tentu mengerti arti lain di balik ucapan istrinya.
Satu hal lain yang membuat Liang Fenghong terkejut, tidakkah reaksi istrinya itu sedikit berlebihan?
Dua pasang manik hitam itu saling beradu untuk beberapa saat. Sepasang yang pertama mencoba memastikan keyakinan dalam diri pasangannya, selagi sepasang yang lain terlihat menikmati pemandangan di hadapannya. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat, sebelum akhirnya keduanya menyadari adanya tarikan aneh dalam diri mereka.
Tiba-tiba, Liang Fenghong bertanya, “Tidakkah itu berat?” Matanya sedikit naik, menatap mahkota Feniks yang ada di kepala istrinya.
Sebuah guci anggur ramping dengan pita merah berada di tengah-tengah kumpulan hidangan, itu jelas anggur pernikahan yang harus kedua pengantin teguk sebelum melakukan ritual terakhir. Di sebelahnya, ada sebuah guci kosong yang entah apa gunanya.
“Kau belum makan?” tanya Liang Fenghong kepada Huang Miaoling, teringat bahwa Qiuyue sempat memberitahunya kalau istrinya itu menolak untuk menyantap makanan. Dia meraih piring berisi kudapan kecil dan menyodorkannya ke hadapan istrinya. “Makanlah.”
Huang Miaoling mengerjapkan matanya, terlihat tak mengharapkan pria tersebut mengalihkan topik dengan begitu mendadak. Tak heran kalau gadis itu berpikiran demikian, lagi pula, beberapa saat yang lalu, pria tersebut masih menginterogasi dirinya mengenai apa yang sedang dia pikirkan.
Lalu, apa yang membuat pria itu mendadak melupakan semua itu?
Entahlah.
“Terima kasih,” ujar Huang Miaoling sembari meraih satu potong kue dan menggigitnya. Gadis itu membiarkan dirinya ditarik oleh suaminya untuk duduk di pinggir tempat tidur.
Sungguh jarang melihat sang Mingwei Junzhu menjadi begitu penurut. Hal tersebut membuat hati Liang Fenghong terasa hangat. Apa Huang Miaoling sedang berusaha menunjukkan kepatuhannya sebagai seorang istri?
__ADS_1
Selagi Huang Miaoling begitu fokus menyantap kue di tangannya, pria itu menyentuhkan ibu jarinya pada bekas merah di dahi istrinya. “Kau terluka,” ucapnya dengan alis bertaut. Lalu, dia berkata seraya berdiri, “Akan kuminta pelayan untuk mem—”
Sebelum Liang Fenghong berjalan terlalu jauh, Huang Miaoling mencengkeram tangannya. “Kau mau ke mana?” tanyanya dengan nada bicara yang sedikit aneh.
“Meminta pelayan membawakan obat untuk lukamu,” jawab Liang Fenghong dengan mata kebingungan.
Huang Miaoling mengerutkan keningnya, lalu dia menarik pria itu dengan keras. Alhasil, Liang Fenghong kembali terduduk di pinggir tempat tidur.
“Kau tak boleh pergi.” Huang Miaoling menatap Liang Fenghong dengan tajam. “Kau tidak puas denganku?” tanyanya. “Apa aku tidak cukup cantik sehingga kau ingin segera meninggalkanku?”
Liang Fenghong mengerjapkan matanya, sangat terkejut. “Bukan itu maksudku.” Dia sungguh tak mengerti apa yang membuat Huang Miaoling bertanya seperti itu.
Mata Liang Fenghong menatap Huang Miaoling lekat-lekat, memperhatikan gadis itu mengembalikan kue ke piring. Lalu, Huang Miaoling berdiri dan meletakkan piring tersebut ke atas meja.
“Aku hanya khawatir kalau luka itu akan meninggalkan bekas,” Liang Fenghong mencoba menjelaskan. Namun, Huang Miaoling tidak menanggapi dirinya.
Hal tersebut membuat Liang Fenghong memaki dalam hati. Apa malam pernikahannya hanya akan berakhir dengan amarah istrinya?
Tangan Liang Fenghong terjulur untuk meraih tangan istrinya itu. “Ling’er, jangan salah—”
Sebelum Liang Fenghong bisa menyelesaikan ucapannya, dia dikejutkan dengan sebuah pukulan di dadanya. Pukulan tersebut tidak menyakitkan, tapi cukup keras untuk membuatnya terhuyung mundur ke belakang dan terjatuh ke atas tempat tidur.
Liang Fenghong mengernyitkan dahi dan menyentuh dadanya secara refleks. “Apa yang—” Tak ada waktu bagi pria tersebut untuk melengkapi kalimatnya saat sebuah benturan lembut diterima oleh bibirnya.
Mata Liang Fenghong membesar ketika Huang Miaoling memaksa bibirnya untuk terpisah. Dia jauh lebih terkejut ketika mendapati cairan manis menyeruak masuk ke dalam tenggorokannya, meninggalkan jejak panas pada jalannya.
Ketika Huang Miaoling melepaskan ciumannya, Liang Fenghong tersedak dan mulai terbatuk. Hal tersebut membuat gadis itu menyeringai, menampakkan ekspresi yang begitu nakal di wajahnya yang biasa begitu terkendali.
“Anggur pernikahan telah diteguk, maka bukankah itu berarti hanya tersisa langkah terakhir?” ujar Huang Miaoling dengan nada bicara yang terdengar aneh.
Liang Fenghong menatap gadis itu dengan mata bulat. ‘Apa yang merasuki dirinya?!’ pikir pria itu. Lalu, dia teringat akan suatu hal. ‘Mungkinkah—!’
Mata Liang Fenghong dengan cepat terarah ke meja yang ada di tengah ruangan tersebut. Dia teringat bahwa di samping guci ramping berisi anggur pernikahan, ada sebuah guci kosong tanpa isi.
Liang Fenghong memiliki sebuah dugaan dalam hati. Namun, dia merasa dugaannya kurang tepat. Bahkan bila sebelumnya isi guci itu adalah minuman keras, tapi dengan kemampuan Huang Miaoling, gadis itu tak mungkin mabuk semudah itu!
__ADS_1
Terkecuali ….
‘… gadis itu menghendakinya.’