Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 129 Katakanlah Dari Awal


__ADS_3

A/N: Chapter revelation mulai dari sini, cuma aku kasih saran lagi ya, chapter revelation cukup panjang karena author pake sistem flashback. Kalau misalkan kalian bisa tahan, mungkin tunggu sampe mingdep baru baca, kwkkwkwk. Oh ya, jangan hope for too much answers :)


_____________


“Liang Fenghong,” Huang Miaoling menatap sepasang manik hitam di hadapannya, mencari-cari kejujuran di sana, “katakan padaku.” Pandangannya sedikit membuyar, air mata mulai berkumpul di pelupuk wanita itu. “Kumohon,” pinta Huang Miaoling sembari mengepalkan tangan, takut akan menerima luka yang lebih dalam dari apa yang dipanggil ‘kepercayaan’.


Liang Fenghong membalas tatapan wanita di hadapannya—istrinya, lalu dia menutup matanya. “Aku tidak bisa mengatakannya,” jawab pria itu dengan alis bertaut, terlihat sangat kesulitan akibat keputusan yang dia ambil.


“Kenapa?!” teriak Huang Miaoling sembari mencengkeram kedua lengan suaminya, begitu frustrasi. “Apa yang terjadi di Wu? Bagaimana kau dan Ayah bisa berakhir di Jingcheng?!” Api membara terpancar dari kedua maniknya. “Lan’er telah memberitahuku bahwa dia yang membantumu! Sudah sangat jelas bahwa kalian saling mengenal!”


Kemudian, sebuah kesimpulan terlintas di benak Huang Miaoling. Wanita itu segera melepaskan pegangannya dari lengan Liang Fenghong, lalu menjauhkan dirinya seakan takut dengan pria itu.


“Kau … pertemuan kita di ibu kota Wu ….” Potongan ingatan dengan cepat mengalir dalam benak Huang Miaoling. “Lan’er … sengaja mengantarkanku padamu?” Hati wanita itu seakan terbanting ke bumi, merasa bahwa seluruh hidupnya adalah permainan semata. “Sedari awal … kalian ….”


Tahu apa yang Huang Miaoling simpulkan, Liang Fenghong dengan cepat berkata, “Kau salah! Bukan demikian!”


Balasan Liang Fenghong membuat Huang Miaoling menggeram, “Maka jelaskan!”


Huang Miaoling sadar bahwa tidak biasanya dia bersikap begitu emosional, tapi mengetahui bahwa dirinya selama ini hanya mengikuti rencana seseorang tidaklah nyaman. Munafik, dia mengakui itu. Lagi pula, selama ini dirinyalah yang selalu menyusun rencana dan menggunakan orang lain.


Apa ini karma?


Liang Fenghong menggertakkan giginya, rahangnya yang tegas terlihat begitu tegang. Dia ingin sekali mengatakannya, tapi sebuah perjanjian mengikat dirinya.

__ADS_1


“Katakanlah,” sebuah suara berkumandang di dalam benak Liang Fenghong, mengejutkan pria itu.


“Tapi, kau—!”


“Sudah sejauh ini, sudah tak ada lagi perlu bagimu untuk mengkhawatirkanku,” balas suara itu, bisa dibayangkan oleh Liang Fenghong senyuman yang terlukis di wajah sang pembicara ketika mengatakan hal tersebut. “Liang Fenghong, kalau kau tidak melakukannya, maka apa gunanya perjanjian di antara kita?”


Liang Fenghong mengangkat pandangannya, lalu menatap Huang Miaoling yang berada di ujung kesabarannya. “Kau … ingin aku memulai dari mana?”


Huang Miaoling sedikit terkejut, tak menyangka pria yang sedari tadi bersikeras dengan keputusannya untuk menutupi kebenaran mendadak berubah pikiran. “Hubunganmu … dengan Lan’er,” jawabnya. “Tidak … tidak hanya itu,” imbuhnya. “Aku ingin tahu semuanya … dari awal!”


Pada saat ini, Liang Fenghong merasa jantungnya berdebar kencang—dia takut. “Lan’er,” panggilnya dalam hati.


Suara lembut yang sempat berbicara dengan Liang Fenghong beberapa saat lalu pun kembali terdengar, “Apa gunanya memanggilku?” tawa kecil yang lemah mengikuti. “Katakanlah sesuai permintaannya,” tak lupa dia menambahkan, “dari awal takdir mempermainkan kalian.”


***


Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan, membuat gerakan tangan sang pria berhenti sementara. Begitu suara ketukan pintu terdengar, pria dengan topi kebesaran seorang menteri itu meletakkan kuasnya dan mengangkat pandangannya pada pintu.


“Masuk,” suara dalam dan dingin terlontar dari bibir tipis milik sang pria.


Pintu terbuka, meloloskan sosok seorang kasim muda. Kasim itu melangkah masuk dan memberi hormat pada pria itu.


“Katakan,” perintah sang pria, seakan enggan mengalihkan fokus terlalu lama dari dokumen di hadapannya.

__ADS_1


“Menteri, Yang Mulia meminta kehadiranmu,” ujar sang kasim dengan singkat.


Mendengar hal itu, sang menteri segera berdiri dari kursi dan meninggalkan ruangannya dengan tergesa-gesa. “Ada apa?” tanyanya tanpa menoleh, tahu sang kasim tengah mengimbangi langkahnya.


“Permaisuri …,” sang kasim tak berani mengatakan lebih jauh. Kalau dia tidak hati-hati, maka satu kata berikutnya akan menjadi alasan kepalanya terpisah dari tubuh.


Decakkan lidah terdengar, dan kasim itu melirik sang menteri. “Tidak bisakah wanita itu menjauh dari masalah satu hari saja?” gumamnya membuat sang kasim memalingkan wajah dengan cepat.


‘Aku tidak mendengar apa pun, aku tidak mendengar apa pun,’ batin kasim itu.


Tak perlu waktu lama, menteri itu pun tiba di depan pintu pengadilan utama yang tertutup rapat. Aura dingin bisa terasa dari balik pintu tertutup itu, menunjukkan bahwa ketegangan di dalamnya mampu membekukan seseorang.


Melihat sosok sang menteri, seorang prajurit dengan cepat mengumumkan, “Menteri Jiang tiba!”


Pintu terbuka, dan ruangan luas dengan dinding yang beberapa sisinya dilapisi emas terpampang. Di ujung ruangan, terdapat satu takhta berukirkan naga, seorang pria dengan jubah keemasan yang bersulamkan makhluk agung tersebut duduk dengan wajah marah.


Namun, sang menteri sama sekali tidak menangkap dua hal paling mencolok di ruangan itu. Di tengah ruangan, ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya.


Sosok seorang wanita dengan mahkota Feniks agung sedang berlutut, membuat para menteri yang seharusnya berdiri di sisi kiri dan kanan ruangan bersujud dengan kepala menempel pada lantai. Itu adalah wujud hormat pada sang wanita, juga peraturan bahwa tak ada bawahan yang boleh meninggikan diri melebihi atasan mereka.


Mendadak, wanita agung itu menoleh, manik hitam segelap malamnya memercikkan amarah ketika menangkap sosok sang menteri. “Kau!” geramnya dengan suara rendah, tapi mampu tertangkap telinga pria itu.


Sang menteri tersenyum tipis, lalu dengan santai berjalan menghampiri wanita itu. Selagi berdiri persis di sebelah sang wanita, pria itu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada pria di atas takhta, “Jiang Feng memberi hormat pada Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, dia mengarahkan hormatnya pada wanita di sebelahnya, sengaja tidak bersujud untuk menyulut emosi lawan bicaranya. “Juga pada Permaisuri Huang.”

__ADS_1


_____________


A/N: Pfft\, yang gak nabung\, kesel gak?? Bweeeeh *lidah melet*


__ADS_2