
“Nyonya, apa kau baik-baik saja?” ucap Xiaoming yang sedikit khawatir dengan suasana hati majikannya. Sempat dia lihat air mata jatuh menuruni wajah Huang Miaoling ketika wanita itu melewati dirinya tadi. Jika ketuanya mengetahui sang Istri telah menangis di bawah pengawasannya, habis sudah riwayat Xiaoming.
Huang Miaoling yang tadi berjalan dengan cukup cepat meninggalkan halaman tempatnya dan Wang Junsi berbicara segera berhenti. Lalu, dia melirik ke satu arah. “Yuanli,” panggilnya.
Xiaoming mengerjap bingung mendengar ucapan Huang Miaoling. Kemudian, dia sedikit melompat ketika mendapati sosok Yuanli mendarat dengan mulus di depan sang Mingwei Junzhu. Yuanli melirik ke arah Xiaoming, menganggukkan kepalanya untuk menyapa.
Melihat sapaan Yuanli, Xiaoming tersenyum canggung dan membalas anggukannya. Berbeda dengan Meihua dan dirinya yang berasal dari Kediaman Liang, Yuanli sama dengan Mudan yang dididik oleh Liang Fenghong di Lianhua Yuan. Dengan demikian, tak heran kalau gadis itu cukup sungkan dengannya. Bagaimanapun, Xiaoming termasuk senior di mata Yuanli.
Kepala Xiaoming menoleh ke arah pepohonan yang dia duga merupakan tempat Yuanli bersemayam beberapa saat yang lalu. ‘Memang mata-mata nomor satu Lianhua Yuan, sedikit pun aura tidak bisa kurasakan saat dia bersembunyi,’ batin Xiaoming. ‘Selain itu, tinggal di istana sepertinya juga mengasah kemampuannya,’ kepala pria itu mengangguk-angguk memikirkan hal tersebut. Lalu, dia membeku saat memperhatikan ekspresi Huang Miaoling yang telah kembali datar, seakan tak ada yang salah. ‘Tunggu … bukankah tadi Nyonya menangis?!’
“Nyonya,” panggil Yuanli seraya memberi hormat. “Semua telah kulaksanakan sesuai perintahmu,” jelasnya.
Huang Miaoling mengangguk, “Ya, aku bisa merasakan keberadaan Wu Meilan dan Bibi. Terlalu fokus dengan perdebatan kami, Wang Junsi sepertinya tidak menyadari keberadaan Wu Meilan.” Wanita itu kembali berjalan, kekhawatiran terpancar dari manik hitamnya. “Aku harap Bibi bisa meyakinkan Wang Junsi untuk membuka matanya dan menata kembali pikirannya.” Tangannya mengepal seraya dirinya berujar, “Wang Chengliu telah meracuni pikirannya terlalu dalam, aku terpaksa melemparkannya ke dalam perangkap seperti ini.”
Xiaoming terbelalak mendengar pernyataan Huang Miaoling. ‘J-jadi, semua hal yang baru saja terjadi adalah … sandiwara?!’ Lalu, dia membatin, ‘Tak heran Nyonya sebelumnya memerintahkanku untuk jangan melakukan apa pun ketika merasakan keberadaan seseorang.’ Dia memandang majikannya dan Yuanli dalam diam. ‘Jadi, orang tadi adalah Putri Meilan.’
Yuanli menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Huang Miaoling. “Pangeran Keenam mengambil kesempatan ketika dirimu dan Ketua sibuk mempersiapkan pernikahan untuk berinteraksi dengan beberapa orang.” Dia menyebutkan beberapa nama, “Pangeran Keempat, Selir Song, Yang Defei, Menteri Yang, Menteri Shao, dan juga anggota departemen penyelidikan, Penyelidik Rong.”
Mendengar hal ini, langkah kaki Huang Miaoling berhenti. “Penyelidik Rong? Aku tak pernah mendengar nama ini,” ujarnya.
“Dia baru bergabung dengan pemerintahan sekitar tiga-empat bulan yang lalu, tepat saat Nyonya masih berada di Wu,” jelas Yuanli. “Salah satu peserta ujian yang lolos dengan nilai tinggi. Namun, alih-alih bergabung dengan pemerintahan inti, dia memilih untuk bergabung dalam departemen penyelidikan.” Pelayan itu menambahkan, “Kemampuan dan kecerdasannya yang luar biasa membuatnya begitu dipercaya oleh Ketua Penyelidikan Wei.”
“Oh? Kakak Sepupu Wei?” Kening Huang Miaoling berkerut seiring dirinya melanjutkan perjalanan. “Apa dia pantas dipercaya?”
Yuanli menjelaskan, “Dia pengikut Pangeran Keenam.” Ucapan gadis itu membuat majikannya itu memasang senyuman mengejek, telah menduga hal tersebut. “Namun, kudengar beberapa saat yang lalu dirinya mulai menjauhi kubu Pangeran Keenam.”
“Oh?” Huang Miaoling mengalihkan pandangannya kepada Yuanli. “Alasannya?” tanyanya yang diikuti gelengan kepala bawahannya itu. “Terus perhatikan dirinya,” wanita itu kembali menatap ke depan.
Keraguan sedikit menyelimuti pandangan Yuanli. “Memperhatikan Penyelidik Rong? Bagaimana dengan yang lainnya? Tidakkah mereka jauh lebih berbahaya? Terlebih lagi Menteri Shao, Yang Defei, dan Selir Song yang tahu-menahu mengenai sebagian hal yang telah kita lakukan di istana.”
Mengingat bahwa Yuanli sempat berinteraksi dengan Wang Chengliu, Song Qiaolan, serta Yang Yuechan, dirinya tak akan bisa membantu banyak dalam pertarungan Huang Miaoling dengan sang Pangeran Keenam. Alih-alih membantu, Yuanli sedikit khawatir bahwa dirinya akan mempersulit Huang Miaoling kalau-kalau Wang Chengliu akan menyingkirkannya secara mendadak.
Pancaran mata Huang Miaoling sama sekali tidak bergetar, menunjukkan ketenangan yang luar biasa. “Selain Penyelidik Rong yang kau sebutkan tadi, aku telah memiliki cara untuk menangani yang lain.” Dia menambahkan, “Wang Chengliu tak akan berani menyentuhmu, dia tahu bahwa kau berada dalam pengawasan Permaisuri Mingmei juga.”
Yuanli terdiam, memperhatikan Huang Miaoling dengan kagum. ‘Tentu saja, apa yang kupikirkan? Nyonya pasti telah mempersiapkan semuanya,’ batin pelayan itu sembari tersenyum.
“Yuanli, lakukan beberapa hal untukku,” ujar Huang Miaoling. Dia pun menurunkan beberapa perintah kepada bawahannya itu.
Perintah Huang Miaoling selalu mengejutkan, tapi Yuanli telah terbiasa untuk tak memasang ekspresi yang berlebihan. Dia membungkuk hormat dan berkata, “Aku mengerti, Nyonya.”
__ADS_1
“Pergilah,” ujar Huang Miaoling tanpa memperhatikan lagi bagaimana bawahannya itu menghilang bak debu tertiup angin. ‘Wang Chengliu, dusta yang kau ucapkan di malam itu mulai terkuak.’ Senyuman mengejek terlukis di wajah wanita itu. “Xiaoming,” panggilnya.
“Nyonya,” balas Xiaoming, siap menerima perintah.
“Siapkan kereta dan berikan kabar pada A Feng kalau aku akan pergi terlebih dahulu,” ujar sang Mingwei Junzhu.
Xiaoming membelalakkan matanya. “Namun Nyonya, Ketua berkata bahwa dia mengharapkan kau menunggunya,” ujar pria itu, sedikit khawatir.
Huang Miaoling terdiam sesaat, mengingat kembali ucapan A Feng yang memintanya untuk menunggu. Wanita itu merapatkan bibirnya dengan erat, sedikit ragu dengan keputusannya.
Akhirnya, Huang Miaoling berkata dengan keyakinan, “A Feng akan mengerti.”
***
Brak!
Topi pejabat yang baru saja dilepaskan oleh Shao Yanjun dilemparkan dengan keras ke atas meja. Pria itu terduduk di kursi seraya memijit pelipisnya, mencerminkan kecemasannya yang mendalam terhadap situasinya saat ini.
“Yanjun, apa yang terjadi?” ucap Li Yanmei dengan wajah khawatir. Wanita itu menuangkan teh ke dalam cangkir suaminya, lalu menyuguhkannya kepada Shao Yanjun. “Wajahmu terlihat buruk, sebaiknya kau segera istirahat,” sarannya.
Shao Yanjun menggelengkan kepalanya. “Walau Li Shijing masih hidup, tapi wanita itu tak lagi berdaya. Di sisi lain, Wang Wuyu telah berhasil disingkirkan selamanya.” Pria itu memukul meja dengan keras. “Namun, hanya Huang Miaoling yang menjadi semakin kuat dan sulit ditangani!”
Sejujurnya, Shao Yanjun tahu kalau hal tersebut bukan karena ketidakmampuannya. Lagi pula, kenyataan kalau Wang Chengliu sendiri tak bisa mengalahkan Huang Miaoling dalam perdebatan di istana juga ada. Jika ingin menyalahkan sesuatu, maka salahkan langit karena telah memberkati wanita itu dengan lidah yang begitu pandai bersilat.
Li Yanmei memperhatikan air muka suaminya, dan dia tahu bahwa Huang Miaoling bukanlah lawan yang mudah. Namun, ada sebuah kejanggalan yang wanita itu rasakan dari sang Junzhu, begitu pula dengan sang Pangeran Keenam yang mengepalai ide menjatuhkan wanita tersebut.
“Suamiku, aku memiliki beberapa hal yang ingin kukatakan,” ujar Li Yanmei, berhasil membuat Shao Yanjun mengalihkan pandangan pada dirinya.
“Katakanlah,” ujar Shao Yanjun seraya meraih tangan istrinya. Sesungguhnya, dia perlu mendengarkan tanggapan orang lain, berharap kalau-kalau ada ilham yang bisa dia dapatkan.
“Apakah bersekutu dengan Pangeran Keenam adalah pilihan terbaik?” Li Yanmei memulai dengan sebuah pertanyaan yang membuat Shao Yanjun menautkan alisnya. “Aku yakin bahwa kau telah menyadari hal ini, tapi aku merasa harus mengatakannya kembali.” Wanita itu melanjutkan, “Aku merasa, Pangeran Keenam tak sekadar ingin mendapatkan takhta untuk memperbaiki situasi pemerintahan.”
Li Yanmei menjelaskan bahwa setelah kejatuhan Li Hongxia, Li Shijing, dan Wang Wuyu, seharusnya situasi istana telah menjadi cukup baik. Lalu, apa tujuan Wang Chengliu yang berniat untuk menjatuhkan Huang Miaoling dan Keluarga Huang?
“Keluarga Huang adalah pengabdi setia Kerajaan Shi, bahkan jika Kaisar Weixin melakukan kesalahan, mereka akan terus mendukungnya tanpa ragu,” balas Shao Yanjun, entah kenapa merasa dirinya sedang membela Wang Chengliu tanpa dasar yang kuat.
Kening Li Yanmei berkerut, “Aku tidak merasa demikian.” Wanita itu mendudukkan dirinya di kursi dan menatap suaminya dengan saksama. “Huang Qinghao mungkin jenderal besar yang setia, tapi Huang Yade tidaklah buta. Mata sang Menteri Pertahanan terbuka untuk kebaikan rakyat, begitu pula dengan Perdana Menteri Situ dan para pejabat lain yang terlibat dengan Keluarga Huang.”
Shao Yanjun terdiam, mencoba memutar otaknya dan berpikir kembali mengenai semua hal yang telah terjadi. Ucapan istrinya memang benar, entah itu Huang Qinghao, Huang Yade, Situ Haonan, maupun Wei Xinhao, mereka menjalankan tugas mereka dengan baik dan untuk negara. Mengatakan mereka mengabdi buta terhadap Kaisar Weixin tidaklah tepat.
__ADS_1
Setelah kejatuhan Li Hongxia, hampir keseluruhan pemerintahan telah dibersihkan. Mereka yang dahulu sempat terlibat bisnis kotor pun dengan sendirinya mengundurkan diri atau berhenti melakukan hal tersebut, khawatir akan ada yang menemukan bukti dan menjerumuskan mereka ke dalam penjara istana.
“Bahkan, Mingwei Junzhu sendiri hanya bertentangan dengan semua orang yang berniat menyakiti keluarganya. Dengan kata lain, wanita itu akan memastikan bahwa dia yang duduk di atas takhta adalah orang yang layak dan tidak menyalahgunakan kesetiaan keluarganya terhadap kerajaan, bukan begitu?” cetus Li Yanmei dengan hati-hati.
Shao Yanjun terdiam sesaat, lalu mencoba untuk berpikir. Kemudian, dia memutuskan untuk menjelaskan sedikit informasi yang dia dapatkan dari Wang Chengliu.
Awalnya, Huang Miaoling berusaha untuk menjatuhkan sang Putra Mahkota dengan mendorong Huang Wushuang kepada pangeran itu. Dengan kekacauan yang dihasilkan oleh mantan putri mahkota itu, reputasi Wang Zhengyi pun menjadi semakin buruk. Itu merupakan awal yang baik mengingat Wang Zhengyi tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi pemimpin yang baik.
Namun, setelah kembali dari Kerajaan Wu, Wang Chengliu dan Shao Yanjun merasa Huang Miaoling berubah. Wanita itu mulai menyimpan ambisi yang mencurigakan, dan hal tersebut dimulai dari perjodohannya dengan Liang Fenghong, yang ternyata adalah sang Tabib Jianghu dan ketua dari Lianhua Yuan. Selain itu, berbeda dengan tujuan awalnya, Huang Miaoling malah beralih mendukung Wang Zhengyi.
“Tunggu,” Li Yanmei merasa ada kejanggalan. “Mengesampingkan Mingwei Junzhu, tidakkah kau merasa cara berpikir Pangeran Keenam sedikit aneh?”
“Maksudmu?”
Li Yanmei dengan ragu berkata, “Coba kau pikirkan. Sebelum insiden menghilangnya Mingwei Junzhu, Pangeran Keenam masih mengabdi sepenuhnya dengan Pangeran Mahkota. Dia bahkan ikut terlibat dalam usaha Menteri Huang dan Pangeran Keempat untuk melengserkan Huang Wushuang agar Putri Wu mampu bersanding dengan Pangeran Mahkota.” Wanita itu melanjutkan, “Namun, sekarang dia berniat untuk bertentangan dengan Mingwei Junzhu yang berniat untuk menyokong Pangeran Mahkota?” Li Yanmei merasa kepalanya pening. “Ini tak masuk akal.”
Shao Yanjun menghela napas, tak merasa aneh apabila istrinya tak mengerti jalan pikiran Wang Chengliu yang begitu runyam. “Singkatnya, melibatkan diri dengan Pangeran Keempat dan Menteri Huang bertujuan untuk mendapatkan informasi lebih mengenai situasi di Wu, juga untuk menjalin relasi dengan Keluarga Huang. Selain itu, membantu perang internal Wu dengan mengirimkan Wang Junsi … sebenarnya memiliki tujuan lain.”
“Tujuan lain?”
“Intinya, Pangeran Keenam menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi Kerajaan Tubo,” balas Shao Yanjun membuat Li Yanmei memasang wajah kebingungan. “Ketika Pangeran Keempat diserang dan menghilang, sebenarnya dia tak seorang diri.”
Mata Li Yanmei membesar. “Maksudmu, Pangeran Keenam mengirim orang untuk mendampinginya?”
Shao Yanjun terlihat berpikir keras, lalu menggeleng. “Akan lebih tepat mengatakan Pangeran Keenam mengirimkan seseorang untuk mengawasinya.” Dia menambahkan, “Selain itu, seseorang ini juga mengantarkan pesan kepada Raja Tubo.”
“Apa yang mungkin—"
“Tuan! Nyonya!” sebuah teriakan membuat Li Yanmei menghentikan ucapannya. Wanita itu menoleh ke arah pintu bersamaan dengan suaminya. Seorang pelayan pun membanting pintu hingga terbuka dan masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. “Tuan! Nyonya!” panggil pelayan itu lagi.
“Tak ada tata krama!” tegur Li Yanmei seraya mengerutkan keningnya, sedikit kesal dengan sikap pelayannya itu.
Pelayan itu memancarkan ketakutan, tapi ada sesuatu hal yang lebih menakutkan saat ini dibandingkan amarah kedua majikannya. “Tuan! Nyonya! Seorang wanita datang dan menerobos masuk ke dalam halaman Nyonya Besar!”
___
A/N:
Otor yang lagi nangkring di pohon, liat pelayan yang ketakutan: Elah, paling Miaomiao. Dia kan demen asal nyeruduk ae. Rumah orang kek rumah dewek.
__ADS_1