Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 81 Sang Kerudung Hitam


__ADS_3

Siulan yang diciptakan oleh mata panah yang membelah angin terdengar nyaring di telinga Chen Long. Namun, dirinya sama sekali tidak memiliki kesadaran untuk menghindar. Kesedihan yang menyelimuti sang wakil jenderal masih begitu pekat.


Selagi dirinya tenggelam dalam keputusasaan, Chen Long bisa mendengar suara yang begitu familier berbisik di telinganya, “Kau harus memastikan Kerajaan Wu memiliki masa depan!”


Ingatan akan sang ayah yang masih berjuang di dalam dinding kerajaan membuat Chen Long tersadar, dirinya masih memiliki sebuah kewajiban.


Detik berikutnya, tubuh Chen Long segera condong ke samping. Hal tersebut menyisakan jarak satu inci antara dirinya dengan jalur melesatnya panah yang ditembakkan Nanhan Ding. Alhasil, panah yang melesat itu menancap mantap pada tanah.


‘Aku harus hidup,’ gumam Chen Long dalam hati seraya meraih pedang yang tergeletak di sisinya. ‘Aku harus memastikan Kerajaan Wu memiliki masa depan.’ Wakil jenderal itu pun berdiri, dan dia mulai berlari. ‘Aku harus pastikan masih ada kesempatan untuk membalaskan dendam!’


Melihat Chen Long berlari menjauhi area hutan tempat para pemanah berada, Nanhan Ding mendecakkan lidahnya. “Tiup sangkakala! Para pemanah harus menjatuhkannya!” Tak pernah dia sangka bahwa jiwa korbannya itu masih belum hancur sepenuhnya. “Bunuh dia! Kalau dia berhasil kabur, akan kupenggal kepala kalian semua!”


Panah demi panah secara liar ditembakkan, tapi tak ada satu pun yang berhasil mengenai Chen Long. Dengan semangat baru untuk membalaskan dendam, Chen Long berusaha keras melindungi dirinya sendiri dan menangkis semua panah.


Namun, satu yang menang lawan seribu hanya ada dalam legenda dan mitos belaka.


Satu panah berhasil menancapkan diri pada pinggang sang wakil jenderal Kerajaan Wu itu, membuat Chen Long mengerang kencang karena rasa sakit yang dia terima. Pria itu terjatuh ke tanah berumput, tangannya menggerayangi panah yang bersemayam dalam tubuhnya.


‘Sial! Sial!’ maki Chen Long dalam hati. ‘Apa aku akan mati begitu saja di sini?’


“Bunuh dia!” teriak Nanhan Ding dengan lantang dari atas gerbang ibu kota. Sebuah senyuman kemenangan terpampang di wajahnya, penuh semangat mengetahui bahwa buruan telah tak berdaya. Mendadak, senyumannya menghilang. “Apa itu?”


Di ujung penglihatan Nanhan Ding, dia bisa melihat kepulan asap terbentuk di sisi Chen Long. Semakin lama, kepulan asap itu menjadi semakin tebal, dan eksistensinya digantikan oleh sosok berjubah hitam dengan kerudung menutupi kepalanya.


Melihat fenomena aneh yang terjadi di hadapannya, Chen Long sempat terpana untuk sesaat. Namun, saat menyadari jumlah panah yang siap menghunjam ke arahnya dan sosok tersebut, dia berteriak nyaring, “Pergi dari sini!” Orang di hadapannya itu masih bisa berdiri, dan itu berarti dia juga bisa berlari. Lalu, untuk apa sosok tersebut berdiam di hadapannya begitu saja!?

__ADS_1


Oh, ayolah. Tidakkah wakil jenderal Wu itu sadar bahwa dia lebih baik mementingkan keadaan dirinya sendiri di saat ini?


Namun, hal berikutnya yang terjadi membuat semua orang yang melihat tercengang. Di saat ratusan panah mengarah padanya, sosok misterius itu menjulurkan tangannya. Tepat pada saat itu juga, panah-panah itu berhenti di udara.


“Apa yang—” Nanhan Ding tak bisa menahan diri untuk tidak membelalak, begitu pula ratusan prajurit yang menyaksikan kejadian tersebut.


Kemudian, tangan sang Kerudung Hitam mengayun ke arah gerbang Timur ibu kota Wu. Seiring dengan tindakannya tersebut, ratusan panah itu melesat dengan cepat ke arah yang sama. Semua pasukan Nanhan yang berada di atas gerbang sekejap tersadar dari keterkejutan mereka dan bergegas merunduk untuk menghindari hujan panah dadakan itu.


Kejadian tersebut membuat daerah tersebut mendadak hening, tak ada lagi panah-panah yang datang dari arah hutan. Sepertinya, para pemanah itu terlalu terkejut sehingga melupakan tugas mereka.


Tak jauh berbeda dengan para prajurit Nanhan, Chen Long pun ternganga. Matanya membesar seiring dirinya mengalihkan tatapan dari arah gerbang Timur ibu kota kepada sosok berkerudung itu, kengerian menghiasi tatapannya. “Kau—” Ucapannya terhenti ketika melihat percikan serupa petir mulai mengelilingi sang Kerudung Hitam.


Sebuah decakan bisa terdengar dari sosok misterius itu, begitu pula deru napas yang berat. Kemudian, seakan tidak ingin membuang-buang waktu lagi, sang Kerudung Hitam segera berbalik dan berjalan ke arah Chen Long. Rambut bergelombang dengan warna cokelat terang merupakan hal pertama yang menarik perhatian sang wakil jenderal.


“Kemarilah!” teriak sang Kerudung Hitam seraya menarik tangan Chen Long.


***


Di dalam ruangan ketua Lianhua Yuan, sosok Huang Miaoling terduduk diam. Pandangan wanita itu menerawang ruang dan waktu, dan benaknya berputar menyusun ratusan rencana yang bisa dia gunakan sebagai langkah selanjutnya. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Huang Miaoling menggeram rendah sembari memijit pelipisnya.


Meihua yang sedang mendampingi Huang Miaoling memasang wajah khawatir. Nyonyanya itu merupakan penyelamat Kerajaan Wu, juga orang tercerdas yang pernah Meihua temui. Jikalau sang Wu Jiushi Zhu—Penyelamat Wu—saja tak mampu mengeluarkan rencana untuk menangani masalah yang sedang Wu hadapi sekarang, maka Meihua sungguh tak tahu siapa lagi yang bisa.


‘Li Changsheng, Li Changsheng,’ Huang Miaoling merapalkan nama itu berulang kali dalam hati bagai mantra.


Selagi menyebut-nyebut nama Li Changsheng, Huang Miaoling mencoba menjabarkan kembali cerita yang dituturkan oleh Chen Long. Dikatakan oleh sang wakil jenderal Wu bahwa dalang penyerangan istana merupakan putra satu-satunya Li Hongxia dengan Ibu Suri He itu. Dengan bantuan Suku Nanhan, dan juga pengetahuan pria itu mengenai jalur-jalur rahasia istana, tak heran Li Changsheng bisa dengan mudah menyergap Wu Huatai dan mengambil alih ibu kota.

__ADS_1


Dari pengamatan Huang Miaoling mengenai Li Changsheng, hal yang bisa membuat pria itu bertindak di luar akal sehat hanyalah satu. ‘Wu Rongya,’ desisnya dalam hati seraya mengepalkan tangan. Mata Huang Miaoling terarah pada lidah api yang menari-nari di atas lilin. ‘Seseorang membunuhnya,’ sang Mingwei Junzhu yakin mengenai hal itu, membuat dadanya terasa sedikit sesak. ‘Apakah takdir memang tak bisa dihindari?’


Otak Huang Miaoling berputar. Tidak masuk akal bagaimana seorang Li Changsheng bisa secara tiba-tiba memiliki hubungan dengan Suku Nanhan, terutama karena sebelumnya pria itu mengatakan bahwa tujuan awalnya dengan Wu Rongya adalah untuk berkelana menuju Kerajaan Xu, tempat yang sangat jauh dari daerah padang rumput. Demikian, hanya ada satu alasan mengapa rute perjalanan Li Changsheng bisa berubah seratus delapan puluh derajat.


‘Seseorang telah menargetkan mereka dari awal,’ duga Huang Miaoling. ‘Apabila Kerajaan Wu jatuh, maka Kerajaan Zhou merupakan pihak yang paling diuntungkan,’ Wanita itu menyentuh cangkir tehnya seraya membatin, ‘Orang yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Zhou dan juga tahu-menahu mengenai kenyataan Wu Rongya serta Li Changsheng yang masih hidup … hanya satu.’ Api membara dari manik hitamnya yang segelap malam. ‘Wang Junsi, mungkinkah dia—” pikiran Huang Miaoling terhenti mendadak ketika pintu ruangan tempatnya berada mendadak terbuka.


Sosok Liang Fenghong melangkah masuk dengan wajah suram. Melihat Huang Miaoling berniat berdiri untuk mempersilakannya duduk layaknya seorang istri yang seharusnya, pria itu mengipaskan tangannya, memberikan isyarat bahwa hal tersebut tak diperlukan. “Duduklah,” ujarnya, suaranya terdengar lelah.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Huang Miaoling, merujuk pada Chen Long.


“Tak akan mati,” balas Liang Fenghong seraya meneguk teh yang baru saja dituangkan oleh Meihua. Mata pria itu terarah pada istrinya yang mengangguk pelan, dia bisa melihat awan hitam yang menutupi manik hitam cemerlang tersebut. “Bukan Wang Junsi,” ujarnya membuat Huang Miaoling mengerutkan kening, cukup terkejut bahwa Liang Fenghong mampu mengetahui dugaannya.


“Namun, orang yang mengetahui tentang Rongya dan Changsheng—”


“Dia bisa membantu Wang Junsi untuk pergi ke Wu, dan itu berarti dia juga bisa mengutus orang untuk memata-matainya,” potong Liang Fenghong. Melihat ekspresi Huang Miaoling semakin menggelap, pria itu langsung tahu bahwa wanita itu mengerti maksudnya. “Wang Chengliu … sungguh pria yang berbahaya, Ling’er.”


Mendengar ucapan suaminya, Huang Miaoling menggertakkan giginya. Kemudian, dia beralih pada Meihua dan Mudan. “Segera kirimkan kabar ke kediaman Huang dan Liang, kita harus bersiap untuk perang besar.”


“Baik!” Mudan dan Meihua membalas serempak, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.


Sebelum Mudan menutup pintu, Huang Miaoling mendadak angkat suara, “Mudan,” membuat gadis pelayan itu menghentikan tindakannya dan mematung di depan pintu. “Apa kau melihat wanita yang mengantarkan Wakil Jenderal Chen?” Mudan menganggukkan kepalanya, dan mata Huang Miaoling pun dilapisi harapan. “Bagaimana wujudnya?”


“Dia menggunakan kerudung hitam yang menutupi wajahnya, tapi kulihat jelas rambutnya yang mencapai pinggang berwarna cokelat terang,” jawab Mudan dengan jelas.


Puas dengan jawaban Mudan, Huang Miaoling menganggukkan kepalanya. Dia mengizinkan gadis pelayan itu pergi, lalu bergumam dalam hati, ‘Lan’er ….’ Namun, firasat buruk perlahan merayapi hatinya. ‘Kenapa kau terlibat dalam semua hal ini?'

__ADS_1


____


A/N: ... terlibat ... terlalu banyak?


__ADS_2