Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 136 Mengulang Kehidupan Tak Menjamin Apa Pun


__ADS_3

“Lan’er, kau—” Wu Fenghong menatap ke arah Lan’er dengan terkejut. Begitu pula dengan Wang Junsi, Huang Yade, dan semua orang yang berada di sana.


Lan’er menghapus darah yang keluar dari sisi bibirnya, berusaha untuk terlihat tegar. Kemudian, dia berbalik dan melirik Huang Miaoling yang begitu pucat di lantai aula utama. Gadis bersurai cokelat itu menghampiri wanita tersebut dan menyentuhkan tangannya pada wajah Huang Miaoling, dia memasang ekspresi pahit.


“Teganya dia melakukan ini pada istrinya sendiri,” gumam Lan’er sembari menatap tubuh Huang Miaoling yang diawetkan dan tidak dibakar sesuai tradisi yang seharusnya [1]. “Kali ini, aku sungguh memilih orang yang salah,” tuturnya dengan kening berkerut.


Huang Yade tak mengerti maksud ucapan Lan’er, tapi dia tahu satu hal yang ingin dia utarakan. “Lan’er, kau bisa menyelamatkannya, bukan?” tanya pria itu dengan panik, merasa hatinya sedang berdarah ketika menatap sosok adiknya yang diperlakukan dengan begitu tak hormat.


Bagaimana pun Huang Miaoling adalah mantan permaisuri!


Semua orang menatap ke arah Lan’er dengan intens. Walau gadis itu telah menyatakan sendiri bahwa dia mampu melakukannya, tapi semua orang masih sulit percaya. Oleh karena itu, saat Lan’er menganggukkan kepalanya, semua orang di tempat tersebut terbelalak.


“Apakah kau serius?” Suara Wu Fenghong terdengar penuh keraguan, tapi ada semangat dan harapan di balik getaran nadanya. “Kau bisa … membangkitkannya?” tanya pria itu lagi, berusaha untuk berpegang pada perkataan seorang gadis yang baru dia kenali untuk beberapa waktu.


“Aku tidak bercanda, Yang Mulia,” balas Lan’er selagi menggenggam tangan Huang Miaoling. “Aku tidak pernah bercanda mengenai kehidupan,” ujar gadis itu dengan lirih. “Tak seharusnya kalian mendapatkan akhir ini, hal itu … adalah keyakinanku.”


“Kau adalah manusia, bukan dewa,” ujar Wu Fenghong dengan nada menuduh, tidak ingin tenggelam dalam sebuah harapan palsu. Walau pernah menyaksikan Lan’er menghilang dari pandangan, tapi dia curiga bahwa itu hanyalah salah satu jurus bela diri yang gadis itu kuasai. ‘Membangkitkan seseorang dari kematian dan menghilang dari pandangan jelas dua hal yang jauh berbeda.’


Lan’er terdengar mendengus mengejek, seakan menertawakan pernyataan Wu Fenghong. “Bayarannya besar, apa kau yakin kau rela?” Dia melirik sang kaisar, mempertanyakan kerelaan pria itu.


Keheningan menyelimuti tempat tersebut. Huang Yade ingin mengatakan bahwa dirinya rela menggantikan Wu Fenghong apabila pria itu tidak rela, tapi sesuatu dari pandangan Lan’er membuatnya merasa bahwa … hanya sang Kaisar Wu yang bisa menyelamatkan adiknya.


Wu Fenghong menatap ke arah Huang Miaoling. Dia teringat bagaimana alis tajam milik wanita itu berkerut dan meninggi ketika menanggapi setiap ucapannya. Hal tersebut membuat dada Wu Fenghong terasa sakit.


Dia merindukan wanita itu.


“Aku memiliki segalanya, tapi dia tak ada di sisiku,” ujar Wu Fenghong dengan sebuah senyuman pahit. Dia mengepalkan tangannya dan melanjutkan, “Penyesalan terbesarku saat itu … adalah melepaskannya.” Pria itu seakan mengumpulkan keberanian sebelum mengucapkan kalimat selanjutnya, “Bahkan bila nyawaku bayarannya, aku rela memberikan hal tersebut untuk menebus kesalahanku pada Huang Miaoling.”


Tepat ketika kalimat terakhir terlontar dari mulut Wu Fenghong, suara benda tajam yang membelah udara pun terdengar. Semua orang terbelalak ketika melihat Lan’er menghunuskan pedang di tangannya ke arah Wu Fenghong.


Xiaoming yang berada di tempat itu bersama dengan Mudan dan Meihua berteriak, “Kaisar!” Begitu pula dengan para prajurit lain yang melihat kegilaan Lan’er, bahkan Huang Yade berusaha mengulurkan tangannya untuk menghentikan tindakan gadis itu.

__ADS_1


Hanya saja, tak ada yang sempat menghentikan Lan’er. Tak ada yang bisa menghentikannya.


Suara pedang yang menembus baju besi dan mengoyak daging terdengar. Hal itu diikuti dengan lenguhan rendah yang membuat jantung semua orang teremas—kaget dan takut.


Wu Fenghong melirik ke bawah, menatap pedang yang menembus dadanya. Dengan segenap tenaga yang dimiliki, pria itu mengangkat pandangannya untuk menatap Lan’er. “L-Lan ….” Dia tak kuat untuk bahkan menyelesaikan ucapannya.


“Kau punya satu kesempatan,” ujar Lan’er dengan wajah kesakitan, terlihat di tengah tubuhnya, tepat di antara kedua dada, sebuah pedang lain yang dilumuri darah mencuat keluar. “Kita akan … bertemu kembali,” gadis itu terbatuk, membuat darah terlontar keluar dari mulutnya, “untuk mengubah takdir sang Feniks.”


***


Huang Miaoling membelalak, terkejut dengan cara Lan’er mengembalikan Liang Fenghong ke masa ini. Tak hanya itu, ada satu hal lain yang membuatnya penasaran, “Apa hubungan Wang Chengliu dengan Lan’er?”


Liang Fenghong menggelengkan pandangannya. “Dia tak pernah mengatakannya,” jawab pria itu jujur. “Namun, aku tahu bahwa salah satu tujuan Lan’er adalah untuk menghentikan kegilaan Wang Chengliu yang berniat untuk menghancurkan Shi.”


‘Lan’er … masih begitu misterius, tapi sangat tidak mungkin bagi gadis itu untuk disebut sebagai seorang manusia,’ pikir Huang Miaoling. Wanita itu mendadak teringat dengan hukuman yang Lan’er terima ketika takdir langit terungkap, dan dia pun menatap Liang Fenghong. “Kau menceritakan semua ini padaku, apa tidak akan ada hal yang terjadi pada Lan’er?”


Pertanyaan Huang Miaoling membuat ekspresi Liang Fenghong berubah suram, seakan dia sedang berdebat dengan batinnya sendiri. “Sudah sejauh ini, memang sudah sepantasnya kau tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi.”


Kepala Liang Fenghong kembali menggeleng. “Demi memastikan semuanya terkendali, juga agar semua hal berjalan sesuai rencana, Lan’er melemparku jauh sebelum kau kembali.”


“Aku tak mengerti,” ujar Huang Miaoling dengan mata memicing. “Jauh sebelum aku kembali? Kau bermaksud untuk mengatakan bahwa … Lan’er mengirimkanmu ke dunia ini jauh sebelum diriku?” Jantungnya berpacu, merasa ada sebuah rahasia kelam yang baru saja terungkap.


Liang Fenghong mengalihkan pandangannya, merasa kesulitan untuk menjawab. Pria itu tahu bahwa menceritakan semuanya kepada Huang Miaoling mampu membahayakan hubungannya dengan sang istri. Akan tetapi, dia telah bersumpah untuk tak pernah berbohong kepada Huang Miaoling.


“A Feng, jawab aku,” ujar Huang Miaoling, meminta kejujuran dari pria di hadapannya.


Sembari menggertakkan gigi, Liang Fenghong pun menjawab, “Ya.”


Liang Fenghong bisa mendengar detak jantungnya sendiri, begitu keras, menunjukkan ketakutan akan kebencian yang mungkin diarahkan Huang Miaoling kepadanya. Dia yakin bahwa mengetahui hal ini bisa membuat Huang Miaoling berasumsi bahwa … semua hal yang terjadi di antara mereka selama ini … hanyalah bagian dari rencana.


“Sejak kapan?” suara Huang Miaoling terdengar bergetar ketika mengutarakan pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Liang Fenghong tidak berani mengangkat pandangannya, sangat takut dengan ekspresi yang sekarang terlukis di wajah istrinya. Namun, dia masih menjawab, “Sejak … Ayah menitipkanku kepada Guru.”


Hening.


Liang Fenghong masih sangat belia ketika dirinya dititipkan oleh Liang Shupeng kepada Jiang Hu, baru sepuluh tahun. Huang Miaoling pun berkata, “Kau kembali … sejauh itu?”


Anggukan kepala terlihat dari sosok sang Tuan Liang, “Ya.”


Huang Miaoling mencoba mencerna informasi yang disuguhkan olehnya. Sekarang, dia tahu kenapa nama Tabib Jianghu jauh lebih terkenal di kehidupan ini dibandingkan kehidupan lalu. Dua kali mengasah kemampuan medis tentunya membuat Liang Fenghong berbeda. Tak hanya itu … tak heran Liang Fenghong selalu berada di sisinya setiap kali dia membutuhkan bantuan.


Ternyata ….


“Maaf.” Huang Miaoling menatap ke depan, ke arah suaminya yang mengernyitkan wajah. “Bahkan di kehidupan ini, aku menutupi begitu banyak hal darimu.”


Huang Miaoling terdiam. Sungguh, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dirinya marah, begitu marah ketika sadar bahwa segala hal yang terjadi di kehidupan ini merupakan bagian dari rencana besar orang lain. Akan tetapi, di sisi lain … dia merasa pengorbanan Liang Fenghong begitu besar, dan hal tersebut membuat dirinya tidak layak untuk marah.


‘Selain itu, masih ada masalah lain dengan Lan’er,’ pikir Huang Miaoling sembari menautkan alis. “Apa alasanmu begitu marah ketika aku pergi … dikarenakan hal yang terjadi di kehidupan lalu?” tanya wanita itu, memutuskan untuk mengganti arah pembicaraan.


Sekejap, ekspresi Liang Fenghong berubah kosong, seakan baru saja teringat suatu hal yang sangat ingin dia lupakan. Pria itu menutup setengah wajahnya dengan tangan, seluruh tubuhnya bergetar.


“Mengulang kehidupan … tidak menjamin aku bisa menyelamatkan semua orang, aku tahu itu,” ujar Liang Fenghong. “Oleh karena itu, aku khawatir hal yang sama akan terjadi padamu.”


Detik itu juga, Huang Miaoling diselimuti oleh firasat buruk. “Kau membicarakan tentang … Permaisuri Tianzhen?” tanyanya dengan hati-hati.


Tangan Liang Fenghong mencengkeram kepalanya, seakan ingin menghancurkan dirinya sendiri. Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, lalu berkata, “Kaisar Huatai … kakakku … aku tidak bisa menyelamatkannya.”


____


[1] Tradisi Kremasi: Menurut kepercayaan Tiongkok zaman dahulu, kremasi adalah salah satu cara untuk membiarkan roh mereka yang telah meninggal terbebas dari ikatan dengan dunia fana. Usaha untuk mengawetkan dianggap tidak menghormati dan menahan roh mereka yang telah meninggal dari berlanjut ke akhirat.(Pemahaman ini bisa berbeda berdasarkan kepercayaan daerah dan suku tertentu, yak. But, just saying ya know)


 

__ADS_1


 


__ADS_2