Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 22 Sang Pembuat Onar


__ADS_3

Bentakan Huang Miaoling bergema di seisi ruangan diikuti dengan suara pukulan keras pada meja. Sosok Mingwei Junzhu yang biasanya tenang telah berubah dipenuhi emosi membara. Etika yang biasa dipertahankan dibuang jauh-jauh oleh Huang Miaoling, tak lagi mempedulikan keberadaan Wang Junsi dan Wu Meilan yang kedudukannya jelas lebih tinggi darinya.


Walau sikap Huang Miaoling tidak sesuai tata krama, bahkan bisa dianggap tidak sopan karena ditunjukkan di hadapan Wu Meilan dan Wang Junsi, tapi sang Tuan Putri Wu anehnya merasa sedikit kagum pada sang Nona Pertama Huang itu. Huang Miaoling marah, sikapnya tidak layak ditunjukkan di hadapan sang Tuan Putri Wu dan sang Pangeran Keempat kerajaan Shi, tapi setiap gerakan yang dia tunjukan dan aura yang mengelilingi gadis itu begitu anggun dan berwibawa.


Tidak ada jari yang terangkat maupun tertunjuk, tak ada kata-kata tak senonoh yang keluar. Hanya ada pukulan pada meja yang menyebarkan tekanan yang begitu kuat dan menyesakkan dada.


‘Seperti sosok seorang permaisuri,’ batin Wu Meilan tanpa sadar.


Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pada pintu ruangan Wu Meilan. “Ketua, kereta kuda telah disiapkan.” Itu adalah suara Xiaoming.


Mendengar hal ini, Huang Miaoling yang masih diselimuti emosi segera berusaha untuk berdiri. Gadis itu tahu apabila dirinya tak melakukan hal tersebut, Liang Fenghong pasti akan langsung menggendongnya untuk membawanya ke dalam kereta. Dengan amarah yang menggebu dalam dirinya setelah niat pria itu untuk membocorkan semuanya, Huang Miaoling tak sudi berdekatan dengan Liang Fenghong. Lagi pula, gadis itu sadar kekuatan pada anggota tubuhnya telah kembali sebagian, berjalan bukanlah sebuah masalah.


Huang Miaoling berdiri dari kursinya dan memberi hormat pada Wang Junsi dan Wu Meilan. “Tuan Putri, Pangeran Keempat, aku pamit,” ucapnya dengan cepat seraya mulai berjalan menghampiri pintu ruangan untuk keluar. Namun, detik berikutnya, gadis itu terpaksa harus terkejut. “Ah!”


Liang Fenghong dengan cepat mengangkat tubuh Huang Miaoling dan menggendongnya dengan mudah. Wajah pria itu datar saat dia membungkuk sedikit kepada Wu Meilan untuk pamit, Huang Miaoling yang berada di dalam pelukannya hanya bisa tercengang. “Tuan Putri, aku pamit.” Dia mengalihkan pandangan pada sang Pangeran Keempat yang terbelalak dan menganggukkan kepalanya.


“Apa yang kau lakukan!?” desis Huang Miaoling seraya mencoba memukul dada pria yang sedang menggendongnya itu. Namun, berapa kali pun dia memukul pria itu dan meronta, Liang Fenghong tidak membalas dan hanya terdiam. ‘Apa dia sakit jiwa?!’ maki gadis itu dalam hati.


Detik pintu ruangan Wu Meilan terbuka akibat tendangan kaki Liang Fenghong, Huang Miaoling hanya bisa menyerah dan menahan amarahnya. Tidak, bukan karena dia kaget maupun takut dengan sikap pria yang menggendongnya itu, melainkan karena khawatir akan ada rumor yang tersebar di antara para pelayan dan pengawal kerajaan Wu.


Ketenangan dengan cepat menyelimuti wajah sang Nona Pertama Huang selagi kepalanya bersandar pada dada Liang Fenghong. Gadis itu melakukan itu guna untuk menunjukkan pada para pelayan dan pengawal kalau dirinya memang begitu lemah sehingga perlu menerima perlakuan berlebihan dari sang Tuan Muda Liang.


Namun, sehebat apa pun kemampuan Huang Miaoling untuk bersandiwara, para pelayan dan pengawal tidaklah tuli maupun buta. Mereka bisa mendengar suara bentakan Huang Miaoling beberapa saat lalu yang diikuti dengan suara pukulan pada meja. Tak hanya itu, ada juga pelengkap dari pintu yang ditendang terbuka oleh sang Tuan Muda Liang.


Hanya orang bodoh yang tidak akan sadar kalau ada perselisihan di antara keduanya.

__ADS_1


Walau dirinya berusaha keras untuk mempertahankan ketenangan, Huang Miaoling tak bisa menghindari kaburnya beberapa emosi dari wajahnya. Alhasil, muncullah ekspresi merengut di wajahnya yang membuat orang yang tidak tahu mengartikan bahwa dirinya sedang kesakitan alih-alih menahan amarah.


Memperhatikan kepergian Huang Miaoling dan Liang Fenghong, Wang Junsi dan Wu Meilan hanya bisa terbengong. Mereka tak akan terkejut kalau kombinasi ekspresi suram sang Putra Perdana Menteri Liang dan ekspresi kesakitan sang Nona Pertama Huang itu mampu membuat orang salah paham. Jika mereka tidak berada di dalam ruangan, mungkin mereka akan mengira kalau Huang Miaoling sungguh kesakitan dan Liang Fenghong sedang bersiap membunuh siapa pun itu pelaku yang membuat gadis dalam pelukannya tersebut kesakitan!


Ketika sosok Liang Fenghong terlihat berusaha memasukkan Huang Miaoling ke dalam kereta, sang Pangeran Keempat—yang masih tak bisa mengalihkan pandangannya—bergumam, “A-apa yang baru saja terjadi?”


Di saat ini, Wu Meilan yang masih berada di bawah efek keterkejutan hanya bisa membalas, “T-Tuan Muda Liang … menyeramkan.”


***


“Ada yang keluar,” ujar Rong Gui seraya memperhatikan gerak-gerik kediaman di hadapannya. “Itu tuan muda keluarga Liang, dia menggendong ….” Ucapannya terhenti. Keningnya berkerut dan matanya memicing, mencoba untuk melihat lebih jelas kepada sasarannya.


“Ah! Adik Sepupu Ketiga!” desis Wei Shulin saat melihat sosok Huang Miaoling digendong keluar oleh seorang pria yang tak lain adalah Liang Fenghong. Ekspresinya terlihat sedikit buruk ketika menyadari betapa pucatnya wajah Huang Miaoling. “Dia sungguh teracuni.” Pancaran mata Wei Shulin terlihat penuh kekhawatiran. Dia langsung berdiri dari tempat persembunyiannya dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan. “Kita harus segera kembali.”


Hal pertama yang tadi sempat menyeruak masuk ke dalam pandangan Wei Shulin adalah ekspresi mengerikan Liang Fenghong. Lalu, pria itu menjadi semakin panik ketika melihat paras pucat dan ekspresi tertahan Huang Miaoling. Sesuatu jelas terjadi pada gadis itu, dan Wei Shulin harus memberitahukannya pada Huang Yade.


“Rong Gui! Apa yang kau lakukan?” desis Wei Shulin yang merasa terkejar waktu. Dia menghampiri bawahannya itu, bersiap menegurnya. Namun, dia sangat terkejut saat melihat ekspresi Rong Gui yang memucat. “Rong Gui, ada apa denganmu?” Dia mengikuti arah pandangan bawahannya itu dan melihat kereta yang mulai meninggalkan kediaman sementara sang Tuan Putri Wu.


Ketika kereta kuda menghilang dari pandangan, Rong Gui berbalik untuk menatap Wei Shulin. “Ketua,”—pandangannya terlihat begitu serius—“orang dalam gendongan pria yang baru keluar tadi, apa itu sungguh adik sepupu ketigamu? Sang Nona Pertama Huang? Mingwei Junzhu?” tanyanya bertubi-tubi.


Wei Shulin mengerjapkan matanya dengan kebingungan. Lalu, dia menganggukkan kepalanya dengan ragu. “Ya, ada apa? Apa yang salah?” tanyanya dengan refleks, ingin tahu mengenai apa yang ada dalam pikiran Rong Gui.


Di saat ini, Rong Gui menjatuhkan pandangannya. “Pria itu … wanita?” gumamnya dengan suara rendah.


Mendengar gumaman itu, Wei Shulin memasang ekspresi jelek yang seakan meneriakkan, ‘Kegilaan apa lagi yang merasuki bocah ini?’ Lalu, dia segera berkata, “Aku akan kembali ke gedung departemen. Terserah padamu kalau ingin ikut atau tetap menyelidiki di sini. Aku pergi.”

__ADS_1


Ucapan Wei Shulin menarik kembali roh Rong Gui dengan cepat. Pria itu kemudian berjalan cepat untuk mengimbangi tempo langkah kaki ketuanya. Dia menggelengkan kepala seraya menutup mata sebentar sebelum membukanya lagi, menyadarkan dirinya untuk fokus.


“Apa Ketua akan melaporkan hal ini pada Menteri Huang?” tanya Rong Gui.


Tahu kalau Rong Gui telah mendapatkan kewarasannya kembali, Wei Shulin menganggukkan kepalanya. “Detik berita tentang keberadaan penyusup tiba di telinga Kakak Sepupu, dia segera mengutusku untuk mengawasi gerak-gerik dalam istana, terutama tamu dari kerajaan Wu. Aku yakin dia telah menduga akan ada yang terjadi pada Adik Sepupu Ketiga,” jawabnya.


“Begitu …,” Rong Gui membalas dengan lemah. ‘Memang sang Ahli Strategi Genius.’


Dalam perjalanan, sesekali kening Rong Gui berkerut dan pandangannya kehilangan fokus. Wei Shulin menangkap beberapa perubahan itu, tapi dia memutuskan untuk mengesampingkannya karena ada hal yang lebih penting untuk ditangani sekarang.


‘Sang Nona Pertama Huang … dia jelas bukan seorang tokoh yang bisa diremehkan,’ pikir Rong Gui di luar pengetahuan Wei Shulin. Mata pria itu memancarkan tekad. ‘Aku harus menemuinya untuk mendapatkan kepastian.’ Dia mengangkat pandangannya dan menyimpan rencana itu di sudut benaknya.


Tak perlu waktu lama bagi Wei Shulin dan Rong Gui untuk mencapai gedung departemen pertahanan dalam istana. Ketika mereka sampai, keduanya menemukan bahwa Huang Yade masih berada di istana Kaisar Weixin. Wei Shulin mengutus salah satu bawahannya untuk memberitahukan Huang Yade kalau dia meminta untuk bertemu, dan dia sendiri memutuskan untuk menunggu bersama Rong Gui di tempat itu.


Perlu setidaknya waktu lima belas menit sebelum Wei Shulin dan Rong Gui mendengar suara langkah kaki sejumlah orang. Langkah kaki tersebut kemudian terpencar, meninggalkan satu langkah kaki yang mengarah ke ruangan tempat Wei Shulin dan Rong Gui menunggu.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat sosok Huang Yade muncul dari balik pintu dengan wajah yang diselimuti kabut hitam. Dia menganggukkan kepala untuk membalas salam dari yang disuarakan Wei Shulin serta Rong Gui dan duduk di kursi yang berada di belakang mejanya.


“Katakan,” perintah Huang Yade dengan tegas, tak banyak berbasa-basi. Jari telunjuk Huang Yade mengetuk-ngetuk dengan tidak sabar di atas meja, menunjukkan suasana hatinya yang sedang tidak memiliki kesabaran.


Wei Shulin menjelaskan semua yang telah dia lihat serta laporan setiap bawahannya yang tersebar di seluruh istana. Semakin lama Huang Yade mendengar cerita saudara sepupunya itu, semakin gelap ekspresi yang terpaksa di wajahnya. Pada akhirnya, kepala Huang Yade tertunduk selagi tangannya memijit batang hidungnya.


Melihat reaksi Huang Yade, Wei Shulin merasa ada yang salah. “Kakak Sepupu, apa yang salah?” tanyanya.


Huang Yade tidak mengangkat pandangannya dan membalas dengan nada lemah, “Huang Miaoling ….” Lalu, pandangannya terangkat sedikit agar bisa menatap Wei Shulin yang kebingungan. “Gadis itu lagi-lagi membuat onar.”

__ADS_1


___


A/N: Ohooo? Apa maksud Huang Yade? Ada yang tahuuu?


__ADS_2