Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 101 Hasrat Akan Kekuasaan


__ADS_3

Huang Miaoling terdiam, termenung membayangkan betapa gilanya kejadian malam yang diceritakan oleh Lan’er itu. Gila, tapi hal tersebut menjelaskan semuanya. Sinting, tapi setiap tindakan yang diambil sang pemeran utama, Xue Kexin, juga masuk akal.


Istana belakang tidak pernah menjadi tempat yang aman, bahkan bagi seorang permaisuri sekali pun. Setelah berusaha menjebak pria yang dicintai Xue Kexin, apa Chen Meilian sungguh mengira sang Xianfei tak akan melakukan apa pun?


“Namun, bagaimana mungkin tidak ada satu pun yang melaporkan kejadian malam itu dari sekian banyak pelayan dan bidan?” tanya Huang Miaoling, menyadari adanya kejanggalan. “Tidak ada bibir yang sepenuhnya rapat di istana, terutama bila kedudukanmu tidaklah kuat.” Huang Miaoling merujuk pada kedudukan Xue Kexin yang hanyalah seorang Xianfei tanpa dukungan keluarga yang berkuasa.


“Wang Weixin tidaklah bodoh, dia tahu bahwa ada yang janggal saat dirinya tak kuasa menahan diri untuk menyentuh Chen Meilian malam itu,” jawab Lan’er. “Demikian, kecurigaan menumbuhkan kewaspadaan, dan kewaspadaan menumbuhkan kebencian, terutama karena setelahnya Xue Kexin bersikap dingin padanya.” Dia menambahkan, “Malam itu, semua bidan dan pelayan yang melayani Chen Meilian diatur oleh Xue Kexin. Selain itu, bahkan bila ada yang melaporkan kepada Wang Weixin, pria itu tak akan mengambil tindakan pada wanita yang dia cintai.”


“Apa?” Huang Miaoling mengerutkan kening tak percaya. “Bagaimana mungkin?”


Kaisar Weixin dikenal bijak, apa dia sungguh akan berpura-pura menutup mata mengetahui kegilaan yang dilakukan oleh Xue Kexin?


Pandangan Lan’er menatap lurus ke arah Huang Miaoling. “Seorang wanita yang dia cintai dan seorang wanita yang dicurigai memiliki niat buruk sehingga menjebaknya, yang mana yang akan dia pilih?” Gadis itu memasang sebuah senyuman mengejek.


Huang Miaoling terdiam, hati kecilnya telah memberikan jawaban.


“Dibutakan oleh kebencian setelah apa yang dilakukan Ibu Suri Shen kepada keluarganya, Xue Kexin bersedia bekerja sama dengan keturunan Raja Zhou. Dia sendiri yang bersedia membantu Chen Meilian masuk ke dalam istana,” ujar Lan’er. “Namun, saat menyadari bahwa Wang Weixin masih memiliki cinta untuknya, sama dengan dirinya masih mencintai pria itu, Xue Kexin mulai bimbang.”


Huang Miaoling menjatuhkan pandangannya. “Jadi, ketika mengetahui Chen Meiren berniat menjebak Kaisar Weixin untuk menguasai Kerajaan Shi, lalu berakhir mengandung anak dari pria itu, Xue Xianfei yang tidak memiliki kemampuan untuk mengandung … merasa tidak terima,” tuturnya, bisa menebak pikiran sang Xianfei. “Walau membenci Ibu Suri Shen, tapi dia masih mencintai Kaisar Weixin. Walau ingin Kerajaan Shi hancur, tapi dia tak bersedia melihat pria yang dia cintai jatuh ke dalam kesengsaraan.” Sebuah seringai terpampang di wajah Huang Miaoling, “Xue Kexin … wanita itu terlalu serakah, dia ingin cinta dan juga kepuasan dari balas dendam.”


Lan’er menutup matanya, berniat untuk memperjelas, “Alasan Xue Kexin membunuh Chen Meilian tidak hanya sekadar didasari perasaan cintanya kepada Wang Weixin,” dia menjelaskan, “Ketidakmampuan Xue Kexin untuk mengandung diakibatkan oleh Chen Meilian,” ucapannya sukses membuat Huang Miaoling terkejut.


“Ah?”


Senyuman tak berdaya terpampang di wajah Lan’er, “Pihak keturunan Raja Zhou tak pernah sepenuhnya percaya pada Xue Kexin, jadi mereka tak berniat membiarkan wanita itu mengandung keturunan Wang Weixin. Bila hal itu terjadi, mereka khawatir Xue Kexin akan mengkhianati mereka. Oleh karena itu, Chen Meilian meracuni Xue Kexin dengan obat kemandulan.”


Mata Lan’er menutup, dia menarik napas dalam-dalam. Sekilas, orang akan mengira bahwa dirinya sedang berusaha menahan emosi ketika mengingat kekacauan yang terjadi di masa itu. Namun, sejujurnya, Lan’er merasa napasnya sedikit memendek.


“Selain itu, apabila mereka berniat mengambil alih Kerajaan Shi, maka Wang Weixin harus memiliki putra dengan darah sang Raja Zhou juga,” Lan’er akhirnya berhasil mengeluarkan kalimat yang tertahan di tenggorokannya. “Oleh karena itu, Chen Meilian bertugas mengandung putra dari Wang Weixin.”

__ADS_1


“Namun, Xue Kexin berakhir mengetahui rencana itu?” tebak Huang Miaoling yang diiringi dengan anggukan kepala Lan’er.


“Xue Kexin memang tidak berasal dari keluarga bangsawan, tapi ketelitian seorang saudagar ada dalam dirinya. Dia wanita yang cerdas, dan sejak detik Chen Meilian menjebak Wang Weixin untuk tidur dengannya, Xue Kexin sudah mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan wanita itu … selamanya,” jelas Lan’er dengan mata tajam.


Huang Miaoling terdiam sejenak, mencoba untuk memproses semua informasi yang dia dapatkan. “Jadi … untuk membalaskan dendamnya kepada Kerajaan Shi, juga kepada keturunan Raja Zhou, Xue Xianfei mengangkat Wang Chengliu menjadi putranya?” Dia mendengar dentuman di sisi kepalanya—pening. “Wanita itu sengaja membiarkan Wang Chengliu terus mengira bahwa ibunya mati di tangan Li Guifei untuk menumbuhkan ambisinya terhadap takhta.


Bila Wang Chengliu sungguh berhasil menjadi kaisar, maka Xue Xianfei secara otomatis juga memiliki kuasa yang mampu melebihi Permaisuri Mingmei!”


Apabila putra seorang selir menjadi kaisar, walau status ibu suri tidak akan disandang oleh sang selir, tapi kuasa putranya mengizinkan selir tersebut untuk menjadi lebih terpandang dibandingkan sang ibu suri. Bila hal ini sungguh terjadi, maka Xue Kexin bisa dianggap berhasil membalaskan dendam kepada Ibu Suri Shen dengan mengotori takhta kerajaan dengan darah jelata, juga mengamankan dirinya dari serangan keturunan Raja Zhou.


Kebenaran mengenai kematian Chen Meilian … tak akan pernah terungkap, dan dirinya akan aman dan sejahtera di istana.


“Tidak sesederhana itu, Huang Miaoling,” celetuk Lan’er yang bisa membaca pikiran sang Mingwei Junzhu. “Xue Kexin tak akan puas hanya dengan kematian Chen Meilian dan juga kenaikan Wang Chengliu ke atas takhta.” Wajah Lan’er terlihat memasang ekspresi kesal dan kesulitan. “Wanita itu ingin menggunakan tangan Wang Chengliu untuk menghancurkan Kerajaan Zhou sepenuhnya.” Pandangan Lan’er membuyar, membuat gadis itu menutup matanya. “Membuat keturunan Raja Zhou saling menghancurkan, bukankah itu sebuah pemandangan yang luar biasa?”


Huang Miaoling memijit pelipisnya. Awalnya, dirinya sendiri haus akan balas dendam. Namun, setelah waktu berjalan, Huang Miaoling sadar bahwa hal terpenting dalam hidupnya adalah keluarga. Oleh karena itu, dibandingkan membalas dendam terhadap Huang Wushuang dan Wang Chengliu, tindakannya yang berusaha menjatuhkan kedua orang tersebut sebenarnya lebih tepat dipanggil aksi yang diperlukan untuk melindungi keluarga Huang.


Ditambah dengan pengetahuan Wang Chengliu dari masa lalu, apakah pria itu sungguh akan naik ke atas takhta lagi?


Lan’er menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkir kosongnya ke atas meja. “Luar biasa bagaimana Xue Kexin mampu menebak tindakan yang akan diambil Wang Weixin.” Lagi-lagi, Huang Miaoling dibuat bingung dengan pernyataan Lan’er. Gadis itu melirik sang Mingwei Junzhu. “Menurutmu, kenapa perlakuan sang kaisar begitu berbeda kepada Wang Chengliu?”


Ekspresi kesulitan ditunjukkan oleh Huang Miaoling. “Kaisar Weixin … tahu mengenai hubungan Wang Chengliu dengan Zhou?” tebaknya. “Tunggu, tidak, itu tidak masuk akal. Kalau memang demikian, kenapa dia tidak langsung membunuhnya saja?”


Lan’er tersenyum, seakan tahu bahwa tak semudah itu menebak jalan pikiran sang kaisar. “Wang Weixin memiliki dugaan, tapi tak ada bukti konkret. Dia mencurigai marga Chen dari Chen Meilian, tapi merasa hal tersebut sangatlah bodoh. Mata-mata mana yang menggunakan nama aslinya untuk melaksanakan tugas?” Seringai penuh arti terlukis di wajah Lan’er. “Tentu saja mata-mata yang memiliki orang yang paling mengerti Wang Weixin sebagai sekutu,” dia merujuk pada Xue Kexin.


‘Sungguh jalan pikiran seorang kaisar,’ komentar Huang Miaoling dalam hatinya.


Lalu, seringai Lan’er berubah pahit. “Selain itu, Xue Kexin tak mampu mengandung, dan dia mengangkat Wang Chengliu sebagai putranya. Oleh karena itu, walau Wang Weixin ingin membunuh Wang Chengliu, tapi sang kaisar tak ingin menggunakan tangannya sendiri.” Mata Lan’er kembali tertutup. “Dia khawatir Xue Kexin akan semakin membencinya.”


Huang Miaoling mengepalkan tangan. ‘Jadi, ini alasan Kaisar Weixin mengirimkan Wang Chengliu ke medan perang di usia yang begitu muda!’ Matanya tertutup, mencoba mengendalikan emosi yang berkecamuk dalam dirinya. ‘Dia ingin Wang Chengliu mati di medan perang, tapi hal itu tak pernah tercapai.’

__ADS_1


“Hadiah yang Wang Weixin dapatkan setelah mengirimkan Wang Chengliu ke medan perang … adalah Xue Kexin yang mengunci dirinya di dalam halamannya. Tak ada satu orang pun yang bisa masuk tanpa izin, bahkan sang kaisar sendiri.” Lan’er menopang sisi kepalanya dengan tangan, sebuah ekspresi terhibur terpasang di wajahnya. “Ibu Suri Shen sendiri tak bisa memaksa wanita itu membuka gerbangnya, terutama karena Wang Weixin secara tidak langsung memberikan izin kepada Xue Kexin untuk melakukan apa pun yang dia mau.”


Kepala Huang Miaoling terasa pening, dia merasa Wang Weixin sungguh pria yang pelik, sama seperti ibunya. “Sang kaisar jelas mempersulit dirinya sendiri, dia terlalu berperasaan. Jika yang ada di posisi kaisar adalah Wang Chengliu, pria tersebut akan langsung mengayunkan pedang untuk menebas leher selirnya.”


Lan’er memperhatikan ekspresi yang terpajang di wajah wanita di depannya dengan saksama. “Menakjubkan bagaimana aku tidak menemukan sedikit pun belas kasihan di wajahmu untuk Wang Chengliu,” ujarnya dengan mata jernih yang seakan menembus roh Huang Miaoling.


Mendengar hal itu, Huang Miaoling membeku sesaat. Wanita itu mengangkat pandangannya untuk membalas tatapan Lan’er.


Kemudian, Huang Miaoling terkekeh. “Kalau ini di kehidupan lalu, mungkin aku akan mengasihaninya.” Mata wanita itu memancarkan ketenangan, bukan lagi emosi tak terkendali ketika membicarakan Wang Chengliu. “Namun, bahkan dengan itu, aku tak bisa memaafkan dirinya.” Mengasihani dan memaafkan adalah dua hal yang jauh berbeda.


“Oh?” Lan’er memasang wajah tertarik. “Kenapa demikian?”


Huang Miaoling tahu bahwa Lan’er bisa membaca pikirannya, tapi dia memutuskan untuk tetap menyuarakan isi hatinya, “Karena dia menyentuh keluargaku, orang-orang yang kukasihi, mereka yang jelas tidak ada sangkut-paut dengan kematian Chen Meiren.” Wanita itu melanjutkan, “Walau tindakannya dimanipulasi oleh Xue Xianfei, tapi itu tidak menutup kenyataan bahwa tangannya dikotori darah orang-orang tak bersalah.” Lalu, kening Huang Miaoling berkerut. “Sekarang, bahkan dengan ingatan masa lalunya, dia ingin kembali melakukan kesalahan yang sama.”


Jadi, apa masih perlu alasan bagi Huang Miaoling untuk berpihak kepada Wang Chengliu?


Mendengar jawaban Huang Miaoling, Lan’er memasang sebuah senyuman tipis di wajahnya. “Apa dia sungguh berusaha mencapai tujuan yang sama?” tanya gadis itu dengan nada melantun, memaksa Huang Miaoling untuk mempertanyakan pernyataannya sendiri.


“Lan’er, apa maksud ucapanmu itu?”


Pancaran mata Lan’er melembut, dan gadis itu hanya tersenyum untuk sekian lama sembari menatap Huang Miaoling. “Mingwei Junzhu,” sebut Lan’er dengan nada bergetar sembari berdiri dari kursinya, “tak peduli apa yang orang lain katakan, berpeganglah pada pendirianmu.” Seraya melangkah menuju pintu keluar dengan punggung menghadap Huang Miaoling, Lan’er menuturkan, “Karena bila kau melepaskan hal tersebut, maka tak ada hal lain yang sepenuhnya kau miliki di dunia ini.”


Huang Miaoling berdiri dari kursinya, berniat untuk mengantarkan Lan’er. Namun, dia merasa ada sesuatu yang menahannya, seperti sebuah tekanan lembut yang membisikkan padanya untuk tidak melakukan hal tersebut.


Tanpa membuka mulutnya, Lan’er menyampaikan sebuah pesan ke dalam benak Huang Miaoling, “Ini akan menjadi kali terakhir kita berjumpa … sebelum tali takdir kita terpisah untuk selamanya.” Sebelum pintu sepenuhnya tertutup, gadis itu menoleh ke belakang, memberikan sebuah tatapan sedih kepada Huang Miaoling. ‘Berhati-hatilah, Huang Miaoling. Tak ada manusia yang tak memiliki hasrat akan kekuasaan, termasuk … dirimu sendiri.’


___


A/N: Goodbye ....

__ADS_1


__ADS_2