Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 127 Jingcheng


__ADS_3

A/N: Mending tabung, paling nggak sampe besok :) Nggak boong, nyesel kalo nggak nabung. Lebih seru kalo tabung sampe besok (udah kek pedagang tawar-menawar)


____


Manik hitam segelap malam itu menatap wajah tampan di hadapannya dengan saksama, mengagumi guratan alis tebal dan rahang tegas yang pria itu miliki. Huang Miaoling tidak tahu berapa lama sejak terakhir kali Liang Fenghong tertidur dengan begitu pulas. Akan tetapi, betapa pun dia menyentuh wajah pria itu, Liang Fenghong tidak terbangun dan napasnya masih begitu tenang, sama sekali tidak terganggu.


Berhasil menidurkan pria itu, Huang Miaoling segera beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya. Merasa pakaiannya terlalu tipis, dia melapisi pakaian tidurnya dengan jubah hitam milik sang suami.


Sebelum meninggalkan ruangan, Huang Miaoling menoleh ke belakang, memastikan Liang Fenghong masih tertidur dengan tenang. “Aku akan kembali,” bisiknya dengan lembut.


Setelah menutup pintu dengan hati-hati, Huang Miaoling berbalik, mendapati pemandangan halaman yang indah di hadapannya. Dengan sejumlah pohon rindang dan semak berbunga di beberapa sisi, tempat itu membuat alis wanita itu bertaut.


‘Di mana ini?’ batin Huang Miaoling seraya melangkah meninggalkan teras dan menyusuri halaman tersebut. Dia yakin bahwa tempat itu bukanlah kediaman Huang, kediaman Liang, ataupun Fengzhi Suo.


“Ah!” Mendadak, Huang Miaoling mendengar suara terkesiap. Dia mengalihkan pandangan dan menatap tajam satu sosok yang berdiri di dekat gerbang halaman. “Nona!” panggil sosok dengan dahi keriput yang menyuarakan usianya, air mata mengaliri wajahnya.


Begitu menyadari identitas sosok tersebut, ekspresi Huang Miaoling melembut, “Xiang Momo?” Detik itu juga, wanita itu langsung tahu tempatnya berada, ‘Ini … Jingcheng.’


***


Setelah bertemu dengan Xiang Momo—salah satu pelayan tua Liang Siya di Jingcheng—Huang Miaoling berakhir membersihkan dirinya sendiri. Wanita tua itu memaksanya mengubah pakaiannya menjadi lebih sopan, juga merias sedikit wajahnya. Tidak ada kesempatan bagi Huang Miaoling untuk menolak.


Selagi Xiang Momo merapikan rambutnya, Huang Miaoling bertanya, “Sudah berapa lama sejak aku tiba di sini?” Dia memulai dari pertanyaan yang paling sederhana.

__ADS_1


Xiang Momo telah lama mendampingi Liang Siya, dan benaknya pun dengan cepat memproses keingintahuan nona mudanya—ah, dia masih belum bisa percaya Huang Miaoling telah menjadi seorang nyonya. “Dua hari,” jawabnya. “Jenderal Besar tiba tiga hari lebih awal dibandingkan dirimu.”


“Apa?” Huang Miaoling mengerutkan keningnya. “Ayah ada di sini?!”


Mendadak, pintu ruangan itu terbuka, membuat Xiang Momo dan Huang Miaoling menoleh cepat. “Nyonya!” teriak gadis yang muncul dari balik pintu.


Huang Miaoling segera berdiri dari kursinya. “Qiuyue!” serunya seraya menangkap tubuh mungil Qiuyue yang terhempas ke arahnya.


Jantung Huang Miaoling berdetak kencang, begitu gembira. Sedari awal, dia yakin bahwa orang-orangnya pasti selamat—paling tidak, dia percaya rencana yang sebelumnya disiapkan mampu untuk memastikan keselamatan sebagian besar orang. Namun, Huang Miaoling masih merasa begitu lega ketika melihat sendiri orang yang dia kasihi!


“Karena kau di sini, apakah semua orang juga di Jingcheng?” tanya Huang Miaoling, mengabaikan Xiang Momo yang menyelipkan sebuah konde pada rambutnya dengan ahli.


Senyuman di wajah Qiuyue meredup mendengar pertanyaan majikannya. Dia melepaskan pelukan dan menatap Huang Miaoling dengan sendu.


Alis Huang Miaoling bertaut. “Bagaimana dengan kedua kakak ipar? Bagaimana dengan saudara-saudaraku?” Wanita itu menggigit bibirnya, sebelumnya tak berani menanyakan hal ini pada Liang Fenghong ketika melihat ekspresi kesulitan pria itu. “Siapa saja yang selamat?”


Yang pertama Qiuyue sebutkan jelas adalah anggota keluarga Huang, “Tuan Muda Pertama, Kelima, dan Keenam berada di Jingcheng, mereka berada di pusat pertahanan kota Jingcheng bersama dengan Tetua dan Jenderal Besar.”


Mendengar ucapan Qiuyue, Huang Miaoling merasa semakin banyak pertanyaan menumpuk di benaknya. ‘Ayah sungguh di Jingcheng …,’ batinnya.


Kemudian, Qiuyue berlanjut menyebutkan keluarga Liang, “Seluruh anggota keluarga Liang juga berhasil meloloskan diri, mereka berada di halaman Barat kediaman.”


“Perdana Menteri Liang juga ada di Jingcheng?” tanya Huang Miaoling.

__ADS_1


Qiuyue menggelengkan kepalanya, “Tidak, Nyonya.” Tahu bahwa Huang Miaoling mempertanyakan keberadaan pria itu, gadis tersebut menjelaskan, “Aku sudah bertanya mengenai apa yang terjadi, tapi tidak ada seorang pun yang bercerita mengenai apa yang terjadi. Semua selalu mengatakan bahwa hanya … Tuan yang mengetahui hal ini.”


‘Tuan?’ batin Huang Miaoling. ‘A Feng?’ pikirnya dengan alis bertaut. Aneh, tapi ada pancaran ketakutan dari mata Qiuyue ketika menyebutkan perihal Liang Fenghong. ‘Mungkinkah ….’ Huang Miaoling menutup mata, lalu bertanya, “Yang lain?”


Baru saja Qiuyue ingin menjawab, Xiang Momo terlebih dahulu menyebutkan dengan ringkas, “Keluarga Wei dan Situ tidak berada di Jingcheng, Tuan Muda Pertama memerintahkan mereka untuk pergi ke kota Yongxian. Sejumlah pasukan keluarga Huang mendampingi mereka.” Wanita tua itu menambahkan, “Hanya Perdana Menteri Situ dan Ketua Wei yang berdiam di Jingcheng.”


Tanpa perlu bertanya, Huang Miaoling mengerti tujuan Huang Yade menempatkan keluarga Wei dan Situ di Yongxian. Hal itu didasari kekhawatiran kakak pertamanya itu perihal kenekatan Wang Chengliu untuk menyerang Jingcheng. Jikalau perang sungguh terjadi, maka akan lebih baik bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan berperang untuk menghindar ke tempat yang lebih aman.


Xiang Momo pun melanjutkan, “Keluarga kerajaan berada di kediaman wali kota, tempat itu lebih besar dibandingkan kediaman Huang di Jingcheng.” Selama sesaat, wanita itu berhenti. “Hanya Putri Wu Meilan yang tinggal di sini, bersama dengan Nona Liang.”


Melihat pancaran prihatin dari mata Xiang Momo ketika membicarakan Wu Meilan, Huang Miaoling merasa jantungnya berpacu. ‘Sesuatu … terjadi di Wu. Apa selain Permaisuri Tianzhen, Kaisar Huatai juga—’


“Ahh!”


Sebelum Huang Miaoling menyelesaikan ucapan batinnya sendiri, suara teriakan seorang wanita membuyarkan fokusnya. Dia dan kedua pelayan di dalam ruangan itu segera menoleh ke arah pintu.


“Di mana dia?!” teriak seseorang dengan suara marah, terdengar begitu mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya.


Huang Miaoling mengerutkan keningnya, ‘Suara itu ….’


___


A/N: Kan ....

__ADS_1


__ADS_2