Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 153 Kutukan Kesetiaan


__ADS_3

“Kaisar Zhou adalah sekutu?! Apa itu sungguh kenyataannya, Junzhu?!” Mata Fang Yu sedikit berbinar, merasa sangat bersemangat mendengar cerita Huang Miaoling.


“Aku tidak pernah bercanda,” balas Huang Miaoling selagi menatap ke arah peta Kerajaan Shi di hadapannya. “Kita bisa mengharapkan bala bantuan dalam waktu tiga hari.”


“Itu berita baik,” balas Fang Yu, yakin bahwa situasi Kerajaan Shi akan segera membaik. Dia berada di pihak yang benar, dan juga pihak yang akan keluar dari masalah ini sebagai pemenang. “Demikian, kita bisa segera membereskan pengkhianat kerajaan itu!”


Huang Miaoling melirik Fang Yu, mempelajari ekspresi pria itu dengan saksama. Wanita itu kemudian menegapkan tubuhnya, lalu berkata, “Kau telah berjuang keras, Letnan Jenderal.”


Ucapan Huang Miaoling membuat Fang Yu membeku di tempat selama sesaat. Perlahan, mata pria itu mulai berair. Hal tersebut diikuti dengan tertunduknya kepala pria itu, tangan kirinya mencengkeram tangan kanannya yang mengepal, sebuah bentuk hormat.


Pandangan Huang Miaoling melembut selama sesaat. Kehilangan begitu banyak saudara seperjuangannya dan harus bersikap tegar di hadapan yang tersisa, wanita itu sungguh mengerti perjuangan yang Fang Yu rasakan.


“Aku perlu dirimu untuk berjuang sedikit lebih lama demi menyelesaikan semuanya,” lanjut Huang Miaoling membuat Fang Yu mengangkat kepalanya. “Persiapkan pertahanan untuk menyambut pasukan Wang Chengliu,” ekspresi wanita itu berubah dingin, “kita pastikan pengorbanan semua saudara tidak sia-sia.”


Fang Yu mencengkeram kepalan tangannya dengan kuat, lalu berseru, “Fang Yu menerima perintah!” Dia pun berbalik meninggalkan ruangan untuk menjalankan permintaan sang pemimpin pasukan.


Pandangan Huang Miaoling kembali teralihkan pada peta Kerajaan Shi yang berada di hadapannya, terpaku pada jarak yang hadir di antara Zhongcheng dan Jingcheng. Kemudian, maniknya berpindah pada perbatasan Wu-Shi yang terletak tidak jauh dari Jingcheng, lalu pada perbatasan Zhou-Shi yang berada di ujung yang lain.


Kening Huang Miaoling berkerut, ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. ‘Zhong Jing Wu Zhou [1]?’ Benaknya mendadak tersadar akan makna tersembunyi situasinya saat ini. “Roh yang setia membangkitkan sebuah kutukan?”


“Luar biasa, bahkan hal seperti itu saja bisa kau mengerti.”


Mendapati keberadaan orang lain, Huang Miaoling segera berbalik dan menghunuskan pedang. Mendapati sosok yang bersandar santai sembari menatapnya dengan tenang, wanita itu mengerutkan kening.


“Lu Si,” panggil Huang Miaoling dengan tidak bersahabat. “Apa yang kau di sini? Kekacauan apa lagi yang kau inginkan terjadi?”


Teringat bagaimana Wang Zhengyi menembak sosok Kaisar Weixin dengan pandangan kosong, juga bagaimana Wu Huatai kehilangan nyawanya untuk menyelamatkan Liang Fenghong atas permintaan Lu Si, Huang Miaoling merasa emosinya mendidih.


“Mendukung Wang Chengliu, tidakkah kau tahu itu menyakiti Lan’er?”


Mendengar hal tersebut, ekspresi tenang Lu Si berubah gelap. “Jangan berbicara seakan kau mengetahui segalanya, Huang Miaoling,” balasnya. “Tidak sedikit pun bisa kau bayangkan mengenai penderitaan macam apa yang telah Lan’er alami untuk tiba di saat ini.”


Huang Miaoling sedikit terhenyak melihat reaksi besar dari Lu Si. Pria itu memang selalu memberikan reaksi berlebih mengenai hal-hal terkait Lan’er.


Melihat ekspresi Huang Miaoling, Lu Si menambahkan, “Jangan kau bersifat munafik dengan menyatakan bahwa apa yang terjadi kepada Wang Weixin adalah sebuah kesalahan.” Mata merah pria itu menatap lurus wanita itu, menembus isi hati Huang Miaoling. “Begitu pula dengan betapa bersyukurnya dirimu bahwa Liang Fenghong berhasil kembali, bahkan bila Wu Huatai adalah gantinya.”


Kening Huang Miaoling berkerut, hanya bisa menelan bulat-bulat ucapan Lu Si. Terpaksa wanita itu akui bahwa apa yang terjadi pada Wang Weixin adalah karma, terutama setelah apa yang pria itu lakukan selama hidupnya. Sang kaisar menikahi Situ Mingmei untuk naik ke atas takhta, membawa kembali Xue Kexin karena masih mencintai kekasih masa kecilnya itu, menutup mata atas kematian Chen Meilian dan berusaha menyingkirkan Wang Chengliu untuk menyingkirkan amarahnya, serta mempergunakan keluarga Huang untuk mempertahankan singgasana naganya.


Semua tindakan buruk itu … kembali dalam bentuk karma.

__ADS_1


Huang Miaoling membalas, “Karma akan selalu datang dengan sendirinya, tidak perlu dirimu untuk campur tangan.” Kepala wanita itu menggeleng, “Memaksa seorang anak untuk menyakiti ayah kandungnya di luar kesadaran, menghancurkan sebuah pemerintahan dan ketenangan para rakyat, serta mendukung seseorang yang terbakar ambisi untuk membawa kekacauan, apakah itu masuk akal?”


Sebuah dengusan mengejek keluar dari mulut Lu Si, “Manusia akan selamanya bersikap naif.” Pria itu melanjutkan, “Aku tercipta sebagai cerminan sang pencabut nyawa dan aku hanya melakukan hal yang memang seharusnya kulakukan, membawakan karma bagi mereka yang pantas mendapatkannya, bagaimanapun bentuknya.”


Huang Miaoling terdiam, merasa percakapannya dan Lu Si menjadi semakin liar. “Namun, apakah itu berarti kau memiliki hak untuk menggunakan kekuatanmu untuk mempengaruhi Wang Zhengyi?” Manik hitam wanita itu menyapu bibir pucat Lu Si. “Aku yakin kau sendiri sedang melawan garis takdir.”


Lu Si menyadari makna pandangan Huang Miaoling dan senyumannya pun menghilang. “Bukan karena melawan garis takdir sehingga diriku menjadi seperti ini,” balas Lu Si. “Kau sangat salah kalau mengira bahwa kejadian yang menimpa Wang Zhengyi merupakan hal yang tidak seharusnya kulakukan.”


Alis Huang Miaoling bertautan. “Kau bermaksud untuk mengatakan bahwa … hal itu seharusnya terjadi? Bahwa hal tersebut telah digariskan takdir?”


“Digariskan takdir? Tidak seserius itu,” balas Lu Si santai, membuat Huang Miaoling menunjukkan ekspresi kesal, merasa pria itu sedang mempermainkannya dengan terus menghindari jawaban yang dia inginkan.


Kepala Huang Miaoling terasa pening, merasa semakin banyak pertanyaan muncul di benaknya. “Kenapa—”


“Jangan terbiasa untuk selalu mendapatkan jawaban, Huang Miaoling,” Lu Si memotong ucapan Huang Miaoling. “Mencoba mendapatkan jawaban atas misteri takdir, itu adalah pertanda bahwa hatimu mulai dirayapi hasrat kekuasaan atas kehidupan.”


Huang Miaoling mengepalkan tangannya, merasa tertampar dengan ucapan Lu Si. “Kau hanya tidak ingin menjawab,” balasnya.


“Kau tahu, tapi kau terus bertanya,” balas Lu Si dengan seringai menyebalkan. “Hadapilah kenyataan bahwa tak semua hal harus kau ketahui, sama seperti tidak semua hal akan berjalan sesuai rencanamu. Jangan lupa bahwa kegelapan ada karena cahaya, begitu pula dengan kebahagiaan yang hadir akibat kesedihan.”


Walau kesal dengan percakapannya dengan Lu Si, tapi benak Huang Miaoling memainkan peringatan Lan’er, “Berhati-hatilah, Huang Miaoling. Tak ada manusia yang tak memiliki hasrat akan kekuasaan, termasuk … dirimu sendiri.”


Kuasa akan takdir adalah suatu hal yang diinginkan manusia, tapi tak akan pernah didapatkan.


Melihat Huang Miaoling terdiam, Lu Si mengambil kesempatan itu untuk berbicara, “Roh yang setia membangkitkan sebuah kutukan, apa kau tahu makna petunjuk yang ditinggalkan Lan’er untukmu?” pria itu mengalihkan pembicaraan.


Alis Huang Miaoling tertaut, “Kau kemari untuk membantuku?” ingin dia menanyakan hal tersebut, tapi dia tahu pertanyaan itu tak berguna. ‘Roh adalah nyawa, berarti hal tersebut merujuk kepada satu makhluk hidup. Apa … atau siapa yang dimaksud di sini?’


Detik itu juga, Huang Miaoling teringat dengan ucapan Lan’er, “Miaoling, kau harus membunuh Wang Chengliu, pria itu tak lagi bisa diselamatkan. Hanya ada kegilaan yang tersisa dalam hatinya.”


Membaca pikiran Huang Miaoling, Lu Si berkata, “Kau berfokus pada hal yang salah.” Pria itu melanjutkan, “Aku tahu Lan’er pernah memberitahukanmu perihal siapa yang harus disingkirkan.” Ucapan Lu Si membuat Huang Miaoling menengadah untuk menatap pria tersebut. “Namun, apa kau tahu makna kesetiaan dan kutukan dalam petunjuk itu?”


Huang Miaoling terdiam selama sesaat, lalu bertanya dengan ekspresi dingin, “Kau memberitahuku untuk tidak terbiasa mendapatkan jawaban, bukan?” Dia melanjutkan, “Menyingkirkan Wang Chengliu akan mengakhiri segalanya, hanya itu yang perlu kuketahui.”


Sebuah senyuman terukir tipis di bibir Lu Si, “Dan, Lan’er juga mengatakan tak ada manusia yang tidak memiliki hasrat atas kekuasaan, terlebih perihal hidupnya sendiri.”


Huang Miaoling menatap mata merah Lu Si dalam-dalam, merasa pria itu sengaja memancing emosinya. ‘Pria ini akan membuatku gila ….’


Seakan puas melihat ekspresi kesal di wajah Huang Miaoling, Lu Si berucap, “Makna dibalik kutukan kesetiaan adalah alasan penderitaan Lan’er.” Ucapannya membuat Huang Miaoling membelalak, mencoba menerka-nerka maksudnya.

__ADS_1


Ketika Huang Miaoling sibuk memutar otak, sebuah teriakan keras terdengar dari luar, “Lapor!” Derap kaki yang semakin lama semakin mendekat dengan cepat bisa terdengar. “Lapor, Jenderal!” teriak seorang prajurit dari luar ruangan.


Kepala Huang Miaoling dengan cepat menoleh, dia menghampiri pintu untuk membukanya dan menatap prajurit pembawa pesan. “Katakan,” perintahnya tegas.


Dengan ekspresi tegang, prajurit itu melapor, “Sebuah pasukan terlihat mendekati gerbang kota!”


Mendengar hal ini, Huang Miaoling membelalakkan matanya, ‘Begitu cepat?!’ Dia pun segera bertanya, “Berapa banyak?”


“Kurang-lebih lima puluh ribu pasukan, Jenderal,” jawab prajurit tersebut, kentara dahinya berkeringat ketika menyebutkan angka tersebut. “Jenderal, Jingcheng bahkan tidak memiliki seperempat dari apa yang pasukan musuh miliki. Kita ….”


Huang Miaoling mengerti perasaan prajurit tersebut. Walau prajurit di Jingcheng berada di bawah kuasa keluarga Huang, tapi mereka terbiasa hidup di dalam tembok dengan nyaman. Melihat jumlah pasukan musuh yang begitu besar tentunya akan menggoyahkan moral.


Menanggapi keraguan sang prajurit, Huang Miaoling berkata, “Janganlah khawatir, semua memiliki jalan keluar.” Dia menambahkan, “Siapkan Ma Zu, aku akan segera ke gerbang,” titahnya.


Baru saja dia mengambil satu langkah untuk pergi, Huang Miaoling teringat akan keberadaan Lu Si. Dia menoleh ke belakang, mendapati pria itu masih menatapnya dalam-dalam.


Ketika Huang Miaoling ingin mengatakan sesuatu, Lu Si dengan cepat berkata, “Seperti biasa, kau telah memiliki persiapan.” Pria itu mengambil langkah mundur dan tenggelam di antara bayang-bayang pojok ruangan. “Namun, apakah persiapan kali ini akan membantumu melewati bencana yang telah ditakdirkan datang?”


Huang Miaoling memperhatikan bagaimana bayangan kegelapan menyelimuti tubuh Lu Si. Secara perlahan pria itu pun menghilang dari pandangan, menyisakan dua bola mata yang bersinar terang dalam kegelapan.


“Ingatlah, hukuman terbesar dalam kehidupan bukanlah kematian, melainkan kehidupan itu sendiri.” Kelopak Lu Si menutup, membiarkan dua manik merahnya ditelan bayangan. “Terlebih ketika kau tidak bisa melindungi orang-orang yang kau cintai.”


[1] 忠精悟咒(Zhōng jīng wù zhòu): Roh yang setia membangkitkan sebuah kutukan. 忠精  Roh yang setia. 悟membangkitkan. 咒kutukan


___


A/N:


Hi hi! Luke kembali lagi -- untuk sesaat -- di NovelToon! Masih memenuhi janji ke kalian bahwa karya ini akan ditamatkan. Maaf karena perlu waktu yang luaaaar biasa lama untuk balik.


Banyak yang terjadi beberapa tahun ke belakang, salah satunya 'serangan depresi', dan itu terjadi pas banget ketika author sedang mempersiapkan ending dari cerita ini.


Curhat sedikit: Phoenix Reborn bukanlah cerita yang ringan, dan ada banyak makna tersirat di setiap kalimatnya. Untuk kalian yang baca dari awal hingga akhir, pahamlah bahwa tidak semua cerita berakhir dengan bahagia. Akan tetapi, bahagia atau tidak, semua bergantung dari sudut pandang masing-masing. Begitu pula dengan cerita ini.


Apakah akhir dari cerita ini akan memuaskan atau tidak, author nggak bisa berjanji banyak. Akan tetapi, terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah baca karya author sampai sejauh ini. Bersiaplah karena karya ini akan segera mencapai akhir.


Untuk kalian yang ingin membaca karya author yang lain, bisa cek ig. Setelah menamatkan Phoenix Reborn, author sudah mempersiapkan satu karya yang berhubungan erat dengan Phoenix Reborn yang berhubungan dengan satu nama.


Lan'er.

__ADS_1


__ADS_2