Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 162 Chengliu dan Meilan Part I


__ADS_3

A/N: Yak, mau warning dulu bahwa ... tiga sampai empat chapter ke depan akan terasa sangat depressing. Ini akan menjadi backstory antara Meilan dan Chengliu. Jadi, hati-hati untuk yang berhati lemah. Pengakuan sedikit, author agak nangis pas bikin chapter-chapter ini hahahahaha!


lebaysangat


____


Di kediaman sederhana yang berada di tengah hutan itu, terlihat seorang pria tengah sibuk memotong tumpukan balok kayu. Matahari terik membuat keringat mengalir menuruni lekuk otot pria yang tengah bertelanjang dada itu.


Sepasang manik cokelat terang memerhatikan pria tersebut dengan saksama. Tiap embusan napas yang diikuti naik-turunnya dada, juga mengetatnya otot akibat tertarik gerakan yang diambil, tidak ada yang terlewatkan sang pemilik manik itu.


Mampu merasakan ada orang yang memerhatikannya, pria tersebut pun meletakkan kapak dan menoleh ke arah teras rumah.


“Apa yang membuatmu memperhatikanku seperti itu?” ucap pria tersebut, tidak sedikit pun terengah setelah apa yang dia lakukan. “Kau membuatku canggung.” Lesung pipi samar yang terlihat manis muncul di kedua sisi wajah pria tersebut, membuatnya terlihat menggemaskan selagi menggaruk sisi kepalanya.


Pemilik manik cokelat terang itu menopang kedua pipinya dengan dua tangan. Kemudian, dia membalas dengan wajah datar, “Jangan berhenti memotong kayu, musim dingin akan segera datang dan kita harus memiliki stok,” balas sang gadis, terdengar begitu ketus untuk menutupi isi hatinya yang sebenarnya. “Sudah kukatakan kau tidak bisa tinggal di sini secara gratis. Kau akan kutendang kalau terus bermalas-malasan.”


Pria tersebut menghela napas tak berdaya selagi memanggul kapak di pundak kanannya. “Meilan, kenapa kau begitu kejam padaku?” tanyanya dengan berpura-pura sedih, satu dari sekian caranya untuk bercanda dengan gadis di hadapan.


Walau lidah gadis itu begitu pedas, tapi pria tersebut tahu bagaimana gadis bernama Meilan itu sudah sangat berbaik hati padanya. Bukan hanya menyelamatkan nyawa dan merawatnya hingga sembuh, tapi sekarang gadis itu bahkan membiarkannya tinggal di tempat tersebut.


“Kau tidak tahu diri kalau mengatakan diriku kejam, Lu Si,” balas Meilan dengan wajah datar seraya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Pria yang dipanggil Lu Si itu mengerutkan kening, merasa sedikit tidak puas. “Berhenti memanggilku dengan nama aneh itu. Sudah kukatakan namaku Chengliu, bukan Lu Si.”


Langkah Meilan terhenti, lalu dia pun berbalik untuk menatap Chengliu.


Melihat gadis itu hanya terdiam selagi menatapnya, jantung Chengliu terasa berdebar kencang. Entah apakah ini karena ingatannya tidak lagi ada atau tidak, tapi menurut Chengliu, Meilan adalah gadis tercantik yang pernah dia temui.


Rambut cokelat terang bergelombangnya yang mencapai pinggang sangat serasi dengan sepasang manik cokelat keemasan bulatnya. Kulit berwarna manis akibat sedikit terbakar matahari dipadu dengan tinggi yang hanya mencapai dada Chengliu sukses membuat gadis itu terlihat sangat menggemaskan.


Dengan pandangan datarnya yang terkesan tidak bersahabat, Meilan membalas pernyataan Chengliu, “Sudah kukatakan bahwa namamu terdengar sial, jadi aku memberikanmu nama lain.”


Tidak ingin membuang waktu dengan membahas masalah yang tidak penting, gadis itu berkata, “Aku akan ke desa hari ini untuk mengunjungi sejumlah pasien, apa kamu ingin sesuatu?”

__ADS_1


Chengliu menggelengkan kepala. “Tidak, terima kasih.” Pria itu tersenyum manis. “Aku hanya perlu dirimu untuk kembali dengan selamat.”


Mendengar hal itu, mata Meilan sedikit membesar, seakan terkejut. Kemudian, tawa kecil pun terdengar seiring sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya.


Meilan melambaikan tangannya seiring dirinya ke dalam rumah untuk meraih tas obatnya. “Jangan mengira bersikap manis akan membuatmu hidup gratis di sini, mengerti?”


“Tentu saja tidak.”


Itulah keseharian Meilan dan juga Chengliu sejak takdir mempertemukan mereka. Saling merawat, saling menjaga, dan saling menghibur satu sama lain setiap kali waktu mengizinkan.


Di dunia ini, mereka seakan hanya memiliki satu sama lain.


Bahkan walau tahu dirinya lupa ingatan, entah kenapa Chengliu sama sekali tidak berusaha mencari latar belakangnya. Sesuatu dalam hati pria itu seakan memperingati dirinya … bahwa saat ini adalah saat paling bahagia yang harus dia jaga.


Di sisi lain, Meilan juga sama. Dia tidak banyak bertanya mengenai latar belakang Chengliu dan hanya membiarkan pria itu tinggal bersama. Dari cara gadis itu bersikap, dia seakan tidak keberatan karena pria tersebut bisa membantu meringankan beberapa tugas berat, seperti memotong balok kayu.


Sampai akhirnya, empat tahun pun berlalu dalam sekejap mata.


Kala itu, Dataran Timur mengalami musim dingin terberat selama seratus tahun ke belakang. Badai salju lebat menerpa untuk berhari-hari, membuat setiap orang kesulitan untuk bahkan bertahan hidup.


Wajah Chengliu merona merah, terlihat demam akibat cuaca yang begitu dingin. Tubuhnya menggigil, bahkan selimut tebal yang telah dipersiapkan tidak terasa cukup hangat.


Melihat Chengliu yang sakit parah, ekspresi khawatir menyelimuti wajah Meilan. Dia menarik selimut dari kamarnya dan menutupi tubuh pria tersebut. Tangannya meraih tangan pria itu dan mengusapnya cepat, berusaha membuatnya hangat.


“Apa masih dingin?” tanya Meilan yang diikuti dengan anggukan lemah kepala Chengliu.


Sebagai seorang tabib, Meilan telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengobati pria tersebut. Namun, bahkan dengan obat yang ampuh, kalau cuaca tidak mendukung, maka percuma saja.


Meilan melirik perapian yang hanya memiliki sedikit kayu bakar tersisa. Kalau menggunakannya sekarang, maka besok dia harus pergi mencari kayu bakar karena musim dingin masih panjang.


‘Tidak peduli, yang penting sekarang adalah bertahan hidup,’ batin Meilan seraya berdiri dari tepi tempat tidur.


Namun, baru ingin mengambil satu langkah, tangannya digenggam erat oleh Chengliu. Pria itu menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Aku bisa bertahan ….”


Alis Meilan tertaut. “Dengan kondisi seperti itu?” Dia mendengus ketus. “Jangan bercanda,” tegasnya. “Besok badai pasti akan reda, aku bisa mencari kayu bakar sendiri.”


Kepala Chengliu menggeleng cepat. Seorang wanita berkeliaran di hutan sendirian, bukankah dia santapan sempurna untuk hewan buas ataupun bandit?!


Chengliu tidak mengatakan apa pun, tapi dia menggenggam tangan Meilan erat. Wajahnya menekuk, tidak mengizinkan Meilan pergi.


Melihat hal itu, Meilan merasa tak berdaya. ‘Haruskah … aku menggunakan ‘itu’?’ batinnya seraya menerawang ruang dan waktu.


Namun, Meilan berakhir menepiskan ide gila tersebut.


‘Tidak, tidak. Aku tidak boleh melawan takdir lagi.’


“Hah … hah … hah ….”


Napas berat Chengliu bisa Meilan dengar dengan jelas. Gadis itu pun menggigit bibir karena situasi yang begitu sulit.


Kemudian, Meilan pun tersadar. ‘Masih ada satu cara lagi ….’ Dia menghela napas berat. ‘Aku tidak percaya akan tiba hari di mana diriku akan menggunakan cara konyol ini!’


Karena genggaman Chengliu melemah, Meilan mengambil kesempatan itu untuk menarik tangannya lepas. Kemudian, tangannya pun beralih pada ikat pinggangnya. Secara perlahan, gadis itu menanggalkan pakaiannya.


Saat Chengliu berjuang keras untuk tetap bangun, dirinya mendadak merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuh. Kenyamanan dari kehangatan yang didapat membuat kesadaran pria itu perlahan kembali, dan dia pun bisa membuka mata.


Begitu melihat adanya sepasang tangan ramping yang melingkari pinggangnya, sontak mata Chengliu membulat.


‘M-mungkinkah?!’


Penuh prasangka, Chengliu berusaha menoleh ke belakang.


Namun, gerakannya terhenti kala suara Meilan terdengar memperingati, “Jangan menoleh dan tetaplah tidur. Kalau tidak, akan kupastikan untuk mencungkil kedua matamu!”


Menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, jantung Chengliu berdebar dengan sangat kencang. Dia tidak mampu percaya dengan apa yang sedang terjadi!

__ADS_1


Meilan … menanggalkan pakaian untuk menghangatkan tubuhnya!


__ADS_2