
Wu Meilan terduduk di kursinya dengan anggun. Beberapa nona dan nyonya dari keluarga besar Kerajaan Shi sempat menghampirinya untuk memberi salam. Namun, dengan bibirnya yang tertutup rapat dan hanya membalas seperlunya saja, para wanita itu dengan cepat sadar kalau sang Tuan Putri Wu tidak ingin diganggu.
“Tuan Putri,” panggil seseorang membuat Wu Meilan segera menoleh.
“Liang Jian,” sapa Wu Meilan sembari tersenyum. “Dari mana saja dirimu?” tanya putri tersebut dengan wajah memelas. Dirinya berjuang begitu lama sendirian menghadapi tamu-tamu pernikahan Huang Miaoling dan Liang Fenghong, dia sungguh lelah.
Liang Jian tertawa kecil. “Aku baru saja selesai membantu Ibu mengatur beberapa hal untuk para tamu.” Pandangan gadis itu menggerayangi wajah sang Tuan Putri Wu. “Kau datang dengan siapa?” tanyanya seraya melirik ke kanan dan ke kiri. “Para pangeran Kerajaan Shi?”
Wu Meilan menganggukkan kepalanya. Dia melemparkan pandangannya ke satu arah. “Ayahmu sedang menjamu mereka.” Lalu, dia menambahkan, “Kakakmu sedang berbicara dengan salah satunya juga.”
Liang Jian mengikuti arah pandang Wu Meilan dan menangkap sosok Liang Fenghong beserta Wang Junsi. Ekspresi sang Kakak terlihat begitu mencurigakan, seakan begitu marah akan suatu hal. ‘Mereka sedang bertengkar?’ pikir Liang Jian. Lalu, dia mengalihkan pandangan pada Wu Meilan. “Kudengar hubunganmu dan Pangeran Keempat semakin dekat, apakah aku akan menghadiri pernikahan kedua di Kerajaan Shi sebelum kembali ke Kerajaan Wu?” tanyanya dengan nada bercanda.
Wu Meilan memasang sebuah senyuman di bibirnya, tapi Liang Jian tidak sebuta itu untuk tidak menyadari bahwa senyuman tersebut hanyalah kepalsuan belaka. “Tak ada apa pun di antara kami. Pangeran Keempat telah menyatakan bahwa hubungan kami hanya sekedar tamu dan tuan rumah.”
Pelipis Liang Jian sedikit berkedut. “Kapan dia mengatakan itu?” Gadis itu membelalakkan matanya.
“Baru saja.”
“Di depan semua orang?!” desis Liang Jian yang diikuti dengan anggukan lemah kepala Wu Meilan. Gadis itu pun membawa pandangannya kembali kepada sosok Wang Junsi dan kakaknya. ‘Sekarang, aku tahu apa yang membuat Kakak memasang ekspresi itu di hari pernikahannya ini.’ Dia menghela napas dalam hati. “Yang benar saja ….”
Liang Jian merasa kesal. Kalaupun Wang Junsi tidak memiliki perasaan kepada Wu Meilan, tapi paling tidak pria tersebut tidak perlu mengutarakan hal tersebut di depan semua orang. Tindakan paling tepat adalah membiarkan Wu Meilan menjadi orang yang mengelak. Dengan demikian, putri itu bisa mempertahankan reputasinya!
“Pangeran Keempat adalah orang yang jujur dan berterus-terang, itu adalah sifat yang kuhargai darinya,” ucap Wu Meilan ketika menyadari aura di sekitar Liang Jian sedikit berubah.
Liang Jian kembali menatap Wu Meilan. “Masih membelanya?” tanyanya dengan emosi menggebu-gebu yang berusaha ditahan. Sadar bahwa nada bicaranya sedikit tak sopan, Liang Jian menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. “Maafkan kelancanganku, Tuan Putri.”
“Untuk apa meminta maaf? Kau tidak salah, Jianjian,” balas Wu Meilan. Manik putri itu terarah sesaat pada Wang Junsi sebelum dia kembali menatap cangkir teh yang sudah kosong. “Salahku memaksakan perasaan yang tidak ditakdirkan.”
***
“Tidakkah kau sadar kalau kau baru saja melakukan sebuah kesalahan besar?” tanya Liang Fenghong dengan pandangan serius.
Wang Junsi mengerutkan keningnya. “Kalau kau membicarakan kedatanganku di acara pernikahanmu, maka kau perlu tahu bahwa ini semua adalah perintah ibundaku.” Dia mengira bahwa Liang Fenghong tersinggung dengan kehadirannya. “Bukan niatku untuk mengganggu pernikahanmu, Tuan Muda Liang.”
Liang Fenghong memasang wajah tak percaya. “Apa kau serius?” Dia tak menyangka bahwa Wang Junsi akan salah paham begitu jauh terhadap maksud ucapannya. Liang Fenghong berkata, “Aku membicarakan tentang apa yang baru saja kau katakan di depan orang banyak mengenai hubunganmu dan Putri Meilan!” desisnya.
Perkataan Liang Fenghong membuat Wang Junsi akhirnya paham. Namun, dia masih tidak merasa ada yang salah dengan apa yang dia katakan. “Apa yang kuucapkan adalah kenyataannya. Aku tidak ingin orang lain salah paham terhadap sang Putri,” balas Wang Junsi.
Mata Liang Fenghong menggelap. Lalu, dia menganggukkan kepalanya. “Bagus, Pangeran Keempat. Niatmu begitu baik,” pujinya. “Namun, apa kau tak sadar kau sedang melakukan yang sebaliknya?”
__ADS_1
Ucapan sang Tuan Muda Liang ditanggapi Wang Junsi dengan alis yang bertaut. “Apa maksudmu?” tanyanya.
Liang Fenghong menarik napas dalam-dalam. Dia tahu bahwa Wang Junsi bukanlah orang bodoh. Sebaliknya, pria itu begitu cerdas. Namun, kenapa dalam hal yang menyangkut seorang wanita, pangeran tersebut selalu membuat kesalahan?!
Tunggu, tidakkah sang Tuan Muda Liang terdengar seperti seorang hipokrit sekarang? Beberapa waktu yang lalu, dia sendiri tak mengerti cara menghadapi Huang Miaoling!
“Kalau sungguh ingin menepis prasangka, maka kau cukup menegur adik keenammu itu. Tak perlu kau katakan dengan jelas kalau dirimu dan Tuan Putri Wu tak memiliki hubungan lebih dari tuan rumah dan tamunya.” Liang Fenghong menjelaskan bagaimana hal tersebut memancing pendapat dari khalayak ramai bahwa Wang Junsi sama sekali tak tertarik terhadap Wu Meilan, seakan sang Tuan Putri Wu itu tidak layak untuk pangeran tersebut. “Selain itu, hal yang paling fatal adalah … kau menyakiti perasaan Tuan Putri.” Liang Fenghong terlihat cukup kecewa. “Kau tahu jelas isi hati Tuan Putri.”
Pandangan Liang Fenghong teralihkan kepada sosok Tuan Putri Wu yang sedang berbincang dengan Liang Jian. Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Wang Junsi yang terlihat mulai sadar dengan kesalahannya, terlihat jelas dari sepasang manik birunya yang bergetar.
“Aku tak mengerti apakah kau sengaja menyakitinya atau memang berniat mempermainkannya …,” ujar Liang Fenghong dengan pandangan menuduh.
“Aku tak pernah memiliki niat seperti itu!” balas Wang Junsi dengan cepat.
Liang Fenghong berkata, “Wang Junsi, aku kecewa padamu.” Lalu, dia berbalik. “Pada detik kau dengan sukarela masuk ke dalam permainan adikmu itu, kau telah kehilangan sebagian besar rasa hormatku padamu.” Pria itu menambahkan, “Dan, sekarang ….” Tanpa menyelesaikan ucapannya, Liang Fenghong melangkah pergi meninggalkan Wang Junsi yang terperangah.
“Dia … tahu?”
***
“Non— Nyonya, kau sungguh tidak mau makan?” Qiuyue bertanya dengan khawatir. “Selain tadi pagi, kau masih belum makan apa pun.” Matanya terarah ke luar jendela yang tertutup, kentara bahwa lampion-lampion telah dinyalakan, menandakan hari sudah cukup larut. “Bahkan Tuan Muda—” Qiuyue membenarkan ucapannya, “Tuan Liang telah menyuruhku mengantarkan makanan padamu.”
“Puih, puih!” Qiuyue berpura-pura meludah, cara untuk membuang sial. “Omong kosong macam apa itu?!” cetusnya. Dia meletakkan kembali piring berisi roti kukus daging ke atas meja. “Tidak mau makan, ya sudah. Untuk apa mengatakan hal yang begitu sial?” tegur Qiuyue pada majikannya itu. “Sia-sia Tuan Liang memperhatikanmu.” Pelayan itu mendengus kesal.
Mendengar ucapan Qiuyue, Huang Miaoling mengalihkan pandangannya ke arah pelayannya itu. Walau samar-samar, tapi dia bisa melihat sosok Qiuyue dari balik kain merahnya. “Lihat dirimu,” ucap sang Mingwei Junzhu. “Baru hari pertama menginjakkan kaki di kediaman Liang, dan kau sudah mengabdikan seluruh ragamu untuk tuan barumu?” sindirnya.
“Aiya, Nona— Nyonya!” Qiuyue masih belum terbiasa dengan panggilan baru bagi majikannya. “Kau tahu bukan itu maksudku,” rengeknya seraya menginjak-injakkan kaki ke lantai, menunjukkan kesungguhannya.
Puas melihat pelayannya meminta ampun padanya, Huang Miaoling tersenyum. “Sudah, sudah,” ucapnya membuat Qiuyue langsung tersenyum lebar, puas bahwa tindakannya berhasil meyakinkan sang Majikan. Huang Miaoling kemudian bertanya, “Ada hal menarik apa yang terjadi di luar selagi aku terkurung di sini?”
Pertanyaan Huang Miaoling membuat mata Qiuyue mengerjap. Dia memiringkan kepalanya dan mencoba berpikir keras. Tak berapa lama, matanya berbinar, teringat akan suatu hal yang penting. Dengan cepat, Qiuyue menjelaskan kepada Huang Miaoling mengenai apa saja yang telah terjadi di halaman utama kediaman Liang siang tadi.
Semakin lama Huang Miaoling mendengarkan omongan Qiuyue, ekspresinya terlihat semakin buruk. Namun, karena tertutup kain merah, pelayannya itu sama sekali tidak bisa melihat perubahan tersebut.
“Sampai para keluarga kerajaan meninggalkan pesta, kulihat Pangeran Keempat dan Tuan Putri Wu tidak berbicara lagi dengan satu sama lain,” jelas Qiuyue dengan helaan napas. “Sebuah ucapan sembarang bisa menjadi begitu berbahaya.” Dia mengangkat kedua bahunya, merasa acuh tak acuh dengan hubungan kedua orang yang dibicarakan.
Untuk beberapa saat, Huang Miaoling terdiam. Gadis itu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kemudian, dia berkata, “Qiuyue, hari semakin larut, dan aku yakin A Feng akan segera kembali. Kau boleh mengundurkan diri terlebih dahulu.”
Qiuyue menoleh ke arah Huang Miaoling. “Hmm? Apa kau serius, Nyonya?” tanyanya. “Aku khawatir kalau para tamu tak akan melepaskan Tuan secepat itu. Kau tahu bahwa tradisi mengharuskan mereka untuk menahan Tuan sampai subuh, bukan?” Dia tertawa kecil. “Perlu perjuangan sebelum pengantin pria bisa mendapatkan malam pertamanya.”
__ADS_1
Huang Miaoling mendecakkan lidahnya. “Apa semua gadis di zaman sekarang pikirannya begitu kotor? Tadi pagi, Wei Xiaomei yang berkelakar mengenai hal tersebut. Sekarang, dirimu juga?” Ucapannya diikuti dengan kekehan Qiuyue. “Pergilah.” Gadis itu melambaikan tangannya dengan cepat.
Setelah mendengar ucapan Huang Miaoling, Qiuyue pun memberi hormat untuk pamit. Lagi pula, dirinya juga tertarik menghabiskan waktu untuk ikut menghadiri pesta pernikahan majikannya itu. Kalau memang sang Pengantin Pria nanti tiba di kamar pernikahan, Qiuyue juga tak ingin menjadi saksi kecanggungan dua pengantin itu.
“Kalau begitu, aku undur diri terlebih dahulu.” Qiuyue berjalan kecil menuju pintu sebelum berkata, “Jangan terlalu khawatir mengenai malam pertamamu, Nyonya. Aku yakin Tuan akan memperlakukanmu dengan sangat lembut!”
“Qiuyue!” Sebelum Huang Miaoling sempat melemparkan benda untuk mengekspresikan kekesalannya, Qiuyue dengan cepat menutup pintu dan berlari pergi. “Gadis itu ….” Sang Mingwei Junzhu menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
Ini bukan kali pertama sang Nona Pertama Huang melalui hal seperti ini, apa yang perlu dikhawatirkan?! Hanya malam pertama saja!
Deg!
Baiklah, Huang Miaoling menarik kembali ucapannya. Dia cukup khawatir.
Walaupun dirinya bisa dikatakan ‘berpengalaman’, tapi di kehidupan lalu, pasangan Huang Miaoling adalah seseorang dari Kerajaan Shi. Namun sekarang, suaminya berasal dari Kerajaan Wu.
Bagaimana kalau malam pertama Kerajaan Shi berbeda dengan Kerajaan Wu? B-bagaimana kalau Liang Fenghong akan berakhir kecewa dengan dirinya? Apa wejangan dari Nenek Lang yang disesuaikan dengan tradisi Kerajaan Shi akan berguna untuk Huang Miaoling?!
Sebenarnya, malam pertama seperti apa yang akan Huang Miaoling lalui di kehidupan ini?
Huang Miaoling bisa merasakan pipinya sedikit panas. ‘Apa yang sedang kupikirkan?!’ batinnya. Dia menggelengkan kepalanya keras. ‘Aku hanya perlu menunggu pria itu kembali, dan kami hanya perlu menyelesaikan ritual terakhir untuk melengkapi pernikahan. Semuanya akan berakhir dengan cepat, sama seperti di kehidupan lalu.’ Kemudian, Huang Miaoling teringat akan suatu hal. Gadis itu menyentuh perut bagian bawahnya. ‘Ah … aku harus merasakan sakit seperti dulu lagi ….’
Tiba-tiba, fokus Huang Miaoling teralihkan saat dia menangkap suara decitan kayu yang nyaring. Dia melemparkan pandangannya ke arah pintu, menyadari kedatangan seseorang.
“Suamiku, kau kembali?”
___
A/N: Tahan guys, tahan. Dikit lagi, sumpah gak boong.
.
.
.
.
Dikit lagi apaan ya? #plak!
__ADS_1