Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 21 Perbedaan


__ADS_3

“Manusia adalah makhluk yang penuh dengan rasa ingin tahu.” Huang Miaoling memandang tenang ke arah Wu Meilan. Dia menarik napas dan kemudian melanjutkan, “Keingintahuan itu akan semakin bergejolak ketika manusia menemukan suatu eksistensi yang tidak selaras dengan pengetahuan yang ia miliki. Oleh karena itu, adalah sebuah hal yang tak mampu dipungkiri bahwa manusia selalu menganggap sesuatu yang berbeda sebagai sesuatu hal yang menarik.”


Bulu mata Huang Miaoling bergetar seiring pandangannya itu terjatuh ke bawah. Gadis yang biasa terlihat kuat itu entah kenapa menjadi begitu rapuh ketika membahas mengenai masalah ini. Ada keengganan yang terpancar dari matanya, tapi ada pula sifat keras kepala yang memaksanya untuk menyelesaikan topik ini.


“Semua orang menghormatimu, Tuan Putri. Entah itu para rakyat, pelayan, pengawal, para pangeran, bahkan sang Kaisar.” Pandangan Huang Miaoling tiba-tiba terangkat. “Namun, satu eksistensi ini muncul di antara kumpulan orang-orang tersebut dan menunjukkan sikap yang berbeda. Tidakkah itu membuat rasa ingin tahumu tergoda?” tanyanya.


Mendengar ucapan Huang Miaoling, Wu Meilan hanya bisa terdiam. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya juga merona. Bibir mungil dengan polesan gincu merah muda itu terkatup rapat, sedikit ditekan untuk menahan racauan tak jelas keluar dari mulutnya. Ekspresi sang Tuan Putri secara keseluruhan terlihat marah.


Sungguh memalukan bagaimana Huang Miaoling bisa membaca pikirannya bagai buku yang terbuka. Hal itulah yang membuat hati Wu Meilan tidak nyaman dan dirinya ingin marah. Namun, dia tahu kalau Huang Miaoling tidak salah dan dirinya tidak berhak untuk marah. Lagi pula, gadis itu sama sekali tidak berniat buruk, melainkan ingin menyelamatkannya.


Huang Miaoling mengerti perasaan Wu Meilan, dan oleh karena itu, dia kembali menjatuhkan pandangannya lagi. Dia tahu betapa tidak nyamannya bagi seseorang untuk dibaca seperti sebuah buku, hal itu membuat mereka terasa sangat rendahan, seakan tempat paling aman dan tersembunyi diobrak-abrik oleh orang lain.


“Tuan Putri, aku akan beri tahu satu rahasia kepadamu,” Huang Miaoling berkata dengan suara rendah, seakan tidak ingin siapa pun di dunia terkecuali Wu Meilan untuk mendengarnya. Pandangannya terangkat dan ada kilatan membunuh yang terpancar dalam pandangannya. “Di dunia ini, tidak ada orang yang lebih mengerti Wang Chengliu dibandingkan diriku.” Dia mengerutkan kening. “Dan akan kukatakan padamu, pria itu … adalah orang paling berbahaya yang pernah kutemui.”


Mendengarkan hal ini, ekspresi Wu Meilan perlahan berubah menjadi kebingungan. Begitu banyak pertanyaan dalam sekejap muncul di benaknya. Bagaimana bisa Huang Miaoling tahu hal itu? Kenapa dia mengatakan hal tersebut? Apa yang terjadi di antara sang Nona Pertama Huang dengan sang Pangeran Keenam kerajaan Shi? Siapa Wang Chengliu bagi Huang Miaoling? Kapan keduanya bahkan sempat menjalin hubungan?


Tidak, yang terpenting adalah … apakah Liang Fenghong mengetahui semua hal ini?


Pertanyaan-pertanyaan itu melambung di dalam pikiran Wu Meilan, tapi dia merasa kalau tidaklah bijaksana untuk menanyakan hal tersebut kepada Huang Miaoling. Pandangan yang diberikan gadis itu ketika membicarakan sang Pangeran Keenam adalah pandangan paling yang dingin yang pernah ditunjukkan oleh sang Nona Pertama Huang kepada Wu Meilan. Hal tersebut membuat sang Tuan Putri sedikit ketakutan.


Tepat pada saat itu, pintu ruangan Wu Meilan terbuka secara perlahan. Sosok Liang Fenghong masuk ke dalam ruangan bersama dengan Wang Junsi yang pandangan matanya terlihat sedikit kosong. Sepertinya, selain Wu Meilan, ada satu orang lagi yang baru kepalanya baru saja disiram air dingin.


Melihat ekspresi yang terpancar di wajah Wu Meilan, Liang Fenghong sempat terdiam untuk sesaat. Lalu, dia menoleh ke arah Huang Miaoling, sempat menangkap kilatan membunuh yang terpancar sebelum akhirnya gadis itu mengubah ekspresinya menjadi tenang.


Pandangan sang Nona Pertama Huang beralih pada sang Tuan Muda Liang. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Huang Miaoling.


“Apa yang kalian bicarakan?” balas Liang Fenghong dengan nada yang terkesan menantang.


Huang Miaoling sedikit terkejut dengan sikap Liang Fenghong kepadanya. Beberapa saat yang lalu, pria itu masih begitu perhatian padanya, tapi beberapa waktu berlalu dan sang Tuan Muda Liang seakan menjadi sedikit dingin padanya.


Dingin?


Tidak, tidak, pria itu bukan bersikap dingin …. Ada kehangatan dari pandangan tajam yang Liang Fenghong berikan pada Huang Miaoling. Hanya saja, pandangan tajam itu tidak sepenuhnya terlihat bersahabat, sungguh suatu hal yang tidak bisa Huang Miaoling mengerti.


Selama sesaat Huang Miaoling dan Liang Fenghong saling memandang satu sama lain, menciptakan sebuah kilatan yang mengerikan. Wu Meilan dan Wang Junsi yang menyadari hal itu mengerutkan kening mereka, tak mengerti apa yang membuat temperamen kedua orang di hadapan mereka itu berubah drastis.

__ADS_1


Sekilas, sang Tuan Putri Wu melirik ke arah sang Pangeran Keempat kerajaan Shi, seakan menanyakan apa yang telah terjadi. Alhasil, Wang Junsi hanya bisa membalas tatapannya dengan kebingungan yang sama.


Untuk mencairkan suasana kaku, Wang Junsi memutuskan untuk membuka suara, “Sekarang, Wang Wuyu sudah mengetahui kalau aku jelas tidak lagi di sisinya. Kegagalan rencananya dengan Li Guifei merupakan hasil yang tidak memuaskan untuk mereka.” Sang Pangeran Keempat mengerutkan kening. “Kondisi istana akan menjadi semakin memburuk.” Dia menatap Wu Meilan. “Membiarkan Tuan Putri Wu di sini … terlalu berbahaya, bukan? Terutama setelah Tuan Putri secara terang-terangan membantu Miaoling.”


Bagus sekali, Pangeran Keempat. Melontarkan sebuah pertanyaan di udara untuk mengalihkan pandangan kedua sejoli yang masih saling menantang itu adalah keputusan yang cerdas.


Mendengar ucapan Wang Junsi, Wu Meilan sedikit terkejut. Dia menoleh dan tersenyum canggung kepada pria yang menatapnya dengan khawatir itu tanpa sadar. Hatinya pada saat ini masih berguncang akibat ucapan Huang Miaoling padanya, membuat putri itu menjadi lebih sadar diri terhadap setiap sikap yang ditunjukkan orang lain padanya.


“Belum tentu,” Liang Fenghong dan Huang Miaoling berkata secara bersamaan seraya melirik ke arah Wang Junsi.


Ketidaksengajaan itu membuat kedua orang tersebut saling menoleh kembali untuk menatap satu sama lain selama beberapa saat. Lalu, Huang Miaoling tersenyum tipis dan menjadi orang pertama yang menjatuhkan pandangannya.


“Kau yang ambil alih,” ucap Huang Miaoling, memberikan panggung kepada Liang Fenghong.


Benak Huang Miaoling bisa bekerja dengan baik. Selagi memperhatikan sang Tuan Muda Liang, dia mendapatkan keyakinan kalau pria itu telah berhasil mengerti sesuatu dari rentetan kejadian hari ini, dan sekarang emosi pria itu telah berada pada puncaknya. Memberikan panggung pada Liang Fenghong adalah cara Huang Miaoling untuk memberi tahu pria itu, ‘Aku akan mengalah untuk kali ini.’


Liang Fenghong mengerti maksud Huang Miaoling, tapi hal tersebut tak sepenuhnya membantu meredakan emosi dalam dirinya. Mungkin gadis itu belum mengerti kalau rencana yang mengalir dalam otak kecilnya itu telah sepenuhnya diketahui oleh Liang Fenghong. Oleh karena itu, Huang Miaoling mengira satu tindakan kecil itu cukup untuk membuat amarah pria itu menghilang.


Andai saja Huang Miaoling tahu kalau Liang Fenghong sempat memikirkan cara untuk mengurungnya di kediaman Huang dan tak pernah membiarkannya keluar. Namun, jelas Liang Fenghong juga tidak bodoh, pria itu tahu lebih dari siapa pun kalau seseorang seperti Huang Miaoling akan semakin menjadi-jadi apabila dikekang.


“Mencoba melibatkan Ayahanda memang sudah merupakan taruhan yang besar.” Wang Junsi menganggukkan kepalanya, mengerti apa yang Liang Fenghong bicarakan. “Keamanan istana dan kota beberapa saat ini akan diperketat.”


“Terlebih karena ada kehadiran tiga pihak yang sangat penting di kerajaan Shi saat ini,” Huang Miaoling menambahkan, tak mampu menahan diri untuk tidak ikut terlibat.


“Tiga?” Wu Meilan tahu satu pihak adalah berasal dari dirinya yang digabungkan bersama dengan keluarga Liang. Siapa dua pihak lainnya?


“Pihak Kerajaan Zhou dan juga mantan guru besar istana, Qing Gangtie.”


Mendengar jawaban Huang Miaoling mata Liang Fenghong memancarkan kilatan berbahaya, seakan semakin yakin dengan dugaan dalam benaknya. Namun, kemudian pria itu hanya mengatakan, “Mengesampingkan kedatangan pihak kerajaan Zhou, sumber daya Wang Wuyu dan Li Guifei telah terkikis habis, mereka tak bisa kehilangan lebih banyak dibandingkan ini.”


Kali ini, Huang Miaoling terlihat sedikit terkejut. “Apa maksudmu terkikis habis?” Dia masih belum sempat mendengar kejadian dari sisi Liang Fenghong.


“Bukankah kau sudah menebaknya?” tanya Liang Fenghong dengan secercah nada kesal dalam ucapannya, membuat Wang Junsi dan Wu Meilan tanpa sadar menaikkan alis mereka—menunjukkan keterkejutan dan rasa penasaran—terhadap reaksi tak bersahabat pria itu pada Huang Miaoling. “Ketua Pasukan Kematian, Xiaoye, bukankah dia salah satu targetmu hari ini?”


Selama beberapa saat, ekspresi terkejut Huang Miaoling bertahan. Lalu, beberapa detik kemudian, ekspresi terkejut itu meleleh dan digantikan dengan air muka tidak senang.

__ADS_1


“A Feng,” Huang Miaoling memanggil pria itu dengan nada memperingati, seakan Liang Fenghong baru saja mengatakan hal yang tabu. Samar-samar, terdapat pancaran kesulitan dengan selipan keterkejutan dari mata Huang Miaoling yang seperti meneriakkan, ‘Dia … tahu? Kalau dia tahu, seharusnya dia diam.’


Interaksi Huang Miaoling dan Liang Fenghong membuat alis Wu Meilan dan Wang Junsi bertaut, lagi-lagi memunculkan ekspresi kebingungan. Sangat jarang bagi keduanya untuk melihat kilatan petir dari pasangan yang ada di hadapan mereka saat ini. Namun kenyataannya, hal itu sudah terjadi dua kali dalam waktu yang begitu berdekatan.


Liang Fenghong dan Huang Miaoling jelas sedang bertengkar!


Alasannya? Hanya langit dan dua orang itu yang tahu.


Menyadari suasana yang sedikit menegang, Wang Junsi akhirnya memutuskan untuk angkat bicara, “Wang Chengliu telah mengatakan kalau penyusup telah ditangkap.” Pelipis Liang Fenghong berkedut mendengar satu nama itu. “Itu berarti gerbang istana telah dibuka. Kalian seharusnya sudah bisa kembali.” Dia melirik ke arah Huang Miaoling. “Aku sungguh meminta maaf padamu atas kelalaianku hari ini. Kalau Fenghong tidak sempat datang, maka ….”


Melihat Wang Junsi tak berani menyelesaikan ucapannya, Huang Miaoling tersenyum. “Maka, tidak ada masalah. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah diadakannya pernikahan kita berdua, itu juga tidak terdengar mengerikan. Paling tidak, itu bisa dianggap sebagai cara bagimu untuk benar-benar menjadi bagian dari keluarga Huang, bukan?” Ucapannya sekali lagi mengejutkan orang-orang di dalam ruangan itu.


Selama sesaat, Wang Junsi tercengang dan membeku di tempat. Dia sempat kebingungan karena sebelumnya Huang Miaoling jelas telah menolak segala usahanya untuk meminang gadis itu. Namun, sekarang sang Nona Pertama Huang itu malah mengatakan hal seperti ini?! Tidakkah ini namanya membangkitkan harapan?


Setelah otak Wang Junsi menyaring segala informasi yang baru saja melalui telinganya, dia menghela napas dalam hati dan memaki dirinya sendiri. Sangat jelas kalau satu-satunya alasan Huang Miaoling mengatakan hal yang begitu provokatif didasari oleh keinginannya untuk membalas Liang Fenghong atas … apa pun kesalahan yang pria itu baru saja lakukan.


Wu Meilan yang awalnya juga terkejut pun segera mengerti, dia dan Wang Junsi segera melirik sosok Liang Fenghong. Terlihat ekspresi sang Tuan Muda Liang itu menggelap … begitu gelap, seakan dirinya ingin menarik nyawa seseorang ke dalam neraka.


Sadar bahwa pada saat ini pembahasan menyangkut namanya, Wang Junsi bisa merasakan rambut di belakang lehernya meremang. Dia memaki dalam hati, sesekali juga menyelipkan doa agar Liang Fenghong sadar bahwa ucapan Huang Miaoling memiliki makna tersirat yang lain. Dalam keadaannya saat ini, bermusuhan dengan Liang Fenghong bukanlah hal yang baik bagi Wang Junsi.


Detik berikutnya, kata-kata yang terucap dari mulut pria berwajah dingin itu mengejutkan seisi ruangan. “Ucapan Ling’er benar, Wang Junsi. Hal terburuk yang akan terjadi adalah pernikahan kalian, dan dirinya menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Sungguh suatu hal yang tak pantas dikatakan sebagai kemungkinan terburuk, bukan?” Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah pria itu. “Ah, tapi, jangan meminta maaf padanya. Lagi pula, semua ini tak akan terjadi kalau bukan karena niatnya—”


“Liang Fenghong!” Kali ini, Huang Miaoling tak bisa menahan amarahnya lagi. “Kau sengaja ingin mencari masalah denganku?!”


___


A/N: Well, well, well. Libur lama sebenarnya belum kelar, tapi ya sudahlah. Aku update aja sekarang. Kalau nggak lari semua readersnya Wahahahaha.


Gimana kabar kalian, guys? Sehat-sehat, 'kan? Kangen nggak sama akyuh? #maafauthorstres


Anyway, missed you guys a lot and here's the new chapter!


Sebenarnya, Author masih kena Author's block -- kondisi di mana author nyangkut untuk melanjutkan cerita. Doain cepet dapet inspirasi ya. Wkwkwk


Jangan lupa komen nih, seru bgt A Feng sama Ling'er lagi berantem wakakak (udah kek orang ketiga anj*r gw, seneng bikin pasangan brantem)

__ADS_1


__ADS_2