
Di dalam sebuah ruangan yang beberapa sisi dindingnya berlapis emas, suara tamparan bisa terdengar bergema nyaring. Beberapa pasang mata dengan cepat menjatuhkan pandangan, beriringan dengan kepala mereka yang tertunduk untuk mengisyaratkan ketidaktahuan.
“Mohon Yang Mulia tenangkan amarahmu!” seru seorang kasim yang tak lain adalah Kasim Gao. Pria tua itu berlutut di sisi Kaisar Weixin yang wajahnya diselimuti oleh amarah mengerikan.
“Pemberontak!” maki Kaisar Weixin seraya menunjuk ke arah Wang Wuyu yang jatuh menyamping di hadapannya.
Bekas tamparan terjiplak jelas di wajah sang Pangeran Kelima, darah pun bisa terlihat sedikit mengalir keluar dari sisi bibirnya. Walau terlihat begitu menyedihkan, tapi ekspresi yang Wang Wuyu tunjukkan bukanlah sebuah ekspresi seseorang yang mengakui kesalahannya. Matanya membara dengan api kepercayaan bahwa tindakan dirinya mewakili sebuah keadilan.
Melihat pandangan yang diberikan oleh putranya, emosi Kaisar Weixin semakin memuncak. “Kau—!” Pria itu kemudian mencari-cari ke kanan dan ke kiri. Matanya mendarat pada sebuah pedang yang bergelantung di pinggang salah satu pengawalnya, dan dia pun menjulurkan tangannya untuk menarik keluar pedang itu dari sarungnya, mengejutkan semua orang. “Aku bunuh kau!”
“Yang Mulia, jangan!” Kasim Gao memeluk kaki Kaisar Weixin, menahannya. Dia mendelik ke arah para pengawal yang terdiam. ‘Apa kalian buta?!’
Teriakan batin Kasim Gao seakan terdengar jelas oleh para pengawal, mereka pun dengan cepat mencoba menahan sang Kaisar. Walau awalnya ragu menyentuh tubuh sang Putra Langit, tapi mereka memiliki keyakinan yang lebih besar saat isyarat dari Kasim Gao diterima. Bagaimana pun, kasim tua itu telah mendampingi Kaisar Weixin untuk bertahun-tahun, pria itu tahu jelas kapan harus menghalangi dan kapan harus terdiam.
Karena Kaisar Weixin telah ditahan oleh para pengawal, Kasim Gao pun bisa melepaskan kaki sang Kaisar. Dia kemudian bergegas mengarah kepada Wang Wuyu dan berkata dengan nada memelas, “Pangeran Kelima, akuilah kesalahanmu! Mintalah maaf dan ayahandamu pasti akan memberikannya!” Dia seakan memohon agar pangeran itu menyelamatkan dirinya sendiri.
Bahkan dengan permintaan Kasim Gao, Wang Wuyu tidak bergeming. Pria itu hanya membalas, “Kasim Gao, aku tidak mengerti apa maksudmu.”
Dia masih tidak mengakuinya!
Mendengar hal itu, kemarahan Kaisar Weixin semakin menjadi-jadi. Sudah begitu jelas mengenai apa yang terjadi, tapi Wang Wuyu masih enggan mengakui segala dosa dan niat buruknya.
Dengan surat yang diberikan oleh Huang Miaoling, Kaisar Weixin sudah tahu jelas bahwa putra kelimanya itu bekerja sama dengan Li Shijing untuk menjebak Huang Miaoling dan Wang Junsi. Tak hanya itu, gadis itu juga memberi tahu sang Putra Langit mengenai kerja sama awal sang Pangeran Kelima dengan Li Hongxia untuk menjatuhkan keluarga Huang agar bisa mendorong Wang Xiangqi ke atas takhta dan menjadikannya kaisar boneka.
Sekarang, bahkan ketika sang Kaisar telah menunjukkan kalau dia tahu jelas mengenai semua hal yang terjadi, Wang Wuyu masih bisa bersikap tenang dan menunjukkan wajah tak bersalah di hadapan Kaisar Weixin. Sungguh wajah yang begitu tebal!
Terhadap saudara-saudaranya dan negaranya sendiri, Wang Wuyu mampu bersikap begitu kejam. Mengetahui hal tersebut, tidaklah heran apabila Kaisar Weixin sangat murka!
Detik berikutnya, pintu yang membatasi ruang kerja sang Kaisar itu dengan dunia luar terbuka. Pandangan semua orang beralih pada sosok yang melangkah masuk dengan cepat ke dalam ruangan tersebut. Bahkan dengan sikapnya yang tergesa-gesa, keanggunan dan wibawa yang menyelimuti wanita itu sepenuhnya dipertahankan.
“Defei?” gumam Kasim Gao dengan terkejut.
Gumaman Kasim Gao mendarat di telinga Wang Wuyu, pangeran itu pun menoleh, yakin bahwa sang Ibunda datang untuk menyelamatkannya. “Ibu—!”
Baru saja Wang Wuyu ingin menyambut kedatangan ibundanya, dia dikejutkan dengan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi kirinya. “Jangan kau berani menyebutku!” tegurnya dengan kejam, mengejutkan seisi ruangan, termasuk sang Kaisar yang membeku pada saat itu juga.
__ADS_1
Pandangan Yang Yuechan beralih pada Kaisar Weixin. Lalu, dia berjalan cepat menghampiri suaminya untuk kemudian berlutut secara mendadak. Tak berhenti sampai di sana, wanita itu bersujud di kaki sang Suami seraya berseru, “Aku tidak berguna, aku gagal dalam mendidik putraku! Harap Yang Mulia menjatuhkan hukuman atas kesalahanku!”
“Ibunda!” Wang Wuyu berteriak, tidak menyangka ibunya akan melakukan tindakan rendahan seperti itu di hadapan semua orang. ‘Selalu … selalu begini …. Ibunda, kau—!’ Sang Pangeran Kelima mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan buku-buku jarinya memerah karena tindakannya itu.
Melihat Yang Yuechan bersujud di hadapannya, hati Kaisar Weixin bergetar. Bagaimana pun juga, wanita itu adalah salah satu wanitanya yang terhormat, satu dari empat selir tertinggi istana. Di hadapan semua bawahannya yang hadir, bagaimana bisa wanita itu bersujud seperti seorang pelayan?!
Seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh Kaisar Weixin, para pengawal pun dengan cepat menjatuhkan pegangan mereka pada pria itu. Sesuai dugaan, sang Kaisar melepaskan pedang di tangannya dan menghampiri selirnya itu. Dia menyentuh pundak Yang Yuechan dan menyuruhnya untuk berdiri.
“Yuechan, bangkitlah,” ujar Kaisar Weixin.
Bahkan dengan ucapan Kaisar Weixin, Yang Yuechan tetap tidak bergeming dari tempatnya. Dia menahan dirinya untuk tetap bersujud dengan kepala menempel di lantai.
“Yang Mulia, maafkan aku karena tidak bisa menerima kebaikanmu,” balas sang Defei, masih dengan kepala tertunduk. “Namun, aku mohon kabulkanlah satu permintaanku.”
Kalimat Yang Yuechan membuat ekspresi mengasihani Kaisar Weixin langsung menghilang, menduga istrinya itu akan meminta pengampunan demi sang Putra. Akan tetapi, Kaisar Weixin berusaha bertumpu pada satu keyakinan bahwa Yang Yuechan—Yang Defei—merupakan seorang wanita cerdas yang tahu kalau meminta pengampunan bukanlah hal yang pantas dilakukan ketika amarahnya berada di puncak.
“Katakan ….”
Ruangan tersebut diselimuti kesunyian selama sesaat. Namun, detik berikutnya, suara Yang Yuechan dengan lantang bergema di dalam ruangan. “Hukumlah putraku dengan mengirimnya ke Kun Lun. Dia akan menua di sana dan tak akan pernah mencampuri sedikit pun kehidupan duniawi. Aku ingin dia sadar bahwa tindakannya begitu salah dan tak pantas untuk bahkan terbersit di dalam benaknya.”
Tak hanya Kaisar Weixin maupun Wang Wuyu yang ternganga mendengar ucapannya, semua orang yang berada di dalam ruangan itu bahkan sempat mengira kalau sang Defei mulai kehilangan kewarasannya!
Kaisar Weixin melirik ke arah Wang Wuyu untuk sesaat, menyadari pandangan sakit hati yang diberikan putranya itu kepada ibunya. Lalu, dia beralih kepada Yang Yuechan. “Defei, apa kau bersungguh-sungguh?” tanyanya kembali.
Kali ini, Yang Yuechan mengangkat kepalanya. Dengan ekspresi penuh keyakinan, wanita itu membalas, “Ucapanku … apakah Yang Mulia masih meragukannya?”
Tidak. Itu jelas merupakan jawaban yang muncul di dalam hati Kaisar Weixin.
“Ibunda! Mengirimku ke Kun Lun?!” teriak Wang Wuyu dengan panik.
Tanpa Wang Wuyu, siapa yang akan mendukung Yang Yuechan dan membantunya mempertahankan kedudukan di istana belakang?
“Diam!” tegur Yang Yuechan dengan ekspresi penuh amarah. “Dosamu bukanlah suatu hal yang ringan, dan kau tahu mengenai hal itu. Membiarkanmu dikurung di Kun Lun akan memberikanmu kesempatan untuk memikirkan kembali kesalahanmu dan mengakuinya di hadapan dunia. Itu adalah hukuman yang pantas!” Wanita itu kembali menghadap Kaisar Weixin. “Harap Yang Mulia penuhi permohonanku!”
Ketika melihat sang Defei ingin kembali bersujud, Kaisar Weixin segera menahan kedua lengan wanita itu. Dia dengan cepat berkata, “Aku mengabulkannya, aku mengabulkan permohonanmu, Yuechan. Sekarang, berdirilah!” Pria itu membantu istrinya berdiri dan menghela napas. “Atas kemuliaan yang aku ketahui menguasai hatimu itu, aku akan mengirimkan Wuyu ke Kun Lun. Kapan kau menginginkan hal tersebut untuk terjadi?”
__ADS_1
“Besok.”
Mata Kaisar Weixin mengerjap, kaget dengan tidak adanya keraguan dalam jawaban istrinya. “Tidakkah itu terlalu cepat? Kau jelas tahu di mana dan tempat seperti apa Kun Lun itu, bukan?” tanya sang Kaisar sembari mengerutkan kening. “Wanita tak boleh menginjakkan kaki di sana. Ketika titahku diturunkan, itu berarti kau tak bisa bertemu Wuyu untuk waktu yang lama. Hanya di hari-hari khusus pintu perguruan Kun Lun terbuka untuk kunjungan.”
Kepala Yang Yuechan mengangguk mantap. “Aku tahu jelas mengenai hal tersebut, Yang Mulia.” Dia menambahkan, “Keputusanku sudah bulat.” Pandangannya sedikit terjatuh. “Semakin cepat dia meninggalkan istana, semakin baik. Dengan begitu, tidak ada hal aneh lain yang bisa dia ramu.”
Kaisar Weixin menatap dalam-dalam mata istrinya, mencoba memberikan kesempatan pada sang Defei untuk mengubah pikirannya. Jikalau Yang Yuechan pada saat ini juga mengubah niatnya dan ingin menyelidiki masalah ini lebih dalam sebelum mengambil keputusan, maka sang Kaisar tentu akan mewujudkannya. Lagi pula, sedari awal, Kaisar Weixin tidak berniat untuk menghukum Wang Wuyu dengan begitu berat.
Niat utama sang Kaisar hanyalah untuk menakut-nakuti putranya itu dan kemudian mengirimnya pergi ke kota lain untuk sementara sebagai suatu bentuk pengucilan. Dengan demikian, Kaisar Weixin bisa tetap menunjukkan bahwa dia berusaha menjunjung keadilan terhadap keluarga Huang selagi mempertahankan putranya.
Bahkan bila keluarga Huang tidak merasa pengucilan ke kota lain merupakan hukuman yang cukup, tapi mereka tak akan bisa melakukan apa pun. Bagaimana pun juga, menghukum seorang pangeran memerlukan sebuah alasan yang sangat berat. Bahkan bila Huang Miaoling telah menyuguhkan bukti, tapi surat tersebut hanya dibaca oleh Kaisar Weixin, dan pria itu bisa saja memalingkan wajah dan berpura-pura untuk tidak mengetahui apa pun.
Namun, karena Yang Defei telah mengutarakan keinginannya untuk mengucilkan Wang Wuyu seumur hidupnya di Kun Lun, sangatlah aneh apabila Kaisar Weixin mencoba meringankan hukuman putranya. Hal itu seakan memberi tahu semua orang bahwa dirinya hanya sedang bersandiwara dan memang berniat membebaskan putranya dari segala tuntutan yang berat.
Sungguh, Kaisar Weixin tak mengerti, kenapa Yang Defei mampu menurunkan sebuah hukuman yang begitu kejam terhadap putranya sendiri. Apakah itu karena rasa bersalah yang mendorong kemuliaan hatinya untuk bertindak kejam pada darah dagingnya sendiri … atau karena ada faktor lain?
“Lao Gao …,” panggil Kaisar Weixin dengan nada rendah.
“Hamba hadir,” balas Kasim Gao.
Kaisar Weixin menggenggam tangan Yang Yuechan dan kemudian melirik ke arah bawahannya itu. “Kau dengar ucapan Defei. Laksanakanlah,” ujarnya.
Kasim Gao menarik napas dingin. Walau merasa nasib sang Pangeran Kelima begitu malang, tapi dia tak bisa berbuat banyak. Sang Ibunda telah berucap dan sang Ayah telah bertitah, maka itulah nasib sang Putra.
“Hamba mengerti ….”
Mendengar hal itu, Wang Wuyu hanya bisa terduduk lemas di lantai. ‘Selesaikah? Apakah semua selesai seperti ini?’
___
A/N: Aku baca komenan, terus ada beberapa yang menghubungkan 'pria yang mengendalikan informasi' dengan satu dari dua orang yang dikembalikan Lan'er.
Pertanyaannya, kalian yakin itu merujuk ke satu orang yang sama? Hihihihihihih
lagibaek #kasihclue
__ADS_1