
“Meilan ….”
Kala Wang Chengliu mengucapkan nama itu, sekejap sosok gadis yang tersenyum indah itu menghilang dari pandangan. Pintu gerbang yang terbuka lebar tersebut berakhir kosong tanpa sosok satu orang pun di sana.
Ternyata, itu semua hanya halusinasi belaka.
Menyadari hal tersebut, Wang Chengliu mengerutkan kening. Dia menutup mata dan menggelengkan kepala sedikit sebelum akhirnya menengadahkan pandangannya kembali ke depan.
Tidak ada apa pun. Hanya kediaman asing itu.
‘Apa kediaman ini juga bagian dari halusinasi?’ tanya Wang Chengliu, mulai meragukan dirinya sendiri.
Wang Chengliu berani bersumpah, dia yakin bahwa tadi hanya ada jalan menuju ke dalam hutan yang ada di depan matanya. Tidak ada kediaman ini!
Namun, tidak mungkin juga kediaman sebesar itu muncul di hadapan secara tiba-tiba. Alhasil, Wang Chengliu hanya menganggap dirinya terlalu fokus melarikan diri sampai tidak menyadari keberadaan kediaman tersebut.
Setelah memerhatikan kediaman dengan gerbangnya yang terbuka itu, Wang Chengliu merasa tempat itu bisa dijadikan persembunyian sementara. Alhasil, pria itu pun melangkah masuk ke dalam.
‘Tidak ada orang,’ pikir Wang Chengliu selagi melenggang memasuki halaman luas kediaman tersebut.
Dengan susah payah, pria itu menyeret kakinya yang terluka. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat satu pohon apel lebat yang berdiri kokoh di tengah tempat tersebut.
Seketika, kalimat demi kalimat percakapan yang tidak pernah Wang Chengliu ketahui sebelumnya mengalir masuk ke dalam benak.
‘Pohon apa itu yang kamu tanam?’
‘Apel.’
‘He he, karena aku suka?’
‘Karena kau suka.’
Wang Chengliu terbelalak dan menyentuh sisi kepalanya yang berdenyut nyeri.
‘A-apa itu?’ batin Wang Chengliu dengan wajah keruh, merasa percakapan tadi bukan bagian dari ingatannya!
__ADS_1
Masih kebingungan, pandangan pria itu pun lanjut menyapu sekeliling. Hanya ketika maniknya mendarat pada satu pintu kamar, Wang Chengliu berujung menautkan alisnya erat, melukiskan ekspresi bingung.
Sebuah kalimat percakapan kembali terlontar ke dalam benaknya.
‘Lu Si, mulai hari ini, kamu tidur di sini. Kamarku ada di sebelah, jadi panggil aku kalau ada apa-apa, mengerti?’ Suara seorang gadis yang terdengar asing di telinga kembali muncul di benaknya. ‘Jangan sembarangan masuk kamarku atau akan aku patahkan tanganmu!’
Alis Wang Chengliu tertaut. ‘Lu Si?’ ulangnya, sama sekali tidak mengerti mengapa nama bedebah menyebalkan itu bisa terngiang dalam percakapan tersebut.
Tanpa berpikir panjang, kaki Wang Chengliu melangkah mendekati gedung dengan deretan kamar tersebut. Dia mengarah kepada kamar yang berada di sebelah kamar pertama.
Kamar yang dikatakan oleh sang gadis dalam benak sebagai kamar pribadinya.
Begitu tangannya mendarat pada pintu kamar tersebut, jantung Wang Chengliu berdebar kencang. Rentetan kalimat asing menerobos masuk pikirannya.
‘Lu Si! Ambilkan air untukku!’
‘Lu Si! Sudah kubilang jangan sembarangan masuk!’
‘Lu Si! Aku takut! Temani aku!’
Mengabaikan pecahan memori yang terus membanjiri benaknya, Wang Chengliu mendorong pintu kamar di hadapan hingga terbuka.
Saat matanya terbuka kembali, pria itu terbelalak ketika melihat satu sosok familier yang tengah terlelap di atas tempat tidur.
‘Gadis itu ….’
Wang Chengliu mengenalinya.
Gadis itu tidak lain dan tidak bukan merupakan gadis yang bayangannya menghantui Wang Chengliu sejak beberapa waktu yang lalu!
Gadis yang telah menyelamatkannya dalam mimpi.
“Meilan ….”
Saat nama itu disebut, sakit yang sangat menyerang kepala Wang Chengliu.
__ADS_1
“Ugh!”
Pria itu mencengkeram dua sisi kepalanya. Kupingnya berdengung nyaring.
Gadis itu … merupakan gadis dalam mimpinya beberapa waktu lalu.
Gadis yang telah menyelamatkan dirinya dari kematian.
Nama gadis itu di kehidupan ini ….
Mata Wang Chengliu sontak terbuka selagi melirik gadis yang terbaring tak berdaya di tempat tidur itu.
“Lan’er ….”
Kening sang kaisar muda berkerut ketika mengucapkan nama tersebut, seperti ada gelombang perasaan menyakitkan yang menyelimuti hatinya.
Tangan Wang Chengliu terulur, terdorong untuk menyentuh wajah tersebut.
Mendadak, langkah kaki yang terdengar berlari mendekat.
Sosok Liang Fenghong muncul dengan mata melotot saat menangkap Wang Chengliu berada begitu dekat dengan Lan’er.
“Jangan sentuh dia!”
Sayang, dia terlambat. Ujung jari Wang Chengliu telah terlebih dahulu menyentuh kulit wajah Lan’er, memunculkan sinar terang membutakan. Hal itu diikuti dengan rasa sakit menyiksa yang membuat Wang Chengliu mendongak ke atas.
“Aggghhh!”
Teriakan memilukan terdengar, dan manik hitam sempurna milik pria tersebut pun perlahan berubah menjadi semerah darah.
Tepat pada saat itu, sebuah suara lemah terngiang di benak Wang Chengliu.
‘Ah … segel ingatan … akhirnya terbuka ….’
Dan, kesadaran Wang Chengliu pun menghilang.
__ADS_1
___
A/N: EENG INGG ENGG! Pegang kursi kalian erat-erat karena bab-bab yang mengandung sejuta jawaban akan segera diberikan!