Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 57 Meninggalkan Kediaman Huang


__ADS_3

Huang Miaoling membeku di tempatnya, membuat langkah Liang Fenghong juga ikut terhenti. Dari balik kain merahnya, kening Huang Miaoling berkerut. Ekspresi tidak rela bisa terlihat menghiasi pancaran matanya.


Dengan mendadak, Huang Miaoling mengikatkan tali merah pernikahannya di pergelangan tangan kanan. Hal tersebut membuat beberapa orang terbelalak dan kebingungan.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Nenek Lang yang bertugas untuk memastikan pernikahan berjalan dengan lancar. Dia sangat khawatir kalau tali merah pernikahan akan terlepas dari tangan gadis itu.


Itu akan membawa kesialan!


Selesai mengencangkan tali merahnya, Huang Miaoling berbalik menghadap kepada sang Ayah. Tepat di depan ambang pintu ruangan tersebut, Huang Miaoling berlutut. Lalu, di hadapan begitu banyak orang, dia bersujud sebanyak tiga kali ke arah Huang Qinghao dan plakat Wei Ningxin, sang Ibu.


Melihat hal itu, Huang Qinghao bergegas menghampiri putrinya. “Apa yang kau lakukan?! Ini tak sesuai tradisi!” tegurnya. “Kau telah bersujud di hadapan Ayah sebelumnya.” Pria itu menyentuh kedua pundak putrinya.


Selagi masih berlutut di hadapan ayahnya, Huang Miaoling berkata, “Budi Ayah dan Ibu tak akan mampu putri ini balas dalam satu kehidupan, apa pentingnya sebuah tradisi yang tidak berbudi sama sekali padaku?” Gadis itu tersenyum dari balik kain merah yang menutupi kepalanya, masih sanggup berkelakar.


Dengan usaha keras untuk menahan air matanya, Huang Qinghao menjulurkan satu tangan untuk membantu putrinya berdiri. Dia menggelengkan kepalanya. “Miaoling, kami tidak perlu balasan. Yang kami inginkan hanyalah kebahagiaanmu semata.” Senyuman lembut menghiasi wajah pria itu. “Dalam kehidupan ini, Ayah bersyukur memiliki putri sepertimu.”


Mendengar hal tersebut, Huang Miaoling tak elak kembali membeku. “Ayah ….” Ucapan yang Huang Qinghao utarakan sama dengan kehidupan yang lalu.


Dahulu, karena situasi yang penuh tekanan, Huang Miaoling merasa kalau ucapan sang Ayah hanyalah sekadar formalitas belaka. Gadis itu mengira bahwa atas segala tindakannya yang mempermalukan keluarganya, sang Ayah telah membencinya, diam-diam menyesali memiliki putri seperti dirinya. Namun, sekarang Huang Miaoling tersadar akan suatu hal.


Sang Ayah tak pernah membencinya, bahkan ketika dirinya melakukan kesalahan terbesar sekali pun.


Air mata mulai berkumpul di sudut mata Huang Miaoling. Akan tetapi, dia tersadar kalau upacara pernikahan masih begitu panjang. Oleh karena itu, gadis itu menahan keras dirinya dari menangis. Bahkan dengan usaha kerasnya, satu tetes air mata mengalir menuruni wajahnya.


Walau tidak bisa melihat wajah Huang Miaoling, tapi getaran pada pundak putrinya itu membuat Huang Qinghao tahu kalau gadis itu sedang menangis. “Jangan menangis, kau masih harus menyelesaikan upacara di kediaman mertuamu,” ucapnya sembari tersenyum.


Huang Miaoling tertawa kecil, merasa ayahnya adalah seorang hipokrit. Bukankah pria itu sendiri sedang menangis sekarang?


Huang Qinghao menghapus air matanya, tahu kalau dirinya saat ini terlihat begitu memalukan. Kemudian, pria itu melirik ke arah Liang Fenghong yang berdiri tak jauh di belakang Huang Miaoling. Dia melihat betapa sabarnya pria itu menunggu dan memberikan waktu pada dirinya dan putrinya.


Sembari menggenggam tangan Huang Miaoling, Huang Qinghao menarik putrinya ke arah Liang Fenghong. Lalu, dia meraih tangan menantunya itu. “Aku menyerahkannya padamu,” ujar pria itu seraya meletakkan tangan sang Tuan Muda Liang di atas tangan putrinya, membiarkan pemuda tersebut menggenggam Huang Miaoling dengan erat.

__ADS_1


“Aku mengerti, Ayah Mertua,” balas Liang Fenghong dengan anggukan mantap.


Huang Qinghao membalas anggukan kepalanya dengan sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan. “Pergilah.” Tangan sang Jenderal Besar mengisyaratkan keduanya untuk pergi. “Perdana Menteri Liang dan Nyonya Besar Liang pasti telah menunggu.”


Liang Fenghong menganggukkan kepalanya, lalu dia membawa Huang Miaoling meninggalkan halaman ruang tengah kediaman Huang. Huang Miaoling pun hanya memberikan pandangan terakhir kepada ayahnya, lalu berjalan mengimbangin langkah suaminya.


Huang Qinghao menatap kepergian putrinya dengan saksama, tak sedikit pun rela berkedip dan kehilangan detik-detik Huang Miaoling meninggalkan halaman ruang tengah. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya, membuat sang Jenderal Besar Kerajaan Shi itu menoleh. “Ayah …,” panggilnya. “Tugasku selesai.”


Huang Liqiang tersenyum. “Kau melakukannya dengan baik.”


***


Para tetua tidak mengantarkan kedua pengantin sampai di depan gerbang, hanya para saudara yang melakukan hal tersebut. Beberapa tamu juga bergabung mengiringi Liang Fenghong yang mengantarkan Huang Miaoling ke depan tandu.


“Pengantin Wanita menaiki tandu!”


Seruan tersebut diiringi dengan sosok Huang Miaoling yang dipersilakan oleh Liang Fenghong untuk masuk ke dalam tandu. Tandu tersebut berhiaskan kain merah, menandakan kalau yang berada di dalamnya adalah seorang pengantin wanita.


“Jaga adikku dengan baik,” Huang Yade memperingati Liang Fenghong. “Kau tahu bukan hanya keluarga Huang yang akan diam saja apabila kau mengecewakan dirinya.”


Wang Qiuhua yang menutup setengah wajahnya dengan kipas menambahkan, “Keluarga kerajaan juga akan terlibat, Tuan Muda Liang.” Pandangan matanya sama sekali tidak terlihat seperti sedang bercanda.


Liang Fenghong yang telah berada di atas kudanya terdiam sejenak. Lalu, dia mendengkus sembari tersenyum. Pria tersebut menatap beberapa orang di hadapannya dengan penuh keyakinan.


“Apa yang kalian takutkan?” tanya Liang Fenghong membuat mereka terkejut. “Apa istriku masih perlu perlindungan dari kalian?” Alisnya terangkat tinggi. “Kalau aku melakukan sesuatu padanya, kalian tahu sendiri dia yang akan mengambil nyawaku terlebih dahulu.” Semua orang yang mendengar ucapan Liang Fenghong langsung membeku di tempat.


“Hei! Kalau kau berbicara seperti itu, kau seakan mengatakan adikku adalah seekor macan betina!” tegur Huang Jieli.


Mendengar hal ini, tiba-tiba suara seseorang bisa terdengar berceletuk, “Tuan Muda Liang, apa tak takut menikahi seekor macan betina?!” Itu jelas suara salah satu saudara sepupu Huang Miaoling.


Liang Fenghong melirik ke arah tandu, lalu dia membalas dengan singkat, “Selama dia menginginkannya, maka aku rela.” Sebuah senyuman penuh arti terpasang di wajahnya.

__ADS_1


Walau tidak bisa melihat apa pun di luar tandu, tapi Huang Miaoling tidak tuli. Gadis itu bisa mendengar seluruh percakapan yang terjadi. Namun, pandangannya hanya terarah ke depan, dia tak memiliki niat untuk membenarkan apa pun yang diucapkan pria itu.


Detik Liang Fenghong menaiki kudanya, petasan pun mulai dinyalakan bersamaan dengan musik meriah. Hal tersebut dilakukan untuk mengusir para roh jahat, berharap agar kesialan tidak akan mengikuti kedua pengantin dan mengacaukan pernikahan yang baru dilaksanakan setengah jalan ini.


Setelah tiba di depan kediaman Liang, Huang Miaoling dipersilakan turun dari tandu dengan bantuan dua orang pelayan. Kemudian, gadis itu pun berjalan dengan bantuan dua pelayan tersebut untuk mengikuti Liang Fenghong yang berada di depannya.


Huang Miaoling dan Liang Fenghong berjalan menuju ruang tengah kediaman Liang. Sama seperti mereka memberi hormat kepada Huang Qinghao dan Wei Ningxin, mereka juga bersujud kepada Liang Shupeng, sang Perdana Menteri Liang, dan Yun Xia, sang Nyonya Besar Liang.


Begitu selesai memberi hormat pada orang tua, kedua pengantin dipersilakan untuk masuk ke aula leluhur. Keduanya dipersilakan untuk berdiri berdampingan.


Huang Miaoling menggenggam erat tali pernikahannya. Hatinya terasa sedikit mengganjal.


“Hormat kepada langit dan bumi!”


‘Ling’er, kau masih punya kesempatan,’ pikir Liang Fenghong dengan pandangan sendu.


“Hormat kepada leluhur!”


Tatapan Liang Fenghong terarah tajam kepada sosok Huang Miaoling. ‘Apa kau sungguh ingin menyelesaikan pernikahan ini?’


“Suami-istri saling menghormati!”


‘Aku telah membuat keputusan.’


“Ritual selesai!”


Liang Fenghong mematung di tempatnya, tak menyangka kalau Huang Miaoling akan melakukan hormat terakhir dengannya. “Ling’er.” Suaranya terdengar bergetar. Pria itu memegang tangan Huang Miaoling dengan erat.


Tak ada yang bisa melihat ekspresi dari balik kain merah itu. Namun, bisa dibayangkan sebuah senyuman menghiasi bibir Huang Miaoling ketika gadis itu terdengar berkata, “Suamiku, kau masih harus menjamu tamu.”


——————

__ADS_1


A/N: Yakin seyakin-yakinnya bab ini akan ada revisi, tapi nggak dalam waktu dekat. Author hari ini udah kek mo tewas.


__ADS_2