
Suara benda tajam yang menembus tubuh seseorang bisa terdengar, tidak hanya satu kali, melainkan berkali-kali. Huang Jieli sudah yakin bahwa dirinya akan segera mati.
Namun, sungguh aneh. Walau berkali-kali terdengar suara daging yang robek secara paksa, tapi Huang Jieli tidak merasa kesakitan sedikit pun. Tak hanya itu, dia merasa tekanan pada kepalanya perlahan menghilang.
Huang Jieli membuka matanya, mendapati sosok Tubo Rang telah menjadi pemandangan berdarah yang mengerikan. Sejumlah panah bersemayam di tubuh dan wajahnya, membuat Huang Jieli mengernyitkan wajah.
Dengan usaha keras, Huang Jieli mendorong tubuh Tubo Rang menjauh dari dirinya. ‘Bagaimana …?’
Sebelum Huang Jieli menyelesaikan ucapannya, telinganya menangkap suara sejumlah tapak kaki kuda yang mendekat. Bukan hanya dua maupun tiga, melainkan ratusan.
Huang Jieli berusaha menoleh dengan cepat, bersiaga atas kedatangan yang tak terduga. Namun, alih-alih melihat sejumlah prajurit berkuda, dia melihat satu sosok telah berdiri di hadapannya.
“Kau Wakil Jenderal Huang?” tanya seorang pria dengan bekas luka panjang pada mata kanannya.
Huang Jieli terdiam, merasa napasnya terengah-engah. Dia sudah kehabisan banyak darah. “Aku ….” Tidak sempat dia menjawab, pandangannya seketika berubah gelap.
***
Huang Jieli—yang sekarang terduduk dengan bersandar pada tembok tempat tidurnya—mengerutkan kening ketika mengingat kejadian hari itu. Dia memperhatikan pria dengan bekas luka panjang di mata kanannya itu dengan saksama. Dari cara berpakaian pria tersebut, juga kedekatannya dengan Qing Zhuang, kentara jelas bahwa posisinya tidaklah rendah.
Melihat Huang Jieli memperhatikan pria di sisinya, Qing Zhuang angkat suara, “Ini adalah Jenderal Besar Ren, dia adalah pria yang menyelamatkanmu.”
Mendengar hal itu, mata Huang Jieli sedikit membesar. Jenderal Besar Ren, Ren Jia, adalah orang kepercayaan dan juga sahabat terdekat mendiang Kaisar Qing Shan. Bila diurutkan tingkatan kebencian terhadap Shi yang dihasilkan dari kematian Qing Shan, Ren Jia jelas adalah orang kedua setelah Qing Zhuang.
Menyadari hal tersebut, Huang Jieli merasa aneh. Sangatlah tidak mungkin Ren Jia memutuskan untuk menyelamatkannya setelah mengetahui dirinya adalah wakil jenderal Kerajaan Shi.
Jadi … apakah Qing Zhuang sungguh sekutu Liang Fenghong? Apakah dia dan Ren Jia mengetahui rencana busuk Wang Chengliu?
Bagaimana mungkin?
Qing Zhuang melihat masih ada sedikit keraguan dalam mata Huang Jieli. Dia pun melanjutkan, “Aku dan Liang Fenghong mengenal satu sama lain jauh sebelum dirinya menginjakkan kaki di Kerajaan Shi.”
Sang kaisar muda menjelaskan bagaimana Liang Fenghong merupakan tabib yang menyelamatkan dirinya dan juga sang ayah dari begitu banyak usaha pembunuhan. Alhasil, dia menjadi salah satu orang kepercayaan Qing Shan.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Qing Shan, Huang Jieli membatin dalam hati, ‘Sedari awal, Liang Fenghong memiliki hubungan dekat dengan Kerajaan Zhou?’ Ekspresinya sedikit menggelap. ‘Selama ini, dia menyembunyikan kenyataan ini dari semua orang!’
Wang Junsi mengerti mengenai apa yang dipikirkan oleh Huang Jieli. Pria itu pasti mulai curiga dengan kenyataan bahwa Liang Fenghong merahasiakan hal tersebut.
Qing Shan mendadak menghela napas tak berdaya. “Aku harap Wakil Jenderal Huang tidak salah paham dan mengira bahwa Penasihat Liang merahasiakan hubungannya dengan keluarga kerajaan Zhou,” ucapnya seakan mampu membaca pikiran. “Kalau bukan karena satu hal itu, tidak mungkin ada hubungan apa pun yang terjalin di antara keluarga kerajaan Zhou dan Liang Fenghong.”
“Apa kiranya maksud Yang Mulia?” tanya Huang Jieli dengan alis tertaut.
“Ketika Ayahanda berniat untuk memberikannya status sebagai tabib istana, Penasihat Liang membongkar identitas aslinya sebagai satu-satunya keturunan Liang,” balas Qing Zhuang. “Dosa penipuan terhadap sang Putra Langit … hanya kematian yang pantas menjadi hukumannya.”
Huang Jieli dan kedua pangeran terdiam. Dalam hal ini, aturan Kerajaan Zhou tidak berbeda dengan Kerajaan Shi. Segala kesalahan yang dilakukan terhadap pemimpin negara hanya bisa dibayar dengan nyawa.
Ya, walau terkadang ada situasi khusus yang diizinkan oleh sang kaisar sendiri.
Mampu merasakan suasana yang berubah menjadi sedikit suram, Qing Zhuang melanjutkan, “Namun, jasa Liang Fenghong tidaklah sedikit. Demikian, Ayah memutuskan untuk menutup mata dan membiarkannya pergi meninggalkan kerajaan.”
‘Itukah alasan hubungan keluarga kerajaan Zhou dan Liang Fenghong memburuk?’ tanya Huang Jieli dalam hati, merasa tidak yakin bahwa mendiang Kaisar Qing Shan memiliki sifat yang begitu … pelik.
Wang Junsi yang tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya mengerutkan kening. Sebelum dia sempat bertanya, dia mendengar Wang Xiangqi mendahuluinya dan bertanya, “Teman seperjalanan? Siapa? Apa pesannya?”
“Akan ada waktunya di mana seorang keturunan Zhou akan mengambil nyawa keturunan Qing. Ini adalah karma yang tidak bisa dihindari,” jawab Qing Zhuang dengan sebuah senyuman pahit, teringat jelas amarah sang ayah yang mengira orang itu sedang menyumpahi dirinya. “Ketika hal itu terjadi, Zhou harus melindungi darah Liang dan Huang untuk menghindari kemusnahan keturunan Qing dari Dataran Timur.”
Mendengar hal ini, Huang Jieli mengerutkan kening. “Siapa orang ini?” Dia merasa sangat terkejut dengan kenyataan orang tersebut secara khusus menyebutkan keluarga Liang dan Huang, seakan telah memprediksi hubungan yang akan terjalin di antara keduanya.
Reaksi Huang Jieli membuat Qing Zhuang menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu namanya.” Pria itu menghela napas, menunjukkan bahwa dia merasa tak berdaya. “Yang jelas, Ayahanda begitu marah dan langsung menurunkan larangan agar orang tersebut tidak lagi menginjakkan kaki di Zhou.”
Di sebelah Qing Zhuang, Jenderal Besar Ren mengeluarkan sebuah gulungan tua dari dalam jubahnya. Dia membuka gulungan tersebut dan menunjukkannya kepada orang-orang di hadapannya.
“Ini merupakan lukisan dari orang tersebut,” jelas Ren Jia, mengambil kesempatan ini untuk mencari kebenaran. “Apa kalian mengenalinya?”
Tiga orang Kerajaan Shi itu pun memicingkan mata mereka, mempelajari lukisan dengan saksama. Seorang gadis dengan mata bulat dengan warna cokelat terang menatap kembali ke arah mereka. Rambut cokelat bergelombangnya yang mencapai pinggang menguak kenyataan bahwa dirinya bukanlah keturunan Dataran Timur.
“Aku tidak mungkin melupakan gadis ini sekali melihatnya,” jawab Huang Jieli dengan yakin. “Penampilannya terlalu … unik.” Walau hatinya terasa gatal, merasa ada sesuatu yang familier mengenai lukisan tersebut, pria itu lanjut berkata, “Sayangnya, aku tidak mengenalinya.”
__ADS_1
Di sisi lain, Wang Xiangqi dan Wang Junsi masih terdiam dengan ekspresi kesulitan. Sekian lama Ren Jia menunggu, dan akhirnya dengan tidak sabar bertanya ke arah kedua orang tersebut, “Apa dia terlihat familier?”
Pandangan Wang Junsi masih tidak beralih dari lukisan. “Aku tidak merasa pernah melihat gadis ini … tapi di sisi lain, aku juga tidak merasa asing dengannya.” Dia melirik Wang Xiangqi yang juga memasang ekspresi kebingungan. “Xiangqi?”
“Aku … aku juga demikian,” jawab Wang Xiangqi sembari menghela napas. Dia sudah berusaha untuk mengobrak-abrik ingatannya, tapi dia tidak mampu mengingat apakah dia pernah bertemu gadis di dalam lukisan atau tidak. “Aku tidak tahu siapa dirinya, tapi di saat yang sama, aku tak merasa dia orang asing.”
Mendengar hal ini, Ren Jia dan Qing Zhuang saling berpandangan. Mereka seperti sedang berkomunikasi tanpa kata.
Huang Jieli sedikit curiga dengan sikap Ren Jia dan Qing Zhuang. Kalau memang gadis itu hanya dilarang masuk dari Kerajaan Zhou, maka untuk apa mereka masih mencarinya?
“Kenapa kalian mencari gadis itu?” tanya Huang Jieli. “Apa kalian berniat membunuhnya?”
Tebakan Huang Jieli membuat Qing Zhuang menoleh dengan cepat. “Membunuhnya?” tanya pria tersebut dengan sebuah senyum penuh arti. “Setelah semua yang terjadi, adalah sebuah kebodohan bila aku ingin membunuhnya.”
Pernyataan Qing Zhuang membuat Wang Junsi penasaran. “Apa maksud ucapanmu, Yang Mulia?”
“Sebelum dia dan Liang Fenghong meninggalkan Kerajaan Zhou, gadis itu meninggalkan sebuah pesan.” Qing Zhuang mengulang setiap kata yang disampaikan, “Penolakan pertama Qing akan berakhir dengan penyesalan. Penolakan kedua Qing akan berakhir dengan kemusnahan. Ketika hari penyesalan tiba, hanya keturunan kedua Wu yang bisa membantu menghindari kemusnahan.”
Huang Jieli dan Wang Junsi mengulangi ucapan Qing Zhuang beberapa kali, mencoba untuk mengerti makna dibalik pesan tersebut. Tak perlu waktu lama sebelum mereka menyadari sesuatu.
“Penolakan pertama adalah ketidakpercayaan terhadap peringatan atas musibah yang akan menimpa mendiang Kaisar Qing Shan. Ketika penyesalan tiba, maka dia meminta kalian untuk menemui Liang Fenghong?” tebak Wang Junsi.
Mendengar tebakan sang pangeran keempat Kerajaan Shi itu, Qing Zhuang dan Huang Jieli menatapnya dengan aneh.
“Ternyata, kau sedekat itu dengan sang pangeran kedua Wu,” ujar Qing Zhuang, membuat Huang Jieli menampakkan wajah terkejut. “Ya, inilah alasan Kerajaan Zhou kembali menjalin hubungan dengan Liang Fenghong.”
“Tunggu, tunggu sebentar,” Huang Jieli tak mampu menahan diri untuk angkat bicara. “K-kalian bermaksud mengatakan bahwa … Liang Fenghong adalah ….”
Qing Zhuang menganggukkan kepala. “Liang Fenghong adalah adik kandung dari Kaisar Wu Huatai, pangeran kedua dari Kerajaan Wu.”
___
A/N: Double update~ Apa akan ada third update? Hmmm
__ADS_1