Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 139 Menyelamatkan Wu Huatai


__ADS_3

 


 


“Kakak … minta maaf padamu,” pria itu berujar seraya menyapu air mata yang menuruni wajah saudaranya itu, membuat sang saudara menggenggam erat tangannya. “Kakak mengingkari …,” napas pria itu melemah, “… janji ….”


Terasa jelas oleh sang pemuda bahwa tangan dalam genggamannya menjadi semakin berat. Hal tersebut membuat jantungnya seperti dihujamkan ribuan belati, terutama ketika melihat sepasang manik hitam di hadapannya menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip, seakan tak rela meninggalkan dirinya.


“Kakak …,” panggil pemuda itu dengan suara bergetar. Namun, tidak ada jawaban dari sang lawan bicara. Mata pemuda itu terpejam, berusaha meresapi kehangatan terakhir yang tersisa pada tangan kakaknya. “Aku bersalah, aku bersalah padamu ….”


*Beberapa saat yang lalu*


“Ugh!” Dentuman keras terdengar diikuti dengan lenguhan rendah yang menyakitkan. Li Changsheng meringis akibat punggungnya yang menabrak tembok dengan keras akibat serangan yang diarahkan padanya. Dengan tangan yang mencekik lehernya, pria itu mengerang, “P-Perdana Menteri—!”


“Teganya kau!” geram Liang Shupeng sembari menguatkan pegangannya pada leher mantan Raja An itu. “Setelah semua yang Yang Mulia lakukan untukmu, kau malah—!”


“Ayah, hentikan!” Liang Fenghong memotong ucapan sang ayah dan memisahkannya dari Li Changsheng. Melihat keturunan Li itu terjatuh dan terbatuk keras, dia langsung memasang wajah khawatir. “Raja An, kau baik-baik saja?”


“Hong’er, apa yang kau lakukan?! Dia sudah bukan keluarga kerajaan!” geram Liang Shupeng dengan emosi membara.


Liang Fenghong mengangkat pandangannya, lalu berkata pada sang ayah, “Ayah … tenanglah dahulu.” Dia melirik ke arah Li Changsheng, lalu bertanya, “Rongya dan Permaisuri Tianzhen … apa mereka sungguh ….” Liang Fenghong tak berani menyelesaikan ucapannya.


Mendengar pertanyaan Liang Fenghong, Li Changsheng membeku. “Rong’er sudah tidak ada, prajurit Tubo membunuhnya,” jawabnya singkat dengan wajah yang terlihat begitu pahit. “Di sisi lain, kematian Permaisuri Tianzhen … terjadi akibat kelalaianku,” akunya.


Ucapan Li Changsheng membuat semua orang memasang wajah panik dan kebingungan, terutama Huang Qinghao dan para prajurit Shi. “Apa dia baru saja menyebutkan bahwa prajurit Tubo membunuh Tuan Putri Wu?” Sang Jenderal Besar Kerajaan Shi itu melangkah maju dengan cepat menghampiri Li Changsheng. “Apa maksudmu … hal ini ada sangkut-pautnya dengan Pangeran Keempat, Wang Junsi?!”


Sementara itu, Liang Shupeng menautkan alisnya. ‘Tubo? Kematian Permaisuri Tianzhen adalah kelalaiannya?’ benaknya mulai sibuk bertanya-tanya.


Li Changsheng berdiri dengan bantuan Liang Fenghong, lalu dia menyapu pemandangan sekeliling. “Aku tidak mengerti bagaimana kalian tiba di tempat ini,” ucapnya, membuat semua orang tersadar bahwa lingkaran api tak lagi terlihat. “Akan tetapi, semakin cepat kalian bertindak, maka semakin baik.”


Liang Shupeng sedikit memicingkan matanya. “Apa saat ini kau sedang berusaha untuk menunjukkan bahwa kau tidak ada sangkut-pautnya dengan penyerangan terhadap kerajaan?“


Pandangan Li Changsheng bertemu dengan mata Liang Shupeng, dua pasang manik mereka beradu selama beberapa saat. Kemudian, sang mantan Raja An berkata, “Percaya atau tidak, bukanlah keinginanku untuk mencapai titik ini.” Dia mengalihkan pandangannya kepada Huang Qinghao, “Aku percaya bahwa kau adalah Jenderal Besar Huang?”

__ADS_1


Huang Qinghao terkejut dengan tatapan yang diberikan oleh Li Changsheng, juga bagaimana pria itu mengetahui identitasnya. Merasa canggung, dia pun hanya menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Itu benar.”


Sebuah senyuman penuh ejekan terlukis di wajah Li Changsheng. “Pangeran keenam kerajaanmu itu memiliki hati yang begitu besar,” sindirnya. “Hal tersebut mengizinkannya untuk menyimpan ambisi yang begitu luar biasa pula.” Li Changsheng mendengus, “Dengan perhitungan luar biasa, dia berusaha menjadikan bidak lawan bekerja untuknya.” Ucapan ini membuat ekspresi semua orang menggelap, terutama Liang Fenghong yang sedari awal sudah yakin bahwa ada yang salah.


Di sisi lain, Liang Shupeng memutuskan untuk mengambil langkah maju dan bertaya, “Raja An, kau bermaksud untuk mengatakan bahwa Wang Chengliu menjebakmu?” Dia sudah tahu mengenai kelicikan sang pangeran keenam Kerajaan Shi. Namun, dia ingin tahu lebih jauh mengenai apa yang dimaksud dengan … ‘menjebak’.


Li Changsheng memejamkan mata sesaat, lalu membukanya hanya untuk menerawang ruang dan waktu. “Sedari awal, dia tidak membantu Wang Junsi kabur secara cuma-cuma,” tuturnya.


Li Changsheng kemudian menceritakan secara singkat mengenai apa yang terjadi dalam perjalanannya dengan Wu Rongya. Dia menyebutkan bagaimana para prajurit Tubo itu mengejar dan berusaha membunuh dirinya dan Wu Rongya, juga bagaimana Hudie datang dan menyelamatkan dirinya. Semua hal yang pria berparas wanita itu ucapkan juga tidak luput dalam cerita yang diutarakan Li Changsheng.


“Omong kosong!” geram Liang Shupeng ketika mendengar fitnah yang diarahkan Hudie pada Wu Huatai. “Yang Mulia bukanlah pria seperti itu,” imbuhnya. “Bagaimana mungkin kau percaya pada ucapan seorang asing?” Mata Liang Shupeng terarah kepada Li Changsheng, sedikit kecewa dengan kepercayaan yang sempat singgah di hatinya perihal mantan Raja An itu.


“Percaya?” Li Changsheng mendengus dengan sebuah senyuman mengejek terpasang di wajahnya. “Setelah semua tipu muslihat yang kulihat di istana, apa kalian kira aku sebodoh itu?” Balasan Li Changsheng membuat Liang Shupeng terdiam, dan pria itu pun melirik Liang Fenghong. “Aku yakin kau paham situasiku, Tuan Muda Liang.”


Liang Fenghong membalas tatapan Li Changsheng, berusaha keras untuk mempertahankan kewarasannya ketika mendengar bagaimana Wu Rongya dan Li Changsheng masuk perangkap Wang Chengliu. “Dalam keadaan tak berdaya, kau tak memiliki pilihan lain selain bersandiwara. Kau berpura-pura mengikuti, dan itu dilakukan demi mengetahui lebih.”


Senyuman tak berdaya terlukis di wajah Li Changsheng. Kemudian, ekspresi pria itu perlahan berubah serius. “Dan, karena kalian telah tiba … sudah waktunya untuk mengakhiri sandiwara.”


Gemerincing rantai bisa terdengar, begitu pula dengan napas berat dari pria yang berada di tengah ruangan sempit nan gelap itu. Bau amis darah masih begitu pekat dan memuakkan, terutama karena tercampur dengan aroma obat yang dibubuhkan pada luka.


“Bukankah sudah waktunya untuk bergilir?! Kenapa regu kedua masih belum datang?!” geram seorang prajurit Nanhan dengan kesal. Dia melirik ke belakang, ke arah pria yang merupakan kaisar Kerajaan Wu, Wu Huatai. “Astaga, aku berada terlalu lama di sini sampai aku muak melihatnya!”


Teman berjaganya langsung mendecakkan lidah. “Kecilkan suaramu. Kalau ada salah satu atasan yang datang dan mendengar ucapanmu itu, percaya atau tidak mereka akan mengulitimu?” Dia memutar bola matanya. “Kau tahu jelas sikap Jenderal Nanhan juga bukan yang terbaik,” imbuhnya.


Detik ucapan tersebut bergema di udara, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Kedua prajurit itu membeku, jantung mereka berdebar karena khawatir percakapan mereka didengar oleh pengunjung yang baru datang. Oh, salah. Mereka lebih takut kalau pengunjung itu adalah pria yang baru saja mereka bicarakan.


“Waktunya ganti giliran,” ujar satu dari dua orang prajurit yang baru saja tiba.


Kedua prajurit Nanhan itu menghela napas, lega karena ternyata hanya dua prajurit lain yang bertugas. “Ayo, ayo! Aku sudah muak dengan tempat ini!”


Melihat kawannya begitu bersemangat, prajurit kedua hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia pun berjalan mengikuti prajurit pertama di belakang. Akan tetapi, ketika dia melewati para prajurit dari regu dua, langkahnya berhenti.


Prajurit kedua itu berbalik dan bertanya sembari menautkan alis, “Kalian berasal dari regu mana?” Dia merasa sedikit aneh, ada aroma yang asing pada tubuh kedua prajurit yang baru tiba itu. ‘Seperti … bukan khas padang rumput ….’

__ADS_1


Melihat kedua prajurit itu terdiam dan tidak membalas pertanyaan kawannya, prajurit pertama merasa kesal karena harus menunggu lama. Dia mengambil langkah lebar menghampiri salah satu prajurit baru itu seraya berkata, “Hei! Apa kalian tul—!?”


Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, prajurit pertama tersedak karena sesuatu menyangkut di perutnya. Kepalanya melirik ke bawah, dan prajurit itu pun mendapati sebuah pedang telah terbenam di dalam tubuhnya.


“A-apa …?”


Melihat pedang yang menembus tubuh kawannya, prajurit kedua terbelalak. Dia dengan cepat berlari menjauhi tempat tersebut. Tak perlu orang cerdas untuk mengetahui bahwa kedua prajurit yang baru tiba itu adalah penyusup!


“Penyusup! Ada penyu—!” Tak jauh berbeda dengan prajurit pertama, prajurit kedua tak mampu menyelesaikan ucapannya. Dengan jelas telinganya mendengar tulang retak dan daging terkoyak dari belakang kepalanya sendiri.


Dalam hitungan detik, tubuh prajurit kedua pun ambruk ke depan.


Kegaduhan yang tercipta membuat Wu Huatai yang berada di dalam penjara mengangkat pandangannya. Dia melihat satu dari dua orang penyusup itu menarik lepas rencengan anak kunci pada pinggang salah satu prajurit, lalu orang tersebut berdiri dan membuka pintu penjara.


Bibir Wu Huatai yang retak mengeluarkan darah segar ketika dia memaksakan diri untuk berkata, “Kalian ….”


Hanya dengan api obor yang membantu penglihatannya, Wu Huatai mendapati wajah salah satu penyusup terlihat begitu familier untuknya. “Tenanglah, Yang Mulia. Kami akan mengeluarkanmu dari sini.”


Mendengar suara tersebut, Wu Huatai tak elak terbelalak. “Hong’er ….”


Liang Fenghong berdecak kesal, menyadari bahwa kunci-kunci di tangannya tidak mampu membuka belenggu rantai yang mengikat Wu Huatai. Dia mengambil langkah mundur, lalu mengayunkan pedangnya dengan keras. Dalam dua tebasan, pria itu berhasil memutus kedua sisi tali rantai.


Melihat tubuh Wu Huatai yang mulai terjatuh ke depan, Liang Fenghong dengan cepat menangkapnya. Dia bisa merasakan tubuh kaisar Kerajaan Wu itu bergetar selagi menyebutkan namanya berulang kali, “Hong’er … Hong’er ….”


Liang Fenghong merasa kedua maniknya memanas. Wu Huatai yang biasa terlihat begitu mulia … tanpa dia sangka mampu mencapai titik terpuruk seperti ini.


Tanpa memedulikan bau amis dari tubuh Wu Huatai, Liang Fenghong memeluk tubuh kakaknya itu dengan lembut. Dia tanpa sadar mulai menitihkan air mata. “Maaf aku datang terlambat … Kakak.”


___


A/N:


Hmm, bagian pertama itu maksudnya apa yaaa?

__ADS_1


__ADS_2