
Di depan halaman paviliun Qiufeng Ge, terlihat sosok Xiuchen berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Keningnya berkerut dan pandangannya terlihat tidak senang.
‘Ini gawat.’ Benak Xiuchen melayang ke berbagai arah. ‘Kalau Pangeran Keempat tidak mengunjungi kediaman Liang, maka hal tersebut akan membenarkan rumor bahwa dirinya memiliki perasaan pada Mingwei Junzhu.’ Mata pria itu tertutup, seakan mencoba mengurangi pening yang dia rasakan. ‘Kalau seperti itu, hubungan Pangeran Keempat dengan Tuan Putri Wu ….’
“Apa yang membuat Pengawal Xiuchen menekuk wajahnya seperti itu?” tanya sebuah suara yang mengejutkan Xiuchen.
Ketika Xiuchen menoleh ke arah sumber suara, dia terbelalak dan langsung berlutut dengan satu kaki. “Shufei,” salamnya seraya memberi hormat.
Huang Yan’an bersenandung, membalaskan salam bawahan putranya itu. Lalu, dia melirik ke dalam halaman paviliun Qiufeng Ge. Terlihat sosok Wang Junsi sedang terduduk sendiri di dalam paviliun.
“Sejak kapan dia berada di sana?” tanya Huang Yan’an tanpa mengalihkan pandangannya.
Xiuchen menutup matanya, tak berani menengadahkan kepala. “Sejak malam yang lalu.” Dia mengepalkan tangannya. “Silakan Shufei berikan hamba hukuman.” Xiuchen merasa kalau dirinya juga terlibat dalam membiarkan perasaan Wang Junsi terhadap Huang Miaoling menjadi begitu dalam.
Mendengar hal ini, Huang Yan’an menatap Xiuchen. Dia tersenyum pahit. “Apa kesalahanmu Xiuchen?” Itu bukanlah sebuah pertanyaan. Wanita itu menghela napas selagi memandang sosok putranya yang begitu menyedihkan. “Salahnya berharap terlalu banyak dan sulit menerima kenyataan.”
Huang Yan’an kemudian mengambil langkah masuk ke dalam halaman paviliun tersebut. Pijakannya terhadap jalanan berbatu yang sudah mulai ditumbuhi rumput liar itu sama sekali tidak membuat Wang Junsi menoleh.
Saat Huang Yan’an telah mencapai paviliun, dia melihat putranya itu melirik dirinya. Namun, tak ada salam maupun hormat yang diberikan.
“Sampai kapan kau mau seperti ini?” tanya Huang Yan’an dengan nada tertekan. “Di hari pernikahan mereka, kau melakukan hal seperti ini. Tidakkah itu terlalu hina, Junsi?” Kening wanita itu berkerut. “Tidak hanya terhadap Tuan Muda Liang dan Ling’er, melainkan juga terhadap dirimu sendiri.”
Isu menyangkut hubungan Wang Junsi serta Huang Miaoling telah lama tersebar. Namun, hal tersebut dengan cepat teredam ketika gadis tersebut kembali dengan perjanjian pernikahan dengan Liang Fenghong.
Beberapa hari yang lalu, karena Wang Junsi terus menghabiskan waktunya menenggelamkan diri dalam alkohol menjelang hari pernikahan Huang Miaoling, semua orang mulai membicarakan hubungan keduanya kembali. Bukan hanya mengenai kemungkinan Wang Junsi bersedih karena pernikahan gadis itu, melainkan juga Huang Miaoling yang meninggalkan pangeran tersebut untuk seorang pria dari Kerajaan Wu.
Apabila Wang Junsi tidak menghadiri pernikahan Huang Miaoling hari ini, tidakkah itu berarti dirinya secara tidak langsung membenarkan isu tersebut?
Wang Junsi meletakkan guci anggurnya. Lalu, dia mengalihkan pandangannya kepada sang Ibunda. “Apa yang Ibunda ingin aku lakukan? Tersenyum dengan bahagia dan mengucapkan selamat kepada mereka?”
Huang Yan’an menggelengkan kepalanya. “Aku ingin kau menghadapi masalahmu dengan mata terbuka,” balasnya. Namun, ucapan wanita itu hanya diikuti dengan dengusan Wang Junsi. Melihat pemuda itu kembali mengangkat guci anggur, Huang Yan’an berkata, “Apa kau tahu Putri Meilan sedang menunggu?
Wang Junsi menghentikan tindakannya untuk beberapa saat. “Apa urusannya denganku?” tanyanya, seakan tak peduli. Lalu, dia lanjut meneguk anggur dari guci.
Mata Huang Yan’an menangkap keraguan putranya. “Antar dia untuk menghadiri pernikahan.”
Alis Wang Junsi bertaut dan dia membanting guci anggurnya ke atas meja. “Ibunda!” Dengan keadaannya yang seperti ini, Wang Junsi tak percaya ibundanya itu akan menyuruhnya untuk menemui Wu Meilan. Apakah sang Ibunda ingin mempermalukan dirinya?!
“Apa kau baru saja menaikkan nada bicaramu di hadapanku?” tanya Huang Yan’an dengan pandangan menggelap.
__ADS_1
Wang Junsi menyisir rambutnya dengan jari. “Ibunda tahu bukan itu masalahnya!” Mata birunya bergetar saat menatap amarah yang terpancar di mata sang Ibunda. “Kalau Tuan Putri Wu ingin pergi, dia bisa pergi dengan Adik Keenam atau Adik Ketujuh. Aku yakin keduanya mewakili keluarga kerajaan dalam pernikahan hari ini.” Entah kenapa ada sedikit keengganan dalam matanya saat mengatakan hal tersebut.
Alis kanan Huang Yan’an meninggi, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Kau tahu jelas sang Tuan Putri Wu tidak menginginkan hal tersebut.” Lalu, dia menambahkan, “Dan, aku juga sadar kau juga demikian.” Wanita itu menunjukkan ekspresi menantang. “Kenapa?”
“Ibunda bergurau, aku sama sekali tidak berpikiran demikian,” balas Wang Junsi sembari berdiri dari kursinya. Bahkan setelah menghabiskan waktu semalaman menenggelamkan diri dalam minuman keras, pria itu bisa berdiri tegak dan bersikap normal. “Kalau tidak ada hal lain, putramu ini pamit mengundurkan diri.” Dia memberi hormat dan berjalan pergi.
Saat Wang Junsi melewati Huang Yan’an, wanita itu mencengkeram lengan putranya. Hal tersebut membuat pemuda tersebut menoleh dengan kaget. Ketika dia melihat pandangan sang Ibunda, Wang Junsi tahu kalau dia berada dalam masalah besar.
“Kau tahu jelas aku baru saja menurunkan sebuah perintah, bukan permintaan, Wang Junsi.”
***
Di dalam kediaman Liang, pesta berlangsung hingga hari mulai gelap. Liang Fenghong dengan pakaian serba merahnya terlihat mencolok di tengah para tamu yang mengunjungi kediamannya. Entah itu kenalan bisnis Lianhua Yuan, maupun para pejabat istana, semuanya ingin terlibat dalam sebuah pembicaraan dengannya—bahkan bila yang pria itu berikan hanyalah pandangan dingin semata.
Tiba-tiba, pengawal kediaman Liang mengumumkan dengan lantang. “Tuan Putri Wu, Pangeran Keempat, Pangeran Keenam, dan Pangeran Ketujuh tiba!”
Pengumuman tersebut membuat orang menoleh, memperhatikan sosok-sosok penting yang berjalan masuk ke dalam halaman utama kediaman Liang. Seluruh tamu bak lautan yang terbelah dua, memberikan jalan bagi para petinggi kerajaan itu untuk menghampiri pemeran utama dalam acara pernikahan tersebut.
Perdana Menteri Liang dan Liang Fenghong segera menyambut tamu penting mereka. “Salam kepada Tuan Putri Wu, Pangeran Keempat, Pangeran Keenam, dan Pangeran Ketujuh,” ucap Perdana Menteri Liang seraya memberi hormat.
Wu Meilan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis. “Aku mengucapkan selamat kepadamu, Tuan Muda Liang,” ujarnya sembari menatap kepada Liang Fenghong. “Bisa menikahi seseorang yang begitu kau cintai, itu adalah sebuah berkah.” Dia menambahkan, “Kau sebaiknya menjaga Mingwei Junzhu dengan baik.”
Liang Fenghong menganggukkan kepalanya. “Akan kuingat pesanmu, Tuan Putri.” Pandangannya memancarkan kegembiraan yang tak terbendung.
Plak!
“Ah!” Pangeran muda itu meringis ketika menerima sebuah tamparan di belakang kepalanya. “Kakak Keempat! Apa yang kau lakukan?!” gerutu Wang Xiangqi.
“Apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu?” tegur Wang Junsi.
Wang Xiangqi mengelus kepalanya yang malang dan berkata dengan nada setengah merengek, “Semua orang juga tahu aku hanya bercanda, kenapa kau begitu berlebihan?!” Lalu, dia bergumam, “Seakan merasa dirinya tersindir saja.”
Mendengar hal ini, Wang Junsi baru saja ingin melemparkan tamparan lain lagi kepada adiknya itu. Namun, sebelum dirinya berhasil, Wu Meilan dengan cepat berujar, “Pangeran Ketujuh sangat mahir bercanda.” Dia tertawa kecil, mencoba menceriakan suasana.
Ucapan Wu Meilan membuat para tamu terkekeh, dan Wang Junsi pun menghentikan tindakannya. Pangeran itu menggeram rendah dan memberikan tatapan mematikan kepada Wang Xiangqi, memperingatkan adik kecilnya itu untuk menjaga ucapannya.
Di sisi lain, beberapa orang yang menatap hal tersebut merasa sedikit aneh, seakan ucapan Wang Xiangqi ada benarnya. Mungkinkah Wang Junsi masih belum bisa merelakan Huang Miaoling?
Liang Fenghong bisa mendengar bisikan-bisikan yang terlontar, lalu dia mengambil langkah maju menghampiri Wang Junsi. “Pangeran Keempat—”
__ADS_1
Sebelum Liang Fenghong sempat melanjutkan ucapannya, seseorang menyelanya, “Kalau orang lain tidak tahu, mereka akan mengira bahwa Kakak Keempat sungguh memiliki hubungan dengan Mingwei Junzhu.”
Mata sang Tuan Muda Liang menggelap seiring dirinya mengalihkan pandangan pada sosok pria yang sedang berbicara. ‘Wang Chengliu!’ geramnya dalam hati.
Semua orang membelalakkan mata mereka dan menatap ke arah sang Pangeran Keenam dengan ekspresi terkejut. Di dalam benak mereka adalah … antara Wang Chengliu begitu polos atau memang sengaja memulai kekacauan!
Wang Chengliu melanjutkan, “Tentu saja, itu hanyalah sebuah omong kosong.” Dia juga menambahkan, “Siapa di istana yang tidak menyadari kedekatan Kakak Keempat dan Tuan Putri Wu, bukan?”
Mendengar hal ini, semua orang menjadi semakin tidak bisa berkata-kata. Wang Chengliu jelas sedang menutup sebuah rumor dengan rumor lain!
Wu Meilan terdiam di tempatnya. Apa yang diucapkan Wang Chengliu memang tidak salah, dirinya dan Wang Junsi belakangan ini memang dekat. Namun, kenapa perasaannya sedikit tidak nyaman mendengar nada bicara sang Pangeran Keenam? Dia merasa … pangeran keenam itu memiliki tujuan lain dengan mengungkit masalah tersebut.
“Adik Keenam, jangan menimbulkan rumor yang tidak pantas,” tukas Wang Junsi, ada amarah dalam pancaran matanya. “Ucapanmu mampu merusak reputasi Tuan Putri Wu,” dia memperingati adiknya itu. “Selain hubungan tuan rumah dan tamu kerajaan, kami tak memiliki hubungan lain.” Tanpa dirinya sadari, ucapannya itu membuat seseorang diselimuti kekecewaan.
Wang Chengliu mengerjapkan matanya, lalu membungkuk sedikit untuk meminta maaf kepada Wang Junsi dan Wu Meilan. “Ah, aku ceroboh dan tidak mampu menjaga sikap. Aku harap Kakak Keempat dan Tuan Putri Wu tidak memasukkan omong kosongku ke dalam hati,” jelasnya.
Merasa suasana akan semakin memburuk apabila para penghuni istana dibiarkan menjadi pusat perhatian, Perdana Menteri Liang pun segera berkata, “Tuan Putri, pelayan kediaman akan mengantarmu ke tempat dudukmu.” Lalu, dia beralih kepada para pangeran. “Ketiga yang mulia, silakan ikut denganku.” Perdana Menteri Liang mempersilakan ketiga pangeran tersebut.
Sebelum Wang Junsi pergi dengan ayahnya, Liang Fenghong segera berkata, “Pangeran Keempat, aku memiliki beberapa hal yang perlu dibicarakan denganmu.” Dia menambahkan, “Hal ini menyangkut pesan dari Kerajaan Wu yang baru saja tiba untukmu.”
Perdana Menteri Liang sempat terdiam, tak teringat adanya sebuah pesan dari Kerajaan Wu dalam beberapa minggu belakangan ini. Namun, dia mencoba bersikap sealami mungkin untuk menghapus kecurigaan apa pun.
“Ah, kalau begitu, kalian bicaralah.” Perdana Menteri Liang beralih pada Wang Chengliu dan Wang Xiangqi. “Mari, kedua yang mulia, ikutlah denganku.”
Wang Junsi tidak menolak undangan Liang Fenghong, dia hanya mengikuti pria itu menuju satu sisi halaman yang sepi. “Apa pesan dari Kaisar Huatai?” tanyanya secara terus-terang, tak ingin berbasa-basi dan menghabiskan waktu lebih lama dengan pria di hadapannya itu.
Pada saat ini, Liang Fenghong berbalik dan menatapnya. “Apa kau sungguh berpikir Kaisar Huatai memiliki hal yang ingin dibicarakan denganmu?” tanyanya kembali dengan pandangan gelap, sengaja berniat menghina. “Wang Junsi, apa kau pernah berpikir sebelum bertindak?”
Mendengar hal ini, Wang Junsi menautkan alisnya. “Liang Fenghong, kau sadar bahwa kau sedang menghina seorang pangeran dari kerajaan tempat kau menapakkan kakimu, bukan?” ancamnya.
Liang Fenghong menatap Wang Junsi tajam. “Kau mengancamku?” tanyanya.
“Apa yang akan kau lakukan kalau aku memang sedang mengancammu?”
Kedua pria itu menatap satu sama lain untuk waktu yang cukup lama, tak ada yang berbicara. Kalau ada seseorang yang berada di antara mereka, orang tersebut pasti sudah merasa sesak karena ketegangan yang terbentuk di antara keduanya.
Akhirnya, Liang Fenghong menutup matanya. Pria itu berusaha keras untuk menenangkan diri dan mengendalikan emosinya. Tujuannya membawa Wang Junsi berbicara empat mata bukanlah untuk bertengkar.
“Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mencari masalah denganmu,” ucap Liang Fenghong. “Namun, tidakkah kau sadar kalau kau baru saja melakukan sebuah kesalahan besar?”
__ADS_1
___
A/N: Hah! MP? Malam pertama? Kalian kira akan semudah itu kuberikan? MWAHAHAHA #plak Eh iya! #plak Woi, iya woi, sabar! Dikit lagi jir. Ditampar dong guee!