Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 87 Aku adalah Huang Miaoling


__ADS_3

“Ah, aku lupa memberitahunya mengenai sesuatu …,” Huang Miaoling mendadak berkata dengan pandangan kosong. Raut wajah wanita itu terlihat seperti sedang berpikir keras.


Di sisinya, Qiuyue terlihat bingung. “Apa yang kau bicarakan, Nyonya?”


Huang Miaoling terdiam sesaat, lalu dia menjawab, “Bukan masalah besar.” Gadis itu menghampiri ibu mertuanya dan berkata dengan sopan, “Ibu Mertua, masuklah. Jangan sampai dirimu masuk angin karena terlalu lama berdiri di luar.”


Yun Xia tersenyum mendengar perhatian yang diberikan menantunya itu. “Aku akan mendengarkanmu,” balasnya seraya menepuk-nepuk punggung tangan Huang Miaoling.


“Kakak Ipar.”


Sebuah panggilan menghentikan langkah Huang Miaoling. Wanita itu menoleh dan mendapati sosok Liang Jian menatapnya dengan pandangan penuh arti.


Dengan suara rendah, Liang Jian berkata, “Kudengar, Wakil Jenderal Chen berada di Lianhua Yuan.” Mata gadis itu memancarkan sebuah kerinduan dan kekhawatiran. “Aku ingin menemuinya.”


***


“Ingat ucapanku,” Huang Miaoling berkata dengan nada memperingati. “Jaga Nona Liang baik-baik. Jangan sampai ada yang mengetahui apa yang dia lakukan di sini,” jelasnya yang diikuti dengan anggukan Mudan.


“Aku mengerti, Nyonya,” jawab Mudan dengan wajah datarnya seperti biasa. Dia tidak mengatakan apa pun ketika melihat Huang Miaoling melenggang masuk ke dalam ruangan Liang Fenghong dan mengunci pintu.


Sejujurnya, Mudan sedikit terkejut dengan kedatangan Huang Miaoling yang begitu tiba-tiba. Dia mengira bahwa majikan perempuannya itu memiliki perintah yang akan diberikan tepat setelah keberangkatan ketuanya, menandakan wanita itu memiliki rencana tersendiri di belakang suaminya—sesuatu yang sebenarnya telah menjadi skenario biasa antara suami-istri itu. Namun, ekspektasi Mudan hancur ketika mengetahui bahwa tujuan Huang Miaoling hanyalah untuk mengantarkan Liang Jian kepada Chen Long.


‘Tak kusangka Nona Liang memiliki hubungan dengan Wakil Jenderal Chen,’ batin Mudan. ‘Yuanli dengan Yunlin, Meihua dengan Xiaoming, bagaimana denganku?” tanyanya dalam hati. Kemudian, dia mengangkat kedua pundaknya. ‘Yah, aku menyingkirkan masalah runyam dari hidupku.’


Setelah melamun beberapa saat, Meihua yang menunggu Huang Miaoling di depan ruangan Liang Fenghong dikejutkan oleh penampilan majikannya itu. “Nyonya,” panggilnya dengan sedikit termenung.


“Kenapa kau masih di sini?” tanya Huang Miaoling yang ingat jelas bahwa dia telah menurunkan perintahnya kepada Mudan untuk menjaga Liang Jian. “Jaga Nona Liang,” ulangnya lagi.


“A-aku mengerti.” Pandangan Mudan jatuh pada pakaian latihan yang dikenakan oleh Huang Miaoling. “Namun, ke mana kau berniat untuk pergi dengan dandanan seperti itu?” Mudan tak bisa menahan diri untuk bertanya.


Dengan rambut diikat tinggi ke atas serta guratan tegas yang ditambahkan pada alis dan sisi matanya, penampilan Huang Miaoling membuat Mudan teringat akan pertemuan pertamanya dengan wanita itu. Ya, Huang Miaoling yang menyamar menjadi pria.


Sebuah senyuman disunggingkan oleh Huang Miaoling. “Aku memiliki sebuah pasukan yang harus ditangani.”


***


Liang Fenghong memacu kudanya untuk mencapai gerbang ibu kota, berniat untuk segera memimpin pasukan keluarga Liang untuk meninggalkan Zhongcheng. Namun, begitu matanya menyapu pemandangan di depan ibu kota, dia hanya termenung menyadari kehadiran sejumlah pasukan yang bukan miliknya.

__ADS_1


Ketika dirinya menatap kehadiran seorang pria dengan baju zirah kehormatannya berada di barisan paling depan, Liang Fenghong mengerutkan keningnya. “Ayah Mertua?” panggilnya ke arah Huang Qinghao yang terduduk di atas kudanya dengan gagah. “Apa yang kau lakukan di sini?”


Huang Qinghao menatap ke arah besan dan menantunya. Dengan alis kanan yang terangkat, pria itu berkata, “Kau tidak tahu?” Lalu, dia tersenyum. “Apa masih perlu bagiku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”


Mendengar hal ini, Liang Fenghong langsung mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ayah mertuanya. Sebuah senyuman tipis terlukis di wajahnya selagi batinnya meneriakkan sebuah nama, ‘Ling’er ….’


***


“Apa kau dengar? Penasihat Liang baru saja pergi meninggalkan ibu kota bersama dengan Jenderal Besar Huang,” ucap seorang pria dengan pakaian santai selagi mengunyah roti daging.


Seorang pria lain dengan penampilan yang tak jauh berbeda menaikkan alisnya. “Begitukah? Apa itu berarti kita tidak akan lagi mendapatkan pelatihan dari Letnan Jenderal Song lagi?” Ada kekecewaan terpancar dari matanya.


“Apa kau bodoh? Tentu saja Letnan Jenderal Song tak bisa melatih kita lagi. Dia harus berperang demi negaranya!” balas pria lain seraya menepuk kepala pria yang sebelumnya. “Walau bukan negaraku, tapi Wu bisa dianggap kerabat dekat Shi, dan aku lebih memilih untuk pergi memperjuangkannya dibandingkan diam dengan tak berguna di sini.”


Pria pertama menelan roti dagingnya dengan susah-payah. Kemudian, dia menambahkan, “Selain itu, lebih baik menjadi bagian dari prajurit keluarga Liang dibandingkan seorang putri kecil.”


Mendengar hal ini, pria kedua segera melirik ke kanan dan ke kiri. “Kau gila?!” desisnya.


“Apa?”


“Tidakkah kau dengar mengenai apa yang diucapkan oleh Letnan Jenderal Song dahulu mengenai Mingwei Junzhu?!” Pria kedua merasa jantungnya berdebar, tahu bahwa dirinya sekarang terlibat dalam membicarakan rumor mengenai salah seorang bangsawan tinggi. “Wanita itu bukan wanita biasa! Dia adalah orang yang berhasil mencetuskan ide untuk menjatuhkan He Wudi dan juga Jenderal Besar Qiang!” Seakan masih belum cukup, dia menambahkan, “Bahkan Guru Besar Qing dan Yang Mulia Kaisar terus memujinya!”


Pria pertama mendecakkan lidah, lalu mengangkat kedua pundaknya. “Dasar bodoh, itu hanya permainan politik saja! Politik, kau dengar aku?!” Dengan lagaknya yang sok pintar, dia menjelaskan, “Tidakkah kau ingat bahwa Penasihat Liang merupakan pemilik Lianhua Yuan? Dia juga terlihat memiliki hubungan baik dengan Menteri Pertahanan Huang, juga dengan sejumlah pangeran.”


“Lalu?” Alis pria kedua terangkat. “Apa hubungannya dengan Mingwei Junzhu?” pertanyaan itu dibalas dengan sebuah pukulan pada kepalanya. “Hei!”


“Apa kau bodoh!?” maki pria pertama. “Demi mengikat putra satu-satunya Perdana Menteri Liang itu, Kaisar bekerja sama dengan Menteri Pertahanan Huang untuk menciptakan sandiwara agar Nona Pertama Huang bisa mendapatkan identitas terhormat. Coba saja kalian lihat bagaimana Jenderal Besar Huang memilih untuk membantu Wu dibandingkan mempertahankan perbatasa— Argh!” pria itu berakhir berteriak pilu ketika merasakan sebuah tangan mencengkeram kepalanya. “Sakit! Sakit! Baj*ngan mana yang—!”


Sebelum pria pertama menyelesaikan ucapannya, kedua pria lainnya segera berdiri dan memberi hormat, “H-hormat kepada Letnan Jenderal Fang!”


Fang Yu, pria yang dipanggil “Letnan Jenderal Fang” itu, menyeringai lebar. “Politik kudengar?” tanyanya dengan nada merendahkan. “Sebelum berlagak tahu tentang politik, lebih baik kau perhatikan terlebih dahulu sikap seorang prajurit yang baik!” geram pria itu seraya melemparkan pria ketiga dengan kasar ke tanah, menyebabkan pria tersebut terjerembap secara menyakitkan.


Bergegas sang pria ketiga bersujud memohon, “M-maafkan aku, Letnan Jenderal! Maafkan aku!”


“Baj*ngan-baj*ngan tengik!” geram Fang Yu dengan wajah mengerikan\, membuat ketiga prajurit di hadapannya gemetar ketakutan. “Hanya karena Letnan Jenderal Song berbaik hati kepada kalian beberapa waktu ini\, kalian lupa siapa pemimpin pasukan ini\, begitu?!”


“Tentu saja dirimu, Let—!” seru pria pertama yang malah disambut dengan sebuah kepalan tinju di kepalanya.

__ADS_1


“Pemimpin pasukan kita adalah Mingwei Junzhu, Baj*ngan, bukan aku!” maki Fang Yu lagi dengan amarah yang menggebu-gebu. “Segera bersihkan diri kalian dan kembali ke lapangan untuk berlatih!”


“B-baik!”


Melihat ketiga prajurit tersebut lari terbirit-birit, Fang Yu meludah ke tanah. “Sialan, ini semua karena Song Ning, bedeb*h itu. Kalau bukan karena dirinya merupakan bawahan langsung Perdana Menteri Liang, sudah kupastikan untuk mendaratkan sebuah pukulan ke wajahnya karena telah memanjakan prajurit-prajurit bodoh itu!” gerutunya sembari berbalik untuk pergi ke lapangan latihan.


Mendadak, suara ringkikan kuda yang melengking dan juga teriakan-teriakan bisa terdengar dari luar markas. Fang Yu yang terkejut segera menoleh. Tak lama, dia mendapati seekor kuda dengan surai putih yang berkilau menerobos gerbang markas. Sekelompok prajurit penjaga gerbang terlihat berusaha mengejar kuda tersebut, tapi mereka kalah cepat.


“Hentikan kuda itu!” teriak Fang Yu ketika melihat kuda putih itu mengacaukan formasi beberapa prajurit yang sedang berlatih di tengah lapangan.


Sejumlah prajurit pun berusaha untuk mendekati kuda itu. Namun, sekalinya ada seseorang yang mendekat, kuda tersebut segera menendang-nendang kakinya dengan ganas.


Karena tak ada yang berhasil menjinakkan kuda tersebut, Fang Yu mendengus dengan frustrasi, “Apa-apaan?! Dari mana datangnya kuda ini?!”


Bersamaan dengan pertanyaan itu, Fang Yu mendengar suara derap kaki kuda lain dari arah gerbang. Tepat pada saat dirinya menoleh, dia mendapati seekor kuda cokelat menerobos gerbang markas yang terbuka lebar. Berbeda dengan kuda sebelumnya, kali ini kuda cokelat itu memiliki penunggang yang mengendalikannya.


Melihat bagaimana orang tersebut memacu kudanya, para prajurit segera menghindar dan menjauh dari jalur yang sekiranya akan dilalui tamu tak diundang itu. Tak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa orang tersebut akan memacu kudanya untuk menghampiri kuda putih gila di tengah lapangan. Yang lebih tak disangka lagi adalah … orang asing itu memutuskan untuk melompat dari kudanya dan berakhir menunggangi kuda putih itu.


“Yi,” orang tersebut berusaha menenangkan kuda putih yang sekarang dia tunggangi. “Bersikaplah yang baik, Mazu!” bentak orang tersebut dengan kening berkerut, sedikit marah.


Ajaibnya, kuda putih tersebut langsung mendengus dan terdiam. Bila dilihat dengan jeli, mungkin bisa terlihat bahwa kuda putih itu sedang cemberut, tapi tak berani kembali berulah karena takut.


Dengan kening berkerut, Fang Yu memutuskan untuk menghampiri orang asing itu. “Hei! Siapa kau?!” teriaknya. “Apa kau tahu tempat apa yang baru saja kau dan kudamu itu terobos?!”


Mendengar hal ini, orang itu mengalihkan pandangan dari kuda putihnya pada Fang Yu. Pancaran mata tenang dari manik hitam segelap malam itu membuat sang letnan jenderal membeku, sedikit terintimidasi.


Dari teknik meringankan diri yang ditunjukkan orang asing itu, Fang Yu yakin bahwa penunggang kuda itu memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi. Namun, dia adalah letnan jenderal pasukan Longzhu, dia memiliki reputasi yang harus dijaga.


“Hei! Letnan Jenderal Fang bertanya padamu!” teriak seorang prajurit yang tidak sabar dengan sikap tak sopan orang asing itu.


Ketika tahu identitas lawan bicaranya, mata orang tersebut membesar, membuat semua orang berpikir sesaat bahwa dia pasti menyesal telah bersikap tak sopan pada Fang Yu. Namun, ucapan yang keluar dari bibir tipis orang asing itu sekejap membuat semua orang bungkam.


“Jadi kau Letnan Jenderal Fang?” Pandangan orang itu menyapu penampilan Fang Yu dengan tidak sopan, membuat pria yang diperhatikan itu bergetar—marah. Tak peduli dengan reaksi lawan bicaranya, orang tersebut melanjutkan, “Salam kenal, Letnan Jenderal. Semoga kerja sama kita di hari ke depan menyenangkan.”


Kali ini, semua orang benar-benar kebingungan. “Apa yang orang gila ini bicarakan?!” geram salah satu prajurit, tak terima atasannya dihina sedemikian rupa.


Mendengar ucapan prajurit tersebut, orang itu seakan baru tersadar. “Ah, kalian tidak mengenaliku.” Dia terkekeh, senang karena ternyata kemampuan penyamarannya tidak berkurang. “Mulai hari ini, aku akan bertanggung jawab atas pelatihan kalian.” Orang itu melirik ke arah Fang Yu. “Aku adalah Huang Miaoling.”

__ADS_1


___


A/N: Maap, hari ini author cuma bisa kasih filler doang untuk transisi. Otak lagi mampet ntah napa. Hahaha


__ADS_2