
Keesokan harinya, Huang Miaoling terlihat telah siap dengan jubah kehormatannya. Mahkota putri tingkat ketiga telah bertengger di kepalanya, memamerkan kuasa dan status yang dia miliki. Di sisi pinggang wanita itu, sebuah pedang bertengger untuk memperingatkan semua orang akan kenyataan dirinya juga seorang jenderal.
Selagi menyisir jari-jarinya di surai Mazu, Huang Miaoling memberikan pandangan kosong ke udara. ‘Waktuku tak banyak,’ ucapan Lan’er itu masih terngiang dalam benaknya. ‘Kau harus membunuh Wang Chengliu,’ dan permintaan tersebut tak berhenti menghantuinya.
“Nyonya.”
Sebuah suara mengejutkan Huang Miaoling, membuatnya menoleh cepat ke arah samping. “Qiuyue,” panggilnya sembari tersenyum tipis. “Kakak Pertama sudah datang?” tebaknya yang diikuti anggukan kepala pelayan pendampingnya itu.
“Menteri Huang berkata bahwa dia akan menemanimu datang ke istana,” mata Qiuyue melirik ke arah Mazu yang mendadak mendengus ketika dia mengatakan hal itu. ‘Apa ini perasaanku atau Mazu mampu mengerti bahasa manusia?’ batin pelayan itu sembari tersenyum tak berdaya.
Helaan napas keluar dari bibir Huang Miaoling, dan dia memijit pelipisnya. “Baiklah,” ujarnya seraya menepuk Mazu pelan. “Kau dengar itu, Mazu? Lagi-lagi, aku tak bisa membawamu ke istana.” Wanita itu pun tertawa melihat kudanya menoleh dan memberikan mata yang berkaca-kaca, seakan kecewa.
Ketika mendengar langkah kaki dari luar kereta, Huang Yade membuka tirai kereta dan menatap Huang Miaoling dari atas ke bawah. “Mingwei Junzhu … atau Jenderal Huang?” tanya Huang Yade sembari menaikkan alis kanannya. “Beruntung kau tak datang ke istana bersama Liang Fenghong dengan pakaian seperti ini. Kalau tidak, aku tak akan bisa membedakan yang mana yang istri dan yang mana yang suami,” candanya.
Huang Miaoling tersenyum tipis, lalu melangkah masuk ke dalam kereta. Dia tahu bahwa Huang Yade tak ingin dirinya menarik terlalu banyak perhatian dengan menunggang kuda di sepanjang jalanan ibu kota, terutama setelah kejadian malam yang lalu.
Wang Chengliu jelas akan mengutus orang untuk menyerang secara diam-diam.
“Kau sungguh akan melakukan ini?” Huang Yade yang terduduk di hadapan Huang Miaoling berkata, “Hari ini, kau harus berdiri sendiri di pengadilan.” Tangan kanan Huang Yade mengetuk tembok kayu kereta, memberikan tanda pada kusir. “Walau penampilan mungkin membantumu terlihat lebih percaya diri, tapi kenyataan ada begitu banyak orang yang ingin menekanmu tidak akan menghilang.”
“Apa kau tak akan membantuku, Kakak Pertama?” tanya Huang Miaoling dengan sebuah senyuman tipis. “Bukankah aku masih memiliki dirimu, Kakek Wei, juga Perdana Menteri Situ?” Dia menegapkan tubuhnya, mencoba menyeimbangkan tubuh ketika merasakan kereta yang mulai bergerak. “Ditambah dengan Bibi Yan’an yang menjadi salah satu selir terhormat, siapa yang berani dengan terbuka menyerang kita?” Huang Miaoling tertawa setelah mengatakan hal tersebut, “Terkecuali keluarga kerajaan, tentu saja.”
“Jangan bicara sembarangan,” desis Huang Yade. “Namun, ucapanmu tidak salah.” Pria itu menghela napas. “Oleh karena itu, bila kau terlalu banyak ikut campur dengan pemerintahan, siapa yang bisa menduga apa yang akan Kaisar Weixin lakukan padamu?”
Tiga keluarga besar Kerajaan Shi saling terikat, tapi keluarga kerajaan memastikan bahwa ada tali yang mengekang mereka, yakni tali pernikahan. Pernikahan Huang Jieli dengan Shang Meiliang terlaksana guna mengikat kekuatan militer keluarga Huang, Huang Yan’an dan Situ Mingmei menjadi wanita sang kaisar guna memperkuat kedudukan Wang Weixin di pengadilan, dan keluarga Wei tak akan berani mengambil tindakan sembarangan karena ikatan keluarga dengan keluarga Huang.
Namun, sekarang muncul sosok Huang Miaoling.
Walau statusnya sebagai Mingwei Junzhu disebutkan sebagai hadiah dari sang kaisar, tapi sebenarnya identitas tersebut merupakan rantai yang diikat pada leher Huang Miaoling. Ya, status itu digunakan oleh Kaisar Weixin untuk menekan dan menggunakan sang Nona Pertama Huang. Apabila di masa depan Huang Miaoling melakukan jasa besar bagi Kerajaan Shi, hal tersebut akan diatasnamakan sebagai keberhasilan keluarga kerajaan.
“Tenanglah,” balas Huang Miaoling, lalu dia menutup matanya. “Diriku sudah menyelam terlalu dalam, Kakak.” Sejuta siasat mengalir di dalam otaknya, sesuatu yang perlu dia persiapkan untuk pengadilan nanti. “Di awal, aku menjungkirbalikkan istana belakangnya. Sekarang, Yang Mulia tak akan terkejut dengan keterlibatanku dalam pengadilannya.” Kelopak mata wanita itu terbuka, memancarkan sebuah kegelapan yang menenggelamkan dari manik sehitam malamnya. “Sebaliknya, dia menginginkanku untuk membereskannya.”
***
Setelah sampai di pengadilan, sejumlah orang menatap Huang Miaoling dengan pandangan menilai. Bahkan tanpa suaminya, wanita itu memancarkan aura dominan yang mampu menekan sebagian besar cacian tersembunyi.
Ketika dirinya masuk ke dalam barisan dan berdiri di posisi yang telah diperuntukkan, Huang Miaoling mengangkat pandangannya ke area seberang. Dia cukup terkejut ketika mendapati Wang Chengliu berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
‘Ah, karena hanya tersisa Pangeran Keenam dan Ketujuh,’ batin Huang Miaoling, mengerti apa yang menyebabkan Wang Chengliu berada dalam barisan yang sejajar dengannya. Tak ingin terlalu lama mendaratkan pandangannya pada Wang Chengliu, Huang Miaoling melirik ke sekeliling, ‘Hmm …,’ dia menyadari ada seseorang yang tak hadir.
Selagi Huang Miaoling sedang sibuk menyapu pemandangan di sekitarnya, dia mendapati sosok Shao Yanjun yang menatap ke arahnya. Pria itu memasang wajah ketakutan selama sesaat, lalu dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.
Huang Miaoling tidak menghiraukan Shao Yanjun dan bergegas menghampiri Wei Shulin, memberi hormat pada kakek dari pihak ibunya itu. Dia juga bercakap-cakap dengan beberapa kerabat dan pejabat lain. Berbeda dengan wanita lain yang berjuang membangun koneksi di kediaman, Huang Miaoling harus berjuang untuk mempertahankan koneksi di pengadilan.
Selesai berbincang singkat dengan pejabat lain, Huang Miaoling mengundurkan diri untuk kembali ke posisinya. Pada saat itu, matanya menangkap pandangan yang diberikan oleh Wang Chengliu, sebuah pandangan waspada.
Tepat pada saat itu, sebuah senyuman merekah di wajah Huang Miaoling tanpa sengaja. Sungguh, senyumannya terlalu lebar, membuatnya terlihat seakan-akan dirinya sangat bahagia. ‘He he.’ Namun, kenyataannya itu merupakan senyuman merendahkan.
Melihat ekspresi yang terpampang di wajah Huang Miaoling, wajah Wang Chengliu berubah gelap. Pria itu yakin sekarang bahwa berita mengenai apa yang terjadi antara dirinya dan Huang Wushuang telah sampai ke telinga wanita itu.
Ucapan Wang Chengliu di malam pernikahannya membuat Huang Miaoling merasa lucu dan geli, “Kau adalah permaisuriku!” teriak pria itu di malam tersebut.
‘Tak mendapatkan permaisurimu, kau beralih untuk berusaha mendapatkan kembali selirmu, ya?’ Pandangan wanita itu tertancap lurus kepada sang pangeran keenam. ‘Berikutnya, apa kau akan berusaha mendapatkan takhtamu?’ Tangan Huang Miaoling mengepal, menyuarakan isi hatinya, ‘Tidak di kehidupan ini.’
Selagi dua pasang manik itu saling beradu dan berperang, mendadak pintu utama pengadilan istana terbuka. Kasim mengumumkan kedatangan sang Putra Langit, lalu semua pejabat berdiri dan memberi hormat, “Hormat kepada Yang Mulia Kaisar!”
Kedatangan Kaisar Weixin merupakan awal dimulainya rapat pengadilan istana. Semua pejabat mengajukan kesulitan dan pemikiran mereka terhadap kerajaan, mencoba menemukan solusi atas semua masalah yang ada.
Selama pembahasan, Huang Miaoling sadar bahwa setiap dirinya mengajukan sesuatu, Wang Chengliu akan memberikan tatapan mematikan ke arahnya. Hati sang Mingwei Junzhu bertanya-tanya, apakah ini rupa Wang Chengliu di kehidupan lalu ketika dirinya menentang kebijakan pria itu di pengadilan istana?
Huang Miaoling yang berada di barisan paling depan karena ketidakhadiran Wang Xiangqi langsung memberi hormat layaknya seorang pejabat. “Yang Mulia, aku merasa bahwa usulan Menteri Yang tidaklah salah.”
Yang Tianbai terlihat sedikit terkejut dengan ucapan Huang Miaoling. Pria itu tak menyangka wanita itu akan mengikuti keinginannya setelah berkali-kali menentang usulannya yang lain.
Huang Miaoling melanjutkan, “Isu kematian Pangeran Kelima telah tersebar sejak lama, entah siapa yang melakukannya,” dia melemparkan sebuah lirikan kepada Wang Chengliu, membuat pria itu menggertakkan gigi, “dan demikian, tak ada bedanya melakukan ritual kematian Pangeran Kelima sekarang maupun nanti.”
Di saat ini, Kaisar Weixin melirik ke arah putra keenamnya, menangkap pertukaran pandangan Huang Miaoling dan pemuda itu. “Pangeran Keenam, apakah kau memiliki tanggapan?”
Mendengar namanya dipanggil, ekspresi Wang Chengliu sekejap berubah tenang. Dia memberi hormat dan berkata, “Tidak, Yang Mulia. Mingwei Junzhu telah menjelaskan dengan sangat baik.” Selagi melemparkan sebuah pandangan dan senyuman penuh arti kepada Huang Miaoling, dia menambahkan, “Sudah waktunya untuk memberikannya ketenangan.”
Kalimat terakhir Wang Chengliu membuat pelipis Huang Miaoling berkedut. Kata “-nya” yang disebutkan oleh Wang Chengliu … sebenarnya merujuk kepada siapa? Wang Wuyu … atau Huang Miaoling?
‘Apa lagi sebenarnya yang telah dipersiapkan oleh pria itu?’ desis Huang Miaoling dalam hati ketika mendapati ekspresi menyebalkan terlukis di wajah Wang Chengliu.
Tiba-tiba, pintu pengadilan kembali terbuka lebar. Semua orang terlihat kebingungan ketika mendapati seorang pengawal berlari masuk. “Yang Mulia, laporan mendesak!” Tangan pria itu terlihat menyodorkan sebuah surat di tangannya, menandakan laporan tersebut bersifat rahasia, masalah mengumumkan isinya atau tidak kepada para pejabat berada di tangan Kaisar Weixin.
__ADS_1
Kasim Gao berjalan mendekati prajurit tersebut dan meraih surat itu. Kemudian, setelah memeriksa singkat keamanan surat itu—memastikan tak ada racun di sana—sang kasim pendamping memberikannya kepada Kaisar Weixin.
Tak ada sedikit pun ekspresi ragu atau bingung di saat Kaisar Weixin menerima surat tersebut. Namun, setelah dia membuka dan membaca isinya, dalam hitungan detik, ekspresi di wajah Kaisar Weixin berubah mengerikan.
Dengan sebuah pukulan keras pada meja kebesarannya, Kaisar Weixin tak memedulikan keberadaan para pejabat dan memaki, “Pembangkang kecil!”
*Beberapa hari kemudian*
“Serang!” teriak seorang pria dengan pedang yang diacungkan lurus ke depan.
Baju zirah pria itu dihiasi bekas darah yang telah mengering, dan rambut-rambut pendek juga terlihat menghiasi wajahnya yang tampan. Hal tersebut menandakan bahwa perang yang dia ikuti ini telah berlangsung untuk berhari-hari lamanya.
“Haaa!” teriakan dari ribuan prajurit lain mengiringi, mengobarkan semangat pantang mundur yang membara ketika melihat jumlah pasukan musuh yang tidak mengimbangi.
Dari kejauhan, seorang pria lain dengan baju zirah berkilau dan topi baja terduduk di atas kudanya. Penampilannya yang jauh lebih mencolok dibandingkan prajurit lain menunjukkan statusnya yang terhormat, serupa dengan pria yang meneriakkan kata “serang” beberapa saat yang lalu.
Seorang prajurit menghampiri pria yang terduduk di atas kuda itu dan memberi hormat, “Lapor, Pangeran Keempat, tebakan kita benar, jumlah Pasukan Zhou memang jauh lebih sedikit dibandingkan yang seharusnya. Walau telah dibantu Suku Sihan, tapi mereka tak mungkin bisa mengalahkan kita.” Prajurit itu menambahkan, “Dengan kemampuan Wakil Jenderal, perang ini akan berakhir dalam waktu singkat.”
Mendengar hal ini, Wang Junsi mengerutkan keningnya. “Begitukah?” Entah kenapa, walau mendengar kabar baik ini, sang pangeran keempat tidak merasa hatinya tenang. Sebaliknya, dia merasa ada yang janggal.
Pandangan Wang Junsi kembali terarah ke depan, menatap debu yang mengepul akibat entakan kaki kuda pada tanah. Puluhan ribu pasukan berkuda dan berjalan dari dua kerajaan saling menyerang satu sama lain, berusaha untuk mempertahankan nyawa dengan mencabut nyawa orang lain.
Xiuchen yang juga berada di atas kuda di sebelah Wang Junsi berkata dengan ekspresi kesulitan, “Bukankah ini … sama saja dengan pembantaian?”
Walau regunya belum digerakkan untuk melawan musuh, tapi Xiuchen sadar bahwa dirinya adalah bagian dalam perang. Membunuh bukanlah hal yang asing bagi Xiuchen, tapi tidak dengan membantai. Membantai dan membunuh, itu jelas dua hal yang berbeda. Bila dibandingkan, Xiuchen lebih memilih melakukan hal pertama dibandingkan yang kedua.
Ucapan pengawal pendampingnya itu membuat Wang Junsi semakin gusar, hatinya bertanya-tanya, ‘Zhou mengirimkan sebagian pasukannya bersama dengan Suku Nanhan untuk menguasai Wu. Memang hal itu berhasil, tapi kenapa mereka juga melancarkan serangan dalam waktu berdekatan bila sudah mengetahui akan kalah jumlah?’ Jantungnya berdetak kencang, seakan hampir mendapatkan jawaban. ‘Apa … mereka sungguh melancarkan serangan tanpa niat untuk menang?’
Selagi Wang Junsi sibuk memikirkan hal tersebut, dia mendengar suara derap kaki kuda. Kepala pangeran tersebut berputar ke belakang, dan matanya memicing untuk melihat lebih jelas siapa sebenarnya tamu tak diundang itu.
Ketika sosok dengan baju zirah itu semakin mendekat, beberapa prajurit di barisan belakang segera bersiaga. Namun, Wang Junsi malah bergegas memutar kudanya dan menghampiri, berharap bahwa penglihatannya salah dan orang itu bukanlah orang yang dia kenal.
Namun, saat orang itu berteriak, Wang Junsi terpaksa harus kecewa, “Kakak Keempat!”
Tangan Wang Junsi mengepal, dan dia pun menggeram, “Wang Xiangqi?!”
____
__ADS_1
A/N: zzz ... zzz ... oh?! Did I miss anything? o.o