
Seisi ruang tengah kediaman Huang diselimuti kesunyian, tapi semua tatapan terarah kepada satu orang.
Liang Fenghong.
Di antara semua orang, Huang Junyi adalah orang yang menunjukkan reaksi paling besar. Dia melirik ke arah Huang Miaoling, melihat bahwa wanita itu tidak terkejut dengan pernyataan sang suami.
“Kakak Ketiga, kau … mengetahui hal ini?” tanya pemuda itu.
Melihat Huang Miaoling menganggukkan kepalanya, Huang Yade bertanya, “Sejak kapan?” Dia tidak menunggu Huang Miaoling menjawab dan malah menebak, “Hari eksekusi He Wudi.” Suara Huang Yade terdengar begitu yakin. “Kau mengetahuinya di hari-hari itu.”
Huang Miaoling menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Benar.” Dia menambahkan, “He Wudi sendiri yang memberi tahu diriku.”
Mendengar hal ini, Huang Yade melirik Liang Fenghong. Kerutan pada kening pria tersebut menjadi semakin dalam.
“Kalau bukan karena He Wudi, apakah kau tidak berniat memberitahukan kenyataan ini kepada Miaoling?” tanya Huang Yade, tidak merasa tersanjung ketika mengetahui iparnya adalah keturunan Kerajaan Wu. “Kalau bukan karena situasi saat ini, apa kau juga tidak akan pernah memberitahukannya kepada kami?”
Helaan napas bisa terdengar dari sisi Huang Miaoling. “Masalah ini tidak sesederhana yang kau pikirkan, Kakak Pertama.” Dia melirik ke arah sang ayah, merasa terdiamnya Huang Qinghao merupakan sebuah pertanda bahwa pria itu mengetahui sesuatu. “Ini bukan sekadar menyembunyikan atau berkata jujur.”
“Kalau begitu, jelaskan padaku agar aku mengerti,” balas Huang Yade dengan tegas. Namun, ketika melihat kebingungan dan keraguan terpancar di mata adiknya, pria itu berkata, “Miaoling, kalau Fenghong sungguh keturunan Wu, itu berarti dia adalah …,” Huang Yade terpaksa berkata jujur, “… dia adalah pengganti Wu Huatai.”
Huang Hanrong yang berada di ruangan itu merasa sangat bingung. Kalau Liang Fenghong sungguh pengganti Wu Huatai, bukankah itu berarti kakak ketiganya akan menjadi permaisuri? Bukankah itu hal baik untuk keluarga Huang?
Lalu, kenapa suasana menjadi setegang ini? Kenapa Huang Yade seakan … enggan hal itu terjadi?
“Sebagai kerajaan terkuat dengan daerah terluas, bahkan bila Wu sekarang berada di posisi lemah, tapi dengan bantuan Zhou, menjatuhkan Wang Chengliu dan mengambil alih Shi hanyalah masalah waktu,” jelas Huang Yade. “Kau … ingin mempersatukan Dataran Timur?” tanyanya kepada Liang Fenghong.
“Kakak Pertama …,” Huang Miaoling berusaha untuk menengahi.
“Aku tidak berbicara denganmu,” tegas Huang Yade dengan mata membara.
Kalau cerita Liang Fenghong benar, bahwa dirinya telah lama berhubungan dengan Qing Shan dan Qing Zhuang, lalu sekarang menikahi Huang Miaoling dari Shi, itu berarti pria itu memiliki ambisi dan kelicikan yang mengerikan. Bila disetarakan, pria itu bisa berbanding sejajar dengan Wang Chengliu!
Membiarkan dirinya tenggelam dalam permainan Liang Fenghong, juga mengizinkan sang adik perempuan ikut terlibat. Hal ini merupakan sesuatu yang melukai ego dan juga perasaan Huang Yade. Ini membuktikan bahwa dirinya terjebak dan telah diperalat oleh sang keturunan tersembunyi Wu untuk waktu yang begitu lama!
“Aku tidak akan pernah naik takhta,” ujar Liang Fenghong setelah sekian lama terdiam. Dia melirik ke arah para pria Huang. “Aku tidak lagi memiliki takdir itu.”
Kening Huang Yade berkerut. “Apa maksudmu?” Dia merasa bahwa ucapan Liang Fenghong sedikit tidak masuk akal. Dengan kematian Wu Huatai, kalau bukan dirinya yang menggantikan sang saudara, siapa lagi? ‘Tidak mungkin Wu Huatai akan memberikan takhta kepada Li Changsheng. Bahkan bila dia mau, rakyat Wu tidak akan mengizinkan hal tersebut untuk terjadi.’
__ADS_1
Di saat ini, sebuah suara berat berkata, “Terkadang, ketidaktahuan adalah sebuah berkah.”
Semua orang melirik ke arah orang yang tak lain adalah Huang Qinghao.
Huang Qinghao yang sedari tadi terdiam akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Namun, kali ini, sudah waktunya bagi kami untuk mengetahui kebenarannya.” Dia menatap Huang Miaoling dan Liang Fenghong secara bergantian. “Apa yang kalian alami, apa yang kalian sembunyikan, juga apa saja yang telah kalian rasakan … Ayah ingin mengetahuinya."
Huang Miaoling dan Liang Fenghong melirik satu sama lain. Mereka memiliki kekhawatiran, tapi pada akhirnya memutuskan untuk mulai menceritakan kehidupan di masa lalu. Bagaimana Huang Miaoling menikah dengan Wang Chengliu dan mendorongnya ke atas takhta, bagaimana keluarga Huang jatuh dan bagaimana Liang Fenghong memutarbalikkan waktu.
Para pria keluarga Huang berakhir tercengang. Mereka merasa cerita kedua orang itu sangat tidak masuk akal. Namun, di saat yang bersamaan, hal tersebut membuat tindakan Liang Fenghong dan Huang Miaoling selama ini menjadi sangat masuk akal.
Huang Hanrong ingin sekali berkata, “Kakak, dibandingkan seorang jenderal, kau lebih pantas menjadi seorang penulis.” Namun, keseriusan dalam wajah Huang Miaoling dan Liang Fenghong membuat dirinya bungkam. Dia tidak bisa tidak percaya.
Di sisi lain, Huang Yade teringat akan ucapan Huang Miaoling beberapa bulan yang lalu, “Kakak, kalau aku bilang … aku mendapatkan sebuah mimpi yang memberiku kesempatan untuk mengetahui masa depan, apakah kau akan percaya?”
Mengingat pertanyaan tersebut, Huang Yade menghela napas. ‘Jadi, demikian …,’ batinnya. Dia mengangkat pandangannya dan menatap Liang Fenghong dan Huang Miaoling. “Jadi, siapa sebenarnya gadis bernama Lan’er ini?”
Huang Miaoling melirik Liang Fenghong, tapi dia hanya melihat pria itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur seraya melirik istrinya. “Yang jelas, dia selalu berkata bahwa tujuannya adalah untuk membenarkan yang salah.”
‘Sama seperti yang selalu Lan’er katakan padaku,’ batin Huang Miaoling.
Mendadak, Huang Junyi bertanya, “Dengan kekuatan seperti itu, apa yang membuat kalian berpikir bahwa apa yang kalian lihat dan ingat adalah kenyataannya?”
Huang Junyi menatap Huang Miaoling dan Liang Fenghong secara bergantian. Sejujurnya, dia merasa ragu mengatakan hal ini, khawatir akan menimbulkan sesuatu yang bisa mengacaukan semuanya.
“Kalau memang gadis bernama Lan’er itu mampu melakukan … hal-hal luar biasa itu, bukanlah tidak mungkin baginya untuk memanipulasi Kakak dan Kakak Ipar, bahkan mungkin kita semua,” jelas pemuda bermata unik itu, terlihat berpikir keras. “Apa yang bisa memastikan bahwa apa yang dia anggap benar adalah benar dan apa yang dia anggap salah … adalah sebuah kesalahan?”
Sekejap, seisi ruangan hening. Huang Miaoling dan Liang Fenghong membeku di tempat.
Huang Junyi menatap Huang Miaoling dalam-dalam, lalu bertanya, “Apa yang membuatmu begitu percaya pada gadis itu?”
***
Suara nyaring pecahan kaca terdengar bergema di dalam ruangan. Tetesan darah bisa terlihat berkumpul semakin banyak di lantai kayu ruangan tersebut.
“Beraninya dia!” geram pria berkulit pucat dengan amarah membara dari manik merahnya yang menyala.
Pria tersebut menatap ke arah cermin yang hancur akibat tinjunya, dan ekspresi marah itu perlahan berubah menjadi ekspresi penuh ejekan. Benaknya terus mengulangi adegan di mana tuan muda keenam keluarga Huang menyuarakan kecurigaannya pada segala hal yang Lan’er lakukan.
__ADS_1
Lu Si berbalik dan berjalan ke dalam satu ruangan dengan langkah berat. Dia menghampiri tempat tidur yang di atasnya terbaring sosok gadis muda tak berdaya.
Lan’er.
“Apa kau dengar bagaimana mereka dengan begitu mudah membongkar semuanya?” ujar suara berat Lu Si, penuh dengan amarah menggebu. “Tak hanya itu, apa kau dengar bahwa semua usahamu berakhir dipertanyakan? Tidakkah itu membanggakan?” Ada nada cemooh dari ucapannya.
Semua ucapan Lu Si tidak mendapatkan tanggapan. Mata gadis yang terbaring di atas tempat tidur itu masih tertutup selagi bibirnya yang begitu pucat terkunci rapat.
“Apa begitu menyenangkan hidup seperti ini?” tanya Lu Si. “Mengorbankan dirimu lagi dan lagi untuk manusia yang begitu egois.” Tangannya terulur, menyentuh wajah dingin gadis di hadapannya.
Mengerikan bagaimana suhu tubuh gadis itu terasa begitu dingin, seakan dirinya tak lagi bernyawa. Rona wajahnya juga tak lagi terlihat seperti orang hidup. Hal tersebut membuat wajah tampan Lu Si menampakkan ekspresi marah, terluka, dan kecewa.
“Lan’er, sudah seperti ini, kenapa kau masih begitu keras kepala?” tanya Lu Si dengan ekspresi pedih. “Karma mengikuti setiap manusia, dan ketika waktunya tiba, maka kematian akan menjemput. Entah itu Qing Shan, Wu Rongya, maupun Wu Huatai, ada karma yang menjerat nyawa mereka, dan kau tahu itu.” Alis pria tersebut bertautan seiring dirinya bertanya, “Lalu, kenapa?”
Semua hal yang Lan’er lakukan merupakan usaha untuk melawan takdir, dan usaha untuk melawan takdir memiliki konsekuensi. Satu makhluk dunia tengah yang ingin menjadi dewa harus melewati hukuman petir takdir, lalu bagaimana untuk seorang manusia yang ingin mengubah suratan takdir begitu banyak orang?
Lu Si mengerutkan kening. “Kau masih berharap kematian bisa dihindari, berharap sesuatu yang telah ditakdirkan langit bisa berubah. Kau bahkan berharap … orang itu akan sadar?” tanya pria itu dengan nada marah. “Sudah sejauh ini, kau seharusnya tahu dia tak lagi bisa diselamatkan!”
Merasa sia-sia berbicara, Lu Si pun berbalik untuk meninggalkan ruangan. Akan tetapi, baru saja dia berbalik, seketika dia mencengkeram dadanya dan mulai terbatuk keras beberapa kali.
Di saat batuknya mereda, Lu Si menyadari adanya cairan yang menuruni sisi bibirnya. Dia menyekanya dan menyadari adanya noda darah pada ibu jarinya.
Ekspresi Lu Si terlihat begitu menderita ketika dia berkata, “Tubuh ini … tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, begitu pula dengan segelnya.” Dia menegapkan tubuh, lalu berjalan ke arah pintu keluar. “Kita … kau tidak lagi punya waktu.”
Sebelum dirinya meninggalkan ruangan gelap itu, Lu Si berhenti sesaat. Dia menoleh untuk melihat Lan’er masih berada dalam posisi yang sama, juga dengan wajah pucat yang sama.
“Usahamu untuk mengubah takdirnya membawamu ke dalam keadaan ini.” Lu Si mengalihkan pandangannya dari sosok Lan’er yang tak berdaya. “Dia seharusnya mati, dan kau tahu itu.” Kedua tangan di sisi tubuh Lu Si mengepal, mencoba menahan gejolak emosi dalam dirinya. “Kau adalah orang yang paling egois dalam semua ini, Lan’er.”
Selesai mengucapkan hal tersebut, Lu Si meninggalkan ruangan itu.
Hanya ketika suara pintu tertutup terdengar barulah sebuah reaksi didapatkan oleh pria bermata merah itu. Dari matanya yang tertutup rapat, satu tetes air mata mengalir turun dari wajah Lan’er.
Sebuah suara yang tak mampu didengar siapa pun bergema dalam ruangan itu. ‘Ya … dan inilah karma yang kudapatkan,’ batin Lan’er dalam hati. ‘Mencintai dia yang tidak seharusnya aku cintai dan kehilangan semua yang seharusnya kumiliki.’
________
A/N:
__ADS_1
Oho~ apa tanggapan kalian terhadap pertanyaan Junyi? Apa kiranya maksud Lu Si? Dan apa sebenarnya yang telah dilakukan dan terjadi pada Lan'er?
Coba jawab di komeen!