
“Ah! Ah!”
Lenguhan itu bergema keras keluar dari sebuah ruangan. Desahan napas bisa terdengar dari bibir seorang wanita selagi dirinya menerima serangan tanpa henti pada tubuhnya.
“Henti—!” Mata wanita itu tertutup rapat saat dia merasakan tubuhnya terasa aneh ketika benda asing itu menekannya. “Kau memaksaku!”
Bruk!
“Aduh!” Qiuyue melenguh kesakitan ketika bokongnya bertemu dengan lantai kayu yang keras. Air mata berkumpul di pelupuk matanya selagi dia mengusap bagian belakang tubuhnya yang malang. “Nona! Bisa-bisanya kau menendangku!?” gerutu pelayan tersebut.
Huang Miaoling yang sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang segera mendudukkan diri. Dia mengenakan jubah tidurnya dan menunjuk ke arah Qiuyue. “Salahmu sendiri! Sudah kukatakan aku tak perlu dipijat!”
Qiuyue memasang wajah kesal. “Kedua nyonya besar yang memerintahkanku! Bagaimana aku bisa menolak?” Dia merujuk kepada Yun Xia dan Liang Siya.
Huang Miaoling mendengus. “Kau bisa berpura-pura telah melakukannya untukku. Aku tak suka disentuh oleh sembarang orang,” ucapnya menutupi kenyataan bahwa dirinya merasa tergelitik ketika Qiuyue menyentuh punggungnya.
Mendengar ucapan Huang Miaoling, Qiuyue memasang wajah terluka. Dia kemudian berpura-pura menangis. “Nona yang telah kulayani selama bertahun-tahun menganggapku orang asing!”
“Berhenti merengek, aku sudah cukup lelah hari ini!” tegur Huang Miaoling seraya mengenakan pakaiannya.
Melihat sandiwaranya tidak bekerja, Qiuyue mendengus. “Cih.” Pelayan itu kemudian berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya, mengusir debu. Sembari membereskan peralatannya, Qiuyue berkata, “Hari ini kau hanya bertemu dengan Nenek Lang, apa yang melelahkan?”
Mendengar nama itu membuat seluruh tubuh Huang Miaoling bergidik ngeri. Dia melotot ke arah Qiuyue. “Jangan kau sebut nama itu lagi! Seumur hidupku, aku tak ingin lagi bertemu dengannya!”
Qiuyue terkekeh. “Selama pernikahanmu bertahan, kau tidak akan bertemu dengannya lagi,” candanya membuat Huang Miaoling melemparkan sebuah pandangan tajam.
Apakah pelayannya itu baru saja menyumpahi pernikahannya?
Bahkan jika Liang Siya adalah orang yang tidak percaya dengan mitos, tapi keterlibatan seorang Mei Po [1] sebelum pelaksanaan sebuah pernikahan tak boleh kurang. Hal itu karena Yun Xia telah menekankan kalau dalam tradisinya, Mei Po harus menengahi kedua keluarga. Oleh karena itu, istri Huang Liqiang itu mengundang Nenek Lang untuk membaca nasib cucunya dan Liang Fenghong. Tak hanya itu, dia juga memberikan beberapa wejangan bagi Huang Miaoling mengenai … beberapa hal.
__ADS_1
“Aku tidak berada di dalam ruangan ketika Nenek Lang bertemu denganmu, apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Qiuyue dengan penasaran.
Kepala Huang Miaoling berdenyut mendengar pertanyaan Qiuyue. Selain dirinya dan Liang Siya, tak ada orang lain yang boleh berada di dalam ruangan. Itu karena … wejangan dari Nenek Lang menyangkut hal-hal yang harus dilakukan seorang istri … untuk melayani suaminya.
“Urgh!” Huang Miaoling memijit batang hidung. ‘Dahulu, Zhang Momo adalah orang yang mengajarkanku hal-hal itu. Sekarang, Nenek Lang harus mengulanginya lagi! Sungguh memuakkan.’ Mata Huang Miaoling memancarkan kilatan dendam. ‘Selain itu, wanita tua itu ….’
Setelah memberikan wejangan pada Huang Miaoling, Liang Siya membiarkan cucunya itu untuk pergi terlebih dahulu selagi dirinya menjamu Nenek Lang. Tak ada berapa lama, Huang Miaoling kebetulan melihat Nenek Lang yang sedang dalam perjalanan meninggalkan kediaman Huang. Wanita itu terlihat sedang berbincang dengan pelayannya.
“Kau tidak lihat bagaimana wajah Nona Pertama Huang itu tadi. Saat aku menjelaskan apa yang harus dilakukan di malam pertama, wajahnya terlihat begitu datar, seakan tak terkejut sama sekali!” Nenek Lang lalu mendesis, “Dikatakan dia menghilang ke Kerajaan Wu untuk beberapa saat, bukan? Aku rasa, dia telah disentuh terlebih dahulu.” Nenek tua itu menghela napas dan bersikap seakan dia tahu segalanya. “Hah, dari keluarga besar juga tak menjamin pendidikan seorang gadis. Tak heran seorang tuan muda dari keluarga ternama bersedia menikah dengannya.”
Hanya karena dia tidak berkedip, bukan berarti dirinya adalah gadis murahan! Selain itu, berbicara pendidikan, tidakkah Nenek Lang sadar dia sedang membicarakan seorang gadis bangsawan yang diangkat menjadi seorang Junzhu?!
Mengingat hal tersebut, terlihat pelipis Huang Miaoling berurat dan wajahnya memerah. “Aku ingin membunuhnya …,” gumamnya dengan suara rendah.
Qiuyue tidak tuli. Dalam ruangan yang sunyi itu hanya ada dirinya dan Huang Miaoling, dan dia bisa mendengar jelas apa yang nonanya itu katakan. Seluruh tubuh Qiuyue pun bergidik ngeri.
“Lupakan aku bahkan telah bertanya!” Qiuyue mengira kalau nonanya begitu lelah karena seharian menerima wejangan dari Nenek Lang. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengundurkan diri. “Istirahatlah lebih awal, Nona. Aku akan pergi terlebih dahulu. Besok adalah hari besarmu!” Setelah mengatakan itu, Qiuyue pun meninggalkan ruangan dengan girang.
‘Terasa begitu tenang,’ pikir Huang Miaoling. ‘Terasa begitu tenang sampai aku merasa tidak tenang,’ batinnya.
Sudah satu minggu lebih berlalu sejak Wang Wuyu pergi meninggalkan Kerajaan Shi, Huang Qinghao sendiri telah kembali dua hari setelahnya. Li Guifei dan Huang Wushuang juga telah dikendalikan di dalam kediaman mereka, Yuanli dan Huang Yan’an memastikan hal tersebut. Selain perpindahan Wang Junsi dan Wang Chengliu ke kediaman mereka masing-masing, tak ada pergerakan lain akhir-akhir ini.
Ah, ada rumor bahwa hubungan Wu Meilan dengan Wang Junsi menjadi begitu dekat. Di sisi lain, ada juga isu mengenai Wang Zhengyi yang berniat untuk mengangkat seorang putri mahkota dari deretan selirnya.
Entah apakah keduanya itu benar … atau hanya isu belaka.
‘Kakak Pertama telah memastikan bahwa Yunlin sudah baik-baik saja, tapi karena situasiku ini, aku tak bisa menemuinya untuk tahu lebih jauh tentang Pasukan Kematian.’ Huang Miaoling menghela napas. ‘Lalu, A Feng ….’ Air muka gadis itu sekejap berubah memikirkan pria tersebut. ‘Apa yang sedang dia lakukan?’
Huang Miaoling memutar tubuhnya ke samping, membiarkan dirinya menghadap ke arah ruang tamunya. Mata gadis itu terarah pada jendela, seakan berharap beberapa detik kemudian … akan ada bayangan familier yang muncul di sana.
__ADS_1
Sadar dengan apa yang ada dalam benaknya, Huang Miaoling terbelalak dan segera menutup wajahnya dengan satu tangan. ‘Apa yang merasukiku?’ Dia menatap kosong ke udara. ‘Aku … merindukannya.’ Rona merah merayap ke kedua sisi wajahnya selagi jantungnya berdetak cepat.
Di kehidupannya yang lalu, Huang Miaoling tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dibandingkan rindu, dia merasa diselimuti kekhawatiran dan rasa takut. Kekhawatiran akan melakukan kesalahan … dan juga ketakutan akan dibenci oleh calon suaminya—yang pada saat itu adalah sang Pangeran Keenam.
Merasa energi negatif mulai menyelinap ke dalam hatinya, Huang Miaoling kembali menutup mata. Dia mencoba untuk menenangkan diri dan menyingkirkan Wang Chengliu dari benaknya.
‘Dua hari lagi ….’ Sebuah ekspresi tenang terpasang di wajah Huang Miaoling. ‘Dalam dua hari, aneka emosi ini akan pergi, dan aku harus kembali fokus dengan masalah yang harus diselesaikan.’ Sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya. ‘Bersama dengan A Feng,’ tambahnya.
Dalam keheningannya, telinga Huang Miaoling tiba-tiba menangkap suara gemeresik daun yang sedikit aneh. Gadis itu melirikkan mata ke arah jendelanya dan melihat sekelebat bayangan hitam yang mendekat.
‘Penyusup?’
Kening Huang Miaoling berkerut. Namun, dengan cepat dia melonggarkan otot-otot wajahnya. Kalau benar ada yang ingin menyerangnya, maka Huang Miaoling ingin tahu siapa itu orangnya!
Suara garing decitan kayu dari jendela yang terbuka bisa terdengar. Dentuman ringan pada lantai ruangan tidur mengikuti hal tersebut, kelihatannya penyusup itu telah masuk ke dalam kamarnya.
Huang Miaoling sudah memosisikan dirinya seperti sedang tertidur. Wajahnya terlihat tenang, tapi sebenarnya pikirannya berkecamuk dengan berbagai macam kemungkinan.
‘A Feng?’ pikir Huang Miaoling dalam hati.
“Ling’er,” sebut suara itu dengan lembut.
Detik itu juga, Huang Miaoling merasa dunianya berhenti. Nama yang diucapkan jelas namanya, tapi suara yang menyebutkan bukanlah pria yang sempat dia duga telah datang.
‘Tidak mungkin ….’ Huang Miaoling merasa napasnya menjadi sedikit sesak. ‘Wang … Chengliu!?’
___
[1] Mei Po: Mak Comblang
__ADS_1
___
A/N: Perasaan author pas tulis ini itu udah kayak orang lagi daki gunung, senam jantung :") Episode berikut juga ... siap-siap senam jantung ya.