Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 50 Sudah Cukup


__ADS_3

Shang Meiliang tertawa mendengar penjelasan Huang Miaoling. “Sungguh penyelesaian yang sempurna bagi kedua saudari itu,” ujar wanita itu sembari mendengus mengejek. “Ironis bagaimana keduanya memiliki ambisi untuk menjadi seorang penguasa, tapi berakhir jatuh begitu dalam ke dalam lubang.”


Selain Shang Meiliang yang tak mampu menjaga emosinya karena kehamilan, setiap orang lainnya terbungkam. Tak ada yang berani percaya dengan apa yang telah mereka dengar.


Setelah mendorong Kaisar Weixin untuk mengambil tindakan terhadap Li Guifei, Huang Miaoling telah menciptakan keretakan dalam hubungan sang Selir Agung dengan Wang Xiangqi. Yang lebih tak masuk akal adalah bagaimana Wang Zhengyi bersedia melibatkan diri dalam hal tersebut!


“Kau memberi tahu Wang Zhengyi mengenai identitas sebenarnya Wushuang?” tanya Liang Siya yang diikuti dengan anggukan kepala cucu perempuannya itu. “Tak heran pria itu bersedia menyingkirkannya.”


Ya, saat dirinya bertemu dengan Yuanli tempo hari, Huang Miaoling telah menitipkan pesan pada pelayannya itu untuk Wang Zhengyi. Isi pesan dari sang Nona Pertama Huang itu tak lain adalah mengenai keterlibatan Huang Wushuang dalam rencana pembunuhan Li Hongxia. Huang Miaoling juga menyelipkan kenyataan mengenai hubungan darah Huang Wushuang dan mendiang pemimpin Keluarga Li itu.


Liang Siya lanjut berkata, “Kau sungguh mengikat Pangeran Mahkota pada jari kelingkingmu.” Ada segelintir tuduhan dalam ucapannya itu.


“Nenek berlebihan,” ucap Huang Miaoling sembari tersenyum tipis. “Aku hanya mempergunakan utang budi Pangeran Mahkota padaku.”


Huang Jieli mengerutkan keningnya, dia tak merasa Wang Zhengyi sebagai seseorang yang tahu mengenai betapa pentingnya membalas budi. “Wang Zhengyi tahu cara berterima kasih?” tanyanya ketus.


Kali ini, Huang Liqiang yang angkat bicara, “Walau Pangeran Mahkota Wang Zhengyi memiliki reputasi yang buruk, tapi dia juga memiliki sisi baik. Sama seperti Kaisar Weixin, Wang Zhengyi selalu membalas budi pada orang-orang yang pernah membantunya.” Dia menjelaskan, “Gadis bernama Yuanli itu pasti telah memberi tahu Pangeran Mahkota mengenai keterlibatan Wushuang dengan Li Guifei, bagaimana mereka ingin menjebak Miaoling dengan Pangeran Keempat. Itu membuat Pangeran Mahkota yang merasa berutang budi pada Miaoling memutuskan untuk menghukum Wushuang.”


Pada saat ini, Situ Yangle mengernyitkan dahinya. Dia menatap Huang Miaoling dan berkata, “Kau bilang Ibu Suri Shen telah memberikan Huang Wushuang obat kemandulan. Lalu, untuk apa kau masih harus memaksa Pangeran Mahkota untuk bertindak? Tidak bisakah kau hanya menunggu hasil?”


Memang benar, Ibu Suri Shen telah memberikan obat kemandulan kepada Huang Wushuang. Namun, menyingkirkan seorang putri mahkota dengan alasan ketidakmampuannya untuk mengandung memerlukan waktu yang lama. Itu karena batas waktu yang diberikan kepada seorang wanita untuk membuktikan fungsinya sebagai istri adalah satu tahun.


Satu tahun jelas bukan waktu yang singkat.


Awalnya, Huang Miaoling tidak masalah dengan menunggu. Lagi pula, penyiksaan yang lebih lambat memberikan kepuasan tersendiri baginya. Namun, setelah semua hal yang dia lalui di kerajaan Wu, gadis itu sadar bahwa pelengseran Huang Wushuang perlu dilakukan secepatnya. Masih banyak orang yang perlu Huang Miaoling tangani, seperti Wang Chengliu.


Oleh karena itu, Huang Miaoling memutuskan untuk menyulut niat Ibu Suri Shen. Hal itu dilakukan dengan memberi tahu Permaisuri Mingmei mengenai hubungan Huang Wushuang dengan Li Hongxia.


“Kenapa tidak menggunakan Wang Zhengyi untuk langsung memberitahukan informasi tersebut kepada Permaisuri Mingmei dan Ibu Suri Shen?” tanya Huang Jieli, tak habis pikir kenapa cara adiknya begitu berputar-putar.


Huang Miaoling terdiam mendengar pertanyaan tersebut.


Di sisi lain, Liang Siya menghela napas. Dia pun menggantikan Huang Miaoling untuk menjelaskan.

__ADS_1


Jawabannya tak lain karena … Huang Miaoling tak ingin ada yang tahu bahwa sang Pangeran Mahkota sungguh menghormatinya, mungkin bahkan berpikiran lebih terhadapnya. Kalau Ibu Suri Shen atau Permaisuri Mingmei tahu mengenai pikiran Wang Zhengyi terhadap Huang Miaoling, maka masalah akan menjadi runyam. Hal ini juga yang membuat Huang Miaoling mengurangi interaksinya dengan Wang Zhengyi.


Shang Meiliang mengerutkan keningnya. ‘Kakak Sepupu Zhengyi … memiliki perasaan terhadap Miaoling?’ Dia sedikit menggelengkan kepalanya. ‘Salahmu sendiri menolaknya di kala kalian dijodohkan.’


Oh, andai Shang Meiliang tahu bahwa Huang Miaoling terlibat dalam kegagalan perjodohannya itu.


“Ketika Permaisuri Mingmei mendapatkan informasi dari Huang Miaoling, dia pasti akan menyampaikannya kepada Ibu Suri Shen. Mengira bahwa Wang Zhengyi sepenuhnya tunduk di bawah kuasa kecantikan Huang Wushuang, Ibu Suri Shen merasa dirinya perlu menyediakan sebuah sandiwara besar untuk memaksa cucunya menyingkirkan wanita itu,” Huang Miaoling kembali menjelaskan.


Di sinilah sosok Yuanli menjadi penengah yang luar biasa.


Dengan alasan dendam dan amarah, Yuanli memojokkan Huang Wushuang. Pelayan itu berusaha menanamkan rasa takut dan putus asa dalam diri wanita itu.


Setelah ketakutan sepenuhnya tertanam dalam diri Huang Wushuang, Yuanli menyulut kegilaan wanita itu lagi dengan memberitahunya mengenai obat kemandulan Ibu Suri Shen. Semua itu Yuanli lakukan di bawah perintah sang Ibu Suri.


Dan, itulah awal mula dari akhir bagi Huang Wushuang, sang Putri Mahkota.


Huang Wushuang takut, marah, dan panik ketika melihat obat yang dibawakan oleh Long Momo. Dia menolak untuk meminum selagi tangan kanan sang Ibu Suri itu terus memaksa. Akhirnya, Huang Wushuang melemparkan mangkuk tersebut dan melukai Long Momo, menyulut masalah dengan Ibu Suri Shen.


“Setelah itu, Wang Zhengyi datang dan menyelesaikan sandiwara sesuai dengan keinginan Ibu Suri Shen.” Huang Miaoling mengakhiri penjelasannya.


‘Mendukung Wang Zhengyi,’ Huang Yade membatin. ‘Dilihat dari tindakannya yang membiarkan Huang Wushuang tetap menyandang status seorang selir, aku rasa Ling’er tak memilih seorang yang salah.’


Dengan membiarkan Huang Wushuang tetap menjadi seorang selir, Wang Zhengyi tidak sepenuhnya menghapus hubungan kekeluargaannya dengan Keluarga Huang. Dia cukup cerdas.


“Namun, semua masih belum selesai, bukan?” Saat ini, semua orang terkejut mendengar Huang Junyi yang tak pernah terlibat dalam diskusi angkat bicara.


“Apa maksudmu, Adik Keenam?” tanya Huang Jieli.


Huang Hanrong sedikit mengerutkan bibirnya, kecewa karena sang Kakak Kedua tak menangkap maksud adik terkecil mereka. “Junyi bermaksud untuk mengatakan kalau semua masih belum berakhir sampai semua musuh … dijatuhkan.” Keraguan menyelimuti dirinya ketika ingin menyebutkan kata ‘mati’.


Pada saat ini, Huang Miaoling tersenyum. “Aku mendapati kalau kedua adik kecilku telah belajar banyak hal selagi aku tak di sini, sungguh membanggakan,” pujinya membuat kedua pemuda itu sedikit terkejut sebelum tersipu malu. Lalu, pandangannya menyapu wajah setiap orang di ruangan. “Ya, masih ada musuh keluarga Huang lain yang harus kusingkirkan untuk—!”


“Tidak.”

__ADS_1


Huang Miaoling terkejut ketika mendengar penolakan dari satu arah. Dia mengalihkan pandangannya kepada Huang Yade yang sedari tadi terdiam. “Apa maksud Kakak Pertama?” tanyanya.


Huang Yade telah mendengar cerita dari kakeknya dan Qing Gangtie. Huang Liqiang menceritakan informasi yang dia dapatkan dari Huang Yan’an, dan Qing Gangtie pun memberitahu Huang Yade tentang informasi yang dia dapatkan dari Kaisar Weixin. Dari kedua orang itu, Huang Yade menyadari satu hal.


Masih ada begitu banyak hal yang perlu dilakukan.


“Sudah cukup.” Dengan mata tertutup, Huang Yade berkata, “Telah dikatakan sebelumnya bahwa sampai upacara pernikahanmu selesai, kau tak diizinkan melibatkan diri dengan masalah-masalah ini.” Pria itu membuka kelopak matanya dan memandang adiknya. “Huang Miaoling, pernikahanmu ada di depan mata, dan kau malah memusingkan perihal menghabisi nyawa beberapa orang? Tidakkah kau merasa bahwa dirimu terlalu menindas Tuan Muda Liang?”


“Hah?” Huang Miaoling mengerutkan keningnya.


Suasana tegang yang tadi menyelimuti seisi ruangan secara tiba-tiba menghilang. Semua orang menautkan alis mereka dan menganggukkan kepala secara serempak.


“Awalnya, aku tak ingin mengatakan hal ini. Namun, karena Kakak Pertama telah membuka topik ini, aku akan mengatakannya.” Huang Jieli menghela napas. “Aku sungguh merasa kalau Tuan Muda Liang sungguh menyedihkan.”


Di sampingnya, Shang Meiliang mengangguk-anggukkan kepala. “Ketika dirinya sibuk mempersiapkan pernikahan, calon istrinya sibuk mengasah pedang.”


“Ah, calon menantu Keluarga Huang yang satu itu sungguh malang.” Liang Siya menyentuhkan tangan ke sisi wajahnya.


Satu per satu sindiran dilontarkan ke udara. Hal tersebut membuat Huang Miaoling yang tadi begitu tenang sedikit kebingungan.


‘Apa yang tiba-tiba merasuki orang-orang ini? Kenapa mereka mengubah haluan pembicaraan dengan begitu mendadak?!’ pekik Huang Miaoling dalam hati. “Kalau tidak menyelesaikan para musuh, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan tenang?!” dia mencoba membela diri.


Saat ini, mata Huang Liqiang berbinar. Dia memulai, “Huang Wushuang telah dilengserkan, Li Guifei dikurung di halamannya dan dijauhi putranya. Selain itu, Wang Wuyu dikucilkan ke Kun Lun dan kau menitipkan pesan pada Guru Besar Qing untuk menghalangi kerja sama Wang Chengliu dengan Kerajaan Zhou.” Pria itu melanjutkan, “Dengan demikian, kita tahu dengan jelas bahwa entah itu Huang Wushuang, Li Guifei, Wang Wuyu, maupun Wang Chengliu, mereka tak akan bisa melakukan apa pun dalam waktu dekat.”


Huang Miaoling mengangkat alisnya, tak begitu mengerti apa tujuan kakeknya mengucapkan hal yang begitu kentara. Bagus kalau para musuhnya tak bisa bergerak sekarang, itu berarti ada kesempatan bagi dirinya untuk bisa membereskan mereka dengan lebih cepat.


Tahu bahwa Huang Miaoling masih belum mengerti apa yang ingin Huang Liqiang sampaikan, Liang Siya kembali memperjelas, “Itu berarti kau bisa menunda masalah negara dan hanya perlu memikirkan mengenai hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.”


Huang Miaoling mengerutkan kening. “Aku tak mengerti,” jawabnya jujur. “Masalah negara adalah hal yang perlu diprioritaskan saat ini,” tegasnya.


Mendengar hal ini, Huang Hanrong terkekeh, tak menyangka kalau kakak ketiganya begitu lamban. “Kakak Ketiga, maksud Kakek dan Nenek adalah … kau harus terfokus pada persiapan pernikahanmu.”


____

__ADS_1


A/N: Demi kalian, maksa hari ini nulis sampe jam segini :") Untung besok weekend


__ADS_2