
“Kita harus menikah!”
Seruan memekakkan telinga itu membuat Meilan, yang tengah duduk santai di teras rumah kala musim semi tiba, menyemburkan teh yang baru saja dia minum.
Manik cokelat keemasannya menatap Chengliu yang berdiri tegap di depan mata dengan dua tangan mengepal. Wajah pria itu terlihat sangat serius, tapi rona merah di daun telinga membocorkan perasaan malu yang menyelimutinya.
“Apa hampir mati di musim dingin membuat dirimu kehilangan kewarasan?” tanya Meilan dengan satu alis terangkat tinggi. “Cucilah wajahmu dan berhenti mengatakan omong kosong.”
Melihat Meilan berjalan meninggalkan meja di bawah pohon apel yang daunnya telah kembali tumbuh itu, Chengliu bergegas mengejar dan menghadang gadis tersebut.
“Aku serius!” tegas Chengliu. Dia menatap lurus Meilan selagi menjabarkan, “Aku sudah bersumpah akan menikahimu kalau diriku masih hidup sampai musim semi tiba.”
Meilan menautkan alisnya. “Kenapa?”
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tapi pria itu malah mendadak melamarnya. Chengliu bahkan belum pernah menyatakan cinta, tapi sekarang dia malah ingin menikah?!
‘Aku tidak tahu orang zaman dulu begitu … bebas?’ batin Meilan dalam hati.
Chengliu menundukkan wajahnya, dan rona merah menjalari kedua pipinya saat dirinya menjelaskan, “Kesucianmu … aku telah merenggutnya, jadi aku harus bertanggung jawab ….”
Kedua mata Meilan terbelalak. “S-suci—? D-direnggut?” Gadis itu tergagap dan ikut merasa canggung. “Chengliu, kamu ini bicara apa, sih!?” sentak Meilan dengan rasa malu yang membuncah. “Kapan kita bahkan pernah—”
Meilan menghentikan ucapannya. Kemudian, dia pun menghela napas panjang. Dia baru tersadar bahwa Chengliu membicarakan satu malam itu. Malam di mana mereka menanggalkan seluruh pakaian dan bertukar hangat tubuh untuk melalui badai.
“Itu keadaan terdesak, kamu tidak perlu memikirkannya,” ucap Meilan seraya ingin lanjut berjalan melewati pria itu untuk membersihkan perkakas makan.
Namun, Chengliu menghadangnya. Wajah pria itu tampak serius.
“Ayo, menikah.”
Kali ini, tidak ada sedikit pun keraguan maupun rasa malu yang terlukis di wajah pria tersebut. Hanya ada tekad.
“Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai dan juga orang yang mencintaiku,” balas Meilan singkat sebelum melewati Chengliu dengan dingin.
“Jadi, kamu tidak mencintaiku?”
Sontak, tubuh Meilan membeku. Dia menoleh ke belakang, menatap Chengliu yang menatapnya dengan wajah terluka.
“Kalau orang yang berada di posisi itu adalah orang lain, apa kamu akan melakukan hal yang sama? Menanggalkan pakaianmu dan tidur bersamanya?”
Selama sesaat, keheningan menyelimuti kediaman tersebut, membuat suasana terasa tegang dan penuh tekanan. Dua orang di tengah halaman itu pun hanya saling menatap tanpa ada yang berbicara.
__ADS_1
Keheningan adalah jawaban, itulah yang Chengliu percaya.
Alhasil, pria itu mengepalkan tangannya dan berkata, “Sepertinya, aku sudah membebani untuk waktu yang terlalu lama.” Hatinya terasa hancur dengan kenyataan Meilan hanya menyelamatkannya karena tanggung jawab dan rasa kasihan. “Aku akan pergi pagi es—”
“Apa aku serendah itu di matamu?”
Ucapan Chengliu terpotong. Pria itu pun mengangkat pandangan dan menatap Meilan yang memandangnya lurus, dua tangan gadis itu mengepal.
Meilan menegaskan, “Aku tidak akan melakukan itu untuk sembarang orang.” Dia menambahkan, “Aku melakukannya karena itu dirimu.”
Mendengar hal tersebut, mata Chengliu membesar. Sinar yang sempat redup kembali membara dengan lebih cerah.
“Jadi … kamu menerima lamaranku?”
Pertanyaan itu membuat Meilan membalikkan tubuhnya, melanjutkan perjalanan untuk membersihkan peralatan makannya. Rona merah menghiasi wajahnya.
“Terserah.”
Detik berikutnya, Chengliu berlari menghampiri Meilan dan memeluknya erat. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya saat membayangkan masa depan yang telah menunggunya.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Di hari pernikahan keduanya yang diadakan secara sederhana di salah satu kedai ternama desa, Chengliu … bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.
“Yang Mulia Pangeran Keenam, ternyata dirimu masih hidup!”
Berdiri di depan pintu kamar pernikahannya, Chengliu menautkan alis seraya membalas tegas, “Sudah kukatakan, kalian salah orang! Aku bukan pangeran keenam kalian! Aku hanya orang biasa, namaku Lu Si!”
Sembari berlutut dengan satu kaki di tanah, sosok seorang letnan jenderal memohon kepada Chengliu, “Yang Mulia, Anda memiliki tanda lahir di bagian kanan bawah punggung. Periksalah itu, dan hamba yakin Anda hanya bisa percaya!”
Chengliu mengepalkan tangannya, merasa marah karena segerombolan orang asing ini mengganggu pesta pernikahannya. Namun, baru saja dia ingin kembali mengusir para prajurit kerajaan itu, tangannya ditahan oleh Meilan.
Pandangan Chengliu beralih menatap Meilan yang berdiri di sebelahnya. Tudung merah yang telah dibuka untuk mengawali malam pertama memamerkan kecantikan memesona gadis itu, sekaligus pancaran matanya yang telah berubah menjadi sangat dingin.
Tidak pernah seumur hidupnya Chengliu menyangka bahwa wanita itu akan berakhir menjadi orang yang sepenuhnya menggagalkan hari pernikahan mereka.
“Letnan Jenderal Chenxiao,” panggil Meilan, mengejutkan Chenxiao yang tengah berlutut di hadapan Chengliu. Gadis itu menuturkan, “Bawa pangeran kalian kembali ke istana, dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi di hadapanku.”
Mendengar hal tersebut, Chengliu terbelalak. “Lan’er!”
Meilan beralih menatap Chengliu dengan ekspresi dingin, tapi pancaran matanya menunjukkan kesedihan mendalam.
__ADS_1
“Wang Chengliu, kita hidup di dunia yang berbeda. Aku tidak seharusnya mencintaimu, dan kau tidak seharusnya mencintaiku.” Suara Meilan bergetar, dua tangannya mencengkeram rok pernikahannya erat. “Mengenai utang nyawa dan juga tanggung jawab, semua sudah kau lunaskan selagi tinggal selama empat tahun di kediamanku.”
Sepasang manik Wang Chengliu menatap Meilan lurus. Dari cara gadis itu mengenali sang pemimpin prajurit, juga mengetahui marga yang belum pernah sebelumnya didengar, Wang Chengliu hanya bisa mengambil satu kesimpulan.
Apa … sedari awal Meilan mengetahui latar belakangnya?!
Seakan mampu membaca pikirannya, Meilan berkata, “Ya, aku tahu mengenai latar belakangmu. Itulah alasannya aku menyelamatkanmu dan merawatmu selama ini.” Gadis itu tidak sedikit pun tergagap selagi menyatakan, “Aku berniat untuk menipumu agar bisa menjadi bagian dari keluarga kerajaan kaya!”
Penjelasan Meilan membuat semua orang terkejut. Tidak ada yang menyangka bahwa tabib bertalenta di desa mereka itu ternyata seorang gadis yang begitu licik.
Namun, sebuah dengus tawa membuat semua orang bingung. Mereka menatap sosok Wang Chengliu yang terlihat menyunggingkan senyum pahit.
“Apa kau menganggapku bodoh?” tanya Wang Chengliu membuat Meilan kebingungan. “Empat tahun tinggal bersama, kau kira aku tidak bisa melihat bahwa dirimu sedang berdusta?”
Satu langkah mundur Meilan ambil untuk menjauhi Wang Chengliu. Di luar dugaannya, pria itu sudah mengenalnya terlalu jauh.
Melihat Meilan berusaha menjauhinya, Chengliu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu. Wajahnya menampakkan ekspresi yang menyayat hati.
“Meilan, kau tidak bisa menelantarkanku seperti ini! Aku bahkan tidak mengenal mereka!”
“Kau adalah keluarga kerajaan! Kau akan dijaga dengan baik oleh mereka!” balas Meilan dengan usaha untuk melepaskan diri.
“Bukankah kau sendiri yang sebelumnya pernah bilang bahwa aku seperti dikirim ke medan perang untuk mati? Sekarang, kau ingin mengirimkanku kembali ke tempat yang menginginkan kematianku!?”
Pertanyaan Wang Chengliu membuat Meilan membeku. Gadis itu tertunduk, pikirannya memproses omongan sang lawan bicara dengan saksama.
Wang Chengliu benar, itu adalah kalimat Meilan saat pria tersebut sempat bertanya-tanya mengenai latar belakangnya satu minggu setelah terbangun di kediaman.
“Mengirimmu ke medan perang di usia yang begitu belia. Kalau bukan karena keluargamu berutang besar terhadap negara, jelas ada orang yang ingin kau mati di medan perang.”
Kalimat itu terlontar dari bibir Meilan … karena sebenarnya dia sudah tahu mengenai kebenarannya!
Melihat Meilan bungkam, Chengliu pun menggenggam erat tangan istrinya. Dia berlutut di depan gadis tersebut, membuat semua prajurit yang melihat hanya bisa ikut berlutut sebagai bentuk kehormatan terhadap anggota keluarga kerajaan.
“Anggur pernikahan telah diminum, sumpah sehidup-semati pun telah terucap.” Wang Chengliu menatap Meilan dengan wajah memelas. “Lan’er, kau telah sah menjadi istriku.”
Pria itu kemudian membenamkan wajahnya di telapak tangan Meilan. Perlahan, air mata luruh menetes dan mulai membasahi tangan sang gadis tersebut.
Suara Wang Chengliu bergetar, tidak rela berpisah dengan gadis yang telah melalui hidup dan mati dengannya untuk empat tahun lamanya.
“Kalau kau ingin aku kembali bersama mereka, maka aku mohon, ikutlah denganku.”
__ADS_1