
*Beberapa hari yang lalu*
“Kudengar, Hong’er akan segera mengadakan pesta pernikahannya,” ucap Wu Huatai seraya menyesap teh yang baru saja dituangkan pelayannya. Matanya memancarkan sebuah kesedihan yang mendalam, “Andai aku bisa menghadirinya.”
Mendengar ucapan suaminya, Permaisuri Tianzhen yang sedang menemani Kaisar Huatai di paviliun halaman istana hanya bisa tersenyum lembut. “Aku yakin Tuan Muda Liang akan kembali dengan Nona Pertama Huang untuk mengunjungimu dalam waktu dekat,” ujarnya, berniat untuk menghibur suaminya.
Kaisar Huatai menggelengkan kepalanya pelan, “Sampai masalah mereka selesai, aku tak yakin mereka bisa meninggalkan Shi. Selain itu, masih ada masalah pernikahan Meilan.” Kerutan pun muncul pada dahinya, “Walau Pangeran Keempat telah terikat perjanjian denganku, tapi aku memiliki firasat dia akan mencari cara untuk membatalkannya.”
Ucapan Wu Huatai membuat ekspresi khawatir muncul di wajah Permaisuri Tianzhen. “Yang Mulia, kau jelas tahu Pangeran Keempat menyukai Huang Miaoling, tapi kau malah mengikatnya dengan Meilan.” Wanita itu jelas sedang menggerutu, tanpa sengaja mencurahkan isi hatinya yang menyalahkan ketamakan suaminya. Sadar dia berbicara melewati batas, Permaisuri Tianzhen segera berdiri dan membungkuk hormat, “Mohon maafkan istrimu yang lancang ini.”
Kaisar Huatai menarik tangan Permaisuri Tianzhen, mempersilakannya untuk kembali duduk. “Tianzhen, bertahun-tahun kita menjadi suami-istri, untuk apa kau bersikap begitu kaku denganku? Dirimu adalah istri terbaik yang bisa kudapatkan,” tukasnya sembari tersenyum. Pria itu menepuk-nepuk punggung tangan istrinya dengan lembut, “Ucapanmu benar, aku terlalu tamak. Dengan mengikat Wang Junsi dengan Meilan, aku mengira hal tersebut akan mengembangkan hubungan keduanya, juga memudahkan hubungan Hong’er dengan Nona Pertama Huang. Namun, memang perasaan tak sepantasnya dipaksakan.”
Sekarang, Kaisar Huatai sungguh menyesal, dia tersadar bahwa perjanjiannya dengan Wang Junsi malah memberikan beban pada pangeran tersebut. Alih-alih fokus pada mengembangkan perasaan, sang pangeran keempat pastinya akan lebih merasa bersalah bila dia sungguh menikahi Wu Meilan.
Melihat wajah suaminya begitu mendung, Permaisuri Tianzhen memutuskan untuk kembali angkat suara, “Yang Mulia, aku ingin memberitahumu mengenai sesuatu.” Manik hitam kecokelatannya bergetar, seakan ragu mengenai apakah saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengutarakan masalah dalam benaknya. “Aku tidak tahu apakah berita ini bisa memperbaiki suasana hatimu, tapi aku tentunya berharap demikian.”
Ucapan ambigu Permaisuri Tianzhen membuat Kaisar Huatai menaikkan alisnya dengan bingung. “Tianzhen, ada apa?” tanyanya, merasa tak biasa dengan sikap istrinya yang begitu pelik.
“Aku sedang mengandung.”
Wu Huatai membeku di tempat. Keheningan menyelimuti paviliun itu selama sesaat, sampai akhirnya sang putra langit itu tergagap, “K-kau tengah mengandung?” Sekali lagi, dia menambahkan, “Sungguh?!” Wu Huatai meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. Sepasang manik hitamnya bersinar, meminta sebuah jawaban.
Senyum semringah yang perlahan mengembang di wajah Wu Huatai membuat hati Permaisuri Tianzhen terasa begitu hangat. Wanita itu pun menganggukkan kepalanya dengan mantap, “Ya.”
Kaisar Huatai segera memeluk Permaisuri Tianzhen dengan erat. “Sungguh baik! Sungguh kabar baik!” serunya.
Para pelayan dan pengawal yang mendengar percakapan kedua majikan mereka itu segera memberi hormat dan mengucapkan selamat, “Selamat kepada Kaisar dan Permaisuri!” Hal itu membuat tawa Kaisar Huatai menjadi semakin keras, dan dia pun terlupa untuk mengendalikan kekuatannya ketika memeluk istrinya.
__ADS_1
“Ah, Yang Mulia, kau memelukku terlalu erat,” keluh Permaisuri Tianzhen sembari mengernyitkan wajah.
“A-ah! Y-ya! Harus hati-hati!” Wu Huatai berkata dengan canggung. Sikapnya yang serba salah itu membuat Permaisuri Tianzhen tertawa kecil. Lalu, Kaisar Huatai melirik salah satu kasim yang berada di luar paviliun. “Terima perintah! Dua hari lagi, kita akan merayakan berkat langit bagi Permaisuri!”
“Baik, Yang Mulia,” balas kasim tersebut seraya berjalan meninggalkan halaman. Baru lima langkah sejak sang kasim melewati gerbang pembatas halaman, mendadak dia melihat sekelompok prajurit yang berjalan ke arahnya. “Apa yang kalian lakukan? Selain pengawal pendamping kaisar, tak ada yang boleh—”
Tak sempat kasim itu menyelesaikan ucapannya, sebilah pedang terayun ke lehernya. Tebasan tersebut mengoyak kulit, diikuti dengan darah yang mengalir turun dari lehernya yang terbuka, membasahi pakaiannya. Kaki kasim malang itu melemas, lalu dia pun terjatuh ke tanah, menghasilkan suara retakan tulang tempurung lutut yang mengerikan. Tangan kasim itu menggerayangi lehernya, mencoba menghentikan darah keluar dari lukanya.
Usaha yang sia-sia.
Satu dari dua pengawal yang berjaga di gerbang halaman menangkap kejadian tersebut, dan mereka pun segera berteriak, “Penyusup! Lindungi Kaisar dan Permaisuri!” Hal itu membuat semua orang di dalam halaman segera bersiaga.
Dalam hitungan detik, kekacauan menyelimuti istana yang tenang itu. Beberapa pelayan membeku di tempat karena ketakutan, beberapa berlari meninggalkan halaman dengan jalur lain, sebagian lagi bersikeras mendampingi kedua majikan dalam istana, berharap langit akan memberkati mereka dengan perlindungan.
“Apa yang terjadi?!” teriak Kaisar Huatai seraya berdiri dan memeluk Permaisuri Tianzhen yang ketakutan.
Sang jenderal bergegas membawa Kaisar Huatai dan Permaisuri Tianzhen pergi melalui jalur lain. Namun, tak ada beberapa langkah, sekelompok prajurit lain menghalangi jalan mereka.
Pandangan Wu Huatai menggerayangi seragam pasukan yang sekarang berada di hadapannya. Pakaian yang dikenakan pasukan musuh merupakan baju zirah khas prajurit Kerajaan Wu, tapi senjata yang mereka gunakan memiliki sedikit perbedaan. Setelah dilihat dengan lebih jelas, tidak ada simbol naga kembar milik Kerajaan Wu.
“Siapa kalian?!” teriak sang jenderal, yakin bahwa kelompok prajurit di hadapannya bukan teman, melainkan lawan. “Kerajaan mana yang menggunakan cara rendahan seperti ini untuk menjatuhkan kerajaan lain!?”
Sejujurnya, sang jenderal tak tahu-menahu mengenai siapa dalang dari penyerangan ini, bisa saja sebenarnya serangan ini tak ada sangkut-pautnya dengan kerajaan lain. Namun, Kerajaan Wu begitu besar, dan bukan sembarang kelompok memiliki kemampuan dan keberanian untuk melancarkan serangan diam-diam seperti ini. Oleh karena itu, sang jenderal bertaruh bahwa prajurit musuh memang berasal dari kerajaan lain. Dia pun sengaja memancing emosi, berharap akan mendapatkan jawaban dari salah satu prajurit lawan.
Tiba-tiba, suara tawa bergema dari rombongan di hadapan sang jenderal. Para prajurit musuh terbelah, mempersilakan satu sosok pria dengan wajah dipoles bak seorang wanita untuk berjalan ke barisan depan. Kelihatannya, pria itu adalah pemimpin rombongan ini.
“Kaisar Wu Huatai, seorang kaisar yang memiliki reputasi haus akan darah. Kenapa yang aku lihat hanyalah seorang kaisar tanpa tulang belakang [1]?” sindir pria itu membuat beberapa pengawal dari sisi Wu Huatai memasang wajah buruk—marah. Pandangan pria tersebut kemudian menyapu wajah jenderal yang mendampingi Wu Huatai, “Kalian sudah dikepung, tak bisa kabur. Lebih baik serahkan saja pria itu, dan aku akan membiarkan kalian mati dengan cepat.”
__ADS_1
“Hudie, jangan banyak omong kosong,” ujar sebuah suara dari belakang rombongan Wu Huatai.
Suara itu membuat Wu Huatai dan beberapa pengawal lainnya menoleh ke belakang. Ketika melihat siapa pemilik suara tersebut, semua orang—termasuk Wu Huatai dan Permaisuri Tianzhen—terbelalak.
“Adik Ketiga, kau—!” Wu Huatai mengerutkan kening, tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.
“Adik Ketiga”, panggilan itu bukanlah panggilan yang bisa dengan sembarang disematkan kepada seseorang. Orang yang dipanggil Wu Huatai dengan panggilan “Adik Ketiga” hanya satu … Li Changsheng.
Baju zirah yang terciprat darah dan juga pedang yang kentara telah memakan korban menghiasi penampilan Li Changsheng. Ditambah dengan sekelompok prajurit musuh yang berdiri di belakang pria tersebut, Wu Huatai yakin bahwa penyerangan ini dilatar-belakangi oleh adik ketiganya itu.
“Kenapa kau melakukan ini?!” teriak Wu Huatai kepada Li Changsheng, tangannya mengepal, menunjukkan amarah yang menggebu-gebu akibat pengkhianatan yang dia terima.
“Adik?” Li Changsheng menyunggingkan senyuman mengejek. “Setelah semua yang telah kau lakukan, kau masih berani memanggilku dengan panggilan ‘adik’?”
Wu Huatai mengernyitkan wajahnya, tak mengerti apa maksud ucapan Li Changsheng. Setelah semua yang dirinya lakukan? Selain memberikan kesempatan kepada Li Changsheng untuk hidup bebas tanpa kecaman bersama dengan Wu Rongya, apa lagi yang telah Wu Huatai lakukan?
“Changsheng, apa maksudmu?” tanya Wu Huatai dengan kebingungan. Kemudian, dia tersadar akan sesuatu, “Di mana Rongya?” Dia memiliki firasat buruk.
Li Changsheng menudingkan pedangnya ke arah Wu Huatai, “Jangan beraninya kau menyebut nama Rong’er! Kau tidak pantas!” Matanya memerah, campuran antara kesedihan dan amarah. “Karena kedengkianmu, Rong’er telah kehilangan nyawanya!”
___
[1] Seseorang tanpa tulang belakang: sindiran bagi seseorang yang tidak memiliki keberanian dan kemampuan.
___
A/N: Wu Rongya ... mati? Itu alasan Li Changsheng berkhianat? Apa yang sebenarnya terjadi, guys?! Ahhh, Author paniik!!
__ADS_1