
“Kau bilang apa?” suara wanita itu bergetar selagi matanya perlahan membesar. Kilatan berbahaya terlintas pada kedua maniknya yang berwarna sehitam malam, membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri. “Katakan sekali lagi, Wang Chengliu!” teriak Huang Miaoling dengan ganas membuat pria itu bergegas menarik kembali dirinya, khawatir wanita itu akan menggigit telinganya.
Sesuai dugaan, Huang Miaoling mencoba untuk menghampiri Wang Chengliu, tapi rantai pada kedua tangannya menahan ruang gerak wanita tersebut. Hal itu membuat sang Mingwei Junzhu menggeram rendah dan mencoba menarik lepas rantai tersebut.
‘Kurang ajar!’ maki Huang Miaoling dalam hati dengan begitu frustrasi.
Melihat Huang Miaoling kehilangan ketenangannya, Wang Chengliu menampakkan sebuah senyuman puas. “Menurutmu bagaimana kabar Liang Fenghong?” tanyanya, penasaran dengan warna apa lagi yang akan muncul di wajah Huang Miaoling. “Apa kau sudah mendapatkan berita darinya?”
Mendengar pertanyaan Wang Chengliu, Huang Miaoling mengerti jelas bahwa pria itu sedang memancing emosinya. Akan tetapi, jujur saja, hatinya merasa tidak tenang dengan pertanyaan tersebut.
Tidak ada satu pun surat dari Liang Fenghong yang tiba di kediaman sejak terakhir kali pria itu pergi meninggalkan ibu kota, dan itu merupakan suatu hal yang aneh. Namun, mengingat kemampuan yang pria itu miliki, Huang Miaoling percaya bahwa tak mungkin ada hal buruk yang terjadi padanya.
Liang Fenghong berjanji untuk kembali.
“Kau takut,” balas Wang Chengliu dengan sebuah senyuman yang semakin melebar, menunjukkan kebahagiaan atas keterpurukan wanita di hadapannya. “Apa yang akan kau lakukan apabila kukatakan bahwa dia telah jatuh ke dalam tanganku?” tanyanya.
Ucapan Wang Chengliu membuat jantung Huang Miaoling seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik. Bersamaan dengan itu, tatapan wanita itu berubah kosong selama sesaat. Senyuman dan sentuhan lembut Liang Fenghong terbayang jelas dalam benak wanita itu, dan hal tersebut membuat emosi Huang Miaoling mendidih.
Sadar dari keterkejutannya, Huang Miaoling menggertakkan giginya, tidak ingin amarahnya tersulut. “Kau tidak bisa menyentuhnya, kau tidak memiliki kemampuan tersebut,” balas wanita itu dengan sebuah seringai mengejek. Saat ini, Wang Chengliu ingin mengintimidasi dirinya, mengacaukan pikirannya, dan dia tidak boleh terjatuh ke dalam perangkap pria itu. “Jadi, jangan pernah menggunakan Liang Fenghong untuk menyulut emosiku. Hal itu tak akan berguna.”
Balasan Huang Miaoling membuat pelipis Wang Chengliu berkedut, dia sama sekali tidak menyukai kepercayaan diri wanita itu terhadap Liang Fenghong. Karena rencana Wang Chengliu untuk menggunakan Liang Fenghong demi mengacaukan hati Huang Miaoling tidak berguna, maka dia hanya bisa mengubah taktiknya.
“Ayahanda menerima luka yang begitu parah, dia tak akan selamat,” ujar Wang Chengliu. “Dengan kondisi sekarang, hanya ada satu pilihan untuk Kerajaan Shi.”
Huang Miaoling menggigit bibirnya, tahu bahwa ucapan sang pangeran keenam benar. Entah apa yang telah Wang Chengliu lakukan kepada para pejabat lainnya, tapi wanita itu yakin bahwa mereka semua berada dalam tekanan sang pangeran keenam.
__ADS_1
Tidak ada sebuah kerajaan yang bisa bertahan tanpa seorang pemimpin. Dengan spekulasi bahwa nyawa Kaisar Weixin tidak dapat diselamatkan, pengadilan hanya memiliki satu pilihan, yakni mengangkat Wang Chengliu sebagai kaisar.
‘Apabila hal itu terjadi, maka ….’ Rahang Huang Miaoling mengeras, dan kedua tangannya mengepal kuat.
“Kau adalah seseorang yang cerdas, maka aku akan memberikanmu kesempatan.” Melihat tatapan Huang Miaoling, Wang Chengliu tahu bahwa wanita itu mengerti. “Apabila kau memberikanku Wang Zhengyi dan Wu Meilan, maka aku akan melepaskan keluargamu.” Dia mengajukan sebuah pertukaran.
Huang Miaoling menatap Wang Chengliu, lalu dia membalas, “Apa yang akan kau lakukan kalau aku menolak?”
“Jangan mencoba untuk melewati batas kesabaranku, Huang Miaoling” geram Wang Chengliu. “Kau berniat untuk menyelamatkan begitu banyak orang, tidakkah kau sadar bahwa dirimu begitu tamak?” tanya sang pangeran keenam dengan alis meninggi.
Di dunia ini, ada begitu banyak aturan yang tak bisa dipungkiri, dan salah satunya adalah … pengorbanan demi menyelamatkan.
Pada saat ini, Huang Miaoling memutuskan untuk menjawab, “Membicarakan ketamakan, aku yakin diriku tidak bisa menang darimu, Wang Chengliu.” Ekspresi wanita itu berubah datar, tapi pancaran matanya terlihat berbahaya. “Dendam dan ambisi, kau ingin mendapatkan kepuasan atas keduanya.”
“Huang Miaoling …,” geram Wang Chengliu dengan nada memperingati. “Aku telah memberikanmu pilihan!”
Balasan Huang Miaoling terhadap penawarannya menyentuh batas kesabaran Wang Chengliu. “Kau sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan!” geram pria itu. Lalu, dia berbalik dan meninggalkan ruangan. “Chenxiao!”
Dari luar ruangan, terdengar suara Chenxiao membalas panggilan Wang Chengliu, “Yang Mulia.”
Dengan suara yang begitu dingin dan setajam belati, Wang Chengliu menurunkan perintahnya, “Seret wanita itu dari tempat ini, siksa dia sampai mulutnya mengeluarkan jawaban yang kuinginkan!”
Di tempatnya, Chenxiao terlihat sedikit terkejut. Pria itu menengadahkan kepala dan menatap majikannya. Di dalam hati Chenxiao, dia mengira bahwa Wang Chengliu memiliki perasaan terhadap sang Mingwei Junzhu. Hal tersebut membuat pria itu khawatir bahwa perintah ini dijatuhkan akibat gelombang amarah sesaat.
“Yang Mulia, tapi—”
__ADS_1
Sebelum Chenxiao menyelesaikan ucapannya, Mata Wang Chengliu yang terlihat menggila akibat amarah melirik ke arahnya.
Sang pangeran keenam berkata dengan suara rendah, “Apa aku mengizinkanmu untuk bertanya?”
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Chenxiao menundukkan kepalanya dan menjawab, “Hamba mengerti, Yang Mulia.”
Wang Chengliu menyibakkan lengan panjang pakaiannya, lalu berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Selagi Chenxiao mengurus Huang Miaoling, dia masih harus membereskan sejumlah hal.
Sementara itu, Chenxiao berbalik dan memandangi kepergian Wang Chengliu. Pandangan yang didaratkan oleh pria itu pada tubuh majikannya mengandung kekhawatiran.
‘Pangeran Keenam berubah, dia bukan lagi … pangeran yang tenang,’ batin Chenxiao. Lalu, dia menoleh ke arah wanita yang terdiam tak bergerak di dalam ruangan, cahaya penuh kekhawatiran terpancar dari sepasang manik hitam miliknya. ‘Apa melukai Mingwei Junzhu … keputusan yang tepat?’
Baru saja Chenxiao ingin melangkah ke dalam ruangan untuk menjalankan tugasnya, sebuah tangan mendarat di pundaknya. Dia menoleh dan mendapati sosok yang membuatnya langsung meningkatkan kewaspadaan.
“Tuan Lu, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Chenxiao.
Mendengar ucapan Chenxiao, Huang Miaoling mencoba menoleh ke arah luar ruangan. Akan tetapi, rantai pada tangannya membatasi ruang gerak yang dia miliki.
“Tunggu di luar, aku memiliki sejumlah hal yang perlu dikatakan kepadanya,” jawab Lu Si dengan suara tenang.
“Tapi—”
Lu Si melirik ke arah Chenxiao dengan tatapan tajam, “Apa kau berniat untuk menantangku?”
_____
__ADS_1
A/N: Hellowwww manusia-manusia! Kita bertemu lagi dengan note with Luke #apadah. Anyway, yeah, intinya, sepertinya aku sudah selesai meditasi dan istirahatnya. Waktunya menyelesaikan cerita ini :)