Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 52 Keraguan dari Masa Lalu


__ADS_3

A/N: ALERT! ALERT!! BACA INI PENTING!!


Sumpah Author nggak akan bohong, tabung paling nggak 2 bab mulai dari yang satu ini. Kalau nggak, Author jamin kalian nggak akan tidur dengan tenang.


_____


Walau lama tidak bertemu, tapi Huang Miaoling yakin itu adalah Wang Chengliu. Setelah mendengarnya untuk hampir seumur hidupnya di kehidupan lalu, suara tersebut telah tertanam di dalam ingatannya!


Huang Miaoling tak mungkin salah!


Selagi dirinya mematung dalam posisi tidurnya, Huang Miaoling bisa merasakan sentuhan lembut pada dahinya. Helaian rambut yang sempat menutupi dahinya itu terasa disingkirkan dengan hati-hati oleh Wang Chengliu. Sungguh berat bagi Huang Miaoling untuk menahan diri dari tidak menepiskan tangan pria itu.


‘Apa yang dia lakukan!? Kenapa dia di sini?!’ Berbagai pertanyaan muncul di benak Huang Miaoling. ‘Apa maksudnya ini!?’ Namun, ada satu pertanyaan yang lebih mencolok dibandingkan yang lain. ‘Kenapa dia menyebutku dengan nama itu?’


Memalukan bagi Huang Miaoling untuk mengakui hal ini, tapi hatinya yang sekarang hanya menerima panggilan tersebut dari segelintir orang saja. Jika bukan keluarga dan kerabat dekatnya, maka hanya calon suaminya yang boleh memanggilnya dengan nama itu.


Wang Chengliu tidak termasuk di dalam daftar.


Huang Miaoling berusaha keras untuk terdiam, dia tak boleh bangun sekarang. Sebelum dirinya mengetahui tujuan Wang Chengliu datang kepadanya, dia harus mengendalikan diri. Paling tidak, sampai pria tersebut menunjukkan tanda-tanda mengancam.


“Aku sungguh merindukanmu.”


Telinga Huang Miaoling terasa berdengung mendengar ucapan Wang Chengliu. ‘Merindukan …?’


Huang Miaoling bisa mendengar napas Wang Chengliu yang sedikit tercekat, seakan dirinya tidak sedang berada dalam kondisi sepenuhnya sadar. Samar-samar, gadis itu juga mencium bau alkohol.


‘Apa dia … mabuk?’ Jari telunjuk sang Nona Pertama Huang itu sedikit bergerak, tak sabar untuk menghindari pria yang dia anggap berbahaya itu.


“Ling’er,” panggil Wang Chengliu. “Apa hatimu sungguh bukan milikku lagi?” tanya pangeran itu membuat Huang Miaoling kebingungan. Lalu, pria itu mendengus lembut, bahkan sang Junzhu bisa membayangkan senyuman mengejek terpajang di wajahnya. “Tak heran, kau pasti telah membenciku setelah semua yang kulakukan.” Tangan Wang Chengliu meninggalkan wajah Huang Miaoling, tapi suara tangan mengepal terdengar jelas di sisi telinga gadis itu. “Memberikanmu pada Liang Fenghong, aku tidak rela.”


Huang Miaoling merasa sangat kesulitan untuk mempertahankan ekspresi tenangnya. Otot-otot wajahnya berteriak keras, ingin mengekspresikan segala emosi yang bercampur-aduk dalam dirinya.

__ADS_1


Perlahan, Huang Miaoling merasakan hembusan napas Wang Chengliu mendekati wajahnya. Seluruh tubuhnya menegang, menahan diri untuk tidak melayangkan tinju pada pria tersebut.


‘Dia tak mungkin berani!’ Tangan Huang Miaoling mengepal kuat.


Saat Huang Miaoling yakin wajah Wang Chengliu telah begitu dekat dengan wajahnya, tangan gadis itu sudah siap melayang. Namun, sebelum sang Nona Pertama Huang bertindak, dia tersadar pria itu berhenti sejenak, membuatnya juga melakukan hal yang sama.


Tanpa aba-aba, sebuah kecupan kecil mendarat di dahi Huang Miaoling.


Dalam sekejap, Huang Miaoling bisa mendengar langkah Wang Chengliu menjauh dari tempat tidurnya. Sepertinya, pria itu telah bersiap untuk pergi.


“Di kehidupan ini, kau dan aku … ada di sisi yang berbeda.” Suara Wang Chengliu bisa terdengar jelas oleh Huang Miaoling. “Selamat tinggal, Permaisuri Huang.” Hembusan angin pun bisa terdengar diikuti dengan suara jendela yang kembali tertutup.


Detik itu juga, Huang Miaoling membuka matanya. Gadis itu dengan cepat mendudukkan diri dan menoleh ke arah jendela. Dia melihat sosok Wang Chengliu telah menghilang dari pandangan.


Jantung Huang Miaoling berdebar kencang. ‘Dia bilang … apa?’ Kening gadis itu berkerut. ‘Tidak, tidak mungkin!’ Huang Miaoling menyentuh satu sisi kepalanya. ‘Kaisar …?’


Huang Miaoling segera turun dari ranjang. Dengan langkah gontai, gadis itu berlari menuju jendela yang telah tertutup. Dia membuka jendela tersebut, hanya untuk menemukan hembusan angin kencang menghasilkan suara gemeresik daun yang memekakkan telinga.


Huang Miaoling dengan cepat mengusap dahinya, mengusap tempat Wang Chengliu mendaratkan ciumannya. Gadis itu melakukannya berkali-kali dengan keras, membuat kulitnya sedikit memerah. Entah kenapa, Huang Miaoling merasa begitu kotor.


‘Menjijikkan! Menjijikkan!’ teriak Huang Miaoling dalam hati. ‘Apa maksudnya? Apa maksudnya?!’ Ekspresinya menggambarkan sebuah amarah, sebersit kesedihan juga ikut menemani. ‘Kau sungguh … Kaisar? Kau sungguh dia dan kau melakukan semua itu?!’ batin Huang Miaoling. ‘Kenapa?!’


Tiba-tiba, Huang Miaoling merasakan tangan kirinya yang terdiam terasa basah. Gadis itu menurunkan pandangannya ke bawah dan menyadari adanya tetesan air yang mendarat tepat pada punggung tangannya.


Kening Huang Miaoling berkerut, lalu dia menyentuh wajahnya. “Apa … ini?” Dia merasakan ada aliran air pada dua sisi wajahnya. ‘Aku … menangis …?’


Sadar, Huang Miaoling segera mengusap matanya. Namun, air mata itu tidak mau berhenti. Sebaliknya, ia turun semakin deras.


‘Berhenti! Berhentilah!’ pinta Huang Miaoling. ‘Untuk apa kau menangis, Bodoh?!’ makinya selagi memasang ekspresi yang sulit digambarkan, campuran antara marah dan juga putus asa. ‘Tidak, aku tidak menangis karenanya!’


Memori yang telah tersimpan dalam sudut benak Huang Miaoling mulai keluar. Potongan gambaran ketika dirinya mengabdikan sepenuh hatinya kepada sosok suami di kehidupan lalunya itu bermunculan. Hal tersebut membuat dada Huang Miaoling terasa sesak.

__ADS_1


Kelembutan yang tak pernah dia terima, kenapa harus diberikan di kehidupan ini?


Sebuah suara lembut mengambang di benak Huang Miaoling, menyebutkan sebuah nama yang sekarang terdengar asing, ‘A Cheng.’


Huang Miaoling segera berdiri, lalu dia berlari ke luar ruangannya. Napasnya yang terasa sesak tidak terbantu oleh udara segar yang sekarang mengelilinginya. Sebaliknya, pemandangan sendu dari bulan yang tertutup awan membuat hatinya semakin tidak tenang.


“Nona?”


Pada saat ini, Huang Miaoling mendengar sebuah suara. Dia menoleh ke samping dan melihat seorang pelayan yang berjaga menghampiri dirinya. Dua pengawal yang ada di depan tangga terasnya juga menoleh dengan terkejut.


“Apa kau baik-baik saja?!” pekik pelayan itu ketika menyadari bahwa majikannya menangis.


Huang Miaoling terbelalak, dia lupa dengan keberadaan orang-orang ini. Mungkin karena terbiasa mendapatkan tamu tak diundang, Huang Miaoling sungguh tak ingat dengan kehadiran mereka.


Sang Mingwei Junzhu menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya. Dengan cepat, dia menghapus air mata di wajahnya.


Detik berikutnya, Huang Miaoling mengangkat wajahnya. Ekspresi yang terpasang di wajahnya adalah ekspresi tenang yang biasa diperlihatkan. “Aku tidak apa-apa. Sepertinya, pernikahan membuatku sedikit khawatir,” balasnya mencoba untuk menghilangkan prasangka aneh.


Pelayan itu tersenyum, mengira dirinya mengerti tentang perasaan nonanya. “Kau akan baik-baik saja, Nona.” Dia juga menambahkan, “Tuan Muda Liang begitu mencintaimu, kalian pasti bahagia. Menikah dengannya, aku yakin kau tak akan menyesal.”


Selama sesaat, Huang Miaoling membeku. ‘A Feng ….’ Benaknya yang kembali dipenuhi keraguan membuat hatinya merasa terjerat.


Sembari memaksakan diri untuk tersenyum demi membalas ucapan pelayan itu, Huang Miaoling menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan kembali ke dalam kamarnya.


Tepat ketika pintu ruangannya kembali tertutup, senyuman Huang Miaoling menghilang. Keraguan terpampang jelas pada wajahnya.


Perasaan takut mulai melekat di hatinya. Huang Miaoling menggigit bibirnya dengan kuat. ‘Menyesal?’


___


A/N: Bagi kalian yang baca sampe sini, sumpah otor kagum dengan sifat masochist kalian :")

__ADS_1


__ADS_2