Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 159 Lu Si


__ADS_3

“Di dunia ini … tidak ada … seorang ayah … yang akan menelantarkan putranya.” Napas Chenxiao tersengal-sengal. “Bahkan … bila dia tidak lagi bisa … diselamatkan ….”


Mata Huang Miaoling terbelalak saat mendengar hal tersebut. Seluruh tubuhnya bergetar, dan ketenangannya pun menguap kala melihat pandangan Chenxiao mulai kehilangan fokusnya.


“Apa maksudmu?!” seru Huang Miaoling dengan nada tinggi.


Namun, Chenxiao tidak menjawab Huang Miaoling. Kepalanya berputar ke satu arah, lalu dengan lemah, dia menyeret tangannya untuk menunjuk ke satu arah.


“Yang … Mulia ….”


Setelah mengucapkan hal tersebut, tubuh Chenxiao berubah kaku.


Dia … mati.


Huang Miaoling masih termenung di tempatnya sembari menatap Chenxiao selama beberapa saat.


Apa maksud ucapan pria itu?


Seorang ayah tidak akan pernah menelantarkan anaknya?


Apa Chenxiao sedang berkata bahwa … Wang Chengliu adalah putranya!?


Dengan perlahan, Huang Miaoling berdiri. Karena keterkejutan atas informasi yang dia dapatkan, kaki Huang Miaoling terasa goyah. Alhasil, keseimbangannya terganggu dan dirinya pun terjatuh ke belakang.


Tepat pada saat itu, sebuah tangan menahan tubuhnya.


“Ling’er,” panggil sebuah suara dalam yang begitu familier.


Huang Miaoling mengangkat pandangannya, menatap sepasang manik hitam yang familier. “A Feng ….” Suara wanita itu bergetar, ada nada marah dan kebingungan yang bercampur aduk dari caranya berbicara. “Wang Chengliu … dia ….”


Liang Fenghong menganggukkan kepalanya, sudah mendengar ucapan Chenxiao. Pria itu juga merasa terkejut atas kenyataan yang baru saja diketahui.


Jadi, sedari awal Wang Chengliu bukan … putra Wang Weixin!


Namun … dari cara dia mengakhiri nyawa Chenxiao, ayah kandungnya sendiri, Liang Fenghong yakin bahwa pria itu sama sekali tidak tahu mengenai kenyataan tersebut!


Di situasi seperti ini, haruskah mereka kasihan kepada pria itu?


‘Kasihan?’ Liang Fenghong menertawakan dirinya sendiri.


Bodoh kalau dia membuang waktu mengasihani orang tidak waras seperti Wang Chengliu!

__ADS_1


Pria itu tidak bisa lagi diselamatkan dan harus segera disingkirkan!


Berusaha keras menepiskan perasaannya yang kacau, Liang Fenghong menurunkan perintah pada prajuritnya, “Cari Wang Chengliu ke dalam hutan!” Maniknya memancarkan amarah membara. “Kalau hidup, tangkap dia! Kalau mati, aku ingin mayatnya!”


Serentak, sejumlah prajurit memacu kuda ke arah yang ditunjuk oleh Liang Fenghong.


Dari atas dinding pertahanan Jingcheng, sosok Lu Si yang tidak mampu dipandang oleh sembarang orang terlihat memasang wajah penuh ketidakrelaan. Dia melihat ke bawah, pada tangannya yang perlahan terlihat tembus pandang.


‘Hah ….’ Helaan napas berat terlontar dalam hatinya. ‘Waktuku sudah habis.’


Ekspresi pria itu terlihat datar, tapi pancaran matanya memancarkan perasaan terluka.


‘Segel ingatan akan segera terbuka.’


Memikirkan hal itu, Lu Si berakhir menengadahkan kepalanya, menatap matahari yang bersinar terik di hari yang terasa dingin untuknya itu.


‘Hari itu juga sama seperti hari ini, matahari terik menjelang musim dingin,’ batin Lu Si seiring sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. ‘Hari dirimu menciptakan diriku.’


Perlahan, dimulai dari ujung kakinya, tubuh Lu Si berubah menjadi bak debu yang tertiup angin.


Menyadari hal tersebut, Lu Si pun berujar, “Pria itu … sudah mencapai tujuannya ….”


Kepala Lu Si pun mengarah ke bawah, memandang sosok Huang Miaoling dan Liang Fenghong yang tidak lagi bisa melihatnya. Dua orang itu tidak membuang waktu banyak dan berakhir memacu kuda mereka untuk mengejar Wang Chengliu ke dalam hutan.


Ketika setengah tubuhnya sudah menghilang, Lu Si bisa mendengar sebuah suara memanggil dirinya dengan lembut, ‘Lu Si ….’


Panggilan itu membuat Lu Si terbelalak, tidak menyangka dia masih bisa mendengar suara gadis itu dalam benaknya.


“Lan’er,” balasnya dengan mata tertutup.


‘Kau sudah bekerja keras,’ ucap Lan’er dengan lemah. ‘Terima kasih ….’


Kalimat yang dilontarkan suara itu membuat senyuman Lu Si menghilang. Dia menunduk ke bawah, menyadari sebagian besar tubuhnya sudah menghilang.


Tahu dirinya tidak akan lagi ‘ada’, satu tetes air mata luruh menuruni wajahnya.


“Lan’er,” panggil Lu Si dengan hati yang diselimuti ketidakrelaan. “Jangan pernah lupa satu janjimu padaku ….”


Detik berikutnya, sosok Lu Si pun menghilang sepenuhnya dari tempat itu. Namun, ucapan benaknya masih bisa terdengar oleh sosok yang diajaknya berbicara.


‘Berikan akhir yang memuaskan untuk kisah ini ….’

__ADS_1


***


“Hah … hah … hah ….”


Napas berat itu terdengar dari satu sosok yang berusaha memacu kudanya menjauhi medan perang, masuk menerobos hutan agar tidak bisa ditemukan pasukan musuhnya.


‘Sial! Sial! Sial!’ maki Wang Chengliu dalam hati, sama sekali tidak menyangka dirinya akan berakhir di situasi yang begitu menyedihkan.


Tidak pernah sebelumnya Wang Chengliu menebak bahwa Huang Miaoling memiliki senjata yang begitu canggih tersimpan di Jingcheng.


Katapel tempur? Benda itu seharusnya masih dalam penelitian dan belum siap digunakan!


Bahan peledak? Senjata tersebut seharusnya hanya berada di perbatasan dan digunakan untuk perang dengan kerajaan lain, bukan di Jingcheng!


Selain itu, Chenxiao? Wang Chengliu tidak menyangka pengawal pendampingnya itu berakhir mengkhianati dirinya!


Tepat pada saat dia memikirkan hal tersebut, angin berhembus dengan kencang menerpa Wang Chengliu. Hal tersebut mengejutkan kudanya, membuat hewan itu meringkik nyaring sebelum akhirnya mengguncang sang penunggang sehingga terlempar dari punggung.


BRUK!


“Urgh!” geram Wang Chengliu kala tubuhnya terbanting keras ke tanah basah hutan.


Tak berhenti sampai di sana, kuda tersebut berlari ke arah yang baru saja dia lalui. Kentara bahwa sesuatu di dalam hutan membuatnya takut.


Wang Chengliu berusaha berdiri, tubuhnya yang terbanting terasa remuk.


Ketika Wang Chengliu mengangkat pandangan, matanya terbelalak. “Apa-apaan ini …?” gumamnya dengan kaget begitu melihat pemandangan di depan mata.


Sebuah kediaman dengan gerbang kayu besar mendadak tampak di hadapannya.


“Tempat … apa ini?”


Tepat ketika pertanyaan itu terlontar, pecahan gambaran menyeruak masuk ke dalam benak Wang Chengliu. Hal itu membuatnya tampak melihat bayangan samar seorang gadis berambut cokelat terang bergelombang dengan warna mata sama tengah tersenyum ke arahnya di depan pintu gerbang.


“Lu Si, akhirnya kamu pulang!”


Wajah mungil yang bersinar akibat senyuman lebarnya itu membuat ekspresi Wang Chengliu berubah keruh. Dia mengenali wajah itu.


Secara refleks, bibirnya pun mengucapkan sebuah nama.


“Meilan ….”

__ADS_1


A/N: Waduh waduh? Kenapa ... kok Wang Chengliu dipanggil Lu Si?? Coba tebak di kolom komentar ohoho!


Btw, gila gila! Nggak nyangka cerita ini akan segera ditutup >< Kira-kira endingnya, seperti apa ya :)


__ADS_2