
“Segera antar Yang Mulia dan Mingwei Junzhu kembali ke Jingcheng!”
Perintah itu terlontar dari bibir Fang Yu yang berakhir menemukan Liang Fenghong dan Huang Miaoling di tengah hutan.
Akibat gempa besar yang terjadi, kuda yang ditunggangi pasukan Fang Yu panik dan malah berakhir berlari tanpa arah. Namun, beruntung hal tersebut malah membawa mereka menemukan Liang Fenghong dan Huang Miaoling, juga lubang besar mengerikan yang entah muncul dari mana.
Melihat sosok Huang Miaoling dan Liang Fenghong yang memasang wajah pucat dan dipenuhi luka, Fang Yu menunda pertanyaannya dan langsung membawa kedua orang itu kembali ke Jingcheng untuk diobati oleh Mudan.
Baru saja dirinya melewati gerbang Jingcheng, Huang Miaoling dikejutkan oleh sebuah pelukan erat dari seseorang.
“Putriku! Kau kembali dengan selamat!”
Menyadari siapa orang yang memeluknya, Huang Miaoling tersenyum dan membalas pelukan orang tersebut.
“Ayah ….”
Di sisi lain, Liang Fenghong melihat hal tersebut juga ikut tersenyum lega. Tidak sedikit pun pria tersebut menduga bahwa Huang Qinghao juga akan menariknya ke dalam pelukan.
“Kalian berdua … telah bekerja keras …,” ujar Huang Qinghao, sukses membuat Liang Fenghong dan Huang Miaoling sepenuhnya diselimuti kelegaan.
Berita mengenai selamatnya Huang Miaoling dan Liang Fenghong tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru dataran. Hal yang sama juga berlaku untuk kematian Wang Chengliu.
Semua orang bersuka cita mendengar berita tersebut, tapi sebelum merayakan pesta, mereka harus membereskan efek perang yang diderita.
__ADS_1
“Yang Mulia! Anda baru saja sembuh, jangan terlebih dahulu berkeliaran dengan tubuh seperti itu!” tegur Mudan saat melihat Huang Miaoling dan Liang Fenghong meninggalkan kediaman dua hari setelah istirahat.
“Mudan, ada banyak hal yang perlu diurus,” ucap Huang Miaoling.
Di saat ini, Yuanli muncul bersama Meihua. “Junzhu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua urusan militer tengah diurus oleh Tetua dan Jenderal Huang, sedangkan urusan pemerintahan dan hubungan dengan kota sekitar telah diambil alih oleh Tuan Muda Pertama Huang.”
Sosok Yunlin yang telah sembuh juga tampak melaporkan, “Pangeran Keempat dan Ketujuh beserta Tuan Muda Kedua Huang juga sedang dalam perjalanan kemari.” Pria itu tersenyum simpul. “Tidak ada lagi yang perlu kalian khawatirkan.”
Di saat ini, Liang Fenghong memasang wajah khawatir. “Bagaimana dengan keluarga kerajaan? Kaisar Weixin masih belum sadar … Wang Zhengyi tentunya tidak berada dalam kondisi yang baik.”
“Setelah semua jasamu, tidak perlu bagi dirimu untuk mengkhawatirkan urusan keluarga kami juga, Yang Mulia Kaisar.”
Semua orang menoleh dan menatap sosok yang baru saja tiba dengan sejumlah dayangnya.
Mereka berdua berpelukan dengan begitu erat, melepas rindu dan kelegaan saat mendapati satu sama lain berhasil hidup melewati segala malapetaka yang terjadi.
“Kau baik-baik saja …?”
Pertanyaan Huang Miaoling membuat Wang Qiuhua memasang senyum tak berdaya.
“Yang berperang dan hampir kehilangan nyawa bukan diriku, kau tahu?” balas sang putri setengah bercanda, membuat Huang Miaoling tersenyum setengah meringis.
Menepiskan pertukaran rindu sang istri dengan Wang Qiuhua, Liang Fenghong berujar, “Tuan Putri, maaf kalau ucapanku menyinggungmu. Aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri terlalu jauh urusan keluarga kalian.”
__ADS_1
Wang Qiuhua menatap Liang Fenghong dan menggelengkan kepala. “Aku tidak tersinggung sama sekali, Yang Mulia. Hanya saja … sungguh keterlaluan kalau kami masih harus mengandalkan bantuanmu untuk urusan keluarga kami.”
Mendengar ucapan tersebut, Liang Fenghong pun menganggukkan kepala. Dia mengerti niat baik wanita tersebut.
Detik berikutnya, Wang Qiuhua pun berkata, “Lagi pula, nama baik Kakak Pertama berhasil dipertahankan.”
Huang Miaoling mengerjapkan mata. “Apa maksudmu?”
Dengan senyuman tipis nan pahit, Wang Qiuhua berkata, “Ayahanda sempat terbangun dan menyatakan dirinya tidak menyalahkan Kakak Pertama.”
Mata Liang Fenghong membelalak. “Kaisar Weixin terbangun?”
Sebelumnya, Liang Fenghong kira pria itu tidak akan pernah bisa bangun dengan normal lagi! Tapi, pria itu mampu untuk menurunkan dekrit demi membersihkan nama sang putra?!
Namun, pertanyaan itu ditepiskan oleh Liang Fenghong yang menyadari adanya keanehan di wajah Wang Qiuhua.
Kalau memang sang ayahanda sadar, kenapa wajah putri itu terlihat sedih?
Mendadak, Liang Fenghong terbelalak mengingat Wang Qiuhua mengatakan satu kata ‘sempat’.
‘Mungkinkah!?’
“Aku kemari untuk membawakan kabar bahwa … Ayahanda baru saja mangkat.”
__ADS_1