
Situ Yangle mengerjapkan matanya dan terdiam beberapa saat. Kemudian, dia segera mengerti. “Ah ….” Sebuah senyuman muncul di bibirnya. Wanita itu mengulurkan tangannya dan membalas, “Tentu.”
Semua orang terdiam dan menatap ke arah Liang Fenghong serta Situ Yangle. Tak perlu orang cerdas untuk tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Huang Miaoling dengan meminta pria itu memeriksa nadi iparnya.
Pernikahan Situ Yangle dan Huang Yade telah berlangsung cukup lama, tapi sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda akan membuahkan hasil. Sebaliknya, pernikahan Shang Meiliang dan Huang Jieli yang masih belum ranum berusia satu tahun telah menunjukkan perkembangan. Hal itu membuat Huang Miaoling khawatir, akan segera tiba saatnya bagi seseorang untuk mencari celah dari pernikahan saudaranya.
Pandangan tenang Huang Miaoling menutupi benaknya yang sedang menerawang waktu. ‘Di kehidupan sebelumnya, begitu banyak orang menekan pernikahan Kakak Pertama dan Kakak Ipar Pertama. Bahkan bila aku di kehidupan lalu tak begitu perhatian terhadap keadaan di kediaman Huang, tapi aku bisa menyadari bahwa Kakak Ipar Pertama begitu tertekan dengan kenyataan dirinya masih belum mengandung.’ Mata gadis itu terarah lurus pada tangan Liang Fenghong yang sedang memeriksa nadi Situ Yangle. ‘Kalaupun terkesan terlalu ikut campur, tapi aku harus memastikan bahwa harapan masih ada.’ Dia menangkap perubahan ekspresi Liang Fenghong. ‘Kalau sungguh tak bisa ….’
Alis Liang Fenghong bertaut, dan pria itu pun menarik kembali tangannya dari pergelangan tangan Situ Yangle. Pancaran matanya yang terlihat kesulitan membuat napas semua orang terasa sesak, sadar bahwa ada yang salah.
Di sisi lain, Situ Yangle hanya tersenyum. “Masalahnya ada pada diriku, bukan?” tanyanya, nadanya terdengar begitu yakin.
Shang Meiliang dan Huang Miaoling terbelalak dan segera melirik kepada sang Tuan Muda Liang. Tak mereka sangka, pria itu begitu jujur dan menganggukkan kepalanya. Hal tersebut membuat suasana tempat tersebut menjadi sangat berat.
“Kau bisa melakukan sesuatu?” tanya Huang Miaoling pada Liang Fenghong, harapan yang begitu besar terpancar dari matanya. Ketika pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi kesulitan, air muka Huang Miaoling berubah khawatir. “A Feng, kau bisa, bukan? Periksalah Kakak Pertama juga ketika dia pulang nanti. Siapa tahu dialah—”
“Miaoling, jangan menekan Tuan Muda Liang,” ujar Situ Yangle dengan senyuman masih terpasang di wajahnya. “Tak ada masalah dengan Yade,” tambahnya. “Aku sudah mengetahuinya dari awal.” Wanita itu menyesap tehnya dengan tenang. “Tabib Bai telah memeriksaku sebelumnya dan berkata kalau rahimku terlalu dingin untuk mengandung,” jelasnya. “Selain itu, dia berkata bahwa dirinya tak berani melakukan pengobatan.”
Shang Meiliang mengernyitkan dahinya, hati wanita itu merasa penuh dengan rasa bersalah. Selama ini, tanpa mengetahui masalah yang Situ Yangle hadapi, Shang Meiliang sering menggoda iparnya itu mengenai hari dia akan mengandung. Mengetahui kondisi Situ Yangle sekarang, sang Shang Junzhu tahu bahwa tindakannya yang terkesan tak berbahaya ternyata memiliki dampak yang menyakitkan.
Di sisi lain, Huang Jieli terlihat menangkap sesuatu hal yang aneh. “Tidak berani?” dia mengulangi ucapan iparnya. “Tidak berani bukan berarti tidak bisa, bukan?” tanyanya, menyadari ada yang salah dengan kalimat terakhir Situ Yangle.
__ADS_1
Istri sah Huang Yade itu menjelaskan bagaimana kondisi rahimnya yang begitu dingin membutuhkan cara pengobatan yang rumit. Meminum ramuan obat tidak akan cukup untuk membantu rahim wanita itu untuk kembali normal, Situ Yangle masih perlu melalui perawatan akupunktur dan mengatur pola makannya. Mengatur pola makan tentunya bukanlah masalah dengan kemampuan keuangan keluarga Huang. Namun, yang menjadi masalah adalah perawatan akupunktur yang harus dilakukan kepada Situ Yangle.
Walau Tabib Bai mengerti tentang akupunktur, tapi dia tak berani mengambil tindakan terhadap Situ Yangle karena risiko yang begitu besar. Jika gagal, maka rahim Situ Yangle akan sepenuhnya menjadi tak berguna. Tak ingin memberikan tekanan yang begitu besar kepada Tabib Bai—dan lebih khawatir karena tabib itu tak yakin dengan kemampuannya sendiri—Situ Yangle pun memutuskan untuk mengabaikan cara tersebut.
Walau terlihat begitu tegas dan bijaksana, tapi Situ Yangle bukanlah orang yang penuh dengan keberanian. Dibandingkan mempertaruhkan fungsi dirinya sebagai wanita, dia lebih baik bertaruh dengan takdir dan waktu, berharap akan ada hari di mana langit mengasihaninya dan memberikan kesempatan baginya untuk mengandung.
Huang Miaoling terdiam mendengarkan penjelasan iparnya, dia mengerti ketakutan yang Situ Yangle miliki. Jika wanita itu memang tak mengandung setelah beberapa tahun berlalu, istana pasti akan mulai mendorong Huang Yade untuk mengambil selir untuk meneruskan keturunannya. Kalau hal itu terjadi dan Situ Yangle sungguh kehilangan kemampuannya untuk mengandung karena gagalnya pengobatan Tabib Bai, maka di kemudian hari … dirinya tak akan memiliki dukungan untuk berdiri melawan selir Huang Yade di masa depan.
Ah, kalian bertanya mengenai apakah Huang Yade akan begitu tak setia dan sungguh berujung mengambil selir? He he …. Istana memiliki hak untuk ikut campur dalam hal ini, dan bila hal itu terjadi … apakah kalian pikir Huang Yade memiliki pilihan?
Kalaupun Huang Yade menolak saran istana, khalayak ramai akan bergeser dan menargetkan Situ Yangle. Pada saat itu terjadi, Huang Yade tak mungkin kuat melihat istrinya menjadi korban gunjingan, dan dia pun akan terpaksa mengambil selir untuk menghentikan penderitaan Situ Yangle.
Tangan Huang Miaoling mengepal. ‘Sungguh dunia yang menjijikkan.’ Dia menutup matanya. ‘Kalau aku berada di posisi Kakak Ipar, maka persetan dengan gunjingan itu!’
Situ Yangle bukan dirinya.
Liang Fenghong melirik Huang Miaoling, mengerti frustrasi yang dirasakan wanita itu. Pria itu mengerutkan kening dan terlihat berpikir keras untuk beberapa saat. Lalu, tautan ketat alis pria itu melonggar.
Liang Fenghong mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Situ Yangle. “Aku memiliki sebuah cara.” Ucapan pria itu membuat empat orang lainnya, terutama Situ Yangle, terbelalak. “Hanya saja cara ini akan memakan waktu yang cukup lama … dan kau perlu sedikit menderita.” Pandangannya terjatuh selama sesaat sebelum akhirnya terangkat kembali dengan sebuah tekad terlukis di wajahnya. “Walau memakan waktu yang lama, tapi paling tidak itu akan menghadang bahaya dari luar, bukan begitu?”
Mendengar hal ini, mata Shang Meiliang berbinar. “Kakak Ipar! Bukankah itu sebuah kabar baik?!” Wanita itu menggenggam tangan Situ Yangle dengan erat.
__ADS_1
Keterkejutan masih terlihat menyelimuti sosok Situ Yangle ketika Shang Meiliang melakukan hal tersebut, wanita itu tergagap dan kembali bertanya, “T-Tuan Muda Liang, apakah kau serius?” Dia terlihat ragu, masih tak percaya ada jalan keluar bagi rumah tangganya. “Apa tak ada risiko?”
Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah Liang Fenghong seraya dirinya menggeleng. “Aku tak mampu sepenuhnya menjamin kalau pengobatanku akan berhasil. Namun, paling tidak aku tahu pengobatan ini tak ada efek samping seperti yang Tabib Bai katakan.”
***
Suara langkah kaki kedua orang itu terdengar beriringan, mencoba mengimbangi kecepatan berjalan satu sama lain. Lalu, satu sosok yang berjalan lebih cepat dibandingkan sosok lainnya menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” Liang Fenghong bertanya kepada Huang Miaoling yang terdiam di tempatnya.
Tubuh Huang Miaoling berbalik, sepasang manik hitam milik gadis itu mencoba menerawang sosok pria di hadapannya. “Kau sungguh bisa melakukannya? Membantu menyembuhkan Kakak Ipar Pertama?” Ada kecurigaan dalam nada bicara gadis itu.
“Kau tak percaya?” balas Liang Fenghong dengan sebuah pertanyaan lain dengan nada menggoda. “Apa kemampuanku begitu rendahan di matamu?” candanya lagi.
Alih-alih tertawa, tersenyum, maupun marah, Huang Miaoling tetap memasang wajah tenang. Gadis itu sedang mempelajari setiap perubahan ekspresi yang mungkin terjadi pada wajah pria di hadapannya itu. “Ketika awalnya aku bertanya, kau terlihat kesulitan. Saat semua harapan terasa hilang, kau tiba-tiba mengatakan bahwa kau memiliki sebuah cara, mengapa demikian?”
___
[1] Xi Wang Mu / Ibu Ratu dari Barat: sosok dewi yang dipercaya menguasai surga bagian Barat Tiongkok. Dikenal sebagai ratu para dewi yang menjaga dan mengatur para dewi. Beberapa mengatakan dirinya mengerikan, tapi juga bijaksana dan sering kali memberikan kesempatan bagi beberapa manusia tertentu untuk mencapai keabadian.
__ADS_1