Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 105 Amarah Wang Chengliu, dan Surat Tak Terduga


__ADS_3

Suara benda yang terpecah-belah ketika menemui dataran keras bisa terdengar. Pecahan yang kembali terpelanting menimbulkan bunyi nyaring yang menusuk telinga. Hal tersebut diiringi dengan teriakan dan geraman penuh amarah seseorang.


“Hah! Jal*ng!” makian seorang pria terdengar dari dalam ruangan.


“Yang Mulia! Yang Mulia, tenanglah!” suara pria lain menyelingi, mencoba menenangkan majikannya yang diselimuti emosi menggebu-gebu. Karena tidak kian berhasil menghentikan majikannya, pria yang tak lain adalah Chenxiao itu terpaksa berseru, “Pangeran Keenam! Kalau ada yang mendengar mengenai kemarahanmu setelah bertemu dengan Mingwei Junzhu, maka akan ada banyak rumor yang tersebar! Itu akan menjadi penghalang bagi rencana besarmu!”


Dengan dua tangan yang menggenggam erat kedua sisi meja kerjanya, ekspresi yang terpampang di wajah Wang Chengliu terlihat begitu menyeramkan. Manik hitam kecokelatannya terlihat lebih gelap, seakan dirinya mampu membunuh siapa pun yang dia tatap.


Berhasil menenangkan Wang Chengliu tidak membuat Chenxiao lega, dia masih terlihat waspada. Tidaklah mudah bagi seseorang untuk memancing emosi sang pangeran keenam. Namun, hanya dengan menghabiskan beberapa waktu berdua Huang Miaoling, emosi yang kian tenang bak air tak beriak milik Wang Chengliu mendadak meledak tanpa tertahan sedikit pun!


‘Siapa sebenarnya Mingwei Junzhu bagi Pangeran Keenam?!’ teriak Chenxiao dalam hati dengan frustrasi.


Dari awal, Chenxiao mengira Wang Chengliu jatuh cinta kepada Huang Miaoling, sama seperti yang diduga Wang Zhengyi. Mengingat dia tumbuh penuh tekanan, pengawal pendamping itu mengira bahwa sang pangeran keenam memiliki cara yang ‘berbeda’ ketika ‘mencinta’. Namun, melihat keadaan saat ini, dia sangat yakin bahwa apa yang Wang Chengliu rasakan terhadap Huang Miaoling bukanlah cinta!


Sementara pikiran Chenxiao berputar mempertanyakan hubungan sang majikan dengan Mingwei Junzhu, benak Wang Chengliu sibuk mempertanyakan hal lain.


‘Bagaimana Huang Miaoling tahu mengenai Ibu?!’ Kedua tangannya mengepal erat, mencoba menahan emosi yang kembali memuncak. ‘Seharusnya, tidak ada yang tahu-menahu mengenai hal itu kecuali Chenxiao dan wanita itu!’


Wang Chengliu melirik bawahannya yang sedang menatap kosong ke lantai selagi menggenggam pangkal pedang di pinggangnya. Lalu, pangeran itu menggelengkan kepala.


‘Tidak, tidak masuk akal bagi Chenxiao untuk berpihak terhadap Huang Miaoling.’ Dia mencoba berpikir kembali, dan mendadak pria itu terbelalak. ‘Mungkinkah bukan Chenxiao, melainkan—’


Suara decitan nyaring pintu yang terbuka bisa terdengar. Hal itu diikuti dengan sebuah suara yang berkata dengan nada mengejek, “Bisa kulihat kau mendekorasi kembali ruanganmu.”


Netra Wang Chengliu terarah ke pintu yang mendadak terbuka, begitu pula Chenxiao yang segera waspada. Keduanya menatap tajam ke arah sosok yang baru saja tiba.


“Lu Si!” Wang Chengliu dengan cepat mengitari mejanya dan melesat ke arah pria bermata merah itu. Tangan kanan sang pangeran keenam mencengkeram kerah pakaian Lu Si dengan kuat, “Kau yang membocorkan rahasiaku kepada Huang Miaoling?!”


Melihat sikap Wang Chengliu yang tidak sopan, Lu Si menepiskan tangan pria tersebut dari kerahnya. Satu tepisan itu membuat Wang Chengliu langsung melepaskannya, bahkan terlihat jelas tangan pangeran itu bergetar karena kekuatan Lu Si yang cukup besar.


"Dan, untuk apa aku melakukan hal tersebut?” tanya Lu Si sembari menepuk-nepuk pakaiannya, seakan baru saja disentuh hal kotor. Pria itu menaikkan alisnya, “Apakah bertemu dengan mantan istrimu membuat otakmu tidak lagi berfungsi?”


Mendengar hal ini, Chenxiao yang tidak mengerti dengan apa yang Lu Si bicarakan sekejap mengerutkan kening. “Mantan … istri?” gumamnya dengan wajah bertanya-tanya.


Sadar dengan keberadaan Chenxiao, dan kenyataan bahwa pengawal pendampingnya itu baru saja mendengar sesuatu yang tak seharusnya dia dengar, Wang Chengliu melotot. Lalu, pria itu berteriak ke arah Chenxiao, “Keluar! Cepat keluar!”


Tanpa berpikir panjang, Chenxiao pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Walau bingung, tapi dia tidak ingin menuangkan minyak ke dalam api. Wang Chengliu sudah sangat marah, kalau dia tidak mematuhi perintahnya, itu berarti Chenxiao sengaja mencari masalah!


Melihat reaksi besar Wang Chengliu, Lu Si mendengus, “Aku mulai mempertanyakan apakah memilihmu merupakan keputusan yang tepat.” Dia memutar bola matanya, merasa malas dengan emosi Wang Chengliu yang tidak terkendali. “Hanya dengan satu pertemuan, Huang Miaoling mampu melenyapkan ketenangan yang selama ini kau jaga. Luar biasa,” ejeknya.


Kesal, Wang Chengliu menggeram, “Bagaimana Huang Miaoling mengetahui masa lalu ibuku?”


“Apa itu penting?” Lu Si membalas Wang Chengliu seraya mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Apa hal tersebut akan mengacaukan semua rencanamu yang telah berlangsung?” tanyanya.


Pertanyaan yang Lu Si ajukan membuat Wang Chengliu membentak, “Kalau dia mengetahuinya, maka dia mampu menebak langkahku berikutnya!” Kepalan tangannya memukul meja dengan kasar, mencoba mencari cara agar gatal dalam hatinya ini terlampiaskan. “Rencanaku akan hancur!”


Lu Si mendecakkan lidahnya, memaki dalam hati, ‘Lan’er, kau sungguh-sungguh ….’


Detik Wang Chengliu menanyakan perihal ibunya, Lu Si yakin bahwa Lan’er orang yang memberi tahu Huang Miaoling. Tidak ada pihak lain yang mampu menjadi informan mengenai hal tersebut.

__ADS_1


Akhirnya, Lu Si berkata, “Percepat segalanya,” dia mendudukkan diri di salah satu kursi di ruangan tersebut. “Huang Miaoling jelas baru mengetahui hal ini dalam waktu dekat. Oleh karena itu, sebelum dia bisa melakukan apa pun, segera laksanakan rencana kita.”


Wang Chengliu memasang wajah serius, dia mulai memperhitungkan sesuatu di dalam benaknya. “Mempercepat rencana … berarti tidak menunggu Hudie dan Chen Meiping,” ujarnya dengan suara rendah. Pria itu melirik ke arah Lu Si, “Kau bermaksud untuk—"


“Gunakan hari ritual kematian Wang Wuyu,” potong Lu Si. “Di hari itu, aku akan membantumu mengamankan takhta.”


***


Suara pedang yang saling beradu menciptakan dentingan nyaring yang memekakkan telinga. Seruan yang mengiringi setiap serangan menyuarakan emosi yang tertimbun dalam hati dan raga, menjadikan pertarungan dua benda tajam itu sebagai pelampiasan jiwa.


Seorang wanita mengayunkan pedang dengan ganas ke arah lawannya, menyebabkan sang lawan—yang merupakan seorang pria—terdorong mundur ke belakang untuk beberapa langkah. Sebelum pria itu siap menerima serangan lain, ayunan pedang berikutnya telah mengarah ke wajahnya, membuat sang pria berseru kaget selagi mengangkat pedangnya secepat mungkin.


“Ah!” teriakan itu terdengar diikuti dengan suara pedang yang terpelanting ke tanah. “Aku menyerah!” seru sang pria seraya membanting bokongnya ke tanah. “Junzhu, aku menyerah!” dia mengangkat tangan.


“Yang lainnya!” Huang Miaoling menatap ke segala sisi dengan mata membara, menyapu ekspresi ketakutan para anggota pasukannya. Tiba-tiba, dia mengarahkan pedangnya kepada seorang prajurit, “Kau! Kemari!” teriaknya. “Lawan aku!”


Prajurit malang itu ingin menangis, merengek memohon ampun atas kesalahan apa pun yang telah dia lakukan kepada sang Mingwei Junzhu. Namun, dia tak melakukannya karena tahu hal tersebut tak berguna. Mingwei Junzhu sedang marah, dan berduel adalah salah satu cara wanita itu melampiaskan emosinya.


Tak berapa lama, suara ringkikan kuda terdengar. Fang Yu yang telah mendapatkan jatah amarah Huang Miaoling sedang terduduk di pinggir lapangan, dan mendengar suara kuda membuat dirinya menoleh untuk melihat siapa yang mengunjungi markas.


Melihat dua sosok yang disambut oleh prajurit yang berjaga di gerbang markas membuat Fang Yu terbelalak. ‘Ah! Itu—!’ Pra itu tak menyelesaikan ucapan batinnya dan langsung berlari ke arah gerbang. Di hadapan dua tamunya—yang sedikit terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba—Fang Yu membungkuk hormat, “Salam kepada Tuan Muda Kelima dan Keenam Huang!”


Memperhatikan penampilan Fang Yu, Huang Junyi dengan mudah menebak, “Kau Letnan Jenderal Fang, bukan?”


Kejelian Huang Junyi membuat Fang Yu sedikit terkejut. Bagaimanapun, dirinya saat ini hanya mengenakan pakaian latihan biasa, bukan baju zirah yang mempertontonkan identitasnya. ‘Bagaimana dia bisa mengenaliku?’ batinnya dalam hati.


‘Sering kudengar bahwa putra-putri keluarga Huang memiliki karakteristik yang menonjol, memang tidak salah,’ Fang Yu berkata dalam hati. ‘Menteri Huang, Wakil Jenderal Huang, Mingwei Junzhu, juga kedua tuan muda ini.’ Lalu, dia tersadar akan sesuatu, ‘Ah, kenapa Mantan Putri Mahkota berbeda?’


“Baik, Tuan Muda,” balas Fang Yu seraya mempersilakan Huang Hanrong dan Huang Junyi untuk masuk.


Ketika mendekati pinggir lapangan, Huang Junyi dan Huang Hanrong terbelalak melihat pemandangan di hadapan mereka. Sejumlah prajurit tergeletak di lantai dengan keringat membasahi wajah dan tubuh, beberapa memar dan luka juga bisa terlihat di tubuh mereka. Sementara itu, di tengah lapangan, terdapat Huang Miaoling yang sedang bertarung secara intens dengan salah satu bawahannya.


Melihat rambut dan pakaian Huang Miaoling yang basah karena keringat, Huang Hanrong mengerutkan keningnya. “Sudah berapa lama Kakak Ketiga seperti itu?” tanyanya dengan ekspresi khawatir.


Fang Yu menjawab, “Kurang-lebih … sejak dua jam yang lalu.”


Huang Hanrong mendecakkan lidahnya. “Hentikan di—"


Sebelum ucapan Huang Hanrong selesai, Huang Junyi telah terlebih dahulu melesat ke arah lapangan. Sembari mengeluarkan pedang dari sarung yang bertengger di sisi pinggangnya, pemuda itu berseru, “Menyingkir!”


Teriakan ini membuat Huang Miaoling dan prajurit yang sedang melawannya menoleh. Lalu, keduanya dengan cepat menjauh dari satu sama lain, menjauh dari ayunan pedang Huang Junyi yang seakan ingin membelah tanah.


“Huang Junyi!” Huang Miaoling yang baru menyadari kedatangan adiknya berseru kaget. “Apa yang—!?”


Huang Junyi tidak menunggu ucapan Huang Miaoling untuk selesai. Dengan lincah, dia langsung melesat ke arah sang kakak dan menebas pedangnya.


Detik pedang Huang Junyi bertemu dengan pedang Huang Miaoling, pemuda itu menggertakkan giginya. ‘Sudah dua jam berkelahi tanpa henti, tapi tenaganya masih begitu besar?!’


Huang Miaoling bisa membaca pikiran adiknya, dan dia pun menyeringai. “Kau masih seratus tahun terlalu muda untuk mengalahkanku,” kalimat itu klise, tapi sang Mingwei Junzhu merasa ini adalah saat yang tepat untuk menggunakannya. “Ha!”

__ADS_1


Dengan kekuatan besar, Huang Miaoling mendorong mundur Huang Junyi sebanyak satu langkah. Kemudian, wanita itu menekan pedangnya dengan kuat kepada pedang adiknya, menyebabkan suara gesekan nyaring yang menusuk telinga.


Sadar tenaga di tangannya mulai menguap, Huang Junyi melompat mundur. Namun, Huang Miaoling tidak mengizinkan pemuda itu menjaga jarak terlalu lama.


“Kau mau ke mana, Junyi?” tanya Huang Miaoling dengan sebuah senyuman lepas yang sudah lama tak dia tampakkan.


Melihat sang kakak telah melompat tinggi, siap membelah dirinya, Huang Junyi hanya bisa terbelalak. Dia masih mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan Huang Miaoling, tapi hati kecilnya tahu bahwa serangan itu tak akan bisa dia tangkis sepenuhnya.


“Haaa!” seruan penuh semangat itu membuat mata semua orang membesar, beberapa berusaha melangkah maju sembari berteriak untuk menghentikan kegilaan sang Mingwei Junzhu.


Suara dentingan kecil pertemuan kedua pedang bisa terdengar, membuat semua orang yang tadi sempat berteriak membeku.


Tunggu, ‘dentingan kecil’?


Semua orang —termasuk Huang Junyi—mengerjapkan mata dengan kaget. Mereka mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi.


Sadar bahwa Huang Miaoling hanya menakutinya, Huang Junyi berseru, “Kakak!”


Reaksi menggemaskan dari adik kecilnya membuat Huang Miaoling tertawa, lalu dia mengacak-acak rambut Huang Junyi yang wajahnya memerah. Jelas pemuda itu malu karena begitu serius menghadapi Huang Miaoling ketika wanita itu sendiri hanya berniat mempermainkannya.


“Astaga, tentunya aku tak akan melukaimu, Junyi,” ucap Huang Miaoling.


Melihat tawa kakak ketiganya begitu lepas, Huang Junyi menarik napas dalam-dalam dan menghelanya. Dia memasang senyuman. Paling tidak, kebodohannya bisa membuat suasana hati kakaknya itu membaik.


Sadar bahwa dirinya terlalu menarik perhatian, Huang Miaoling berseru, “Bubar, kalian semua diistirahatkan,” ucapannya membuat para prajurit bersorak-sorai, senang akan kemerdekaan dari penderitaan. “Hanya untuk beberapa waktu, masih ada latihan sesi terakhir sebelum kalian sepenuhnya dibubarkan,” wanita itu mengingatkan, mengakibatkan sorak-sorai itu melemah … digantikan isakan tangis rendah yang dibuat-buat.


Huang Miaoling berniat membawa Huang Junyi dan Huang Hanrong ke dalam ruangannya di Markas Longzhu, mengira kalau kedua pemuda itu datang untuk berkunjung. Namun, Huang Hanrong berkata, “Kakak Ketiga salah paham, kami datang kemari bukan untuk berkunjung.”


“Hmm?” Huang Miaoling tidak menyangka akan mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut adiknya. “Jadi, apa tujuan kalian kemari? Bukan Kakak Pertama yang mengirimkan kalian?”


Pertemuan Huang Miaoling dan Wang Chengliu jelas akan secepat kilat tersebar di istana. Karena masih bertugas di istana, Huang Yade tentunya telah mendengar hal ini. Sebagai sang kakak pertama, pria itu tahu semua hal yang menyangkut Wang Chengliu mampu membuat emosi adik ketiganya itu tak terkendali. Oleh karena itu, Huang Miaoling menduga bahwa Huang Yade mengirimkan kedua adiknya untuk meringankan suasana hatinya yang tak baik.


Sembari menggeram dalam hati, Huang Miaoling membatin, ‘Baiklah, sepertinya aku sungguh memandang tinggi diriku sendiri.’ Lalu, dia tersadar bahwa dia baru saja mengiyakan ucapan Wang Chengliu mengenai dirinya beberapa saat yang lalu. ‘Tidak, aku hanya tahu diri,’ wanita itu mencoba membela diri.


Huang Hanrong berkata dengan senyuman tak berdaya terlukis di wajahnya, “Kalau sungguh ingin berkunjung, kami tidak akan mencarimu dengan begitu susah-payah dan hanya akan menunggu di Fengzhi Suo.”


Sebelum kemari, Huang Hanrong dan Huang Junyi sempat berkunjung ke Fengzhi Suo, tapi Qiuyue memberi tahu mereka bahwa Huang Miaoling masih belum kembali. Sempat juga mendatangi Lianhua Yuan, tapi Mudan mengatakan hal yang sama. Beruntung, mata-mata Lianhua Yuan luas, dan dengan cepat Mudan menginfokan mengenai keberadaan Huang Miaoling di Markas Longzhu.


Huang Junyi pun menjelaskan, “Si Tua Bangka berkata bahwa dia memiliki sesuatu yang perlu dikatakan padamu.” Pemuda itu jelas sedang merujuk pada Qing Gangtie.


“Guru Besar Qing?” Huang Miaoling mengerutkan keningnya. “Kenapa?”


Kali ini, Huang Hanrong yang menjawab, “Dia mendapatkan surat dari salah satu orang terpercayanya … dari Zhou.”


___


A/N: Mungkin dari kalian ada yang berpikir, "Thor, akhir-akhir ini narasi lu kebanyakan bac*tnya."


Me: Maap yak, ngejar target, dah mo akhir bulan WKWKWK

__ADS_1


__ADS_2