Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 157 Pengkhianatan?


__ADS_3

“Apa maksud ucapanmu itu?!” seru Huang Miaoling selagi menatap suaminya. “Bagaimana mungkin Lan’er dan Wang Chengliu bisa—”


“Junzhu! Mereka telah melewati batas panahmu!” seruan Langcao membuat Huang Miaoling mengalihkan pandangan.


Mendengar hal ini, Huang Miaoling menahan rasa penasarannya perihal Wang Chengliu dan Lan’er untuk kemudian membalas, “Laksanakan sesuai rencana!”


Langcao menganggukkan kepala, lalu menghadap barisan pemanah. Dia memberikan isyarat sebelum kemudian berseru lantang, “Lepaskan!”


Seruan Langcao terdengar lantang, lalu diikuti oleh para komandan lainnya.


Huang Miaoling yang awalnya ingin bertanya lebih jauh perihal pernyataan suaminya langsung melirik ke arah luar gerbang. Dari celah gerbang yang masih sedikit terbuka, wanita itu menatap ke arah ratusan pasukan berjalan Wang Chengliu yang dihujani ratusan panah.


Tempat panah-panah itu mengarah selaras dengan tempat panah Huang Miaoling mendarat. Hal ini membuat Chenxiao yang berada di barisan belakang pasukan Wang Chengliu mengepalkan tangannya. Dia baru menyadari alasan Huang Miaoling tidak menembakkan panah kepada Wang Chengliu.


Bukan karena tidak mampu, melainkan karena panah itu berfungsi sebagai tanda batas bagi pemanah pasukan Huang Miaoling!


“J-Junzhu sungguh luar biasa!” seru sejumlah prajurit yang juga menyadari hal tersebut.


Walau dirinya menerima pujian, tapi hati ekspresi Huang Miaoling terlihat suram. Dia menatap para pasukan berjalan Wang Chengliu yang terus berjalan tanpa takut menyerbu dinding pertahanan.


“Ini … pembantaian,” ujar salah seorang prajurit lain dengan tangan bergetar.


Mata Huang Miaoling melirik para pemanah di atas dinding, mendapati ekspresi buruk menghiasi wajah mereka. ‘Hebat sekali, Wang Chengliu …,’ pujinya dengan sarkastis dalam hati selagi menatap pasukan berkuda yang berdiam menunggu giliran.


Yang sekarang sedang terjadi merupakan permainan pikiran. Di awal, Wang Chengliu dengan sengaja menuduh Huang Miaoling sebagai pengkhianat, menekankan dirinya telah menyandera keluarga kerajaan. Hal tersebut diikuti dengan pasukan berjalan yang menyerbu dinding pertahanan dan mati sia-sia oleh panah pasukan Jingcheng.

__ADS_1


Kalaupun saat ini posisi mereka berlawanan, tapi bagaimanapun pasukan Wang Chengliu merupakan bagian dari Kerajaan Shi, sama halnya dengan pasukan Jingcheng. Demikian, ketika mereka membunuh pasukan dari ibu kota dengan begitu mudah, pasukan Jingcheng akan merasa seperti pengkhianat yang telah membunuh saudara sendiri.


Keyakinan mereka akan goyah.


“Taktik yang begitu licik dan hina,” bisik Huang Miaoling, tahu bahwa Wang Chengliu sengaja mengorbankan nyawa pasukan berjalannya untuk menggoyahkan keyakinan pasukan Jingcheng. “Pasukan Longzhu bersiap!” teriak wanita tersebut seraya mengarahkan Mazu ke arah gerbang.


Liang Fenghong mengerutkan keningnya. “Kau akan keluar? Dia sengaja melakukan ini untuk memancingmu.”


Huang Miaoling menatap Liang Fenghong dan berkata, “Moral pasukan akan menjadi semakin rendah kalau aku tidak keluar. Semakin lama waktu yang berlalu, semakin lemah keyakinan pasukan pada diriku." Dia mencengkeram tali kudanya dan menambahkan, “Kalau apa yang baru saja kau katakan mengenai Wang Chengliu dan Lan’er benar adanya, maka semakin cepat diriku harus mengakhiri semua ini!”


Mendengar ucapan istrinya, Liang Fenghong menjajarkan kudanya dengan kuda Huang Miaoling seraya berkata, “Jangan terbawa emosi, hadapi semuanya dengan tenang.” Dia melirik sang istri. “Mengerti?”


Kepala Huang Miaoling mengangguk seiring wajahnya berubah tegas. “Serang!”


***


Dengan mata tajam yang terus menatap pasangan tersebut, Wang Chengliu mengangkat tangannya tinggi ke udara, membuat Chenxiao dan para pasukannya kebingungan. “Para pemanah, bersiap!”


Perintah Wang Chengliu membuat Chenxiao terkejut. “Yang Mulia, apa yang kau—!” Dia tersentak ketika melihat ekspresi gila yang terpancar di wajah sang kaisar muda. “Kau akan mengorbankan ribuan pasukan kita untuk membunuh kedua orang itu?!”


Wang Chengliu mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut Chenxiao. Menyadari para prajurit pemanah tidak mendengarkan perintahnya dan hanya terlihat kebingungan, dia membentak, “Apa kalian tidak mendengar perintahku?!”


Dengan terpaksa, para prajurit pemanah mengangkat busur dan mengarahkan anak panah. Tangan mereka bergetar, tidak merasa rela mengikuti perintah yang akan mengakibatkan ratusan nyawa saudara hilang di tangan mereka sendiri.


“Yang Mulia! Pikirkanlah kembali dengan bijak!” teriak Chenxiao dengan wajah ketakutan, tak menyangka Wang Chengliu akan mengambil pilihan seperti ini.

__ADS_1


Selain Pasukan Kematian di bawah kepemimpinan Hudie, tidak ada orang lain yang tahu jelas kebenaran atas pengkhianatan Wang Chengliu terhadap keluarga kerajaan. Bahkan setelah dinobatkan sebagai kaisar, Wang Chengliu selalu menutupi kenyataan tersebut dan menjatuhkan kesalahan pada nama Huang Miaoling beserta keluarganya.


Lalu, kenapa sekarang dia secara terbuka menghancurkan topeng pemimpin bijaknya?


Apa semua hanya untuk membunuh Huang Miaoling dan Liang Fenghong?!


Tidakkah dia sadar bahwa ini akan berefek kepada keyakinan prajurit terhadap dirinya di kemudian hari?!


Pada saat ini, Chenxiao teringat akan satu ucapan Huang Miaoling di hari dirinya menyiksa wanita itu.


“Akan datang satu hari di mana kau menyadari … bahwa orang yang kau dukung itu adalah seseorang yang telah kehilangan kewarasannya.”


Chenxiao melihat bagaimana Huang Miaoling membuat para prajurit di bawah pimpinannya bersiaga. Wanita itu terlihat memicingkan mata dan menatap benci ke arah Wang Chengliu.


“Formasi pertahanan!” teriak Huang Miaoling, bersiap untuk menerima hujan panah dari pasukan Wang Chengliu.


Di sisi lain, Chenxiao melihat bahwa usaha Huang Miaoling membuat Wang Chengliu memasang ekspresi keji. Kaisar muda itu tidak lagi peduli dengan reputasinya, dia hanya ingin menjatuhkan Jingcheng!


“Temb—!?”


Ucapan Wang Chengliu berhenti secara mendadak, sebuah benda dingin terasa menempel pada lehernya. Tanpa menggerakkan kepalanya sedikit pun, pria itu melirik ke bawah, menyadari sebuah pedang telah berada di sana.


Manik hitam Wang Chengliu perlahan bergeser ke kanan, menggerayangi pemilik pedang dengan tatapan mematikan.


“Chenxiao,” panggilnya dengan suara tertahan. “Apa yang kau lakukan?”

__ADS_1


___


A/N: Abis kelarin ini, author bikin cerita smut dulu ato kerajaan lagi ya? (Lah pertanyaan apa ini Luke?!)


__ADS_2