
“Ah …,” desahan yang begitu menggoda kabur dari bibir mungil wanita itu, membuat sang pria yang sedang menikmati tubuhnya mendesis. Matanya yang berkaca-kaca terlihat begitu menawan, terutama saat mencerminkan kenikmatan yang dia rasakan.
“Wushuang, aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu,” ujar pria itu dengan manik hitam kecokelatannya yang menenggelamkan. Tangannya merengkuh pinggang wanita di hadapannya, menghilangkan jarak yang sempat ada. “Lupakan Wang Zhengyi,” pria itu menatap dalam-dalam manik cokelat wanita tersebut, menghipnotisnya. “Kau bersedia menjadi milikku, bukan?”
Wanita itu membalas tatapan sang pria, merasa nafsu menguasai pikirannya. Namun, tak hanya nafsu, tapi perasaan juga mengelabui benaknya. “Aku bersedia, aku bersedia … ah!” Entakan yang tubuhnya terima membuat kepalanya tertarik ke belakang.
Tanpa wanita itu sadari, sebuah senyuman mengerikan terpasang di wajah sang pria. “Panggil namaku,” pintanya dengan suara parau yang membakar hasrat.
Kenikmatan yang bergejolak di inti tubuhnya membuat wanita itu mengerang, “Chengliu!”
*Beberapa saat yang lalu*
“Jaga baik-baik Selir Huang,” ujar Yuanli, “aku harus pergi sesaat.” Dia memberikan satu bongkah perak kepada pelayan yang berdiri di hadapannya.
Gadis pelayan itu menerima perak dari Yuanli sembari memutar bola matanya, “Aku mengerti, aku mengerti.” Lagi-lagi, dia mendapatkan tugas menggantikan Yuanli untuk berjaga di depan kamar Huang Wushuang. Walau malas, tapi bayaran yang diberikan Yuanli tak pernah mengecewakan.
“Pastikan untuk menjaganya, dan jangan biarkan sembarang orang masuk ke halaman,” tegas Yuanli lagi.
“Ya, ya. Tenanglah, Yuanli,” balas gadis pelayan itu, sibuk mengagumi perak yang dia terima. “Sudah bukan sekali-dua kali aku melakukan hal ini untukmu.” Dia mengalihkan pandangannya kepada Yuanli dan tersenyum penuh arti, “Luangkanlah waktu bersama kekasihmu itu dengan baik! Aku tak akan memberi tahu siapa pun mengenai hal ini.” Sejak kepergian Yunlin, sudah sering Yuanli melakukan hal ini. Bukanlah sebuah rahasia bahwa keduanya memiliki hubungan.
Yuanli mengerutkan keningnya, menunjukkan ekspresi tidak suka terhadap kesalahpahaman pelayan tersebut. Akan tetapi, dia tahu bahwa tak ada guna meluruskan. Sebaliknya, hal itu merupakan sesuatu yang bisa melindungi Yuanli apabila terjadi sesuatu ke depannya, juga menyembunyikan tujuan aslinya.
Karena tidak memiliki hal lain yang bisa dikatakan, Yuanli hanya bisa menghela napas sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Masih ada hal lebih penting yang harus dia lakukan malam ini, dia tak ingin menghabiskan waktu lagi.
Entah berapa waktu telah berlalu, tapi malam telah sangat larut. Pelayan yang berjaga di depan ruangan Huang Wushuang menguap beberapa kali dan terus memukul nyamuk yang menggigit kulitnya yang terbuka, “Ah, nyamuk si*lan!” Dia terlihat sangat bosan, tapi karena telah menjual jasa, maka dia harus menyelesaikan tugas yang diberikan. ‘Andai ada pelayan atau pengawal lain, harusnya malam ini tidak akan begitu membosankan.’
Sejak gelar putri mahkota Huang Wushuang dicabut, Wang Zhengyi menarik sebagian besar pelayan dan juga pengawal. Semua orang membicarakan bagaimana hal tersebut merupakan cara sang pangeran mahkota untuk menunjukkan bahwa pria itu tak lagi peduli dengan Huang Wushuang. Namun, sebenarnya ada niat lain di balik tindakan tersebut.
Sementara, niat itu masih sebuah rahasia.
Selagi pelayan itu sibuk melindungi dirinya dari serangan serangga pengisap darah, sebuah jarum melesat dari kegelapan dan menancap tepat di lehernya. Hal itu membuat sang pelayan mengernyit dan menyentuh sisi lehernya. Merasa ada benda asing yang bersemayam di sana, pelayan itu mencabut keluar jarum tersebut.
Gadis pelayan itu memperhatikan jarum yang terapit kedua jarinya dengan wajah kebingungan, “Bagaimana bisa …,” tak sempat dia menyelesaikan kalimat tersebut, pandangan pelayan itu perlahan membuyar. “Apa yang ….” Dan, dia pun kehilangan kesadarannya.
Mendengar dentuman dari luar kamarnya, Huang Wushuang yang memang tidak bisa tertidur segera membuka matanya. Wanita itu bergegas turun dari tempat tidur dan menghampiri pintu ruangannya. Hanya saja, baru sejenak dirinya menapakkan kaki di ruang tamu, pintu ruangan terbuka, menampakkan satu sosok familier yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
Mata hitam kecokelatan itu mendarat pada sosok Huang Wushuang dengan tajam, membuat jantung wanita itu berdebar—takut. “P-Pangeran Keenam,” panggil sang Selir Huang, teringat dengan peringatan yang diberikan oleh Wang Chengliu dahulu untuk ‘memperhatikan statusnya’. Belum sempat Huang Wushuang mengatakan hal lain, Wang Chengliu segera menghampiri wanita itu dan memeluknya. Huang Wushuang pun membeku, ‘Apa yang—!'
Sadar bahwa tindakannya salah, Wang Chengliu segera melepaskan pelukannya untuk kemudian menjauh dari Huang Wushuang. Wajahnya menampakkan ekspresi malu dan salah tingkah. “M-maafkan aku, Selir Huang. Aku … aku hanya sangat mengkhawatirkanmu.”
__ADS_1
Pernyataan Wang Chengliu membuat Huang Wushuang terbelalak, ‘Mengkhawatirkanku?’
“Apa kau baik-baik saja? Setelah semua yang terjadi, apa para pelayan memperlakukanmu dengan baik?” tanya Wang Chengliu dengan wajah terluka, seakan bersedih dengan situasi yang menimpa Huang Wushuang saat ini.
“Aku ….” Huang Wushuang terasa pening dengan sikap Wang Chengliu yang tak terduga, tapi dia memaksakan diri untuk berkata, “P-Pangeran Keenam, kenapa kau menemuiku? Kenapa kau mengambil risiko menggunakan nama Pangeran Mahkota untuk … datang ke sini?”
Jantung Huang Wushuang berdetak kencang, merasa sangat waspada dengan pria di hadapannya saat ini. Namun, pandangan yang diberikan oleh Wang Chengliu kepada Huang Wushuang terlihat begitu lembut, serupa seorang pria yang sedang menatap wanita tercinta. Hal tersebut membuat sebuah harapan muncul di hati Huang Wushuang.
Harapan untuk diselamatkan.
“Aku … aku akan mengeluarkanmu dari sini,” ujar Wang Chengliu.
‘Apa?’ Huang Wushuang bertanya-tanya dalam hati. “K-keluar? Apa maksudmu?” dia masih berpura-pura. “Aku adalah selir Pangeran Mahkota. Jika bukan di sini, ke mana aku harus pergi?” tanyanya dengan sebuah ekspresi pahit. ‘Apakah dia ternyata …?’
Alis Wang Chengliu bertaut dan matanya memancarkan rasa tidak suka, “Kakak Pertama telah menelantarkanmu. Hanya karena kau masih menyandang marga Huang barulah dia mempertahankanmu di istana.” Dia menjatuhkan pandangannya ke tanah, “Kalau dia tahu kau bukan keturunan Jenderal Besar Huang, maka dia—” Sadar telah membocorkan sebuah rahasia, Wang Chengliu menutup mulutnya sembari menatap Huang Wushuang dengan mata membesar.
Tidak jauh berbeda dengan Wang Chengliu, Huang Wushuang juga terbelalak. “Kau … tahu?” Dia mengambil langkah mundur. “Dari mana kau tahu soal hal ini?!” serunya. ‘Kenapa hanya diriku yang baru mengetahui hal ini hari ini?!’
Melihat Huang Wushuang dikuasai ketakutan dan kepanikan, Wang Chengliu segera mencengkeram kedua lengan wanita itu, menahannya di tempat. “Selir Huang, tenanglah! Redamkan suaramu, jangan sampai ada yang mengetahui pertemuan kita ini,” desisnya. Setelah Huang Wushuang bungkam, dia bergegas berbalik untuk menutup pintu. Lalu, dia kembali menatap wanita cantik itu, “Aku akan menyelamatkanmu.”
Sikap Wang Chengliu yang begitu mencurigakan membuat Huang Wushuang menautkan alisnya. “Menyelamatkanku? Apa yang sebenarnya akan terjadi padaku sampai kau mengatakan ingin menyelamatkanku?” tanyanya.
Wang Chengliu menatap Huang Wushuang dalam-dalam, “Tiga kerajaan besar sedang terlibat perang, dan sebentar lagi … kekacauan akan menerpa Shi.”
Tiba-tiba, mata Huang Wushuang membesar. “Pangeran Keenam, apakah kau—?”
“Ya, aku adalah pengkhianat yang bekerja sama dengan Zhou.”
Ketenangan yang dipancarkan oleh Wang Chengliu membuat Huang Wushuang terdiam. Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya, tapi satu hal yang paling mencolok hanya satu, “Kenapa kau … memberitahukan hal ini padaku? Kau tidak takut aku akan melaporkanmu kepada Kaisar?"
Wang Chengliu mengambil satu langkah maju, dan hal itu diikuti oleh langkah mundur Huang Wushuang. Sampai punggung wanita itu menabrak tembok di belakangnya, Wang Chengliu tetap mendekati wanita itu.
Takut, Huang Wushuang tak berani mengalihkan pandangannya dari manik hitam kecokelatan milik pria di hadapannya. “A-apa yang ingin kau lakukan? Aku akan berteriak!” ancam wanita itu dengan tangan bergetar.
Apa yang Huang Wushuang ucapkan adalah ancaman kosong. Selain gadis pelayan yang tak sadarkan diri di luar halaman, Wang Zhengyi tidak menempatkan orang lain di halaman selirnya itu. Oleh karena itu, Wang Chengliu tak memiliki niat untuk menghentikan langkahnya menghampiri Huang Wushuang.
Ketika Wang Chengliu telah begitu dekat, Huang Wushuang mengalihkan pandangannya ke samping dan menutup mata. Tak diduga, sesuatu menggenggam kedua tangannya. Wanita itu membuka mata dan menoleh dengan cepat ke depan, menatap tangan Wang Chengliu yang merengkuh tangannya dengan lembut.
“Apa kau takut?” tanya Wang Chengliu membuat Huang Wushuang mengangkat pandangannya, terkejut dengan wajah terluka pria itu. “Apa kau membenciku?” tanyanya lagi.
__ADS_1
Huang Wushuang menelan ludah, mencoba membersihkan tenggorokannya dan mengeluarkan suara. Namun, tak ada sedikit pun ucapan yang terlontar dari bibirnya.
“Aku mencintaimu,” ujar Wang Chengliu dengan ekspresi tulus. “Demi mendapatkanmu, aku rela mengkhianati negaraku sendiri.” Pria itu mencium tangan Huang Wushuang, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap wanita itu dengan tajam. “Imbalan yang ditawarkan oleh Zhou … adalah takhta Shi.”
Jantung sang Selir Huang berdetak begitu kencang, dan darahnya berdesir. ‘Pria ini … dia ….’
Melihat wajah Wang Chengliu mendekat, Huang Wushuang tak lagi menghindar. Sebaliknya, mata cantik wanita itu menatap lurus pria di hadapannya—terhipnotis.
Ketika bibir kedua orang itu hampir bertemu, Wang Chengliu mengalihkan bibirnya untuk berada lebih dekat ke telinga Huang Wushuang. “Wushuang, jadilah wanitaku,” bisiknya dengan suara rendah. Tangan pria itu menyusuri leher wanita itu, lalu turun menuju tali yang mengikat pakaian tidur Huang Wushuang. Perlahan, Wang Chengliu menarik tali tersebut, menanggalkan pakaian wanita di hadapannya. “Sebagai gantinya, akan kusingkirkan semua orang yang pernah menyakitimu, … termasuk Huang Miaoling.”
***
Merasakan kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan dari Wang Zhengyi sebelumnya, Huang Wushuang tak lagi berpikir jernih. Di dalam otaknya saat ini hanyalah menuruti perintah pria di hadapannya.
“Panggil namaku!”
“Chengliu!”
Melihat Huang Wushuang telah sepenuhnya berada di bawah kekuasaannya, Wang Chengliu menyeringai. Namun, senyuman itu menghilang dalam sekejap seiring dirinya menoleh ke arah jendela. Pria itu bergegas memisahkan dirinya dengan Huang Wushuang dan meraih jubahnya. Dia mendorong jendela hingga terbuka dan menyapu pandangannya ke area sekeliling.
Di sisi teras, terdapat seorang pelayan yang terduduk sembari bersandar di tiang yang menopang atap teras. Namun, Wang Chengliu tak memedulikan pelayan itu. Lagi pula, dia sendiri yang memastikan kesadaran gadis itu tak akan kembali dalam waktu dekat.
“Ada … apa?” tanya Huang Wushuang yang masih begitu lemah setelah kepuasan yang dia rasakan. Matanya berkunang-kunang, tapi dia bisa melihat keseriusan di wajah Wang Chengliu. “Apa ada seseorang?” tanyanya sembari meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, kekhawatiran terpampang di wajahnya. Jika ada yang tahu apa yang baru saja dia lakukan, maka ….
Wang Chengliu kembali menutup jendela dan tersenyum lembut ke arah Huang Wushuang. “Tidak apa-apa, hanya angin.” Dia melangkah kembali ke atas tempat tidur untuk memerangkap wanita itu di bawah kungkungannya. “Ia tak akan menjadi gangguan,” ucapnya selagi mendekatkan wajahnya ke sisi telinga wanita di hadapannya. “Haruskah kita melakukannya lagi untuk menenangkanmu kembali?”
Ucapan Wang Chengliu membuat wajah Huang Wushuang yang sudah merona menjadi semakin merah. Wanita itu tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Itu adalah persetujuan bisu untuk melakukan perzinaan.
Tanpa sepengetahuan keduanya, terdapat seseorang yang berada di luar ruangan yang berusaha keras untuk menahan napasnya. Di saat dia yakin bahwa kedua orang di dalam ruangan kembali sibuk dengan aktivitas mereka, sosok misterius itu bergegas meninggalkan halaman tersebut. Cahaya bulan menerpa wajah sosok misterius tersebut, menunjukkan bahwa orang itu tak lain adalah Yuanli.
‘Tidak mungkin … tidak mungkin …,’ batin Yuanli dengan wajah yang dipenuhi kengerian. ‘Ini adalah sebuah kegilaan!’ Seluruh tubuhnya bergidik setelah menyaksikan adegan tabu di hadapannya. ‘Bagaimana mungkin Pangeran Keenam bisa melakukan hal ini?! Tidakkah dia tahu bahwa Huang Wushuang adalah wanita saudaranya?!’ Keringat dingin turun dari pelipis gadis tersebut. ‘Apa gunanya dia mendekati Huang Wushuang? Selain mencoreng nama baik, tak ada hal lain yang akan dia dapatkan dari hal ini! Apa dia sungguh mencintai—?!’
Yuanli tak diperkenankan untuk terus berdiskusi dengan dirinya sendiri ketika sebuah belati melesat ke arahnya. Dengan lincah, gadis itu menghindari jalur yang dilewati belati tersebut.
Saat Yuanli baru mendapatkan kembali keseimbangannya, dirinya telah dikepung oleh tiga orang berpakaian hitam. Ketiga orang itu tidak berniat untuk memberikannya kesempatan untuk bernapas, mereka langsung melancarkan serangan secara bersamaan.
‘Sial! Aku tak bisa menghindar!’
___
__ADS_1
A/N:
Hoek! Hoek! Ya ampun\, aku baru lihat apaan?! *Author ngibrit dari halaman Huang Wushuang* Harus kabur sebelum ketahuan!