Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 28 Kau Milikku Seorang


__ADS_3

Tindakan Liang Fenghong membuat Huang Miaoling terkejut. Gadis itu tak menyangka kalau Liang Fenghong yang tadi masih terlihat seperti seekor kelinci menggemaskan dalam sekejap berubah menjadi seekor serigala. Pada saat itu, di otak Huang Miaoling adalah ucapan Wang Qiuhua padanya di kehidupan lalu ketika dia baru saja menikah dengan … pria yang tak perlu disebutkan.


‘Miaoling, semua pria itu adalah binatang buas! Jangan lihat Kakak Keenam begitu pendiam dan tenang, namun Kakak Keempat selalu berkata kalau orang-orang seperti itu menyimpan nafsu yang lebih mengerikan!’


Ucapan Wang Qiuhua jelas tidak salah. Hanya saja, dalam situasi Huang Miaoling, Wang Chengliu memiliki nafsu lebih tinggi terhadap takhta dibandingkan wanita. Kalau bukan karena pernah menjadi istrinya, Huang Miaoling mungkin akan menganggap pria itu sebagai seorang penderita impotensi.


Sebaliknya, keadaan Huang Miaoling saat ini ….


Mata Huang Miaoling masih terbelalak ketika Liang Fenghong mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Namun, hal tersebut berlaku untuk sesaat saja. Saat kesadaran mulai meresap dalam dirinya, kedua tangan gadis itu terangkat untuk melingkari leher Liang Fenghong. Lalu, Huang Miaoling perlahan membalas ciuman lembut pria di hadapannya itu.


Cemburu. Apakah kosa kata itu pernah digunakan untuk menggambarkan perasaan orang lain kepada para pria di sekitar Huang Miaoling di kehidupan lalu?


Hah! Tentu saja tidak! Sebaliknya, akan lebih tepat mengatakan bahwa kata itu lebih sering digunakan untuk menggambarkan perasaan Huang Miaoling kepada para wanita yang berada di sekeliling Wang Chengliu. Sebagai Kaisar, pria yang berstatus sebagai pasangan hidupnya di kala itu memiliki begitu banyak wanita, dan Huang Miaoling bahkan tidak memiliki hak untuk bersikap cemburu karena statusnya sebagai ‘ibu kerajaan’.


Seseorang yang begitu memerhatikannya, begitu mengerti dirinya, Huang Miaoling hanya tahu satu.


‘Liang Fenghong, kau satu-satunya.’


Tanpa Huang Miaoling sadari, pertukaran lembut penuh kasih mulai berubah menjadi tindakan yang mengekspresikan perasaan membara. Ciuman yang awalnya dibalas dengan halus, berubah menjadi sebuah ciuman yang menunjukkan hasrat terpendam.


‘Di kehidupan ini, kau hanya milikku seorang,’ desis Huang Miaoling di dalam hati.


Mungkin hanya keegoisan diri, mungkin juga karena kepercayaan yang telah sepenuhnya diberikan, tapi Huang Miaoling jelas sudah tidak sadar kalau dirinya memancing Liang Fenghong untuk menginginkan lebih. Keduanya tahu harus berhenti, tapi tak ada yang rela untuk memisahkan diri. Gairah mulai membara, mendorong keluar keinginan tersembunyi yang tertahan akibat keraguan yang dahulu singgah di dalam batin.


Suhu di dalam ruangan perlahan meningkat, decakkan bibir dan lidah yang beradu menciptakan suara yang menggoda. Napas yang semakin pendek membuat kedua orang itu terengah-engah, sesekali diiringi dengan suara desahan yang memudarkan akal sehat.


‘Berhenti …,’ Liang Fenghong memperingatkan dirinya ketika dia sadar ada keinginan lebih yang muncul dalam benaknya. Pria itu sedikit kesulitan mengendalikan dirinya akibat Huang Miaoling yang juga tidak mengendalikan diri. “Ling’er …,” desis pria itu.

__ADS_1


Detik dia mendengar suara Liang Fenghong, Huang Miaoling seakan tersadar dari sebuah hipnotis. Gadis itu membuka matanya dan memisahkan dirinya dari pria di hadapannya. Wajahnya sekejap merona merah, bahkan telinganya pun mengekspresikan rasa malunya dengan menunjukkan warna yang sama dengan wajah mungilnya.


Melihat Huang Miaoling hanya bisa tertegun sembari menatapnya, hati Liang Fenghong seperti meleleh. Jantungnya berdetak kencang, mungkin berusaha melompat akibat kebahagiaan yang mulai menenggelamkannya.


Senyuman lebar terpampang di wajah Liang Fenghong. “Aku mencintaimu.”


Huang Miaoling yang masih tercengang terdiam untuk beberapa saat, akal sehat yang perlahan kembali berusaha memproses kalimat yang baru saja terucap. Ucapan Liang Fenghong mendarat dengan lembut di telinga Huang Miaoling, lalu perlahan turun dan teresap di hatinya. Liang Fenghong telah berhasil meluluhkan Huang Miaoling, membuat gadis itu melupakan tindakan memalukan yang baru saja dia lakukan.


Pandangan sang Nona Pertama Huang itu melembut, matanya menikmati keseluruhan pria di hadapannya. “Aku juga mencint—”


“Huang Miaoling!” Teriakan menggelegar yang diiringi dengan suara pintu yang terbanting terbuka mengejutkan dua sejoli yang berada di dalam ruangan, menarik mereka dengan paksa dari dunia mereka sendiri.


Sosok Huang Yade berjalan masuk ke dalam kediaman Huang Miaoling dan melangkah ke arah ruang tidur adiknya itu. Langkah kakinya terdengar berat dan penuh amarah, kentara bahwa emosinya tidaklah baik.


“Gadis busuk!” makinya. “Apakah kau tahu bahwa—?!” Ucapan Huang Yade terhenti ketika melihat sosok Liang Fenghong yang telah terduduk di kursi dan Huang Miaoling yang menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidurnya. “Tuan Muda Liang?” Nadanya terdengar bertanya-tanya.


Kalau Qiuyue tahu mengenai apa yang baru saja terjadi … sepertinya bukan hanya sekedar ekspresi minta maaf yang akan dia tunjukan. Bukan hal yang aneh bila pelayan itu bersujud saat ini juga dan meminta maaf pada Huang Miaoling ….


Ah, atau mungkin juga gadis itu akan menceramahi majikannya itu. Bagaimanapun, keduanya belum menikah!


Huang Miaoling menangkap ekspresi Qiuyue, dan nuraninya pun merasa terluka. Tak perlu dipungkiri, dia malu dengan kenyataan bahwa dirinya dan Liang Fenghong baru saja melakukan hal yang mampu membahayakan pelayan pendampingnya itu. Kalau Huang Yade tahu ….


“Menteri Huang,” panggil Liang Fenghong yang telah memasang kembali wajah datarnya.


Huang Miaoling sangat kagum dengan kendali sang Tuan Muda Liang atas ekspresi di wajahnya, tapi dia sendiri juga tidak kalah mahir dalam hal tersebut. Dengan senyuman tipis terlukis di wajahnya, gadis itu berkata, “Kakak Pertama, berteriak dengan begitu keras, tindakanmu akan membuat semua orang bertanya-tanya dengan curiga.” Dia menyindir sikap Huang Yade yang tidak terjaga.


Selama sesaat, Huang Yade terdiam, dia memperhatikan wajah Liang Fenghong, lalu berpindah pada Huang Miaoling. Kedua orang itu terlihat biasa, tapi ada aura aneh yang mengelilingi keduanya.

__ADS_1


‘Ada yang aneh.’ Huang Yade begitu peka. ‘Berdasarkan pengetahuanku, Liang Fenghong tak pernah menjaga jarak sejauh ini dengan Ling’er,’ batinnya. ‘Apa keduanya bertengkar?’ Dia yakin kalau keduanya bertengkar akibat tindakan Huang Miaoling hari ini. ‘Hmph, paling tidak dalam hal ini, Liang Fenghong sepemikiran denganku. Memang harus ditegur!’


Beruntung prasangka sang Menteri Pertahanan tertuju pada arah yang salah.


Huang Yade membuka kipas yang berada di tangannya, lalu dia mengipas-ngipas dirinya. “Apa ini perasaanku atau ruangan ini begitu panas?” sindirnya, bertujuan untuk menyinggung Huang Miaoling tentang rencananya yang dikira menimbulkan masalah dalam hubungannya dengan calon suaminya itu.


Mendengar hal ini, Liang Fenghong dan Huang Miaoling terbelalak. Kejadian yang belum lama terjadi kembali terulang dalam benak mereka masing-masing. Hal tersebut membuat pelipis keduanya berkedut dan mereka pun semakin berusaha untuk terlihat normal … yang menghasilkan gerak-gerik yang lebih mencurigakan.


Dengan sebuah senyuman kaku, Liang Fenghong berkata, “Menteri Huang lelah, ada baiknya apabila kau istirahat terlebih dahulu.”


Huang Yade mengedipkan matanya, lalu ekspresinya berubah ngeri. ‘Apakah sang Tuan Muda Liang baru saja tersenyum padaku dan mengutarakan perhatiannya padaku?!’


___


A/N:


Hal-hal yang terjadi ketika otor tulis bagian awal bab ini:


1. Menulis sambil menahan senyum.


2. Berhenti sebentar dan tutup muka sambil teriak tertahan.


3. Menggeram rendah.


4. Pasang wajah datar dan melanjutkan menulis.


5. Ulang lagi dari nomor satu.

__ADS_1


__ADS_2