Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 111 Peperangan di Perbatasan Zhou


__ADS_3

*Beberapa hari yang lalu*


“Wakil Jenderal!” teriak seorang prajurit dengan suara nyaring. “Baj*ngan!”


Prajurit itu mengayunkan pedangnya ke arah prajurit lain, yang beberapa saat lalu masih menyandang status sebagai sekutunya. Namun, dengan lincah lawannya itu menghindari serangan dan menebas lehernya.


“Agh!” Dengan darah yang terciprat ke wajah sang musuh, prajurit itu melemparkan pandangan penuh kebencian. Manik hitamnya memandang tajam manik biru milik lawannya, dan dia pun memaksakan diri untuk memaki, “Pengkhianat ….”


Dan, prajurit itu berakhir menjadi salah satu dari sekian mayat di medan perang.


Huang Jieli yang setengah tubuhnya terbaring di tanah terlihat terkejut. Dengan tangan memegang luka di sisi perutnya, mata pria itu membesar menatap pemandangan di sekitarnya. Dia hanya bisa menatap selagi anggota pasukannya satu per satu dijatuhkan oleh para pasukan sekutu—


Ah, tidak … pasukan itu bukan lagi sekutu sejak detik mereka mencoba membunuhnya!


Dengan emosi yang berkecamuk dalam dirinya, Huang Jieli berteriak dalam hati, ‘Bagaimana bisa seperti ini!? Bagaimana bisa seperti ini!?


Benak Huang Jieli berputar, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semua kekacauan ini dimulai.


***


Perang telah berlangsung untuk beberapa hari, dan sesuai dugaan, pasukan keluarga Huang beserta pasukan di bawah Wang Junsi—Tiaozhan dan Tubo—berhasil mendorong mundur Pasukan Zhou. Walau awalnya merasa bahwa perang bisa diselesaikan dalam waktu singkat, tapi kemudian keadaan memaksa Huang Jieli dan Wang Junsi untuk berubah pikiran.


Entah bagaimana caranya, tapi Pasukan Zhou dan pasukan suku padang rumput terus mampu mengirimkan bala bantuan. Merasa kalau perang berlangsung terlalu lama, Huang Jieli pun mengambil keputusan bahwa di hari ini, mereka harus menyelesaikan semuanya. Kekhawatiran utama Huang Jieli dan Wang Junsi ada dua, jumlah pangan yang kian menipis dan niat Zhou yang seakan sengaja memperpanjang durasi perang.


“Terobos pertahanan Zhou, lalu tangkap Jenderal Besar Ren. Hanya dengan demikian, barulah kita bisa menghentikan perang dan mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan Qing Zhuang,” tutur Huang Jieli. “Kita tak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Bila bisa menyelesaikan perang ini dengan lebih cepat, maka kita harus melakukan itu,” imbuhnya.


Wang Junsi menganggukkan kepala. “Kalau bisa menyelesaikan masalah di sini dengan lebih cepat, maka kita juga bisa kembali ke ibu kota sesegera mungkin,” balasnya, sadar bahwa ada beberapa masalah yang harus dia selesaikan. Bukan hanya perseteruan Huang Miaoling dan Wang Chengliu, tapi juga satu hal lain, ‘Meilan ….’


Di saat ini, Wang Xiangqi yang berada di pojok ruangan memberanikan diri untuk angkat suara, “Kali ini, aku juga harus ikut!” Dia mengerutkan kening, “Bila tidak, maka ketika kita kembali ke kerajaan, itu sama saja dengan hanya menumpang nama untuk mengakui sebuah jasa.” Pangeran muda itu menyatakan dengan tegas, “Aku tidak menginginkan hal itu.”

__ADS_1


Mendengar hal ini, Wang Junsi mengerutkan keningnya. “Wang Xiangqi, jangan membuat onar. Kau masih belum—”


“Kakak Keempat, aku sudah dewasa,” potong Wang Xiangqi. Lalu, dia maju mendekati meja seraya menunjuk jumlah bidak yang mewakili pasukan Kerajaan Shi. “Selain itu, jumlah prajurit Shi sangat besar, kemungkinan menang kita besar. Bila ingin menyelesaikan ini dengan cepat, maka akan lebih baik bila kita menyerang dari berbagai sisi dan mengepung mereka.” Wang Xiangqi menambahkan, “Bantuanku akan berguna.”


Wang Junsi menatap ke arah bidak yang berada di atas peta. “Aku, Wakil Jenderal, Letnan Jenderal Pasukan Tiaozhan bisa melakukannya. Kau hanya perlu menjaga pertahanan dengan Pasukan Tubo,” jelasnya.


“Kakak!” Wang Xiangqi masih tidak mau kalah. “Ini tidak adil!”


“Ini bukan masalah adil dan tidak, Wang Xiangqi! Kalau sesuatu terjadi padamu, apa yang harus kukatakan kepada Ayahanda?!”


Melihat kedua saudara itu bertengkar, Huang Jieli akhirnya memutuskan untuk berkata, “Yang Mulia Keempat, Yang Mulia Ketujuh, tenanglah.” Dia menghela napas, lalu melanjutkan, “Sebenarnya, ucapan Pangeran Ketujuh tidak salah. Bila penyerangan garda terdepan di gerbang Selatan benteng pertahanan Zhou dipimpin oleh dua orang, pergerakan kita akan lebih teratur.” Huang Jieli meletakkan dua bidak di kiri dan kanan pertahanan Zhou. “Lalu dua pasukan lain mengepung dari samping. Dengan begini, kita bisa mengakhiri perang dengan menguasai benteng perbatasan Zhou.”


“Lihat! Bahkan Wakil Jenderal Huang setuju!” tambah Wang Xiangqi, merasa ini kesempatan untuk membuat kakak keempatnya itu untuk mengikuti keinginannya. “Bahkan bila kita tidak bisa mendapatkan Jenderal Besar Ren, dengan menguasai benteng pertahanan perbatasan Zhou, mereka pasti akan dengan sendirinya mengajukan niat untuk rekonsiliasi!”


Wang Junsi mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, “Baiklah! Baiklah!” geramnya. Lalu, dia meraih bidak di tangan Wang Xiangqi dan meletakkannya di penyerangan depan. “Namun, kau ikut dengan Wakil Jenderal Huang!”


“Tapi—!”


***


Setelah perdebatan sengit antara Wang Xiangqi dan Wang Junsi, rencana pun ditetapkan. Wang Xiangqi memimpin satu regu prajurit yang akan menyerang dari arah Selatan bersama dengan Huang Jieli, mereka akan menjadi pengecoh yang menampakkan diri sebagai penyerang utama.


Sementara itu, Wang Junsi memimpin Pasukan Tubo miliknya untuk menyerang dari arah Timur, dan Letnan Jenderal Xiang—letnan jenderal Pasukan Tiaozhan—menyerang dari Barat. Dua pasukan tersebut akan menjadi penyerang utama yang akan mengejutkan pihak Zhou.


Begitu trompet perang dibunyikan, terdengar seruan dari berbagai arah. “Serang! Jatuhkan garda terdepan!” teriak Huang Jieli sembari memacu kudanya.


Sesuai rencana, Pasukan Zhou sungguh terfokus pada serangan pasukan Huang Jieli dan Wang Xiangqi, membiarkan pertahanan Timur dan Barat benteng perbatasan mereka melemah. Mengejutkan, tapi kemampuan Wang Xiangqi dalam mengendalikan pasukannya sungguh di luar dugaan. Pangeran muda itu memiliki talenta!


Namun, hanya awal yang terlihat sempurna.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu berusaha menjatuhkan garda terdepan benteng perbatasan Zhou, Huang Jieli mulai kelelahan. ‘Kenapa … kenapa pasukan musuh terus mengirimkan bala bantuan tanpa henti?’


Tepat pada saat ini, Wang Xiangqi menghampiri Huang Jieli. “Wakil Jenderal, sampai kapan?! Kenapa tidak terlihat kepanikan di wajah musuh?! Mana kabar dari gerbang Timur dan Barat!” Pikiran pemuda itu selaras dengan sang wakil jenderal, dia merasa ada yang aneh.


Sudah begitu lama perang berlangsung, tapi tak ada kabar dari bagian Timur dan Selatan. Sekarang, Huang Jieli dan Wang Xiangqi bahkan sudah terpaksa turun dari kuda dan terlibat secara langsung dalam perang!


Akan tetapi, bagaimanapun juga, sebagai pemimpin, Huang Jieli tidak boleh menunjukkan keraguan. Jika tidak, hal tersebut akan mempengaruhi moral pasukannya.


“Bertahanlah! Sebentar lagi!” seru Huang Jieli. “Kalau memang mereka tak berhasil menjatuhkan Gerbang Timur dan Barat, maka paling tidak kita harus berhasil menjatuhkan gerbang depan!”


Mendengar balasan Huang Jieli, Wang Xiangqi pun menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia tahu maksud terselubung sang wakil jenderal, tapi memutuskan untuk terdiam. Lagi pula, berdasarkan perhitungan awal jumlah prajurit Pasukan Zhou, bahkan dengan gabungan pasukannya dan Huang Jieli saja, Wang Xiangqi yakin mereka memiliki kemungkinan untuk menang.


Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, entah berapa banyak prajurit musuh yang berhasil Wang Xiangqi tebas. Di sisi lain, dia tidak tahu juga berapa banyak prajurit sekutu yang telah jatuh. Yang jelas, Wang Xiangqi tahu bahwa kapasitas tubuhnya sudah hampir mencapai batas akhir.


‘Apa sungguh … bisa berhasil?’ pikir Wang Xiangqi, mulai mempertanyakan dirinya. Tepat pada saat itu, dia bisa mendengar suara trompet yang ditiup kencang. “Itu ….”


Bersamaan dengan suara trompet yang dibunyikan, para prajurit Pasukan Zhou terlihat kebingungan. Kemudian, saat melihat para pasukan padang rumput memutuskan untuk mundur, mereka pun bergegas mengikuti.


“Mereka … mundur?” Huang Jieli bergumam, tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat di hadapannya. “Mereka mundur!” teriaknya dengan sebuah senyuman lebar di wajah.


“Haaa!” seruan semangat dan penuh syukur terdengar dari para prajurit Kerajaan Shi. “Kejayaan Shi!”


“Maju! Jangan biarkan kesempatan ini hilang!” teriak Huang Jieli yang segera dipatuhi oleh pasukannya. Namun, di luar dugaan, sejumlah prajurit mulai muncul dari dalam benteng perbatasan Zhou. “Berhenti!” teriak Huang Jieli lagi dengan kening berkerut.


Tidak jauh dari tempat Huang Jieli berdiri, Wang Xiangqi juga menautkan alisnya. “Itu … itu Prajurit Tubo!” teriaknya girang. “Kakak Keempat telah berhasil menerobos Gerbang Timur!” Lalu, dia mulai berlari menghampiri gerbang.


Melihat Wang Xiangqi berlari, Huang Jieli merasa ada yang aneh dengan tatapan para prajurit Tubo itu. Saat mendapati salah seorang dari prajurit itu meraih sesuatu dari pinggangnya, Huang Jieli berteriak lantang, “Pangeran Ketujuh menyingkir!”


__

__ADS_1


A/N:


Mau lagi? Mau lagi?


__ADS_2