
Suasana rumah bak istana itu sangat ricuh,acara yang seharusnya berjalan10 menit lagi tidak memberikan situasi yang baik.disaat Bapak penghulu dan keluarga Andika sudah menempati tempat ijab, nyatanya pengantin wanita beserta wali nikahnya tak kunjung datang. Andika menarik nafas panjang, ini rencananya, tetapi dia juga merasakan dak dik duk di hatinya.5 menit lagi dan dia yang dinanti juga tidak menampakkan batang hidungnya.
"Mas Andika, ini sudah hampir jam 11.00,tetapi kenapa pengantin beserta wali nikahnya tidak kunjung datang?" tanya pak penghulu. didasar hati Andika begitu gugup bagaimana mau menjawab.Andika menatap kearah Zahira, Bima, Arjuna, dan terakhir menatap ibunya.
Bu marni mendekati Andika, mengusap pelan pundak anaknya.
"Andika, Bianca tidak menjawab telpon ibu." ucapnya tampak kawatir. celingak-celinguk menatap kearah pintu yang tidak kunjung menampakkan batang hidung orang yang ditunggu.
"Bagaimana ini?5 menit lagi jika tidak datang juga maka saya harus pergi. masih ada jadwal saya untuk jam selanjutnya."ucap pak penghulu.
"Andika. Bersabarlah."ucap ibunya lagi.Andika tampak gugup.diam tidak menjawab, hatinya berdesir, jantungnya seakan berhenti berdetak. Andika mengedarkan pandangannya.tidak ada yang dia harapkan. sesak rasa didadanya.
"Andika, maafkan ibu.Ibu tidak tau Bianca kemana."ucap ibunya. Andika terdiam tidak perduli dengan ucapan ibunya pikirannya melayang. hingga pada akhirnya Andika tersenyum mana kala menangkap bayangan wanita cantik yang turun dari mobil, dan didekatnya seorang paruh baya keluar dari mobilnya juga.
"Ibu, Bukankah Bianca tidak ada kabar? Maka aku tetap harus melaksanakan pernikahanku."ucap Andika. Ibunya tampak terkejut. tidak bisa berbuat apapun. Nyatanya Bianca memang tidak ada di tempat itu.
"Apa yang akan kamu lakukan Andika? "tanya Ibunya. Zahira, dan Bima saling memandang menyaksikan percakapan 2 orang didepannya. Bima mengusap pelan pundak istrinya. Tuan Alex dan Nyonya Tania sama terkejutnya.
"Aku harus menikah, karna perusahaan membutuhkan status pernikahanku. Besok aku harus berangkat menjalankan proyek, dan pernikahanku tidak bisa ditunda lagi."lanjut Andika lagi.Ibunya menatap Andika penuh tanya.
" Lalu dengan siapa? "tanya ibunya. Andika menatap ibunya penuh kasih.
"Aku meminta restu mu ibu."Andika mengecup singkat kening ibunya, kemudian berjongkok mencium kedua tangan ibunya.Air mata meneteskan mana kala ucapan itu keluar dari mulutnya.
Bu marni meneteskan air mata, anak semata wayangnya akan menyambut hari pernikahannya, dengan kasih bu Marni mengusap puncak kepala Anaknya. tetesan demi tetesan air mata mengalir disana. Haru... suasana begitu haru. Zahira mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya, Bima mendekap istrinya dan dengan sayang menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Ibu merestui mu, Nak.berbahagialah."ucap Bu Marni akhirnya. beliau terisak memandang Andika yang berderai air mata.Andika tersenyum kembali meraih tangan ibunya dan menciumnya beberapa kali, kemudian melangkah pergi keluar rumah.
Disana diparkiran. Khalista menatap orang yang selama ini seakan melupakan dirinya, menatap ujung rambut hingga ujung rambutnya.
"Tata.. "sapa orang paruh baya itu.mendekati khalista dan hampir saja memeluknya.
"Berhenti. "ucap khalista sambil memajukan telapak tangannya. Air matanya mengalir deras. Ia masih tidak percaya bertemu dengan manusia yang berstatus sebagai Papanya berdiri didepannya setelah beberapa tahun melupakannya.
"Tata.Anakku.Ini papa, apa tidak merindukan papa, Nak? "Bagaskara merentangkan 2 tangannya,Matanya berkaca. satu kedipan saja bisa membuat air matanya jatuh di pipinya.Khalista tersenyum Sinis.
"Apa kau ingat mempunyai Anak perempuan, Tuan Bagaskara? Bukankah kau hanya mempunyai anak laki-laki dan istri? " tanya khalista. tangisnya pecah. Bagaskara hanya tersenyum getir. sedih.
"Sayang, Maafkan papa. " Bagaskara melangkah maju. menarik khalista dalam dekap hangatnya. Bagaskara diam, tak menjelaskan apapun. hanya saja perasaannya lega, memeluk khalista mencairkan suasana hatinya setelah lama tidak berkomunikasi. Khalista merasa tentram dipelukan ayahnya.
"Apa sudah selesai? Sebaiknya kalian lanjutkan nanti, tidak ada banyak waktu lagi.cepatlah masuk." ucap seseorang. Khalista bangun dari pelukan papanya.Andika, laki-laki itu berdiri tepat disampingnya. Khalista memandang Andika. Andika menggenggam tangan khalista.Khalista mencoba menepisnya.Rasa sesak didada menyeruak, tetapi Andika seperti tidak punya salah apapun kepadanya.
"Jangan membantah.ikuti aku,Nona Khalista."ucap Andika tegas. Khalista sedikit tersentak, kemudian memandang Papanya. Bagaskara mengangguk. Khalista mengikuti langkah Andika yang sedikit tergesa-gesa menuju ke dalam rumah.
Pandangan mata semua orang tertuju pada 3 orang yang berbondong-bondong masuk kedalam rumah bak istana itu, semua terkejut bahkan tidak percaya melihat Andika dengan langkahnya menuju kearah tempat ijab qobul.
Bima, Zahira menganga tak percaya. sedangkan bu Marni syok dan tak sadarkan diri. Nyonya Tania memegangi bu Marni, dan beberapa orang mengangkat Bu Marni ke kamar.Aqila menggenggam erat tangan pak Alex.Keadaan sedikit kacau,tetapi bagi tamu yang tidak paham apapun hanya diam menyaksikan dan terjawab sudah pengantin wanita yang seminggu ini dipertanyakan dan menjadi sebuah kejutan. disudut ruangan Arjuna tersenyum tipis, mengusap dada merasakan kelegaan.
Khalista dan Andika berada didepan penghulu, khalista memandang Andika dan penghulu bergantian.
"Kenapa terlambat Nona? hampir saja saya beranjak, apa tidak takut acaranya batal? " gerutu pak penghulu. membuat khalista begitu terkejut.namun untuk menjawabnya serasa kelu lidahnya dan tak sanggup mengeluarkan kata.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi? " batin khalista.
"Apa sudah bisa dimulai? " tanya pak penghulu kepada Andika, Andika mengangguk. Khalista hanya bengong. Papanya mengusap pelan pundak putrinya.
"Tuan Andika, Nona Khalista.Benar? tanya pak penghulu memastikan data didalam buku nikahnya. Khalista lagi-lagi hanya diam terpaku. terkejut dan tak bisa berkata-kata.
"Baik, kita mulai. karna wali, saksi,dan mempelai sudah lengkap. Mari Nak Andika." ucap pak Penghulu sambil mengulurkan tangannya.Andika membalas uluran tangan pak penghulu, tangan Andika begitu dingin dan sedikit bergetar.
Khalista Menahan sesak didadanya, rasanya seperti mimpi.
" Menikah dengan Andika? apa yang terjadi sebenarnya???? "pertanyaan yang mengganggu difikirannya.
"Saya nikahkan dan saya Kawinkan,Andika Fadil Arrohman dengan Sabrina khalista Bagaskara,dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."ucap pak penghulu.
Andika diam, diam. dan begitu gugup, lidahnya bergetar tak sanggup berkata.
"Nak Andika"ucap Penghulu. Andika tersadar, ia mengangkat wajahnya. menatap khalista, Khalista juga menatap kearahnya. Pertemuan 2 bola mata itu membuatnya semakin gugup.
"Coba minum dulu.Mungkin benar-benar gugup sekali" ucap pak penghulu.Bima yang sedari tadi dek-dekan mendekat dan memberikan segelas Air untuk Andika. suasana tegang tidak ada senyum sedikit pun. Andika menerima gelas itu dan meminum airnya, mencoba menenangkan fikirannya.ia menyerahkan gelas pada Bima lagi. Bima berlalu dan kembali ke sisi Zahira.
"Tarik Nafas dulu, Nak Andika. " ucap penghulu lagi. Andika menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
🤗😂😂😂😂😂😂
like comen dan vote ya readers terlove-love🤗🤗🤗😍😍😍😍😍😍
__ADS_1