Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
157.Dimana kau sembunyikan Khalista?


__ADS_3

"Apa kau tidak menaruh curiga pada seseorang? "tanya Bima. Andika memgerutkan keningnya,iapun berfikir sesuatu dan melenggang pergi. Bima yang semula tenang memberikan Baby bara pada istrinya dan melangkah pergi mengikuti Andika.


Andika mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,mengingat pertanyaan Bima yang mengusik hatinya.Ada satu nama yang membuat fikiranya berfikir untuk mendatangi rumah sakit lagi.


Bima yang kualahan mengejar Andika berhenti didepan lampu merah,netranya memandang mobil Andika yang melesat cepat. Bima menghela nafas panjang. Cinta benar-benar mengubah segalanya.Andika yang biasanya tenang,menampakkan sisi lain dari biasanya.


Bima meraih ponselnya,menghubungi salah satu kontak di ponselnya.


"Lihat semua CCTV di rumah sakit, segera laporkan."titah Bima.Bima kembali meletakkan ponselnya,iapun menancap gas mobilnya mengikuti Andika.


Disana,di tengah jalan yang sepi Bima mendapati Andika yang melawan 4 preman.Dalam waktu singkat Andika merobohkan 2 orang, dan menyerang kembali 2 diantaranya.


"Serahkan Mobilmu, Tuan. Jika kau masih sayang dengan Nyawamu."ucap salah satu diantara 2 preman yang masih berdiri.


"Cihhhhh.... apa kau tidak takut terkapar seperti temanmu?menyingkirlah."ucap Andika dengan suara beratnya.


"Jangan sombong kau Tuan,"bentak preman itu. Kedua preman itu maju bersamaan,menyerang dan terus memberikan tendangan.Satu tendangan berhasil mengenai dada Andika, membuat dirinya mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya.


Sedangkan Bima yang baru saja sampai segera melempar tendangan pada dua manusia yang tadi terkapar.Salah satu diantara mereka membawa balok kayu yang hampir saja mendarat di leher Andika.


Andika terkejut saat preman-itu tersungkur didepanya.Lagi-lagi Mereka kembali bangkit, mengitari Andika dan Bima.Andika dan Bima saling memunggungi,sorot mata tajam seakan mengintimidasi lawan mereka.


"Kau Tidak apa-apa,Dika?"tanya Bima.


"Kita pemanasan,Tuan Abimanyu.Aku tidak apa-apa.Rasanya sudah lama kita tidak berolahraga.Aku akan melampiaskan kejengkelanku pada Khalista pada mereka."ucap Andika yang memasang kuda-kuda siap untuk menyerang.


Bima mengerutkan keningnya. Masih sempatnya dia berfikir emosi kepada istrinya disaat seperti ini.


Andika dan Bima membagi pukulan dan tendangan kearah 2 preman disamping kanan dan kiri masing-masing.Preman itu terhuyung dan memegangi beberapa bagian tubuh mereka.Ini seakan sangat menyenangkan bagi Andika.


"Aku peringatkan, menyingkirlah jika kalian masih ingin menghirup udara segar."Bentak Andika sambil mengibaskan pakaiannya yang sedikit tersingkap dengan gerakan elegannya.


"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Jangan Harap,Tuan."ucap kepala teman itu.

__ADS_1


"Maju, serang mereka."ucapnya lagi.


Beberapa preman itu maju,mulai menyerang dengan brutal dan tak beraturan. yang ada diotak mereka hanya emosi semata,sehingga memudahkan Andika dan Bima mengecoh mereka yang telah kehilangan kendali.


Andika dan Bima bergerak lincah, memberikan pukulan dan tendangan yang tepat sasaran dan gerakan menghindar dengan tenang.


Sang pimpinan Preman seakan terkesima dengan lawan mereka,ia mengangkat kedua tangannya.Beberapa preman serempak menghentikan aksinya.


"Kali ini kalian lolos, Tuan. Lihat saja nanti. Aku akan mendatangimu dan akan melumpuhkanmu."ucap kepala preman itu. Andika dan Bima saling berpandangan,menyeringai tipis dan menatap tajam kearah 4 preman itu.


"Menyingkirlah, aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian lebih lama."ucap Andika. Preman itu mundur perlahan-lahan.Andika kembali ke mobil dan menancapkan gas mobilnya diikuti oleh Bima.


Disana, seseorang menyeringai tipis mengetahui kejadian ini. Dia mendatangi beberapa preman itu dan tampaknya mengajak mereka untuk bekerja sama.


😊😊😊😊


Andika memarkirkan mobilnya diparkiran rumah sakit,dengan langkah tergesa Andika berjalan ke lorong dimana Wisdara dirawat.


Ceklekk.....


"Tuan..Kalian kesini?kebetulan aku mau bilang kalau aku bersedia menjadi saksi."ucap Bianca.Andika dan Bima menghela nafas panjang.


"Jangan berpura-pura.Dimana Kau sembunyikan Khalista!"bentak Andika,membuat wisdara dan Bianca saling berpandangan.Melihat ayahnya terkejut,Bianca mendekat kearah Bima dan Andika.


"Sebaiknya kita bicara diluar,keadaan ayah belum benar-benar baik.Aku takut akan terjadi sesuatu dengannya nanti "ucap Bianca.Andika dan Bimaa terdiam.Mereka mengikuti Bianca keluar.


"Dimana Khalista? "tanya Bima.


"Aku tidak tau, tadi siang Khalista kesini.Tapi dia sudah pamit pulang, aku tidak tau selanjutnya dia kemana."ucap Bianca.


Andika menyeringai tipis,Menatap kearah Bianca dengan sorot mata kebencian.


"Kau pikir aku percaya? Kau itu wanita licik, Kau akan melakukan apapun untuk mencapai tujuanmu. Kau itu menjijikkan,Dimana kau menyembunyikan Khalista?"bentak Andika.

__ADS_1


Bianca terkejut, bahkan Andika membentaknya dengan keras. Membuat semua mata mengarah kepada Bianca.Bianca menghela nafas panjang,deraian air mata mengalir deras di pipinya.Dosa masa lalu membuat dirinya seakan hina.Dan Hanya Khalista yang mampu menenangkan Hatinya.


"Aku tidak tau, aku tidak tau dimana istrimu Tuan Andika."ucap Bianca ditengah isak tangisnya.


"Andika,Sebaiknya kita pergi. Jangan membuat keributan disini."ucap Bima.Andika menepis lengam Bima,kemudian meninggalkan Bianca yang masih tepaku ditempatnya.


Andika dan Bima berlalu.Bianca hanya Bima mengamati punggung kedua Tuan Muda Alexander itu.


"Tuhan....Beri aku kekuatan untuk bisa bertahan dalam segala kemungkinan. Ampuni segala salahku Tuhan,Izinkan aku menebus segala dosa masalalu."ucap Bianca.Bianca terduduk dengan air mata yang mengalir dipipinya.


"Khalista,,, kamu dimana? Apa om prayoga yang melakukan semua ini? "tanya Bianca pada dirinya sendiri.Bianca masuk kedalam kamar rawat lagi, wisdara tampak ketakutan.Bianca mendekat dan meraih tubuh ayahnya.


"Ada apa Bi? Apa mereka menyakitimu?"tanya Wisdara.Bianca menggeleng pelan.


"Tidak ayah, mereka tidak menyakitiku. Mereka hanya salah paham.Mungkin om wisdara telah melakukan sesuatu sehingga mereka khawatir."ucap Bianca.


"Mereka menuduhmu? "tanya Wisdara.Bianca menggeleng.


"Wajar jika mereka berprasangka buruk terhadap Bianca, Ayah."ucapnya. Wisdara mengusap pelan puncak kepala putri semata wayangnya.


"Yang sabar, Ayah tau apa yang kamu rasakan,Nak."ucap Ayahnya. Bianca tersenyum.


"Bianca berjanji akan membantu mereka,Ayah.Setelah itu kita memang harus benar-benar menghilang dari pulau ini."ucap Bianca. Ayahnya mengangguk pelan.


😊😊😊😊


Andika dan Bima berada disebuah restauran, waktu menunjukkan pukul 20.00 5 jam sudah Khalista tiada kabar. Andika sudah tidak bisa berdiam lama. Namun Bima seakan menjadi alasan untuk tetap tenang dan menunggu kabar dari orang suruhan Bima.


"Tenangkan dirimu.Jangan gegabah mengambil keputusan."ucap Bina sambil memegang pelispisnya yang berdenyut.


Bima mendongak kearah Andika yang hanya berdiam sambil memegang sudut bibirnya yang memar karena bogem mentah yang mendarat dari preman tadi.


"Masih berapa lama lagi aku harus menunggu?? "tanya nya pada Bima dengan sorot mata tajamnya.

__ADS_1


😊😊😊😊😊


like komen dan hadiahnya ya.... komen kalian semangat kami 😃😃😃😃😃


__ADS_2