Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
167.S2


__ADS_3

Grobyakkkk......


Suara dibalkon kamar membuat Khalista terkejut.Khalista melirik jam yang menunjukan pukul 22.00.Seketika Khalista mengusap pelan lehernya yang tiba-tiba saja meremang.Khalista berdiri,dengan langkah yang pelan Khalista berjalan kearah pintu yang menghubungkan dengan balkon kamar.tangannya mengambil sapu yang berada dipojokan kamar.


"Siapa disitu?"tanya Khalista.Kepalanya sedikit menyembul keluar,pot bunga yang berada dipojok terlempar pecah dilantai,hatinya ketar ketir.Khalista keluar dari kamarnya,melihat sekitar balkon yang tidak menampakkan orang atau pun hewan.Langkahnya sedikit lebih pelan, netranya waspada melirik kesana dan kesini.


Khalista melihat kebawah,mungkin seekor kucing yang menabrak pot bunganya.Namun,tidak ada kucing dibawah sana.Khalista memutar tubuhnya,ia terkejut manakala melihat bayang-bayang hitam yang yang ada di pinggiran balkon,menempel didinding.Khalista berusaha untuk tenang,membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.dengan langkah hati-hati khalista menyodorkan sapu ditangannya.


Dengan ancang-ancang kekuatan extra khalista memukul punggung lelaki misterius yang menutup kepalanya dengan penutup kepala dijaketnya.


Bug...Bug.....😂😂😂


"Mau apa kamu?"


Bug.... Bug......😅😅😅


"Rasakan ini... rasakan ini...."😀😀😀


Merasa keselamatannya terancam dan takut terjatuh,lelaki itu meloncat ke balkon kamar.Mengarahkan kedua telapak tangannya keatas.


"Pak...Pak Hari....ada maling pak...."teriak Khalista sambil memukul dan terus berteriak memanggil nama pak Hari satpam dirumahnya.


Saat itu seseorang membungkam mulut khalista.Orang itu mengangkat Khalista dalam gendongannya.Khalista terkejut,mencoba meronta.Sapu yang ada ditangan kanannya terjatuh.


Khalista memukul dada bidang lelaki yang mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya,tangan kiri Khalista mengepal kuat karna menggenggam pena kesayangannya.


"Ini Aku,,,!"ucap lelaki itu sambil menatap kearah Khalista.Khalista menghentikan aksi memukulnya.Saking terkejutnya Khalista melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam pena.


Sejenak mata mereka saling menatap.Bola mata mereka saling beradu.


"Mas Andika,"gumam Khalista.


Binar bahagia tampak dari kedua bola mata yang saling beradu.Rindu yang menggebu seakan sirna dengan mudahnya.Bayangan pertengkaran tadi siang menyelinap difikiran Khalista,membuat dirinya sesak menahan gejolak rasa cemburu yang membakar hatinya.

__ADS_1


Ya...setelahh berfikir jernih,Khalista baru menyadari bahwa ia marah karna cemburu.Bahkan dirinya mengedepankan emosi karna terlalu cinta pada suaminya.Terlalu memikirkan perasaan Bianca karna dia takut jika Andika berpaling darinya dan mencintai Bianca.


"Turunkan aku!"ucap Khalista sambil mencoba melompat dari rengkuhan Andika.


Dengan pelan Andika menurunkan Khalista yang menampakkan wajah merah meronanya.Khalista berjongkok untuk mengambil pena miliknya.Namun tangan Andika lebih dulu mengambil pena Pink itu.


Keduanya saling berpandangan kembali,kini tangan Khalista berada diatas tangan Andika.Dengan pelan Andika melepaskan penutup kepalanya.Khalista tak melepaskan pandangan matanya dari manusia tampan didepannya.


Fikiran Andika melayang jauh,netranya memandang kearah pena Pink dan wajah Khalista secara bergantian.


"Untukmu kak.Ini dari nenekku yang sekarang terkubur.Kata nenek aku akan kembali menemukan seseorang yang bisa menjagaku nantinya.Dan akan Ada orang yang sanggup membuatku bahagia.Karna kakak sekarang sudah memberiku Nasehat,dan aku berhenti menangis.Aku Akan menghadiahkan untukmu."ucapnya. Andika menerima pena itu.


ucapan dari gadis kecil yang bertemu dengannya 10 tahun yang lalu mengiang diotak Andika.Andika berada seperti mimpi.Rasa bahagia,terkejut dan bingung bercampur menjadi satu didalam ruang hatinya.


"Tuhan,Apa yang sebenarnya engkau rencanakan?apa ini semua rencana indahmu? Atau ini adalah kebetulan yang engkau ciptakan? Tuhan beri aku jawaban....."ucap Andika dalam hatinya.


"Mas... berikan pena itu....!"ucap Khalista sedikit ketus.Membuat Andika sedikit tersentak,Andika mengambil pena itu kemudian berdiri.Khalista yang merasa diacuhkan mengikuti Andika berdiri.


Khalista masih mengamati wajah Andika yang mengamati pena itu.Khalista menghela nafas panjang.Bahkan jika dikatakan kekanak-kanakan nantinya,ia pun pasrah dan menerima ledekan dari manusia didepannya itu.


"Ini milikmu?"tanya Andika sambil mengacungkan pena itu.Khalista mengacuhkan pertanyaan Andika,ia mencoba merebut paksa.


Namun Andika kembali menarik pena itu. Hingga pada Akhirnya Khalista jatuh dipelukan Andika.Keduanya saling berpandangan,wajah cantik itu begitu tampak lebih cantik.


Andika mengamati wajah istrinya. Ia juga membayangkan wajah gadis kecil yang memberikan pena yang sama persis dengan pena yang ada digenggamannya saat ini.


"Mas... berikan....Kau boleh mengejekku.Boleh meledekku karna aku menyukai pena ini.Tapi berikan pena itu.Itu satu-satunya barang yang berharga untukku."ucap Khalista kemudian menyambar pena yang sengaja disembunyikan Andika dibelakang tubuhnya.


Jlepppp......


Mendengar ucapan Khalista membuat hati Andika berdesir ngilu.Andika Kini yakin bahwa memang gadis kecil itu adalah istrinya sendiri.Gadis kecil yang selama ini dicarinya sekarang benar-benar ada didepannya.Andika benar-benar mengingat wajah polos yang 10 tahun yang lalu sama persis seperti ini.


"Seberapa penting pena itu untukmu?"tanya Andika disaat Khalista hendak pergi meninggalkan Andika.

__ADS_1


Khalista berhenti,ia mematung sesaat.Rasa sesak menyeruak dihatinya.Seberapa penting? Penting sekali.Bahkan dulu Khalista mendambakan pemilik hatinya adalah orang yang dia beri pena yang sama.


Khalista memutar tubuhnya, ia menatap kearah Andika yang kini menatapnya dengan sorot mata tajamnya.


"Apa begitu penting untuk kamu mengetahuinya,Tuan Andika yang terhormat?"tanya Khalista sambil menatap kearah mata tajam Andika yang kini menatapnya.Mengintimidasi Khalista dengan pertanyaannya.


"Itu begitu penting untukku,Nona Khalista yang terhormat."ucap Andika dingin.Sorot mata tajam Andika menusuk jantung Khalista.


Khalista merasakan aura yang dingin berada dalam diri Andika.Andika mendekat kearah Khalista.Andika mengangkat dagu Khalista.emosi,cinta,terkejut,bahagia semua tumpah ruah dalam benaknya.Membuat istrinya itu merasakan tubuh Andika bergetar luar biasa.


Air mata Khalista mengalir deras,bagaimana bisa Andika yang biasanya lembut kini tampak dingin dan tidak bisa menahan dirinya.Khalista terdiam.ia enggan untuk bicara.


"Katakan sekarang.Seberapa penting pena itu untukmu?"ucap Andika lirih.Andika mendekatkan wajahnya kearah Khalista.Andika mencondongkan wajahnya.


Dengan gerakan cepat Andika meraih dagu Khalista.Membungkam bibir Ranum milik Istrinya dengan ciuman lembut dan kuat.Seketika Khalista melongo dan Mendorong pelan tubuh Andika.Andika tersenyum tipis.


"Katakan sekarang, atau aku akan menciummu lagi? "tanya Andika membuat wajah Khalista merona merah.


"Apa untungnya bagimu? ini bukan urusanmu,"ucap Khalista. Andika kembali memajuka wajahnya.Membuat Khalista mundur beberapa langkah.


"Stop... jangan mendekat lagi.Iya aku akan mengatakannya Tuan Andika pemaksa.... "ucap Khalista.Andika tersenyum tipis,ia maju dua langkah dan meletakkan 2 tangannya di pundak istrinya.


"Katakan sekarang!"ucap Andika lagi.


"Pena itu sangat penting,karna itu pemberian dari nenek..."ucap Khalista.Andika sedikit lega karna memang benar Khalista adalah orang yang dicarinya selama ini.


"Itu saja? "tanya Andika lagi.Khalista terdiam, masak iya dia harus mengatakan jika berharap seseorang yang dia kasih pena yang sama menjadi jodohnya? bukankan itu akan menyakiti Andika?


"Apa mau aku cium lagi? "tanya Andika.Khalista sedikit geram, ia mendorong pelan tubuh Andika lagi.


"Aku memberikannya satu pena pada seseorang.Aku pernah berharap dia menjadi jodohku."ucap Khalista pelan.


Andika tersenyum tipis.Ia maju beberapa langkah mendekati Khalista.Khalista mundur, hingga ia terkunci oleh dinding dan terkunci oleh lengan kokoh Andika.Andika menatap lekat wajah didepannya.Khalista tidak bisa bergerak, ia tidak bisa menghindar.Kini wajahnya benar-benar dekat dengan Andika.

__ADS_1


"Jika orang yang kamu cari ada dihadapanmu, Kamu mau apa?"tanya Andika tepat disamping telinga Khalista.Nafas Andika terasa ditelinganya.Aroma wangi tubuh Andika membuat jantung Khalista berdetak tak beraturan.Ditengah rasa kaget atas pertanyaan Andika,khalista memejamkan matanya.Mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Andika.


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2