Sampai Akhir Nanti

Sampai Akhir Nanti
123.S2.Gadis kecil.


__ADS_3

Suasana kafe begitu ramai, pengunjung laki-laki dan perempuan tampak keluar masuk tanpa jeda. Andika yang berada diruangannya memegang pelipisnya. denyutan dikepalanya semakin terasa.


Ceklek....


Andika mendongak, dilihatnya Bima dengan baju seragam yang rapi membuka pintu dan berjalan kearahnya.


"Selamat pagi,tuan Andika yang terhormat." sapanya sambil tersenyum dan duduk di sofa.Andika menoleh, menyandarkan punggungnya di kursi putarnya.


"Kenapa hancur sekali wajahmu?"tanya Bima sambil tersenyum.


"Apa pernah merasa patah hati? "tanya Andika. Bima menghela nafas panjang.hingga akhirnya tertawa terbahak.


"Apa kau sedang patah hati? " tanya Bima. Andika tak menjawab.Namun melemparkan sebuah bolpoin kearah Bima.Bima yang mengerti perasaan kakak iparnya tersenyum.


"Aku rasa kau benar-benar patah hati.Setelah lama menutup diri dari gadis kecil yang waktu itu pernah mencuri hatimu di lapangan dekat pemakaman.Saat itu kau begitu frustasi,dan aku tak pernah lagi melihatmu sesedih itu.dan saat ini kau tampak sedih sama seperti waktu itu."ucap Bima lagi.Andika menatap kearah Bima. tawanya menggelegar mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.


Gadis kecil yang unik yang menangis sambil memegangi bonekanya.gadis kecil yang cantik,gadis kecil yang tidak mau memperkenalkan namanya, namun memberikan sebuah pensil yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dikamarnya.


"Bahkan aku sempat mencarinya, mengerahkan segala tenaga untuk menemukan dan sampai pada akhirnya aku harus melanjutkan sekolah menengah di luar negri.Mungkin sekarang dia sudah menjadi bidadari cantik, bahkan mungkin sudah memiliki suami." ucap Andika sambil tertawa.


"Kau masih mengingatnya? " tanya Bima.Andika berdiri, fikirannya melayang jauh. tapi nyatanya otaknya tak sanggup merekam memori 10 tahun silam. Andika menggeleng pelan.


"Kau tak perlu lagi mengingatnya,ada khalista yang perlu mendapatkan perhatianmu. Jangan sampai kau menyesal mengabaikannya, sama seperti aku waktu itu." ucap Bima.


"Untuk saat ini aku tidak mau memikirkan cinta, kupikir cinta terlalu rumit.Aku memilih untuk menjalani seperti air yang mengalir, lagi pula mendapatkan hati khalista tidak semudah yang aku bayangkan." ucap Andika.


"Kau harus berusaha,,. "


"Aku sudah mengusahakan jauh sebelum aku mempersiapkan pernikahan,aku menginginkannya bahagia, menginginkannya melupakan masa lalu dengan mantan kekasihnya.Namun kau tau, Sampai hilang ingatanpun nyatanya masih saja dia menutup rapat hatinya.Dan yang lebih menyakitkan ketika dia bilang sekamar denganku tapi bayangan orang lain yang ada diotaknya.Aku bisa gila kalau begini terus Bima." ucap Andika panjang lebar.Bima tertawa, bahkan suaranya lantang terdengar. Membuat Andika membelabakan matanya.


"Kau harus belajar merebut hati orang lain dari Zahira.. dia begitu sabar menghadapi sikapku.begitu sabar, hingga akhirnya mampu menguasai hatiku." ucap Bima, sambil menerawang jauh membayangkan wajah cantik istrinya, dan juga membayangkan wajah menggemaskan baby mungilnya yang baru ditinggalkan 2 jam yang lalu.


"Aku bukan Zahira,Aku tidak sesabar itu." ucap Andika.Bima melirik kearah kakak iparnya itu.


"Aku kira kau itu tidak akan pernah terpatahkan, mengingat kau itu selalu cerdik dan selalu cekatan dalam urusan pekerjaan. Tapi ternyata khalista mampu mematahkan semangat mu hingga kelimpungan seperti ini." ucap Bima.


"Jangan menggodaku, pergi sana.Kau itu harus mulai bekerja .Bisa kehilangan gaji hari ini jika sampai tak ada target setoran." Andika melemparkan bantal sofa kearah Bima.


"Kenapa mengusirku, hari ini aku mau tidur saja disini.Aku mengantuk sekali.Target setoran tak usah ditanyakan lagi.Aku sudah mendapatkannya." ucap Bima.Andika melemparkan lagi bantal sofa kearah Bima.

__ADS_1


"Dasar bedebah.Kau pasti menggunakan nama Alexander untuk membungkam mulut bos mu itu." ucap Andika.


"Sekali-kali..." ucap Bima. Andika tertawa.


"Bahkan kau tak bekerja pun sebenarnya kebutuhan bisa tercukupi." ucap Andika sambil terkekeh.


"Sudah, jangan berisik. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.Tapi aku harus tidur dulu, Bara tadi malam begadang aku sangat mengantuk pagi ini." ucapnya kemudian memejamkan matanya.Andika menghela nafas panjang.Bibirnya tersenyum,melihat Kelucuan Bima membuatnya sedikit melupakan masalah dengan khalista.


😅😅😅


Khalista beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Andika,Namun seseorang yang menyandang status sebagai suaminya tak mengangkat panggilan darinya. Khalista menghela nafas panjang.Mengetik pesan untuk Andika.


Asalamualaikum Dika..


Aku mau keluar, apa boleh? ##khalista.


Khalista menghela nafas panjang.Pesan yang dikirimkan pun tak mendapatkan balasan.


Khalista mengambil tas kecilnya.Mengambil kunci mobil dan bersiap menuruni anak tangga.


Disana,disofa ruang tamu.Bu Marni tampak membaca sebuah buku bacaan.Khalista mendekati mertuanya dan menyapanya.


"Mau kemana?Apa tidak sebaiknya di rumah saja? "ucap Bu marni.


"Aku ingin kerumah,Bu.Aku merindukan bik Nah."ucap Khalista.


"Pergilah,Ada atau tidaknya kamu tidak mempengaruhi apapun.Andika tetap akan sendiri seperti tidak mempunyai istri.Kau itu istrinya, tapi tidak memperlakukannya selayaknya suami."ucap ibunya.


Ucapan bu Marni benar -benar bagai sayatan pisau yang menancap diulu dihatinya.Khalista tersenyum pedih,menahan gejolak rasa yang mengusik dikiranya.Ucapan ibu mertuanya nyatanya memang benar adanya.


"Ya sudah,Khalista berangkat dulu.Asalamualaikum,Bu."ucap khalista sambil meraih telapak tangan ibunya dan menciumnya.


Khalista berjalan kearah mobil taxi online yang dia pesan sebelumnya.Mengurungkan niatnya untuk mengendarai mobil sendiri.Khalista memberi tahukan alamat rumahnya.Taxi itu melaju membelah jalanan yang tampak tidak terlalu ramai itu.


Khalista menikmati pemandangan dipinggiran jalan yang tampak sepi itu.Mengambil ponsel dan membuka aplikasi Wa miliknya.memandang foto profil Andika. foto profil pernikahan mereka.


"Andika,Maaf. Mungkin aku memang bukan istri yang baik.Aku juga telah menyakitimu dengan kata-kata ku.Aku hanya ingin tau kebenaran atas hubungan apa yang pernah terjadi diantara kita.Kau tau Andika,bersama denganmu tetapi ada bayangan orang lain diotakku itu sangat menyakitkan.Aku tidak mau kamu terluka terlalu dalam nantinya,jika memang hubungan kita hanya sebuah kesalahan ataupun sebuah keterpaksaan.Aku juga tidak mau kamu lebih sakit karna ulahku."ucap Khalista pelan.


"Maaf,Non.Sudah sampai."ucap sopir taxi tersebut menyadarkan khalista yang melamun semenjak dari tadi.Khalista mengambil tas nya memberikan selembar uang dan meninggalkan taxi itu.

__ADS_1


"Kembalianya,Non."ucap sopir taxi itu.


"Buat bapak saja ya.."sahut khalista sambil tersenyum.


"Terimakasih,Non."


Khalista mengangguk,ia pun menyeret langkahnya menuju rumahnya.


"Siang, Nona khalista."sapa satpam yang bekerja dirumahnya.


"Siang, Pak."balasnya sambil tersenyum.


Khalista menghela nafas panjang, memejamkan matanya,mencoba menepis rasa sesak yang menghujam hatinya.


"Tata.. "suara itu mengagetkan khalista.Khalista membuka matanya,netranya mendapati laki-laki paruh baya yang dia kenal sebagai papanya.


"Papa ada dirumah?"tanya Khalista sambil menyeret langkahnya menuju kearah papanya. Meraih tanganya dan menciumnya.


"Iya, papa baru saja datang.tadinya mau menelponmu.Ternyata kamu sudah didepan mata."ucap papanya.Papanya merangkul pundak khalista, keduanya berjalan beriringan menuju ke dalam rumah.


"Apa pekerjaan papa bisa ditinggalkan?"tanya khalista.Papanya tertawa, mengusap pelan pundak putrinya.


"Bisa ataupun tidak,Papa akan selalu meluangkan waktu untukmu."ucapnya. Khalista tersenyum.


"Terimakasih,Pa.Papa telah memberikan kasih sayang yang amat besar untuk Tata."ucapnya.


Papanya tersenyum. menatap Khalista dengan tatapan hangatnya.


"Papa sadar menyayangimu adalah sebuah prioritas.Papa belajar dari suamimu,dimana dia?"tanya papanya sambil duduk disofa.


Khalista membelalakkan matanya.Terkejut,bahkan Papa nya mengatakan hal yang mengejutkan nya.


"Andika bekerja,Pa."ucapnya.


"Bersyukurlah, mempunyai suami yang baik sepertinya."ucap Papanya.


Berbagai pertanyaan bersarang difikiranya,Khalista menghela nafas panjang. Andika benar-benar misterius. menyimpan berjuta rahasia yang tak terjangkau oleh fikiranya.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


Like, comennya ya.... selamat membaca. semoga terhibur.


__ADS_2